Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Lipsus

Tapa Ngeli hingga Akidah Muttahidah Sang Wali Lingkungan, Menjaga Alam Muria dari Pengrusakan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
17 Oktober 2025
A A
Falsafah menjaga alam dan lingkungan ala masyarakat lereng Muria dari ajaran Sunan Muria MOJOK.CO

Ilustrasi - Falsafah menjaga alam dan lingkungan ala masyarakat lereng Muria dari ajaran Sunan Muria. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Meski sejak kecil sudah akrab dengan ribuan anak tangga menuju makam Sunan Muria, tapi dengkul saya sudah terpancing linu bahkan sebelum menitinya satu persatu. Begitu yang saya alami kala menyusuri jejak-jejak ajaran ekoreligi Sang Sunan di Colo, Kudus, pada Rabu (8/10/2025) pagi.

Sebenarnya ada sarana ojek untuk mencapai puncak Gunung Muria. Tapi sedari kecil, tiap diajak ziarah Wali Songo oleh orang tua, mereka “memaksa” saya meniti anak tangga.

“Bayangkan, dulu Mbah Sunan (Sunan Muria) di sini syiar Islamnya belum ada ojek. Kalau nggak jalan kaki ya pakai kuda. Dulu pasti belum seenak ini jalannya,” tutur ibu saya tiap kali saya mengeluh capek dan menggerutu, “Harusnya naik ojek saja.”

Pitutur itu cukup berhasil membangkitkan semangat saya. Sejenak membuat saya lupa kalau ada ribuan anak tangga yang harus saya tapaki untuk mencapai puncak. Karena pikiran saya mencoba memvisualisasikan: Bagaimana dulu Sang Sunan naik-turun gunung di ketinggian sekitar 1600 mdpl itu untuk mendidik masyarakat.

Perjalanan syiar Sang Sunan yang penuh effort itu agaknya tak sia-sia belaka. Sebab, secara subtil ajarannya mengendap menjadi bagian hidup masyarakat setempat.

Ribuan anak tangga untuk menuju puncak Gunung Muria, makan Sunan Muria, di Colo, Kudus MOJOK.CO
Ribuan anak tangga untuk menuju puncak Gunung Muria, makan Sunan Muria, di Colo, Kudus. (Aly Reza/Mojok.co)

Tapa ngeli Sang Wali Lingkungan

Saya dan tim Ekspedisi Tirtamuria telah menyinggahi beberapa titik di lereng Muria: perbukitan Rejenu (Japan), perbukitan Patiayam (Gondoharum), Rahtawu, dan berakhir di hutan Muria di Colo.

Dari perjalanan itu, terbentang garis merah ihwal kesadaran sejumlah masyarakat dalam upaya menjaga alam—terutama kaitannya dengan sumber mata air. Yakni tilas laku hidup dari Sunan Muria sebagai pepunden di tanah Muria.

Dalam buku Sejarah Sunan Muria (UIN Walisongo, 2018), sosok bernama asli Raden Umar Said tersebut sedianya hidup di jantung peradaban Islam Jawa (Demak) pada 1470-an. Ia juga lahir dari sosok berpengaruh: Sunan Kalijaga. Namun, ia justru memilih jalan hidup asketis: Menuju pinggiran, ke Gunung Muria.

Lukisan sosok Sunan Muria yang banyak beredar MOJOK.CO
Lukisan sosok Sunan Muria yang banyak beredar. (Wikimedia)

Sunan Muria lantas menjalani hidup tapa ngeli (tapa mengalir/hanyut). Bukan dalam arti harfiah, tapi melebur bersama masyarakat awam. Itulah kenapa kemudian dakwah-dakwah tentang Islam menjadi mudah diterima.

Ada beragam ajaran yang Sunan Muria dedah kepada masyarakat. Salah satunya adalah kesadaran menjaga alam dengan nilai-nilai Islam dan budaya setempat (ekoreligi). Maka tak heran jika peneliti atau sejarawan modern menjulukinya “Wali Lingkungan”.

Ajaran bertani hingga legenda parijoto

Merujuk catatan Yayasan Makam dan Masjid Sunan Muria dan cerita tutur yang berkembang di masyarakat setempat, selain mensyiarkan Islam, Sunan Muria juga dikenal concern terhadap pertanian.

Ia mengimbau masyarakat setempat untuk menanam sebagai ketahanan pangan dan ekonomi. Tanaman yang dikaitkan erat dengan Sang Wali Lingkungan misalnya parijoto dan kelor. Kala saya memasuki sisi bawah hutan Muria, dua tanaman tersebut amat mudah dijumpai, tumbuh di tengah pohon-pohon besar dari genus ficus.

