Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Melihat Lebih Utuh Kasus Pelecehan Seksual Difabel terhadap Mahasiwi di Mataram

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
4 Desember 2024
A A
Melihat lebih utuh kasus pelecehan seksual difabel terhadap mahasiswi Mataram MOJOK.CO

Ilustrasi - Melihat lebih utuh kasus pelecehan seksual difabel terhadap mahasiswi Mataram. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang difabel tanpa tangan menjadi tersangka kasus pelecehan seksual terhadap mahasiswi di Mataram, NTB. Hanya tuduhan di luar nalar atau memang benar adanya?

***

*Trigger warning: tulisan ini mengandung konten sensitif yang bisa memicu trauma dan rasa tidak nyaman lainnya. Disarankan tidak melanjutkan membaca jika sedang dalam kondisi rentan.

“Karena keadaan saya begini. Makan disuapin orang tua. Mandi dibukain baju sama orang tua. Kencing, buang air besar, dibukain celana sama orang tua. Terus terang saya nggak bisa apa-apa. Masa saya dituduh melakukan pelecehan seksual. Bagaimana cara saya memaksa?.”

Kira-kira begitulah pengakuan IWAS (21), pemuda difabel tunadaksa tanpa dua tangan yang ditetapkan sebagai tersangka pelecehan seksual terhadap seorang mahasiswi di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), dalam sebuah video.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh tokobukufitri (@tokobukufitridktmasjidabudarda)

Video itu mendapat banyak komentar dari warganet. Mayoritas berpihak pada IWAS. Mengamini pengakuan IWAS: rasanya tidak masuk akal jika seseorang tanpa kedua tangan bisa melakukan pelecehan seksual.

Mari melihatnya secara lebih utuh.

Tuduhan lecehkan mahasiswi Mataram di luar nalar?

Ibu IWAS, GAA, menyebut tuduhan terhadap anaknya adalah tuduhan di luar nalar. Tentu menimbang kondisi IWAS yang difabel tanpa kedua tangan.

Menurut versi GAA, korban (mahasiswi di Mataram berinisial MA) awalnya menjemput IWAS. MA meminta ditemani IWAS ke kampus. Namun, MA justru mengajak IWAS ke sebuah homestay di Mataram.

“Anak saya dibonceng oleh wanita itu ke homestay, dibuka bajunya dan celananya. Malah kebalik, harusnya anak saya yang diperkosa, jadi korban,” terang GAA seperti Mojok kutip dari Detik Bali, Selasa (3/12/2024).

Iklan

Bahkan, GAA juga menyebut MA lah yang membayar homestay di Mataram tersebut. Sehingga, baginya, sudah jelas bahwa MA lah yang melakukan pelecehan seksual pada IWAS, bukan sebaliknya.

Oleh karena itu, GAA yakin betul putra bungsunya tidak bersalah. Dia berharap anaknya dibebeaskan dari jeratan hukum.

Keterangan berbeda tentang pelecehan seksual mahasiswi Mataram

Keterangan berbeda diberikan oleh Direktur Reserse Kriminal Umum Polda NTB, Kombes Syarif Hidayat.

Hasil penyidikannya, yang terjadi justru IWAS lah yang mengajak MA ke sebuah homestay di Mataram. Hasil visum pun menunjukkan terjadinya tindak kekerasan seksual pada MA.

“Berdasarkan fakta-fakta yang telah didapatkan dari proses penyidikan, IWAS merupakan penyandang disabilitas secara fisik (tidak mempunyai kedua tangan). Tapi tidak ada hambatan untuk melakukan pelecehan seksual fisik terhadap korban,” ujar Syarif dalam keterangan tertulisnya.

Hasil penyidikan juga menemukan keterangan kalau IWAS melakukan aksi pelecehan seksual dengan cara membuka kedua kaki korban menggunakan kedua kaki IWAS.

Manipulasi, intimidasi, dan korban yang tidak cuma satu

Kepada awak media, Andre Safutra selaku kuasa hukum MA menjelaskan, pertemuan IWAS dan MA terjadi tanpa sengaja pada Oktober 2024 lalu di Taman Udayana, Mataram.

