Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Suara Bawah Tanah

Menghidupkan Kembali Air Muria

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
16 Oktober 2025
A A
Menghidupkan Kembali Air Muria.MOJOK.CO

Ilustrasi - Menghidupkan Kembali Air Muria (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada masa ketika Gunung Muria meneteskan air dari segala sisi. Dari akar beringin tua, dari batu-batu basah di tepi jalan, atau dari tanah yang selalu lembap bahkan di musim kemarau. 

Muria itu seperti ibu yang tak pernah kehabisan air susu. Sayang, kini tubuhnya nyaris kering dan berdebu.

Iklan

Satu per satu, sumber air yang dulu menghidupi warga berkurang debitnya. Di Bukit Patiayam, misalnya, aliran air yang mengalir deras kini bisa dihitung jari jumlahnya. Di Desa Colo dan Japan, meski kini air tetap mengalir sepanjang tahun, ada masa di mana masyarakat susah mencarinya.

“Kalau air hilang, bukan cuma manusia yang menderita,” ujar Teguh Budi Wiyono, pengelola Yayasan Pegiat Konservasi Alam (PEKA) Muria, Rabu (8/10/2025).

Masa ketika air perlahan menghilang

Perubahan tersebut memang datang perlahan. Nyaris tanpa terasa. Sejak awal 2000-an, Muria kehilangan banyak tutupan hutan akibat penjarahan hutan setelah Reformasi 1998. Hutan-hutan yang dulu lebat di kawasan Colo, Rahtawu, dan Japan, berubah menjadi kebun kopi. Sebagian wilayah juga terbakar hebat pada 2015. 

Teguh masih mengingat betul masa yang disebut orang di sana sebagai Ngamazon. Yakni masa ketika hutan Muria dijarah besar-besaran setelah reformasi.

“Itu tahun-tahun gelap,” cerita Teguh, matanya menatap jauh. “Semua orang seolah punya alasan untuk menebang. Ada yang karena butuh uang, ada yang sekadar ikut-ikutan.”

Waktu itu, pengawasan hutan lemah. Truk-truk bermuatan kayu keluar masuk malam hari tanpa hambatan. Orang menebang pepohonan besar yang berdiri di tepi mata air. Dalam sekejap, ribuan batang hilang. 

“Kayunya dijual murah,” ujarnya.

Lahan-lahan baru juga dibuka. Paling banyak untuk perkebunan kopi. Anehnya, orang-orang yang membuka lahan di sana bukan orang asli Muria. Anehnya lagi, lanjut Teguh, mereka membeli tanah tersebut juga bukan dari orang Muria.

“Oknum-oknum ini yang membuat hutan kala itu digunduli,” kata Teguh. “Setelah itu, banyak sumber air yang tak lagi keluar airnya.”

hutan muria.MOJOK.CO
Penjarahan hutan besar-besaran setelah Reformasi 1998 pernah membuat lereng Muria kehilangan banyak sumber mata air. (Mojok.co/Eko Susanto)

Cerita kerusakan tersebut bukan sekadar kisah nostalgia, tapi menyebabkan sisi kelam bagi alam Muria. Penelitian Maria Theresia Sri Budiastuti dan kolega di Journal of Soil Science and Agroclimatology (2020) mencatat, ada tujuh sub-DAS di kawasan Muria yang dikategorikan sebagai lahan kritis dengan luas total sekitar 11.000 hektare. 

Lereng-lereng curam didominasi tanah berpasir dan miskin unsur hara, sehingga mudah tererosi saat hujan deras. Tanah yang tandus kehilangan kemampuan menahan air, menyebabkan sumber air cepat surut. Dalam periode lima tahun terakhir saja, debit di beberapa mata air di Kecamatan Dawe turun hingga separuhnya.

“Saya merasakan itu memang periode yang memprihatinkan bagi alam di Muria.” 


Baca liputan di serial Ekspedisi Tirtamuria lainnya:

  • Pohon Beringin, “Si Angker” yang Menyelamatkan Sumber Mata Air di Lereng Muria
  • Mata Air Abadi di Lereng Muria: Terus Mengalir dalam Pengkeramatan, Jadi Warisan Hidup untuk Anak-Cucu

Muria adalah rumah bagi manusia dan alam

Kerusakan alam yang terjadi di alam Muria, memang punya implikasi yang serius. Sebab, bagi masyarakat sekitar, Gunung Muria bukan hanya tumpukan tanah tinggi. Ia adalah rumah besar tempat manusia, hewan, dan tumbuhan hidup berdampingan. 