“Parijoto ini dipercaya bisa mempercepat proses kehamilan. Konon dulu Sunan Muria menganjurkan wanita (yang sudah menikah) makan buah ini biar bisa hamil,” ungkap Triayanto Soetardjo, Pengasuh Yayasan Penggiat Konservasi Alam (PEKA) Muria yang turut mendampingi ekspedisi.

Rimbun hutan di lereng Gunung Muria MOJOK.CO
Rimbun hutan di lereng Gunung Muria. (Eko Susanto/Mojok.co)

Sehari-hari Triyanto juga mengolah buah parijoto untuk dijadikan sirup. Katanya, peminatnya masih sangat banyak.

Iklan

Dalam penelitian Devi Safrina dan Kolega berjudul, “Product Development of Parijoto Fruit (Medinilla speciosa Blume) and Its Potential as a Medicinal Plant: Review”, parijoto (Medinilla speciosa) merupakan buah perdu yang kerap tumbuh di lereng gunung.

Parijoto mengandung kadar flavonoid, tanin dan polifenol yang tinggi, sehingga berkhasiat untuk meningkatkan kesuburan. Selain itu juga berkhasiat sebagai anti-bakteri hingga mencegah sel kanker.

Alhasil, karena ragam khasiatnya tersebut, parijoto juga diolah menjadi produk-produk bernilai ekonomi, seperti sirup, pewarna makanan, permen jeli, dodol, hingga krim kecantikan.

“Sementara pohoh-pohon besar ini untuk menjaga sumber mata air. Kalau air terjaga, hutan terjaga, ekosistem akan berjalan semestinya,” sambung Triyanto.

Ekosentrisme hingga akidah muttahidah

Widi Mulyono dalam bukunya, “Napak Jejak Pemikiran Sunan Muria: Dari Ekoreligi hingga Akidah Muttahidah” mendedah alam pikir menakjubkan dari Sang Wali Lingkungan.

Dalam konteks lingkungan, Widi merumuskan lima fondasi ber-Islam dan berlingkungan ala Sunan Muria. Antara lain, tauhid lingkungan, fikih, lingkungan, tasawuf lingkungan, filanekorelgi, dan akidah muttahidah.

  1. Tauhid lingkungan: Pemahaman bahwa alam raya adalah teofani Allah Swt (punya hakikat Maha Memberi).
  2. Fikih lingkungan: Pemahaman perihal maqashid al-syariah (tujuan pokok syariat) atas alam. Dalam fikih, juga dalam Al-Qur’an, Allah Swt menekankan la yuhibbu al-mufsidin (tidak suka para perusak).
  3. Tasawuf lingkungan: Pemahaman landasan etis-sufistik dan keterhubungan manusia dengan teofani Allah Swt berupa alam. Pemahaman ini mengajak manusia untuk beranjak dari cara pikir antroposentisme ke ekosentrisme.
  4. Filanekoreligi: Pemahaman untuk membangun keadilan dan kesejahteraan antara manusia dan alam. Alam telah memberi banyak pada manusia, maka manusia harus seminimal-minimalnya menjaganya sebagai wujud terima kasih.
  5. Akidah muttahidah: Pemahaman bahwa akidah ber-Islam itu mencakup segitiga relasi (Allah, manusia, dan alam). Sehingga ibadah tidak berhenti pada aspek mahdlah (pada Allah) saja, tapi juga mempertimbangkan hablun min al-nas dan hablun min al-alam.

Lima rumusan ajaran itu, diharapkan membuat manusia memiliki kesalehan tidak hanya vertikal, tapi juga horizontal (terhadap sesama manusia dan sesama makhluk Allah Swt yang lain (alam)).

Menjadi saleh lingkungan ala masyarakat lereng Muria

Secara akar tradisi dan ideologi, tilas laku Sang Wali Lingkungan itu—disadari atau tidak—telah mengendap di sebagian banyak alam pikir masyarakat lereng Muria. Dan ini berbasis temuan-temuan tim Ekspedisi Tirtamuria saat berbincang dengan masyarakat di Japan (Rejenu), Gondoharum (Patiayam), Rahtawu, dan Colo.

Memang, tidak semua orang yang saya temui bisa memastikan, apakah gagasan menjaga lingkungan yang mereka pegang bersumber langsung dari Sunan Muria.


