Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Kisah Profesor Sarjiya, Anak Buruh yang Tidak Bisa Baca Tulis Jadi Profesor di UGM

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
10 Februari 2024
A A
Kisah Profesor Sarjiya, Anak Buruh yang Tidak Bisa Baca Tulis Jadi Profesor di UGM MOJOK.CO

Ilustrasi Kisah Profesor Sarjiya, Anak Buruh yang Tidak Bisa Baca Tulis Jadi Profesor di UGM. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

ProfesUsai membacakan pidato pengukuhan guru besarnya, Prof Sarjiyo beranjak mendekat ke ibunya. Ia bersujud di kaki ibunya yang meski tidak baca tulis bisa berjuang sekuat tenaga agar ia bisa mendapatkan pendidikan terbaik.

***

Iklan

Suasana haru tercipta di Balai Senat UGM, Kamis 2 Februari 2024 silam.  Usai membacakan pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir Sarjiya, MT., Ph.D, IPU., mendekat ke ibunya, Sumirah ia bersujud di kaki ibunya. 

Bapak ibu tidak bisa baca tulis tapi ingin anak laki-lakinya terus sekolah

Suasana haru sudah tercipta saat Prof Sarjiya membacakan pidato pengukuhan guru besarnya yang berjudul Integrasi Variable Renewable Energy dalam Perencanaan dan Operasi Sistem Tenaga Listrik Menuju Transisi Energi Berkelanjutan. Di sela-sela pidatonya beberapa kali ia tercekat dan mengusap air mata saat  mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang membantunya sampai pada titik saati ini. 

“Bapak, ibu tidak pernah sekolah, tidak bisa baca tulis. Bapak jadi buruh tobong gamping, ibu setiap hari jualan gula kepala. Capaian ini nggak terbayangkan saat saya masih kecil. Sulit, membayangkan beratnya bapak ibu, makasih ibu,” kata Prof Sarjiya dengan suara tercekat. 

Mengutip laman ugm.ac.id, Prof Sarjiya lahir di Kulon Progo 51 tahun silam  dari keluarga sederhana di Lendah, Kulonprogo. Ayahnya, Pujidiyono, sehari-hari bekerja sebagai buruh tobong labor atau perajin gamping. Sedangkan sang ibu, Sumirah, pedagang gula jawa yang setiap harinya berkeliling menyusuri jalan di kota Yogyakarta untuk menjajakan dagangannya. 

“Ibu dan bapak tidak membaca menulis dan tidak merasakan bangku sekolah. Bahkan pendapatan sangat terbatas, bapak sebagai buruh tobong gamping dan ibu menjajakan gula jawa. Mereka mengizinkan saya untuk sekolah di Kota Jogja selepas dari SMP Brosot, atas izin mereka saya masuk SMAN 1 Jogja kemudian Teknik Elektro UGM,” kata Sarjiya seperti dikutip dari YouTube UGM. 

Prof Sarjiya meminta maaf pada adik perempuannya

Meski tidak mengenyam pendidikan, orang tua Prof Sarjiya sangat ingin anaknya bisa mencapai pendidikan tinggi. Tiga kakak perempuannya bahu membahu membantu memenuhi kebutuhan keluarga agar Sarjiya bisa sekolah. 

Sarjiya dalam suara yang haru dan sesekali menyeka air matanya meminta maaf pada adik perempuannya. 

“Secara khusus saya mohon maaf kepada adikku, Suparsih.  Waktu itu terpaksa tidak bisa melanjutkan ke bangku SMA, meskipun dengan nilai ujian SMP yang sangat baik, karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan untuk membiayai sekolah kita berdua secara bersamaan. Semoga pengorbanan kakak-kakak dan adikku mendapatkan imbalan kebaikan yang lebih banyak dari Tuhan Yang Maha Esa,” kata anak keempat dari lima bersaudara ini.

Prof Sarjiya dengan ibundanya, Sumirah. (Dok. YouTube UGM)
Prof Sarjiya dengan ibundanya, Sumirah. (Dok. YouTube UGM)

Usai menyampaikan pidato, Sarjiya langsung mendatangi sang ibunda sambil bersujud. Ia memeluk ibundanya dengan erat. Selanjutnya ia menyalami empat saudara perempuannya. Sayang, sang Ayah tidak hadir di momen pengukuhan dirinya karena sudah berpulang. “Maturnuwun Bu,” kata Sarjiya terbata-bata.

