Daftar isi dan daftar pustaka dalam sebuah skripsi sering dianggap “sepele”. Namun, dua hal inilah yang bikin narasumber Mojok nyaris tak lulus kuliah. Ia pun mengaku menyesal mengapa tak pernah mempelajarinya dengan serius.
***
Oktober 2023. Momen ini tak pernah dilupakan oleh Adam (24), alumni salah satu universitas negeri di Jogja. Pada tanggal tersebut ia merasa sedikit lega meski dibantai habis-habisan.
Adam lega karena sudah menjalani sidang skripsi. Artinya, kelulusan yang sudah ia nanti-nantikan sudah di depan mata. Namun, di momen itu juga ia marah sekaligus malu karena dibantai habis-habisan oleh dosen penguji.
“Yang bikin malu bukan karena isi skripsinya, tapi aku dibilang nggak becus karena daftar isi dan daftar pustakanya salah,” ujarnya, berkisah pada Mojok, Jumat (26/12/2025) lalu.
Kuliah sudah di ujung tanduk, setahun lagi DO
Adam adalah mahasiswa PTN angkatan 2018. Artinya, tahun di mana ia sidang adalah semester ke-11. Tiga semester lagi masa kuliahnya mentok.
Sayangnya, lima setengah tahun masa kuliah banyak ia habiskan di luar kampus. Bukan oleh kegiatan bermanfaat, tapi dengan banyak nongkrong dan ongkang-ongkang nirfaedah. Jujur, Adam mengaku menyesalinya.
“Banyak nggak masuk kelas, nggak ngerjain tugas, sampai banyak mata kuliah ngulang,” ungkapnya. “Menyesalnya itu pas masuk kelas, isinya adik tingkat yang usianya udah jauh banget. Rasanya malu.”
Oleh karena itu, memasuki semester ke-10, Adam bertekad buat “menuntaskannya”. Ia harus lulus saat itu juga. Toh, di semester itu ia tinggal skripsian.
Nulis skripsi cuma kayak mengerjakan tugas harian, tapi lebih panjang
Bukan bermaksud meremehkan. Namun, bagi Adam, mengerjakan skripsi itu mudah. Hanya seperti tugas harian, cuma lebih panjang saja.
Kuliah di jurusan humaniora, skripsi yang ia ambil adalah kualitatif. Kata dia, sejak menentukkan tema, arah pembahasan, hingga hasil yang ingin didapat, ia sama sekali tak menemui masalah berarti.
“Skripsi kualitatif itu mudah, cuma kayak othak-athik-gathuk (otak-atik, ketemu). Yang penting teorinya masuk akal, yang dikutip relevan, ya udah nggak bakal ada masalah,” ujarnya.
Bagi dia, ini berbeda dengan skripsi metode kuantitatif yang harus mengolah data secara presisi. Misalnya, salah satu temannya yang mengambil skripsi kuantitatif harus belajar ulang mengolah data menggunakan SPSS.
“Ujung-ujungnya karena tetap saja nggak bisa, memilih joki SPSS,” kisahnya sambil tertawa.
Sejak bimbingan hingga seminar proposal ia mengaku tak menemui masalah berarti. Dosen pembimbing, kata dia, bahkan beberapa kali juga memuji dia karena “dianggap sangat memahami teori-teori yang dikutip.”
Skripsi itu pun dikerjakan cukup cepat. Yang ia ingat, kira-kira waktu yang dihabiskan kurang dari dua bulan setelah menjalani seminar proposal.
Tak menyangka, dibantai karena daftar isi dan daftar pustaka
Waktu yang dinanti pun tiba. Saat itu ada tiga dosen yang menguji Adam di sidang skripsi. Satu dosen yang selama ini mendampingi proses skripsiannya, serta dua dosen lain yang memang terkenal galak dan perfeksionis.
“Kata teman, kalau dosen itu yang menguji, bakal bantai-bantai. Kalau ngajar kelihatan biasa aja, tapi kalau nguji skripsi keras banget,” ungkapnya.
Secara isi, Adam mengaku tak ada masalah berarti dalam skripsinya. Beberapa pertanyaan yang diajukan pun dapat dijawab dengan meyakinkan. Ia begitu menguasai “panggung”.
Sayangnya, ketika si dosen killer mengoreksi caranya menulis daftar isi dan daftar pustaka, di situlah pembantaian sesungguhnya. Adam berkali-kali dicecar pertanyaan yang sama sekali nggak bisa ia jawab.
