Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Mendalam

Alasan Dokter Asal Indonesia Kabur Aja Dulu ke LN ketimbang Tinggal di Indonesia

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
18 Februari 2025
A A
Diaspora di Swedia dan Australia memilih kabur aja dulu. MOJOK.CO

ilustrasi - kabur aja dulu menggunakan paspor. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang dokter merasa nyaman usai meninggalkan Indonesia dan tinggal di Swedia. Demikian juga seorang profesional yang memilih bekerja di Australia dan kemudian sadar, sistem kerja di Indonesia ternyata sangat bobrok. Sudah sewajarnya tagar #KaburAjaDulu muncul sebagai bentuk rasa frustasi warga negara.

Merespon tagar tersebut, Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer tak mau ambil pusing. Ia justru mempersilakan WNI pindah ke luar negeri dan menyarankannya agar tidak kembali.

“Mau kabar, kabur sajalah. Kalau perlu jangan balik lagi, hi-hi-hi,” ujar Immanuel dikutip dari Kompas.com, Senin (17/2/2025).

Padahal, bagi diaspora seperti Ayuwidia Ekaputri (32), memutuskan tinggal di luar negeri bukanlah perkara yang mudah. Berdasarkan pengalamannya tinggal di Swedia, Widia, sapaan akrabnya melihat tagar #KaburAjaDulu adalah ungkapan frustrasi karena negara tidak mampu memberi rasa aman untuk warganya. 

“Betul hidup di luar negeri juga harus berusaha, tapi mungkin usahanya sebanding dengan hasil. Ada hal-hal lain yang diperjuangkan selain gaji semata,” kata Widia saat dikonfimasi Mojok, Senin (17/2/2025).

Kerja di LN lebih menggiurkan ketimbang di Indonesia

Widia adalah diaspora asal Indonesia yang tinggal di Swedia, Eropa Utara sejak tahun 2019 untuk memulai studi S2-nya di University of Skovde. Pertama kali merantau, Widia mengalami tantangan yang tak terduga, yakni mengandung anak pertama.

Diaspora Indonesia
Putu Ayuwidia diaspora Indonesia yang tinggal di swedia. (Dok. Instagram/@diadiawidia)

Di tengah kondisi tersebut, ia harus bolak-balik dari kampus ke tempat tinggalnya menggunakan transportasi umum. Beruntung, kereta api pulang-pergi yang ia naiki setiap hari aman untuk ibu hamil.

Alasan Widia pindah ke Swedia alias kabur aja dulu sebetulnya sederhana, karena jurusan kuliah yang sesuai minatnya saat itu hanya ada di luar negeri. Ternyata setelah tinggal di sana, ia jadi betah. 

“Di luar negeri ada hal-hal yang nggak bisa dibeli dengan uang pas-pasan. Seperti jam kerja fleksibel, kualitas sekolah anak yang bagus dekat rumah, commute kerja yang cuma sebentar,” kata diaspora di Swedia itu.

Misalnya lagi, kata dia, warga Swedia menerapkan gaya hidup Lagom. Artinya, not too much, not too little, but just right amount (tidak terlalu berlebihan ataupun kekurangan, tapi semuanya cukup).

Oleh karena itu, ketika Widia memutuskan cuti untuk kuliah dan fokus pada kehamilannya, orang-orang di sana tak terlalu mempermasalahkan. Ia mengaku kalau cuti melahirkan di Swedia sangat mudah. 

Saat ini, Widia sedang melanjutkan kuliah S3-nya di Swedia. Sembari kuliah, Widia bekerja sebagai nurse assistant. Meski terlihat memiliki pekerjaan yang mapan, tapi Widia tak memulai kariernya dengan mudah.

“Meski lulusan dokter di Indonesia, saya nggak masalah kalau harus memulai karier dengan jadi nurse assistant sampai akhirnya ketemu supervisor untuk lanjut S3,” kata dia.

Menurutnya, Swedia memberikan hak yang sangat dibutuhkan bagi mereka yang ingin kuliah dan belajar, yakni beban dan jam kerja yang manusiawi sehingga merasa nyaman. Selain itu, Widia juga punya banyak waktu untuk mendampingi tumbuh kembang anaknya.

Iklan

Karena kabur aja dulu jadi sadar bobroknya sistem kerja di Indonesia

Senada dengan Widia, diaspora asal Indonesia, Arip Hidayat mengaku tinggal di luar negeri bukan untuk flexing atau agar memperoleh gaji yang tinggi. Bagi Arip yang saat ini tinggal di Australia, negara tersebut lebih menawarkan pendidikan yang maju untuk anaknya nanti.

“Anak-anak di sini juga bisa ikut apprenticeship, lamar ke perusahaan dan nanti kerja, terus disekolahkan oleh perusahaan,” kata Arip yang sudah tinggal di Aussie sejak tahun 2015.

Perjuangan Arip untuk tinggal di Australia tidaklah mudah. Ia rela beradaptasi dan merangkak dari bawah demi memperoleh kehidupan yang lebih layak. Selama menamatkan kuliah di Australia, Arip jadi sadar betapa bobroknya sistem gaji dan aturan kerja yang kurang layak di Indonesia. 

