Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Begitu Spesialnya UGM di Mata Banyak Orang, Ditolak Berkali-kali saat S1 Lanjut Mencoba Jenjang S2

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
27 Januari 2024
A A
UGM Jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi masuk UGM (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi banyak kalangan, UGM Jogja merupakan kampus yang spesial. Bukan hanya soal kualitas pembelajarannya, ada banyak aspek lain yang membuat beberapa orang bertekad mencoba S2 setelah gagal berulangkali masuk ke sana saat S1.

Salah satunya Akbar (24), begitu lulus SMA ia menjadikan UGM sebagai destinasi utama lanjut studi. Apesnya, ia gagal dalam empat kali percobaan di berbagai jalur selama dua tahun. Sehingga, akhirnya kuliah di PTN lain di Jogja.

Iklan

Bahkan, ia menyadari bahwa dulu ia mengutamakan kampusnya ketimbang jurusan yang sesuai minat dan bakatnya. Ia mengaku pada akhirnya menyadari bidang yang ia suka setelah masuk di kampus lain.

“Dulu saat mengejar UGM itu ya memang utamanya melihat kampusnya. Tapi, setelah gagal aku jadi sadar bahwa paling utama adalah jurusannya. Bidang yang sesuai dengan minat dan kemampuan kita,” katanya.

Namun, setelah menyandang gelar sarjana dan lebih paham soal apa yang ia hendak tuju dalam hidup, ia kembali memutuskan mendaftar UGM untuk jenjang S2. Keputusan ini menurutnya sudah terpikirkan dengan matang.

Kisah lain datang dari Rama (23), yang dulunya merupakan siswa di sebuah SMA Negeri di Kota Jogja. Menurutnya, di kalangan teman-temannya tujuan utama kuliah adalah UGM. Kampus tersebut bak jadi standar minimum bagi anak-anak SMA Negeri di Kota Jogja.

“Mau yang pintar sampai yang biasa aja, masuk UGM itu hal lumrah. Standarnya ya kampus itu,” ungkapnya kepada Mojok, Kamis (25/1/2024).

Sehingga ia pun bertekad untuk masuk di kampus tersebut. Namun, sayangnya pada tahun pertama setelah kelulusan ia gagal masuk. Nasib membawanya masuk ke PTN lain di Jogja di tahun pertama setelah lulus SMA.

Ia sempat ingin mencoba seleksi lagi pada tahun kedua setelah kelulusan. Namun, akhirnya ia putuskan untuk melanjutkan di tempat tersebut sampai menyandang gelar sarjana. Selepas itu, ternyata ia kembali mengejar mimpinya masuk UGM di jenjang S2.

UGM dengan kampus lain di Jogja terasa timpang

Rama hendak mengambil studi magister di bidang yang sama dengan pilihannya saat mendaftar UGM jenjang S1. Artinya, tujuannya bukan sekadar mengejar gengsi kampus namun ada keilmuan spesifik yang hendak ia dalami.

“Sebab dulu di PTN lain aku bukan masuk jurusan itu. Kalau di Jogja, bidang itu cuma ada di UGM,” katanya.

Namun, ada hal yang baginya membuat UGM itu benar-benar berbeda dengan kampus lain di Jogja. Menurutnya, kampus itu bukan hanya punya kualitas pembelajaran dan fasilitas yang memadahi, melainkan juga kultur akademiknya yang memacu semangat.

ugm jogja.MOJOK.CO
Ilustrasi. Kultur akademik yang baik penting bagi mahasiswa (Jason Goodman/Unsplash)

“Kalau masuk ke lingkungan UGM, terus membandingkan ke kampus lain di Jogja, terasa timpang sekali. Setiap sudut UGM itu seperti bisa jadi tempat belajar dan berdiskusi,” katanya.

Rama cukup menyoroti detail sudut-sudut kampus tersebut karena banyak temannya yang kuliah di sana. Sehingga ia sering berkunjung. Salah satu sudut yang menurutnya menarik adalah perpustakaannya.

Iklan

“Kalau lihat film-film berlatar kampus di barat, gambaran yang sama cuma aku dapat di UGM. Perpustakaannya hidup dan mahasiswa bisa melakukan berbagai aktivitas di sana,” katanya.

Termasuk soal organisasi dan kegiatan mahasiswa, ia merasa Kampus Kerakyatan ini punya wadah yang jauh lebih lengkap ketimbang kampus lain di Jogja. Baik UKM, kelompok studi, hingga perkumpulan yang mendukung riset dan studi mahasiswa.

Jejaring alumni yang mantap

Selain itu, Rama merasa UGM jadi kampus dengan jejaring alumni terkuat di Indonesia. Hal ini tentu bermanfaat bagi lulusannya saat masuk ke dunia kerja.

Serupa, Akbar juga menuturkan salah satu alasannya mendaftar MM UGM karena banyaknya figur alumni yang menginspirasi. “Nggak bisa dimungkiri itu jadi faktor pendukung kenapa mau lanjut S2 di tempat yang sudah menolak aku 4x,” kelakarnya.

Tidak dimungkiri bahwa UGM masih jadi top of mind perguruan tinggi di Indonesia. Salah satunya tampak dari Pemilu Presiden 2024, yang melibatkan empat aluminya di antara tiga pasangan calon yang menjalani kontestasi.

Meski saat itu kampus lain kualitasnya terus meningkat, setiap tahun, puluhan ribu calon mahasiswa menjadikan UGM sebagai pilihan bahkan satu-satunya tujuan studi lanjut.

Penulis: Hammam Izzuddin

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Bersyukur Ditolak UGM Berulangkali, Kampus Lain Lebih Menarik dan Karier Jadi Lancar setelah Lulus

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 27 Januari 2024 oleh

Tags: JogjaKampusS1s2UGM
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co
Hiburan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.