Sarjiya menyelesaikan pendidikan dasar di SDN Pengkol, Kulon Progo tahun 1987, lalu menyelesaikan pendidikan menengah pertama di SMP Brosot tahun 1990. Ia kemudian melanjutkan sekolah di SMAN 1 Yogyakarta (SMA Teladan) tahun 1993 dan di tahun yang sama melanjutkan pendidikan tingginya di S1 Teknik Elektro UGM. 

Sarjiya melanjutkan pendidikan S2 di Magister Teknik Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik, lulus tahun 20021. Pendidikan doktor diselesaikan di prodi Electrical Engineering, Chulalongkorn University, Thailand.

Prof Sarjiya jadi guru besar UGM ke-465

Profesor Sarjiya menjadi bagian dari 465 guru besar yang dimiliki UGM. Di Fakultas dari 1 dari 76 guru besar aktif dari 102 guru besar yang dimiliki Fakultas Teknik UGM.

Iklan

Dalam pidato pengukuhan yang berjudul Integrasi Variable Renewable Energy dalam Perencanaan dan Operasi Sistem Tenaga Listrik Menuju Transisi Energi Berkelanjutan, Sarjiya mengatakan untuk menuju transisi energi yang berkelanjutan di Indonesia perlu dalam rangka pemanfaatan secara optimal seluruh potensi energi baik terbarukan maupun non terbarukan.

Dengan karakterisitik intermitensinya, integrase potensi variable renewable energy ke dalam grid untuk memenuhi kebutuhan energi nasional menghadapi banyak tantangan. Oleh karena itu diperlukan inovasi dalam perencanaan dan operasi sistem tenaga untuk memastikan layanan energi listrik yang handal, aman, berkualitas dapat diberikan kepada konsumen dengan biaya penyediaan yang ekonomis.

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Mbah Tukiyo dari Sidoarum yang Selalu Berpikir Positif di Atas Sepeda Onthelnya 

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2024 oleh

Tags: anak buruhguru besar UGMKulon ProgoProfesor SarjiyaUGM
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis dengan pengalaman lebih dari dua dekade yang menekuni penulisan feature dan jurnalisme naratif. Punya ketertarikan pada kisah-kisah manusia yang jarang mendapat sorotan.

Artikel Terkait

Mila lulusan Fapet UGM. MOJOK.CO
Sekolahan

Dobrak Keraguan Perempuan Tak Pantas Jadi Peternak, Alumnus Fapet UGM Ini Berhasil Raih Rp700 Juta di Tuban

29 Juni 2026
Menurut Pakar UGM, Pelatihan Dasar Militer (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah putih/KDMP) harus dievaluasi MOJOK.CO
Kabar

Pelatihan Militer ke Manajer Kopdes Merah Putih Perlu Didesain Ulang, Harus Lebih Relevan dengan Tata Kelola Koperasi agar Tak Ada Korban Lagi

29 Juni 2026
UGM.MOJOK.CO
Sekolahan

Berhasil Kuliah Gratis di Jurusan Mahal UGM Berkat Kebiasaan Belajar Pukul 3 Pagi dan Hobi “Nongkrong” di Perpus Hingga Malam Hari

24 Juni 2026
dosen.MOJOK.CO
Sekolahan

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Peluncuran logo dan maskot MTQ Nasional XXXI di Semarang, Jawa Tengah MOJOK.CO

MTQ Nasional XXXI Jateng: Warna Baru Festival Al-Qur’an Terbesar dan Adem Ayem di Semarang

25 Juni 2026
Bisa kuliah di ITB berkat beasiswa ojol. MOJOK.CO

Menangis di Hadapan Bapak yang Sehari-hari Ngojol agar Diizinkan Kuliah di ITB, Gadis Malah Dapat Beasiswa dari Pekerjaan Sang Ayah

24 Juni 2026
Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri? MOJOK.CO

Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri?

29 Juni 2026
Ragam karya dan pertunjukan dalam Ars Longa: Generatio sebagai pembuka Trilogi Seni ARTJOG MOJOK.CO

Ragam Karya dan Pertunjukan dalam “Ars Longa: Generatio” sebagai Pembuka Trilogi Seni ARTJOG

24 Juni 2026
UGM.MOJOK.CO

Berhasil Kuliah Gratis di Jurusan Mahal UGM Berkat Kebiasaan Belajar Pukul 3 Pagi dan Hobi “Nongkrong” di Perpus Hingga Malam Hari

24 Juni 2026
Gen Z, membaca, buku.MOJOK.CO

Gen Z di Indonesia, Generasi Paling Aktif Membaca tetapi Paling Tak “Terliterasi”

24 Juni 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.