Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Aksi Jogja Memanggil: Saat Emak-Emak Sudah Turun ke Jalan, Tandanya Negara Sedang Tak Baik-baik Saja

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
20 Februari 2025
A A
emak-emak, jogja memanggil.MOJOK.CO

Aksi Jogja Memanggil: Saat Emak-Emak Sudah Turun ke Jalan, Tandanya Negara Sedang Tak Baik-baik Saja (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Kami, emak-emak, merasakan dampak nyata dari kebijakan pemerintah hari ini. Bukan menyejahterakan, tapi malah menyengsarakan,” kata Ida, dalam orasinya di aksi Jogja Memanggil di depan Gedung Agung, Malioboro, Kamis (20/2/2025).

Ida merupakan perwakilan dari Persatuan Emak-Emak Indonesia (Permindo) Jogja. Permindo sendiri merupakan organisasi yang berani, militan, dan mandiri. 

Iklan

Menurut Ida, organisasi yang terdiri dari emak-emak ini dibangun atas dasar kesamaan tujuan dan harapan rakyat Indonesia. Ia dideklarasikan tepat pada Hari Pahlawan, yakni 10 November 2021 lalu.

“Selama ini, mungkin peran emak-emak dianggap angin lalu,” imbuhnya. “Tapi kalau kami sudah bergerak, tandanya memang ada yang salah di negara ini.”

Korban dari rezim yang bikin gas elpiji langka

Dalam orasi di aksi Jogja Memanggil itu, Ida menegaskan ada banyak kebijakan pemerintah yang menyusahkan rakyat, khususnya emak-emak, akhir-akhir ini. Salah satunya adalah kebijakan ngawur yang bikin gas langka.

emak-emak, jogja memanggil.MOJOK.CO
Ida, mewakili Persatuan Emak-Emak Indonesia, menyampaikan keluhannya atas kebijakan ngawur Prabowo. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

“Kami emak-emak paling terdampak. Sebab, kami yang paling dekat dengan dapur. Kalau nggak bisa masak, lantas keluarga kami mau makan apa,” teriaknya.

Ida menambahkan, kelangkaan gas elpiji semakin membuat emak-emak menderita karena mayoritas yang mengantre adalah kelompok mereka. Bahkan ada satu kasus di mana ada emak-emak meninggal karena kelelahan mengantre gas elpiji.

Ia pun meminta agar pihak para stakeholder mempertimbangkan matang-matang sebelum membuat kebijakan. 

“Itu juga berlaku buat kalian-kalian ini,” sambil menunjuk ke arah barisan polisi yang menjaga aksi Jogja Memanggil. “Kalian kan digaji pakai uang rakyat, harusnya kalau ada demo seperti ini kalian harus di sisi rakyat, bukan oligarki.”

Jogja Memanggil diikuti berbagai elemen masyarakat

Selain emak-emak, aksi Jogja Memanggil diikuti berbagai elemen masyarakat. Termasuk mahasiswa, buruh, hingga paguyuban pedagang kaki lima Malioboro yang akhir-akhir ini mendapat perlakuan tak adil dari Pemda DIY.

emak-emak, jogja memanggil.MOJOK.CO
Perwakilan Paguyuban PKL Malioboro, Sinta, melakukan orasi di hadapan massa aksi Jogja Memanggil. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Pantauan Mojok di lapangan, aksi tersebut dimulai sekitar pukul 12.00 WIB. Para demonstran berkumpul di tempat khusus parkir (TKP) Abu Bakar Ali, yang berlokasi di sebelah utara Jalan Malioboro.

Kemudian, massa aksi melakukan long march menyusuri kawasan Malioboro sambil membawa spanduk dan poster berisi aneka aspirasi. Beberapa poster kritis dan menggelitik antara lain: “Bersama Prabowo-Gibran Menuju Indonesia Gelap”, “Makan Gratis, Pendidikan Krisis”, “1 Presiden Berbagai Insiden”, dan lain sebagainya.

Di depan Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta, massa aksi sempat berhenti sejenak. Di sana, perwakilan aliansi menyampaikan orasi. Setelah itu, mereka lanjut berjalan kaki hingga berhenti di depan Istana Kepresidenan Jogja atau Gedung Agung.

