Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Unair Surabaya Memang Kampus Impian, tapi PTS Kecil di Solo yang Menghidupkan Kembali Mimpi Saya

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
11 Oktober 2025
A A
Unair Surabaya.MOJOK.CO

Ilustrasi - Kuliah di Unair Surabaya (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kuliah di Unair Surabaya adalah mimpi banyak orang. Namun, terkadang mimpi itu harus dikubur karena kenyataan yang tak mendukung. Dan, mimpi itu bersemi lagi di tempat yang tak terduga.

***

Iklan

Niko (26) masih ingat betul satu kalimat yang membuatnya senang bukan main. 

“Selamat! Anda diterima di Universitas Airlangga Surabaya”

Kira-kira begitu bunyi Pengumuman SNBT (dulu SBMPTN) 2019 yang Niko terima.

Ia masih hafal tiap hurufnya. enam tahun lalu, kalimat itu seperti “tiket” meraih mimpinya.

“Waktu itu aku langsung sujud syukur, di warnet,” kenang lelaki asal Solo ini, Jumat (10/10/2025). “Waktu aku pulang dan mengabari ortu, bapak dan ibu langsung nangis. Rasanya kayak mimpi yang akhirnya jadi nyata.”

Unair Surabaya dan misi menyambung mimpi kakak yang terputus

Bagi Niko, diterima di Unair bukan hanya soal prestise kampus besar. Ia merasa sedang menyambung mimpi yang dulu tak sempat selesai.

Beberapa tahun sebelumnya, kakaknya juga bercita-cita masuk Unair Surabaya. Kakaknya dikenal cerdas, selalu ranking di SMA, dan aktif di masyarakat. Ia bahkan berceloteh ingin jadi orang hukum agar bisa membantu warga kecil di kampungnya, Solo. 

Sayang, sebelum sempat mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi, kakaknya meninggal dalam kecelakaan motor saat pulang sekolah.

“Waktu itu aku masih SMP,” kata Niko, pelan. “Bapak sering bilang, semoga aku bisa melanjutkan mimpi kakak kuliah di sana.”

Sejak itu, Unair Surabaya menjadi satu-satunya universitas yang ia impi-impikan. Niko belajar hingga larut malam, rela ikut jam tambahan sepulang sekolah, hingga bimbel di akhir pekan.

Oleh karena itu, saat pengumuman SBMPTN 2019 keluar, Niko tak hanya bangga. Ia merasa utang lama akhirnya lunas. 

“Bapak bilang, ‘Akhirnya mimpi kakakmu nggak sia-sia.’”

Iklan

Namun euforia itu tak bertahan lama. Begitu surat dari kampus datang, wajahnya langsung berubah cemas. Ia tak lolos program beasiswa Bidikmisi. Sementara UKT yang harus ditanggung tak main-main jumlahnya: hampir Rp6 juta per semester.

“Ya untuk ukuran Bapakku yang pas-pasan, cuma kerja di bengkel kecil, itu UKT gede,” kata dia. “Tapi Bapak cuma bilang, ‘Kamu berangkat dulu. Soal uang, nanti kita pikir bareng-bareng.’”

Kuliah dengan ngos-ngosan

Dua semester pertama di Unair Surabaya ia jalani dengan semangat yang campur was-was. Ia belum lolos Bidikmisi, tapi berharap di semester tiga ada peluang baru masuk kuota susulan.

Sementara itu, untuk menutup biaya hidup, Niko bekerja serabutan, apapun itu. Kadang membantu teman jualan online, jaga rental PS di malam hari, hingga mengetik tugas orang lain. 

“Kadang cuma tidur tiga jam,” ujarnya sambil tertawa kecil. “Kalau ingat masa-masa itu, rasanya malah hidupku lebih banyak kerja daripada kuliah.”

Lama-lama, tekanan terasa makin berat. Teman-teman di kampus bisa nongkrong di kafe, beli laptop baru, atau ikut organisasi. Sementara dirinya, malah lebih banyak disibukkan dengan urusan kerjaan–yang bahkan upahnya tak seberapa.

 “Bukan iri ya, tapi kadang aku bertanya: apa salah ya lahir di keluarga miskin? Rasanya begini banget”

Memutuskan mundur dari Unair karena kondisi

Di balik senyum ramahnya, Niko menyimpan kegelisahan: bagaimana jika semester depan (tiga) tak sanggup lagi membayar UKT?

Jawabannya datang lebih cepat dari yang ia kira. Pertengahan 2020, pandemi Covid-19 melanda. Sebagaimana dialami banyak orang, ayahnya kehilangan pekerjaan. 

“Bulan itu, aku nggak bisa bayar UKT,” ujar Niko. Ia akhirnya memutuskan pulang ke Solo untuk cuti kuliah satu semester. Yang kemudian, malah berlanjut ke semester berikutnya.

