Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kuliner

Gudeg Koyor Mbak Tum Membuktikan, Kuliner Malam di Semarang Itu Enak 

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
16 September 2023
A A
Gudeg Koyor Mbok Tum Membuktikan Kuliner Malam di Semarang dari bahan otot sapi Itu Enak MOJOK.CO

Ilustrasi Gudeg Koyor Mbok Tum Membuktikan Kuliner Malam di Semarang Itu Enak. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Lembutnya otot sapi di Gudeg Koyor Mbak Tum itu membuktikan kuliner malam di Semarang itu memang enak. Cita rasa gudegnya berbeda dengan gudeg Jogja yang manis.

***

Rasa lapar yang paripurna membuat saya memesan koyor dengan porsi dobel di Gudeg Koyor Mbak Tum Peterongan, Semarang. Semua gara-gara bus yang membawa saya dari Jogja molor lebih dari dua jam dari jadwal seharusnya. 

Sesuai jadwal di tiket yang saya pegang, harusnya saya tiba di Semarang, Jumat 1 September, pukul 22.00. Pikir saya, masih ada waktu untuk menikmati kuliner malam di Semarang. 

Namun, ada perbaikan jalan selepas Magelang yang membuat laju bus sangat lambat. Saya tiba di Semarang haru sudah berganti, sudah pukul 00.30. Begitu tiba di pemberhentian bus di sekitar Jalan Pemuda, ojol yang saya pesan langsung melaju ke Gudeg Koyor Mbak Tum di Jalan MT Haryono, Peterongan, Kota Semarang, Jawa Tengah. 

Tidak ada pilihan lain tempat makan yang enak karena selain keterbatasan informasi saya tentang semarang, energi saya juga sudah habis. Paling aman yang sudah pasti-pasti saja. Pasti masih buka dan pasti enaknya.

Kuliner malam di Semarang yang melegenda

Saya tiba sekitar pukul 01.00 WIB. Tepat ketika lagu terakhir dari pemusik keroncong melantunkan lirik penghabisan. Saya bahkan tidak bisa mengingat, lagu apa yang mereka mainkan. 

Saya bahkan tak sempat mengambil gambar karena mereka sudah langsung membereskan peralatannya.

Sebuah notifikasi muncul di hape saya, mengingatkan kalau saya pernah makan di tempat ini dua tahun sebelumnya. Saya masih ingat waktu itu. Datang di akhir pekan pas waktunya makan malam. Antrean cukup panjang untuk bisa menikmati gudeg dengan lauk otot sapi yang lembutnya masih saya ingat. 

Jadi ada untungnya juga saya datang terlambat. Setidaknya sudah tidak ada antrean di warung ini seperti biasanya. Berbeda kalau saya tiba jam 22.00, pengunjung pasti masih ramai.

Warung Makan Mbak Tum Semarang, ikon kuliner malam di Semarang MOJOK.CO
Warung Makan Mbak Tum Semarang, ikon kuliner malam di Semarang. (Agung P/Mojok.co)

“Jam 2 tutup, Mas,” kata tukang parkir mengingatkan saya. Untungnya meski jam tutup tinggal satu jam lagi, lauk dan sayur di warung ini masih komplit.

Rasa lapar yang hebat membuat saya memesan lauk koyornya dobel, tambah limpa goreng serta teh tawar panas. 

Tidak banyak pengunjung yang saya lihat. Ada rombongan bapak-bapak yang kelihatannya  tengah ngobrol soal politik. Saya tak ada energi untuk mencuri dengar. 

Otot sapi bernama koyor yang jadi ikon Gudeg Koyor Mbak Tum

Perhatian saya hanya tertuju pada piring berisi nasi dan koyor atau otot sapi yang seperti menantang untuk segera diganyang. 

Iklan

Gurih. Cita rasanya memang agak berbeda dengan koyor yang saya nikmati di Jogja. Gudeg Koyor Mbak Tum lebih bercita rasa gurih. Gudegnya juga nggak terlalu manis. Kuahnya menggunakan kuah opor yang kental.

Malam itu, rasa lapar saya menghilang berganti kenyang tengah malam. Saya lantas ngobrol dengan salah satu pegawai di sana. Dia keponakan Mbak Tum. Rupanya, Mbak Tum sudah pulang ke rumah. Sekarang kalau pun ada di warung tidak sampai tengah malam. 

Saya lantas berbincang dengan Pak Ji (46), nama lengkapnya Suparji. Dia adalah karyawan paling lama di Gudeg Koyor Mbak Tum yang berdiri tahun 1991. “Saya mulai kerja tahun 1998,” katanya. 

Ia melayani obrolan saya sambil memberesi piring di dapur. Semua karyawan mulai beberes. “Warung tutup jam 2 mas, kalau dulu tahun 1998 sampai beberapa tahun lalu masih buka sampai jam 3 pagi,” kata Pak Ji. 

Pak Ji mengingat, dulu pengunjung belum seramai sekarang. Jualannya masih di depan warung yang sekarang. “Mulai ramai ya tahun 2000-an. Banyak orang luar daerah sampai artis ke sini,” kata Pak Ji. 