Di tempat tersebut, para peserta aksi kembali berorasi menyuarakan berbagai masalah yang terjadi. Sempat terjadi aksi bakar ban, pukul 17.30 WIB, massa aksi terpantau membubarkan diri.

Iklan

Aspirasi aksi Jogja Memanggil

Perwakilan peserta aksi Jogja Memanggil, Semanof, menyatakan, ada sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai tidak memihak kepada masyarakat. Contohnya adalah kebijakan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen serta larangan pengecer menjual gas elpiji tiga kilogram.

jogja memanggil.MOJOK.CO
Potret massa aksi Jogja Memanggil, Kamis (20/2/2025). (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Meski dua kebijakan tersebut sudah dibatalkan, masyarakat sudah telanjur merasakan dampak negatif. 

”Kebutuhan pokok tetap naik meskipun pemerintah menyatakan PPN 12 persen hanya untuk barang mewah. Kita juga melihat kelangkaan gas elpiji 3 kg karena komunikasi publik yang buruk,” ujar Semanof saat ditemui wartawan.

Semanof menambahkan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga harus dibatalkan. Sebab, program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran itu menyedot anggaran begitu besar. Akibatnya, pemerintah harus melakukan efisiensi anggaran.

”Makan siang gratis merupakan janji politik yang akhirnya memangkas anggaran kementerian yang penting, seperti pendidikan dan sosial. Bagaimana bisa anggaran pendidikan sebagai bidang yang paling penting bagi kehidupan rakyat Indonesia justru dipangkas hanya untuk makan siang gratis?” tutur Semanof.

Akhir, aliansi Jogja Memanggil menjelaskan bahwa pihaknya tak memiliki tuntutan khusus dalam aksi hari ini. Namun, atas berbagai kajian yang telah dibuat, aliansi menegaskan untuk melakukan perlawanan pada tiga hal. Antara lain:

1.Turunkan Prabowo-Gibran

2.Bubarkan Kabinet Merah Putih

3.Bangun Demokrasi Kerakyatan

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pahitnya Janji Pemerintah kepada Kelompok Tani Kampung Bayam, Usai Dipenjara kini Terpaksa Tinggal di Huntara atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 20 Februari 2025 oleh

Tags: Demodemo jogjaEmak-emakindonesia gelapjogja memanggil
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran.MOJOK.CO
Tajuk

Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran

22 Juni 2026
Hujan Bulan Juni untuk Samadi: Es Krim yang Mencair di tengah Aksi Rakyat Memanggil dan Kenaikan Harga yang Bikin Ngelu MOJOK.CO
Sosok

Hujan Bulan Juni untuk Samadi: Es Krim yang Mencair di Tengah Aksi Rakyat Memanggil dan Kenaikan Harga yang Bikin Ngelu

14 Juni 2026
Ayo Jaga Jogja Katanya, tapi Jaga dari Apa dan Siapa? MOJOK.CO
Esai

Spanduk Jaga Jogja Memang Manis, tapi Sebenarnya Kita Harus Menjaga Kota Ini dari Apa dan Siapa?

8 September 2025
darurat militer.MOJOK.CO
Fragmen

Belajar dari Sejarah: Darurat Militer Cuma Bikin Negara Menjadi Neraka, Rakyat Makin Menderita

4 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa Unair kuliah di Polandia, Eropa dengan beasiswa pertukaran pelajar dari Erasmus. MOJOK.CO

Jalan-jalan ke 6 Negara di Eropa dengan Beasiswa Erasmus, Mahasiswa Unair Ini Dapat Pembelajaran Berharga dari Sekadar Belajar Musik

24 Juni 2026
Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja MOJOK.CO

Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja

24 Juni 2026
Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri? MOJOK.CO

Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri?

29 Juni 2026
dosen.MOJOK.CO

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
Konsolidasi InJourney dengan Hotel BUMN untuk perkuat ekosistem pariwisata dan perhotelan nasional MOJOK.CO

Konsolidasi InJourney dengan Hotel BUMN: Perkuat Ekosistem Pariwisata Indonesia agar Lebih Kompetitif di Tingkat Global

28 Juni 2026
Mila lulusan Fapet UGM. MOJOK.CO

Dobrak Keraguan Perempuan Tak Pantas Jadi Peternak, Alumnus Fapet UGM Ini Berhasil Raih Rp700 Juta di Tuban

29 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.