Baca juga serial Ekspedisi Tirtamuria lainnya: 

  1. Pohon Beringin, “Si Angker” yang Menyelamatkan Sumber Mata Air di Lereng Muria
  2. Mata Air Abadi di Lereng Muria: Terus Mengalir dalam Pengkeramatan, Jadi Warisan Hidup untuk Anak-Cucu
  3. Menghidupkan Kembali Air Muria

Tapi setidaknya, satu, mereka mengamini riwayat bahwa Sang Sunan memang merupakan “Wali Lingkungan”, sehingga perlu diteladani. Dua, mereka menyadari bahwa manusia memang sudah seharusnya hidup bersenyawa dengan alam. Kira-kira begini temuan tim Ekspedisi Tirtamuria:

#A. Lamun siro mandi ojo mateni

Saat berkunjung di Desa Japan pada Rabu (16/07/2025), saya mendapati papan slogan penuh makna di kantor BUMDes Tunggak Jati. Berbunyi:

Lamun siro banter ojo nglancangi (Walaupun kamu kencang jangan mendahului)

Lamun siro landep ojo natoni (Walaupun kamu tajam jangan melukai)

Lamun siro mandi ojo mateni (Walaupun kamu ampuh jangan membunuh)

Semboyan luluhur untuk warga Desa Japan, Kudus MOJOK.CO
Semboyan luluhur untuk warga Desa Japan, Kudus. (Aly Reza/Mojok.co)

Landasan itu mendasari masyarakat setempat untuk tidak melukai atau bahkan membunuh alam. Hasilnya, tanah Japan menjadi tanah subur. Beragam jenis tanaman bernilai pangan dan ekonomi tumbuh dan menghidupi masyarakat setempat.

Hidup masyarakat tak kurang-kurang disuplai oleh alam. Begitulah pengakuan dua orang warga yang saya ajak berbincang, Sri Widodo (56) dan Restu (32).

#B. Tanahe ijo wetenge wareg

Di perbukitan Patiayam, Desa Gondoharum, para petani memiliki keyakinan, “Yen tanahe ijo, mesti wetenge wareg (Jika tanahnya hijau (subur), pasti perut kenyang).” Kira-kira begitu yang Masyhuri—ketua kelompok tani setempat—tanamkan ke petani-petani lain, sebagaimana ia tuturkan pada saya ketika berkunjung, Selasa (7/10/2025).

Melalui cara pandang itu, Masyhuri mengajak petani dan umumnya masyarakat di kawasan perbukitan Patiayam giat dalam menaman (melakukan penghijauan). Sebab, tanaman bakal bernilai pangan dan ekonomi. Dan itu membuat kebutuhan perut masyarakat terpenuhi.

Masyhuri memberi buktinya secara langsung. Saat ditemui hari itu, ia dan petani lain di Patiayam tengah dalam masa panen mangga, tanaman yang mereka tanam untuk menghijaukan perbukitan Patiayam.

Masyhuri, petani yang menggalakkan kesadaran penghijauan alam MOJOK.CO
Masyhuri, petani yang menggalakkan kesadaran penghijauan alam. (Eko Susanto//Mojok.co)

Lebih dari itu, penghijauan alam juga bisa berdampak untuk “jaga desa”: menjaga dari bencana longsor, menjaga debit mata air yang selama ini mengairi rumah-rumah.

#C. Menjaga alam adalah amanah dan ibadah

“Hutan adalah amanah. Menjaganya adalah ibadah.” Sementara itu adalah semboyan yang dipegang teguh oleh Yayasan PEKA Muria.

“Artinya, kalau kita tidak menjaga alam, kita berarti dosa,” ujar Triyanto saat membersamai tim Ekspedisi Tirtamuria menyibak belantara Muria, Rabu (8/10/2025).

Ini sejalan dengan konsep akidah muttahidah Sunan Muria. Bahwa ibadah tidak berhenti pada aspek mahdlah, tapi juga pada lingkungan. Selazimnya ibadah, jika ditinggal maka bernilai dosa.

Pendekatan ini bisa diterima oleh masyarakat Colo karena masih punya tradisi keberagamaan yang kuat.

Triyanto Soetardjo, pengasuh Yayasan PEKA Muria MOJOK.CO
Triyanto Soetardjo, pengasuh Yayasan PEKA Muria. (Eko Susanto/Mojok.co)

#D. Eling lukitaning alam, supadi nir ing sangsaya

Sementara Teguh Wiyono selaku Ketua Yayasan PEKA Muria menyebut, menjaga alam, menjaga mata air, adalah upaya untuk mewariskan kehidupan pada anak-cucu.

