Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Serba Salah Mahasiswa Hadapi Dosen Tua Kolot: Bikin Tugas Bagus Dituduh Plagiat kalau Jelek Dicap Goblok, Cuma Mau Benar Sendiri

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
8 Juni 2025
A A
Mahasiswa baru kesel hadapi dosen tua MOJOK.CO

Ilustrasi - Mahasiswa baru kesel hadapi dosen tua. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sisi menyebalkan seorang dosen tua tidak hanya terlihat ketika bimbingan skripsi (dosen pembimbing). Sepengakuan narasumber Mojok, dosen tua pengampu mata kuliah pun ada saja yang bertingkah menyebalkan: Meremehkan kapasitas mahasiswa baru hingga merasa benar sendiri sehingga susah mendengar pendapat orang lain.

Saat akhirnya menjadi mahasiswa baru, Amirul (20) dan Barro’ (19) membayangkan akan mendapat ekosistem intelektual yang sehat. Ekosistem yang melatih mereka critical thinking dan memberi ruang eksplorasi.

Iklan

Mereka membayangkan, para dosen akan mengakomodir mahasiswa dalam diskusi-diskusi menyenangkan. Namun, sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya.

Dosen tua aneh, mahasiswa nulis bagus dituduh plagiat dan pakai AI

Belum juga menuntaskan presentasi tugasnya di kelas, tiba-tiba dosen pengampu mata kuliah (pria umur 50-an) meminta Amirul dan satu teman kelompoknya berhenti. Di hadapan mahasiswa sekelas, si dosen lantas menyobek lembar-lembar paper milik kelompok Amirul.

Peristiwa itu terjadi di tahun keduanya kuliah (2024 lalu). Rasanya masih menyesakkan hingga sekarang.

“Dia menuduh kami copas (plagiat). Dia bilang, ‘Saya tahu ini bukan cara nulis mahasiswa. Ini mesin. Kalau nggak plagiat berarti pakai ChatGPT’,” beber Amirul, Jumat (6/6/2025).

Tentu saja Amirul mencoba membela diri. Pasalnya, paper itu dia dan temannya garap dengan sungguh-sungguh. Karena memang keduanya ingin menggarap setiap tugas kuliah dengan sebaik-baiknya.

Demi menuntaskan tugas itupun, Amirul meminjam beberapa buku referensi yang tersedia di perpustakaan kampus.

Meremehkan kemampuan mahasiswa

Amirul jelas saja membela diri. Akan tetapi, si dosen tua itu membentaknya agar jangan terlalu banyak berkilah.

“Saya ini sudah puluhan tahun mengajar. Sudah hafal betul karakter tulisan mahasiswa,” kata si dosen. Alhasil, sisa waktu hari itu dihabiskan si dosen tua untuk ceramah perihal plagiarism.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Amirul hanya bisa terdiam, meski hatinya bergolak penuh amarah. Bagaimanapun, tuduhan sepihak itu mendiskreditkan usahanya dalam menggarap tugas dengan sebaik-baiknya. Sekaligus mempermalukannya di hadapan mahasiswa lain atas apa yang sebenarnya tidak dia lakukan.

“Memang kenapa ada mahasiswa yang tulisannya bagus? Kok meremehkan sekali,” ungkap Amirul. Tapi kejadian berikutnya juga tak kalah kocak kalau kata Amirul.

Tulisan jelek digoblok-goblokkan

Lain hari, masih di tahun dan dengan dosen yang sama, pengkerdilan semacam itu terjadi kepada mahasiswa lain.

Barangkali berkaca dari kasus Amirul, mahasiswa yang akan presentasi menggarap papernya sekadarnya. Tidak bagus-bagusan. Hasilnya, si dosen malah menggoblok-goblokkannya.

Iklan

“Sudah mahasiswa kok tulisannya kayak bocah SMP. Nggak terstrukrur. Logikanya loncat-loncat,” begitu kata si dosen tua yang masih terngiang di telingan Amirul.

Hari itu, Amirul dan mahasiswa-mahasiswa lain di kelasnya pun hanya bisa saling bergumam: Nulis bagus salah, nulis ala kadarnya tetap salah. Terus yang benar bagaimana?