IWAS lalu mengajak MA berkenalan dan lanjut berbincang di sisi utara taman. Hingga ada satu momen yang membuat MA menangis. Yakni ketika melihat sejoli tengah berciuman. Trauma masa lalu MA dengan mantan kekasihnya terusik keluar.

Pada momen itu lah IWAS lantas mencoba memanipulasi MA dengan mengorek-orek masa lalu mahasiswi di Mataram tersebut. Dari situ pula IWAS melancarkan intimidasi jika tidak menurut padanya, maka masa lalu MA akan dibongkar kepada orang tua MA.

Situasi tersebut membuat MA tidak punya pilihan. IWAS lantas mengajak MA ke sebuah homestay. Pelecehan seksual itu pun terjadi.

Yang cukup mengejutkan, MA ternyata bukan satu-satunya korban IWAS. Ade Latifa Fitri selaku pendamping korban mengonfirmasi, per Selasa (3/12/2024), korban IWAS tercatat ada 13 orang. Ditambah juga pengakuan sejumlah saksi, termasuk dari pemilik homestay.

“Korban-korban lain (selain MA) akhirnya berani memberi keterangan karena pintunya sudah dibuka oleh korban (MA) yang mulai melapor. Sehingga terkumpul keberanian untuk melapor, karena mereka merasa tidak sendiri,” ujar Ade dalam wawancara yang tayang di kanal YouTube Official iNews.

“Mereka ingin pelaku mendapat hukuman seadil-adilnya. Karena bagaimana pun situasi ini membuat aktivitas para korban terganggu. Mereka takut keluar rumah,” sambungnya.

Difabel punya potensi jadi pelaku pelecehan seksual

Mojok lantas menghubungi Nur Syarif Ramadhan (31), Eksekutif Nasional organisasi Formasi Disabilitas Indonesia, yang santer menyuarakan hak-hak difabel.

Sejauh pengalaman Syarif mengawal isu-isu difabel, teman-teman difabel menjadi kelompok yang sangat rentan menjadi korban pelecehan seksual. Namun, di sisi lain, dia tidak menampik bahwa ada juga difabel yang punya potensi menjadi pelaku.

“Kami juga sering mendapati (difabel jadi pelaku pelecehan seksual). Jadi misalnya tidak punya tangan, itu tidak lantas mengindikasikan tidak bisa berbuat apa-apa,” ungkap Syarif, Selasa (3/12/2024).

Sebab, misalnya dalam kasus difabel tunadaksa tanpa tangan, si difabel masih bisa melakukan aktivitas dengan bagian tubuh yang lain.

Dalam video-vidoe yang kini banyak beredar pun, tampak IWAS masih bisa mengendarai motor menggunakan dua kakinya. Memainkan alat musik pun bisa.

“Dalam kasus pelecehan mahasiswi di Mataram, saya lebih mengedapankan posisi korban. Saya memang tidak menjamin apakah pemuda difabel itu beneran pelaku atau tidak, tapi potensi itu tetap ada. Karena memang ada juga difabel yang memanfaatkan kondisinya untuk hal-hal tidak bertanggung jawab,” sambungnya.

Hambatan tak halangi berbuat pidana

Sarli Zulhendra, advokat dari Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (Sigab) Indonesia memberikan pandangan serupa.

Baginya, difabel tetap punya potensi menjadi pelaku pelecehan seksual. Sebab, dia sendiri sudah beberapa kali mendampingi kasus-kasus difabel yang bahkan menjadi terdakwa dalam kasus pidana. Meski jumlahnya tak lebih banyak dari difabel yang menjadi korban.

“Sigab pernah dampingi difabel tunanetra. Dia didakwa mengonsumsi dan jual beli obat psikoterapika. Bagi sebagian orang, mikirnya kayak nggak mungkin. Orang berpikir, gimana caranya mengidentifikasi (obat-obatan), sementara dia tak bisa melihat,” beber Sarli.