“Nah ini. Aku tahunya, daftar isi sama daftar pustaka itu ditulis manual aja gitu. Jadi ya udah aku bikin begitu karena memang selama bimbingan nggak pernah disinggung,” kata dia.
“Tapi baru tahu, ternyata daftar isi skripsi itu kayak harus bisa dibikin langsung mengarah ke halaman secara otomatis gitu.”
Kata-kata nyelekit pun mulai dilontarkan kepadanya. Dibilang “nggak becus”, “apa yang kamu pelajari selama ini?”, sampai nyenggol masa kuliahnya yang hampir mentok.
“Dibilang, ‘kuliah lama-lama tapi nulis beginian saja tidak becus’. Jujur dengar itu sakit hati banget karena secara isi aku lihatnya skripsiku dah perfect.”
Berhari-hari Adam sakit hati mengingat kata-kata dosen killer itu. Di dalam skrispinya pun sebenarnya tak ada revisian yang berarti, hanya saja dua bagian itu amat menggangu. Alhasil, ia pun mulai mempelajari cara membuat daftar isi dan daftar pustaka otomatis.
Adam memang berhasil lulus. Namun, bertahun-tahun setelahnya, momen itu bakal terus ia ingat. Sebab, tak cuma bikin sakit hati, tapi kesalahannya pun ia anggap “konyol” dan “sepele”.
“Saranku sih, buat yang belum lulus, belajar bikinnya (daftar isi dan daftar pustaka) biar nggak dibantai di hal sepele itu,” kata Adam. “Sumpah, bakal konyol itu kalau aku nggak lulus kuliah gara-gara itu,” pungkasnya.
Cara membuat daftar isi otomatis di skripsi
Supaya kamu tak mengalami nasib seperti Adam, Mojok merangkum cara bikin daftar isi dan daftar pustaka skripsi. Ini adalah cara menyusunnya di Microsoft Word.
Melansir situs resmi Microsoft, berikut ini langkah-langkahnya:
1.Terapkan Gaya Heading:
- Pilih judul bab (misalnya, “BAB I PENDAHULUAN”), kemudian di tab Home pilih gaya “Heading 1”.
- Pilih judul subbab (misalnya, “1.1 Latar Belakang”), lalu pilih gaya Heading 2.
- Lakukan ini untuk semua judul bab dan subbab agar struktur dokumen terdefinisi.
2.Sisipkan Daftar Isi:
- Letakkan kursor di halaman kosong tempat daftar isi akan muncul (biasanya setelah kata pengantar).
- Pindah ke tab References (Referensi).
- Klik Table of Contents (Daftar Isi) di sisi kiri.
- Pilih salah satu gaya Automatic Table (misalnya, Automatic Table 1).
3.Perbarui Daftar Isi (Jika Ada Perubahan):
- Klik kanan pada daftar isi skripsi kamu yang sudah terbentuk.
- Pilih Update Field (Perbarui Bidang) atau klik pada daftar isi dan pilih “Update Table” (Perbarui Tabel).
Cara mudah bikin daftar pustaka
Tak cuma itu. Mojok juga memberi tutorial termudah membuat daftar pustaka skripsi. Tutorial ini merupakan cara termudah yang Mojok berikan. Berikut langkah-langkahnya:
1.Pilih Gaya Sitasi:
- Buka tab References di Word.
- Di grup Citations & Bibliography, pilih Style, lalu pilih gaya yang diinginkan (misalnya, APA).
2.Masukkan Sumber (Source):
- Klik Insert Citation > Add New Source.
- Pada jendela Create Source, pilih Type of Source (misalnya, Book, Journal Article).
- Isi detail sumber seperti penulis, judul, tahun, penerbit, dll. Untuk banyak penulis, gunakan opsi Edit.
- Klik OK dan ulangi untuk semua sumber Anda.
3.Hasilkan Daftar Pustaka:
- Letakkan kursor di halaman terakhir dokumen Anda.
- Kembali ke tab References.
- Klik Bibliography > Insert Bibliography.
- Daftar pustaka akan muncul otomatis, terformat, dan terurut abjad.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Nyaris Drop Out karena Terhambat Profesor yang Menyebalkan Saat Skripsi, Akhirnya Raih Gelar S1 Ilmu Sejarah di Semester 14 atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