Di lembah-lembahnya hidup macan tutul Jawa–spesies endemik yang menjadi simbol keseimbangan ekosistem. Di pucuk-pucuk pohon, elang Jawa kadang masih terlihat berputar di langit.

Penelitian Puput Novytasari dan kolega pada 2024 menyebut bahwa Muria menopang 11 daerah aliran sungai (DAS) hulu yang memengaruhi sistem hidrologi di pesisir utara Jawa. Kawasan ini memegang fungsi ekologis vital: penyangga kehidupan, penahan erosi, sekaligus penyedia cadangan air tanah. 

Namun, status hukumnya masih lemah. Ia masih ambigu, berada di antara hutan lindung dan hutan produksi, sehingga rawan dieksploitasi.

Iklan

Kehilangan hutan berarti kehilangan jantung bagi sistem air. Sebab, vegetasi di Muria sebenarnya sangat kaya. Ada ficus (beringin-beringinan), bambu, paku-pakuan, dan tanaman penaung alami yang menjaga kelembapan tanah.

Penelitian lokal di kawasan mata air Tiga Rasa, Rejenu, mencatat lebih dari 30 jenis tumbuhan yang berperan dalam menjaga debit air. Ironisnya, banyak jenis itu justru ditebang untuk membuka lahan pertanian.

“Kalau air hilang, bukan cuma manusia yang menderita,” kata Teguh. “Burung kehilangan tempat minum, pohon mati, dan Muria kehilangan napasnya.”

Gerakan dari bawah

Keresahan itulah yang padah akhirnya melahirkan Yayasan PEKA Muria. Teguh dan beberapa rekannya, yang sebelumnya aktif di komunitas pencinta alam, resah melihat semakin sedikit mata air yang mengalir. 

Sejak awal 2000-an mereka sudah membangun gerakan konservasi di lereng Muria. Namun, pada 2023, mereka memutuskan mereorganisasi yayasan yang berfokus pada konservasi hutan dan sumber air di lereng Muria. 

“Kami sadar, kalau tidak dimulai dari bawah, Muria akan hilang dalam diam,” ujarnya.

air muria.MOJOK.CO
Yayasan PEKA Muria memiliki filosofi sederhana: “Air itu amanah, menjaganya adalah ibadah”. (Mojok.co/Eko Susanto)

Filosofi mereka sederhana: air adalah amanah antargenerasi. Dalam setiap kegiatan, Yayasan PEKA Muria menekankan pendidikan lingkungan ke masyarakat desa, terutama anak muda. Mereka sering mengadakan diskusi di balai desa, mendatangi sekolah, hingga mengajak santri dari pondok pesantren sekitar untuk ikut menanam pohon.

“Kalau anak cucu nanti kehausan, itu dosa kami,” kata Teguh pelan. Kalimat itu menjadi semacam mantra yang selalu diulang di setiap kegiatan mereka.

Salah satu aksi paling rutin Peka Muria adalah penanaman bibit di sekitar sumber mata air. Pada Desember 2023, mereka menanam 86 bibit pohon di kawasan Rejenu, terdiri dari bambu, ficus, dan tanaman buah lokal. 

Di puncak Argopiloso, Pati, sekitar dua ratus bibit pohon naungan ditanam untuk merehabilitasi lahan bekas kebakaran. 

“Jenis yang kami pilih bukan sembarang,” jelas Teguh. “Kami tanam yang akarnya kuat menahan tanah, daunnya rimbun menahan air.”

Setiap kegiatan tanam dicatat dalam sistem pemetaan digital. Koordinat titik tanam disimpan agar bisa dipantau perkembangan bibitnya. 

“Kami tidak mau penanaman hanya jadi seremoni,” kata Teguh. “Kami kembali lagi untuk menyulam tanaman mati dan membersihkan area sekitar sumber air.”