Sepanjang satu semester diampu oleh dosen tersebut, kelas hanya berisi pengkerdilan terhadap kemampuan mahasiswa.

Jangan harap ada diskusi. Si dosen menutup ruang untuk itu. Perkuliahan berlangsung searah: Mahasiswa hanya jadi pendengar omong besar si dosen.

“Dia nuduh cara kami nulis kayak anak SMP. Padahal dia sendiri cara ngajarnya kayak guru SD,” dengus Amirul.

Dosen tua tak mau didebat

Sementara dalam kasus Barro’ (mahasiswa angkatan 2024), dosen yang dia hadapi (juga umur 50-an), adalah tipikal dosen tua yang kolot dan baperan.

“Misalnya kami memberi argumen yang berbeda dengan dia, langsung dibanting. Pokoknya yang benar hanya argumennya,” tutur Barro’.

Pernah suatu kali, Barro’ membeberkan sudut pandangnya atas topik mata kuliah yang dibicarakan. Si dosen tua langsung mencecar Barro’: Mengutip dari buku apa/siapa?

Barro’ tidak bisa spesifik menyebut buku yang berkaitan langsung dengan mata kuliah tersebut. Sebab, basis referensinya adalah logika yang terasah dari membaca buku dan mengikuti berbagai diskusi. Argumen Barro’ lalu dianggap tidak sah.

Cuma pengin benar sendiri

Namun, di lain kesempatan ketika Barro’ berhasil memberikan argumen dari referensi babon, si dosen tua itu justru membantahnya dengan argumen pribadi.

“Aku yang kesel langsung tanya, bisa Bapak lampirkan sekalian referensinya? Jawabannya kocak sekali,” lanjut Barro’.

“Kamu meragukan keilmuan saya? Saya sudah doktor. Kamu baru mahasiswa kemarin sore,” jawab si dosen.

Barro’ kemudian diusir dari kelas. Bahkan dia baru diizinkan mengikuti perkuliahan lagi jika menyatakan permohonan maaf di ruang dosen.

“Bener-bener nggak sehat. Si dosen cuma mau benar sendiri,” sambung Barro’.

Apa salahnya diskusi interaktif?

Sepengakuan Amirul dan Barro’, ada banyak dosen di kelas mereka yang menyenangkan. Mengakomodir mahasiswa untuk adu gagasan. Jika ada cara pikir mahasiswa yang keliru, tidak lantas digoblok-goblokkan, tapi diluruskan dengan cara menyenangkan.

Itulah yang Amirul dan Barro’ harapkan dari dosen-dosen tua. Agar tidak terjebak dalam kekolotan dan cara pikir lama.

“Apa salahnya mahasiswa bisa nulis bagus? Justru malah bagus lah kalau begitu. Kalau nggak percaya, kan bisa diuji saja, bisa nggak kami melampirkan referensinya? Kami bisa menguasai materinya nggak?” Kata Amirul.

Atau kalau masih tidak percaya, kan ada banyak tools untuk mengecek plagiarisme (kendati tools inipun belakangan mulai dipertanyakan akurasinya). Namun, alih-alih melakukan rangkaian uji itu, tapi malah lebih memilih mengkerdilkan kemampuan mahasiswa.

“Apa salahnya diskusi interaktif? Malah bagus loh untuk melatih critical thinking. Tapi rasanya dosen tua nggak mau mahasiswanya jadi kritis,” tandas Barro’.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tinggalkan Skripsi demi Jadi Penjaga Warung Madura, Cuannya bikin Gelar Sarjana Terasa Tak Guna atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2025 oleh

Tags: Dosendosen kolotdosen tuaMahasiswamahasiswa barupilihan redaksitipe dosentipe mahasiswa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO
Urban

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO
Catatan

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026
Dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum, Najwa Shihab berpesan pada para mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus agar terus menulis (esai) apapun profesinya MOJOK.CO

Pesan untuk Gen Z: Menulislah Apapun Kelak Profesinya, Tak Lupa Akar di Manapun Posisinya

7 Juli 2026
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026
Truk sampah di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

Mengais Asa di TPA Troketon, Benteng Terakhir Penghidupan Warga Klaten

10 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.