Kuliner malam di semarang yang enak MOJOK.CO
Seporsi gudeg dengan lauk koyor dobel di Warung Gudeg Koyor Mbak Tum Semarang. (Agung P/Mojok.co)

Langganannya artis dan pejabat

Ia mengingat, artis idolanya, Inul datang suatu malam ke Gudeg Koyor Mbak Tum. Namun, ia tidak punya keberanian untuk minta foto bareng. “Isin, Mas…,” katanya tertawa. Selain Inul banyak artis yang ia tak bisa hapal satu persatu datang ke warung gudeg itu. Begitu juga dengan pejabat.

Sayang saya tidak bisa ngobrol dengan Mbak Tum karena beliaunya sudah pulang ke rumah. Kata Pak Ji, Mbak Tum sekarang di warung hanya sebentar. Faktor usia mungkin jadi pertimbangan. 

Saya berusaha menghubungi Mbak Tum lewat nomor telepon di kartu nama, tapi tidak juga tersambung. Di kartu nama berwarna kuning itu tertulis aneka menu yang disediakan Warung Mbak Tum. Selain nasi gudeg, juga ada lontong opor, koyor, ayam goreng, babat goreng, dan sambel pete.  

Sebagai tempat kuliner malam di Semarang, menu-menu di sini menantang untuk diganyang. Salah seorang pengunjung saya temui sedang membayar di kasir. Namanya Aming (56). Ia merupakan pelanggan tetap Gudeg Koyor Mbak Tum. Dalam seminggu dia bisa dua sampai tiga kali makan di tempat itu. 

Semua menu di warung itu ia suka. Gudegnya menurutnya pas dengan seleranya yang nggak terlalu suka rasa manis. 

“Wah wis ora keitung makan di sini. Sejak jualannya masih di emperan saya sudah jadi langganan,” kata Aming. Ia bersaksi, dulu Gudeg Koyor Mbak Tum belum sebesar seperti sekarang. 

Warung Makan Mbak Tum dengan menu utama gudeg koyor dan lontong opor. (Agung P/Mojok.co)

Berawal dari warung kecil di daerah “gelap”

Tempat jualannya dulu juga belum senyaman sekarang. Apalagi daerah tempat jualan termasuk daerah “gelap”. Di sekitar itu, sudah biasa banyak orang mabuk. 

Mas Supri (45) yang asli Wonodri, tukang parkir di Gudeg Koyor Mbak Tum juga menjadi saksi bagaimana warung dengan kuliner khas sajian otot sapi ini kini jadi terkenal. Ia membenarkan, dulunya kawasan warung tempat jualan termasuk daerah “gelap”. 

Sekarang berubah menjadi tempat yang ramai dikunjungi oleh wisatawan-wisatawan dari berbagai daerah. Bahkan menjadi salah satu ikon kuliner makan legendaris di Kota Semarang. “Rumah saya cuma di belakang situ, jadi saya tahu gimana dulu warungnya cuma kecil, sekarang yang datang kalau ramai pakai bis. Datang dari mana-mana, artis juga sering ke sini,” kata Supri. 

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Sego Koyor Bu Parman, Kuliner Malam di Jogja untuk Adu Otot 

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 16 September 2023 oleh

Tags: gudeggudeg koyor mbak tumkoyorkuliner malamkuliner malam di semarangkuliner semarangotot sapi
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis di Mojok.co, suka bercocok tanam.

Artikel Terkait

Menyesal Sarapan Gudeg Jogja setelah Jadi Korban Nuthuk Rega (Unsplash)
Pojokan

Ketika Orang Jogja Dibuat Menyesal Sarapan Gudeg Jogja karena Jadi Korban Nuthuk Rega

25 Maret 2026
Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)
Pojokan

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026
Makanan Khas Sunda dan Jogja Bikin Muak- Bau Busuk dan Manis (Wikimedia Commons)
Pojokan

Makanan Khas Sunda Bikin Menderita Orang Jogja, Sama Seperti Perantau Sunda Muak dengan Makanan Jogja yang Serba Manis

11 Maret 2026
3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat- Mahal dan Berjarak (Wikimedia Commons)
Pojokan

3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat: Ketika Lidah Lokal yang Murah Direbut oleh Lidah Wisatawan yang Dipaksa Mahal

11 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stres menyeimbangkan pekerjaan sampingan dan pekerjaan kantoran karena side hustle

“Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja

1 April 2026
Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Mencoba Menghabiskan Makanannya MOJOK.CO

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Menghabiskan Makanannya

1 April 2026
Kereta eksekutif murah selamatkan saya dari neraka kereta ekonomi. MOJOK.CO

Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi

1 April 2026
Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya MOJOK.CO

Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya

27 Maret 2026
Arti Sukses dan Cuan di Mata Petani Cabai Rawit MOJOK.CO

Arti Sukses di Mata Pak Karjin, Petani Cabai Rawit dengan Lahan 1 Hektare: Cuan Puluhan Juta, Modalnya Bikin Jantung Copot

26 Maret 2026
Salah paham pada kuliner sate karena terlalu miskin. Baru benar-benar bisa menikmatinya setelah dewasa untuk self reward MOJOK.CO

Salah Paham ke Sate: Kaget dan Telat Sadar kalau 1 Porsi Bisa buat Diri Sendiri, Jadi Self Reward Tebus Masa Kecil Miskin

31 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.