“Sumber mata air itu dijaga untuk anak-cucu kelak. Kita sekarang bisa menikmati air. Tapi jika sumber air mati, anak-cucu kita kelak yang terancam,” kata Teguh kala menemani tim Ekspedisi Tirtamuria ke Air Tiga Rasa Rejenu di hari yang sama.

Teguh secara pribadi juga berpegang pada sebuah tembang Kinanthi berbunyi:

Mangka kanthining tumuwuh (Padahal bekal hidup)

Salami mung awas eling (Selamanya waspada dan ingat)

Eling lukitaning alam (Ingat akan pertanda yang ada di alam ini)

Dadi wiryaning dumadi (Menjadi kekuatannya asal-usul)

Supadi nir ing sangsaya (Supaya lepas dari sengsara)

Yeku pangreksaning urip (Begitulah memelihara hidup)

Tembang itu digubah oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adhipati Arya (K.G.P.A.A) Mangkunegara IV pada 3 Maret 1811 di Surakarta.

Jika dikaji, ada beragam tafsir atas tembang tersebut. Namun, dalam pemahaman Teguh, tembang itu menunjukkan bahwa alam bisa menjadi bekal dan kekuatan hidup bagi manusia. Oleh karena itu, manusia harus senantiasa waspada dan ingat untuk tidak merusaknya, melainkan memeliharanya.

“Karena memeliharanya berarti memelihara hidup kita sendiri. Kalau tak ingin hidup sengsara, maka alam harus dijaga,” papar Teguh.

#E. Manusia akan selalu butuh air

Selepas dari Colo, saya dan tim Ekspedisi Tirtamuria sempat singgah di kediaman Wijanarko—pertani muda—di Rahtawu. Di belakang rumah Narko, panggilan akrabnya, ada sungai dengan air bening dan debit stabil mengalir.

“Kalau kekeringan, belum pernah,” kata Narko menjelaskan kondisi sungai di belakang rumahnya.

Sungai di belakang rumah Wijanarko di Rahtawau, lereng Muria MOJOK.CO
Sungai di belakang rumah Wijanarko di Rahtawau, lereng Muria. (Eko Susanto/Mojok.co)

Di bawah terik matahari, saya iseng menyelupkan kaki di bawah aliran sungai itu. Terasa segar. Maka, saya putuskan untuk membasuh sebagian badan saya. Berkali-kali saya membenamkan kepala di bawah aliran air yang melintasi bebatuan. Byuh, segar sekali rasanya.

“Upaya penghijauan di sini, menjaga hutan, salah satu tujuannya ya menjaga debit air ini agar terus ada,” jelas Narko.

“Karena bagaimanapun, manusia akan selalu butuh air,” pungkasnya.

“Ketika pohon terakhir ditebang. Ketika sungai terakhir dikosongkan. Ketika ikan terakhir ditangkap. Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang.” ― Eric Weiner, The Geography of Bliss: One Grump’s Search for the Happiest Places in the World

Tulisan ini merupakan serial Ekspedisi Tirtamuria untuk edisi Oktober 2025

Reporter: Ahmad Effendi dan Muchamad Aly Reza
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Mangrove, Garda Terdepan Ketahanan Pangan Pesisir Semarang yang Masih Diabaikan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 Februari 2026 oleh

Tags: ajaran sunan muriaajaran sunan muria tentang alamdalil lingkungandalil menjaga alamgunung muriamakam sunan muriamenjaga alammetode dakwah sunan muriapilihan redaksisejarah sunan muriasunan muriawali lingkungan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO
Urban

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Orang Jawa desa pertama kali coba menu aneh (gulai tunjang) di warung makan nasi padang (naspad). Lidah menjerit dan langsung merasa goblok MOJOK.CO
Catatan

Orang Jawa Desa Nyoba “Menu Aneh” Warung Nasi Padang, Lidah Menjerit dan Langsung Merasa Goblok Seketika

15 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026
Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis Itu Mojok.co

Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis

12 Maret 2026
Mudik Lebaran naik bus murah berujung menyesal. MOJOK.CO

Habiskan Waktu 78 Jam di Bus untuk Mudik Berujung Kapok dan Frustrasi: Harus Tahan Bau Badan, BAB, hingga “Ditakuti” Teman Sebangku

11 Maret 2026
Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO

Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga

11 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah ISI Jogja dihujat. MOJOK.CO

Sisi Lain Penerima KIP Kuliah yang Tak Dipahami Para Mahasiswa “Polisi Moral”, Dituntut Untuk Selalu Terlihat Miskin dan Menderita

12 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.