Akan tetapi, hasil penyidikan membuktikan bahwa difabel tunanetra tersebut memang sudah berinteraksi dengan obat-obatan terlarang sejak lama.

“Difabel fisik pun ada, didakwa karena konsumsi narkoba. Kalau yang pelecehan seksual kami pernah dampingi difabel intelektual sebagai terdakwa,” imbuh Sarli.

Polisi harus ekstra hati-hati

Secara umum, difabel terbagi menjadi empat kategori: (1) Difabel fisik (daksa) dengan hambatan mobilitas. (2) Difabel sensorik (tunanetra, tunawicara) dengan hambatan penglihatan dan pendengaran. (3) Difabel intelektual dengan hambatan konsentrasi, adaptasi, dan kognitif. Dan (4) Difabel mental dengan hambatan kejiwaan.

Namun, setiap difabel dengan hambatan yang beragam itu, tetap saja memiliki celah untuk melakukan tindak pidana jika bisa mengatasi keterhambatannya.

Misalnya dalam kasus IWAS yang jadi tersangka pelecehan seksual mahasiswi Mataram. Ruang mobilitasnya memang terbatas karena tidak memiliki dua tangan. Hanya saja, dia masih bisa melakukan aktivitas normal dengan organ-organ tubuh yang lain.

Oleh karena itu, menurut Sarli, Kepolisian harus ekstra hati-hati dalam memproses kasus yang menjerat IWAS (khususunya).

“Karena selain korban yang punya hak untuk dilindungi, orang yang disangkakan juga memiliki hak untuk dilindungi, terlebih difabel,” papar Sarli.

“Saya pikir kita juga perlu memberikan informasi atau edukasi yang luas kepada publik bahwa seorang difabel itu tetap ada kemungkinan dia melakukan suatu tindak pidana, apa pun bentuknya,” lanjutnya.

Tinggal  dianlisis dan dipertajam, bagaimana difabel fisik bisa melakukan pelecehan seksual. Itu menjadi PR Kepolisian untuk membuktikan sekaligus menjelaskan kepada publik kalau kasus tak biasa semacam yang menjerat IWAS nyatanya memang benar-benar terjadi.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Beratnya Perempuan Muda Aceh Jadi Saksi KDRT di Rumahnya Sendiri

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

 

 

 

 

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 3 Desember 2024 oleh

Tags: agung buntungmahasiswi matarampelecahan seksual mahasiswi matarampelecehan difabelpelecehan disabilitaspelecehan seksual
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

modus kekerasan seksual.MOJOK.CO
Kabar

Jejak Digital Kekerasan Seksual Bikin Trauma Anak Berkepanjangan, Pemulihan Korban Tak Cukup Hapus Konten

9 Mei 2026
Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO
Tajuk

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

20 April 2026
Kesulitan korban kekerasan seksual dalam berbicara
Ragam

Korban Kekerasan Seksual Sering Jatuh Ditimpa Tangga: Sulit Bicara, Bukan Dipahami, tapi Malah Dihakimi

11 Februari 2026
Toilet umum di Jakarta saksi bejat laki-laki otak mesum MOJOK.CO
Urban

Toilet Umum di Jakarta Jadi Tempat Cowok Tolol Numpang Masturbasi, Cuma karena Nonton Girl Band Idola dan Alasan Capek Kerja

10 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Godaan modifikasi motor Honda Vario 125 demi sinematik kebodohan soal harga jual di Facebook, berakhir jadi motor sampah dan jamet MOJOK.CO

Modifikasi Motor Honda Vario 125 Hasil Tabungan Ibu-Kakak demi Sinematik dan Kebodohan Harga Jual di FB, Berakhir Jadi Motor Jamet dan Sampah

7 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Syifa, WNI yang kuliah di Jagiellonian University, Krakow, Polandia, Eropa. MOJOK.CO

Nekat Daftar Beasiswa Luar Negeri ke Kampus “Kurang Terkenal”, Kini Bisa Keliling Eropa dengan Gaji yang Bikin Sumringah

8 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.