Selain menanam, Peka juga mengadakan aksi bersih sungai dan kampanye pengurangan sampah plastik di jalur pendakian. Mereka ingin menunjukkan bahwa konservasi tak hanya soal menanam, tapi juga soal mengubah perilaku.

Tantangan di lapangan

Namun, menjaga alam tak pernah mudah. Bibit sering mati sebelum berakar kuat karena tanah terlalu kering atau dimakan ternak. Kadang, bibit yang baru tumbuh ditebang warga yang butuh kayu bakar. 

“Kami tidak bisa menyalahkan sepenuhnya,” ujar Teguh. “Orang butuh hidup. Tapi kami berusaha pelan-pelan menjelaskan bahwa hutan adalah tabungan air mereka sendiri.”

air muria.MOJOK.CO
Ada banyak tantangan dalam proses konservasi di hutan Muria. Baik itu tantangan dari manusia, maupun faktor alam. (Mojok.co/Eko Susanto)

Ada juga tantangan struktural. Status kawasan Gunung Muria yang masih bercampur antara hutan lindung dan produksi membuat pengelolaan konservasi sering tumpang tindih. 

Penelitian Novytasari dan kolega, sekali lagi, merekomendasikan perubahan status Muria menjadi Taman Hutan Raya (Tahura) agar memiliki perlindungan hukum yang lebih kuat. Dengan begitu, program konservasi bisa berkelanjutan dan melibatkan masyarakat secara legal. 

“Kalau statusnya jelas, semua pihak bisa bekerja di jalur yang sama,” kata Teguh menanggapi gagasan itu.

Tantangan lainnya adalah cuaca ekstrem. Hujan deras bisa menggerus bibit, sedangkan kemarau panjang mengeringkan tanah. Dalam kondisi itu, mereka bergantung pada semangat relawan. 

“Yang paling penting, jangan menyerah. Pohon memang tumbuh lambat, tapi air yang kembali mengalir, nilainya tak terukur,” katanya.

Setiap tetesan air adalah tanda bahwa Muria belum menyerah

Setelah dua tahun berjalan, hasilnya mulai terlihat. Di beberapa titik, terutama di Rejenu dan Japan, debit air meningkat. Sendang yang dulu kering kini kembali menetes.

Vegetasi baru juga mulai tumbuh. Daun-daun muda muncul di lereng yang dulu gundul. Burung-burung kecil mulai terlihat kembali di antara ranting. Di malam hari, beberapa warga bahkan mengaku mendengar suara kijang.

“Mungkin alam mulai mempercayai kita lagi,” katanya, tertawa.

Selain efek ekologis, juga ada dampak sosial. Anak muda desa kini rutin ikut kegiatan tanam dan bersih sungai. Alhasil, PEKA Muria kini tak lagi berjalan sendiri; mereka berkolaborasi dengan komunitas pecinta alam, petani kopi, dan kelompok perempuan desa.

Yayasan PEKA Muria sadar, perjuangan mereka baru permulaan. Menanam seribu pohon hanya langkah kecil dibanding skala kerusakan yang ada. Namun, bagi mereka, yang penting bukan seberapa banyak pohon yang ditanam, melainkan berapa banyak hati yang ikut tumbuh.

“Konservasi bukan pekerjaan sehari dua hari,” kata Teguh. “Ini soal kesabaran lintas generasi.”

Ia berharap, perubahan status Muria menjadi Taman Hutan Raya benar-benar terwujud, agar perlindungan ekosistem memiliki dasar hukum yang kuat. Namun, lebih dari itu, ia ingin kesadaran menjaga air menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Air adalah utang kita pada bumi,” katanya. “Dan setiap tetes yang kembali mengalir, adalah tanda bahwa Muria belum menyerah.”

Tulisan ini merupakan serial Ekspedisi Tirtamuria untuk edisi Oktober 2025

Reporter: Ahmad Effendi dan Muchamad Aly Reza
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Demak dan Kudus (Hampir) Tenggelam, Banjir Besar Membuat Warga Putus Asa dan Putus Harapan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 7 Juni 2026 oleh

Tags: Ekspedisi Tirtamuriagunung muriakrisis airkudusmuriapilihan redaksisumber mata air
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

20 Agustus 2026
Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet.MOJOK.CO

Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet

25 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.