“Di luar negeri, kamu bertumbuh menjadi orang-orang hebat dan kuat, ketika negara lain menyebar ke negara-negara maju, masa kita diem aja,” kata Arip. 

“Kita harus tingkatin standar kualitas kita dan membangun bangsa dengan lebih gemilang,” lanjut diaspora di Australia itu.

Keputusan Widia dan Arip untuk tinggal di luar negeri dimaklumi oleh Pengamat Ketenagakerjaan Tadjudin Nur Effendi. Dosen Universitas Gadjah Mada itu menyebut orang-orang yang memilih #KaburAjaDulu bukan berarti tidak mencintai Indonesia. 

Justru itu adalah cara mereka bertahan hidup ketika ada hal negatif yang terjadi di daerah asal mereka. Maka lumrah jika warga Indonesia memilih ‘kabar aja dulu’.

“Dalam teori migrasi ini sesuatu yang biasa, pergi merantau itu adalah hak asasi manusia bagi mereka yang ingin memperbaiki nasibnya,” kata Tadjudin kepada Mojok, Selasa (18/2/2025).

Kabur aja dulu adalah fenomena gunung es

Di sisi lain, Tadjudin menilai pemerintah seharusnya mulai khawatir dengan adanya fenomena tersebut. Sebab, visi Indonesia Emas 2045 terancam gagal. Apalah arti bonus demografi nanti jika masyarakatnya memilih pergi atau mengikuti tren #KaburAjaDulu. Ia menilai, apa yang dikatakan Wamenaker) Immanuel Ebenezer kurang bijak.

Pemerintah, kata dia, seharusnya tidak menutup mata bahwa ada fenomena gunung es yang belum terselesaikan hingga sekarang. Yakni jumlah pengangguran yang terus meningkat, serta lapangan kerja yang sedikit. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat masih ada 7,47 juta rakyat Indonesia yang menganggur pada Agustus 2024. Jumlah pengangguran tersebut meningkat jika dibandingkan dengan Februari 2024 sebanyak 7,20 juta pengangguran.

Ketika warga sudah tidak bisa bertahan hidup di daerah asalnya, karena tidak ada sumber daya maupun lapangan kerja, maka Tadjudin menilai mereka berhak memilih. Terlebih melihat kondisi Indonesia yang kini makin memprihatinkan. Keputusan mereka untuk #KaburAjaDulu dinilai lebih realistis.

“Kalau dia tetap bertahan di daerah Indonesia dalam keadaan menganggur dan tidak jelas, itu malah jadi beban bagi negara kan,” tegasnya.

Namun, Tadjudin tetap berharap, ketika hidup warga Indonesia sudah mapan maka seharusnya mereka pulang untuk mengabdi pada bangsanya. Mengutip pepatah dari Minangkabau, ‘Setinggi-tinggi terbang bangau, baliknya ke kubangan juga’ artinya sejauh-jauhnya orang pergi merantau, pulangnya ke kampung halaman juga.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Ribetnya Pemegang Paspor Indonesia saat Berkunjung ke Malaysia atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 19 Februari 2025 oleh

Tags: Diasporakabur aja dulukerja di swediakuliah di australiapindah ke luar negeri
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Cerita Felix. Kuliah di universitas Australia berkat beasiswa LPDP usai diejek dan ditertawakan. Tolak tawaran kerja dewan demi ajar anak-anak di kampung pedalaman MOJOK.CO
Edumojok

Lulusan Beasiswa Australia Tolak Tawaran Karier Mentereng, Lebih Pilih Jadi Guru Kampung karena Terbayang Masa Lalu

10 Maret 2026
Diaspora Indonesia mengenakan baju adat nusantara di Pasar Senggol Turkiye. MOJOK.CO
Ragam

Geliat Diaspora di Turkiye agar Tak Lelah Mencintai Indonesia hingga Menjaga Diplomasi Selama 75 Tahun

16 Oktober 2025
Mulanya, pemuda asal Aceh ini merasa tidak percaya diri kuliah di luar negeri karena tak bisa Bahasa Inggris, kini ia bisa kuliah sampai S3 dengan beasiswa LPDP. MOJOK.CO
Kampus

Pengalaman Trauma Pasca Tsunami Aceh Antarkan Pemuda Ini Kuliah ke London Jurusan Manajemen Bencana dengan Beasiswa

9 September 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO
Esai

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rela utang bank buat beli mobil keluarga Suzuki Ertiga demi puaskan mertua. Ujungnya ribet dan sia-sia karena ekspektasi. MOJOK.CO

Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia

21 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Memelihara kucing.MOJOK.CO

Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya

20 Maret 2026
Lontong dan kangkung, kuliner tua Lasem dalam khazanah suluk Sunan Bonang MOJOK.CO

Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan

21 Maret 2026
Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

18 Maret 2026
Sekolah penerima manfaat beasiswa JPD Pemkot Jogja

Beasiswa JPD Jadi Harapan Siswa di Jogja untuk Sekolah, padahal Hampir Berhenti karena Broken Home

17 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.