Alhasil, sepanjang 2020–2021, untuk mengisi waktu cuti Niko bekerja serabutan di kampung halaman sebagai driver ojol. Uang hasil ngojol ia tabung untuk biaya kuliah, dan sebagian lagi untuk membantu perekonomian keluarga.

Sebenarnya, Niko masih berharap dapat beasiswa swasta. Namun, karena dua semester cuti, ia merasa kansnya sangat kecil. Maka, pada pertengahan 2021–setelah dua semester cuti, Niko memutuskan mengundurkan diri dari Unair Surabaya. 

“Bukan karena menyerah, tapi lebih ke realistis. UKT setinggi langit, beasiswa tak dapat. Belum lagi hidup di perantauan juga tak murah.”

Dari hasil tabungannya, Niko memutuskan mendaftar ke sebuah PTS kecil di Solo. Kuliah di kampung halaman, ia rasa bikin semua lebih mudah. Selain tak perlu ngekos, ia juga bisa memberi perhatian ibunya yang mulai sakit-sakitan.

PTS kecil yang menghidupkan mimpi

Per 2021 Niko resmi meninggalkan Unair Surabaya dan kuliah di kampus kecil di kampung halamannya. Gedungnya tak besar, ruang kelasnya sempit, bahkan ia sering ngguyoni “kampus ruko”.

Kendati demikian, ia bisa hidup lebih tenang. Biaya kuliah yang jauh lebih murah, setidaknya tak membebani pikirannya lagi. Ia tetap bekerja serabutan, ngojol dan beberapa kali ikut event budaya.

“Tetap kerja karena itu sebagai wujud tanggung jawabku sama orang tua,” ujarnya.

Rutinitasnya memang melelahkan. Namun, tiap kali ingin mengeluh, ia mengingat masa-masa di Unair Surabaya yang tekanan hidupnya jauh lebih berat. Dengan begitu, ia punya alasan untuk bersyukur.

 “Dulu aku pikir, kampus besar pasti lebih baik,” ujarnya. “Tapi kadang, ada rencana lain yang lebih indah.”

Awal 2025 ini, Niko resmi lulus kuliah dari PTS kecil itu. Ia kini menunggu tawaran kerja dari sebuah agensi kreatif lokal yang sempat ia magangi.

“Dulu aku pikir aku sudah gagal karena nggak bisa lanjut di Unair. Tapi sekarang aku sadar, yang penting bukan di mana kita belajar, tapi seberapa besar kita bertahan.”

Bagi Niko, PTS kecil di Solo itu bukan pelarian, tapi rumah baru yang menampung harapan ketika semua pintu nyaris tertutup. Ia berhasil menamatkan kuliah dengan nilai baik, membantu orang tuanya, dan tetap merasa setia pada mimpi kakaknya.

Penulis: Alasan Saya Mengabaikan Pengumuman Lolos di UGM, Lebih Pilih Kuliah di Universitas Terbuka Malang untuk Bertahan Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Oktober 2025 oleh

Tags: kampus di solokampus swasta solopilihan redaksipts di solorekomendasi pts di soloSurabayaunairUNAIR Surabayauniversitas airlangga
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Wisata Perahu Kalimas di Taman Prestasi Surabaya jadi liburan mewah. MOJOK.CO
Urban

Kemewahan Wisata Perahu Kalimas Menyelamatkan Orang Haven’t Surabaya sebelum Dilanda Stres

11 Agustus 2026
Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial MOJOK.CO
Eksplor

Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

10 Agustus 2026
Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO
Urban

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO
Catatan

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

77 persen lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) tembus dunia kerja. Lebih dari dari lulusan S1 MOJOK.CO

Lulusan Sekolah Vokasi (Sarjana Terapan) Lebih Laris di Dunia Kerja dari S1, Industri Butuh yang Berketerampilan

7 Agustus 2026
Lomba Agustusan di desa jadi toxic dan merusak moral anak muda gara-gara paparan kreator konten di media sosial MOJOK.CO

Lomba Agustusan di Desa Jadi Toxic dan “Merusak” Anak Muda karena Terpapar Konten Kreator, Tidak Seasyik Dulu

8 Agustus 2026
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bertemu dengan tim KKP membahas program budi daya ikan tematik. (Sumber: Humas Pemda DIY)

64 Lokasi di Kalurahan DIY Kecipratan Jatah Program Budi Daya Ikan Tematik dari KKP

5 Agustus 2026
Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja.MOJOK.CO

Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja

6 Agustus 2026
Wisata Perahu Kalimas di Taman Prestasi Surabaya jadi liburan mewah. MOJOK.CO

Kemewahan Wisata Perahu Kalimas Menyelamatkan Orang Haven’t Surabaya sebelum Dilanda Stres

11 Agustus 2026
Perjuangan orang haven't ingin jadi mahasiswa baru (maba) tanpa sponsor orang tua melalui beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO

Nasib Orang Haven’t: Ingin Jadi Maba Tanpa Sponsor Orang Tua, Harus Alami Kerja di Warung Mie Ayam 16 Jam Upah 30 Ribu

7 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.