Kini, warga di Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis, Kota Jogja, mempunyai tempat khusus untuk belajar sekaligus merawat tradisi tari klasik Jogja. Melalui inisiatif Kampung Menari Hasta Budaya, masyarakat dari segala rentang usia, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia, bisa mengikuti latihan tari secara rutin tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Berdasarkan informasi dari situs resmi Pemkot Jogja, kegiatan latihan tari ini dijadwalkan secara rutin dua kali dalam seminggu, tepatnya pada Jumat sore dan Sabtu pagi di area Pendopo Kelurahan Gowongan.
Di sana, para peserta diajarkan ragam tarian klasik khas keraton, seperti Tari Klana Topeng dan Golek Menak.
Terkait program ini, Lurah Gowongan, Tika Andriatiavita, menekankan bahwa kegiatan tersebut sangat inklusif dan merangkul semua kalangan.
“Latihan ini diperuntukkan bagi semua warga, dari anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia. Semuanya gratis sehingga masyarakat bisa ikut belajar tanpa pusing memikirkan biaya,” ujar Tika, Minggu (2/8/2026).
Fasilitasi perlengkapan tari untuk warga
Pemerintah Kelurahan Gowongan sangat memahami bahwa ketiadaan perlengkapan sering kali membuat warga ragu untuk ikut serta. Oleh karena itu, pihak kelurahan mengambil langkah solutif dengan menyediakan sampur atau selendang tari yang bisa dipakai oleh para peserta selama sesi latihan berlangsung.
Menurut Tika, fasilitas peminjaman ini disiapkan agar warga yang belum memiliki selendang tetap percaya diri untuk berbaur dan menari bersama.
“Jadi, alasan belum atau tidak punya selendang tidak lagi menjadi penghalang bagi warga yang bersemangat ingin belajar menari,” tambahnya.
Praktis, Kampung Menari Hasta Budaya tidak sekadar menjadi pusat pelestarian gerakan seni, melainkan juga berfungsi sebagai ruang interaksi sosial lintas generasi. Rutinitas budaya ini diharapkan terus hidup sebagai denyut aktivitas warga, sekaligus membuka akses pendidikan seni yang setara tanpa terhalang tembok usia maupun kondisi finansial.
Dukungan pengembangan kampung wisata di Jogja
Aktivitas kebudayaan komunal seperti di Kelurahan Gowongan ini sangat sejalan dengan visi Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja.
Saat ini, pemerintah kota memang tengah gencar meningkatkan daya tarik pariwisata melalui pengembangan destinasi wisata berbasis komunitas atau kampung wisata.
Wakil Wali Kota Jogja, Wawan Harmawan, menyampaikan bahwa setiap kampung wisata pada dasarnya “menjual” potensinya masing-masing, dan hal tersebut sangat potensial untuk terus dikembangkan secara berkelanjutan.
“Kampung wisata dirasa mampu memberikan pengalaman yang berbeda kepada wisatawan, karena menyuguhkan kekhasan budaya asli dan keseharian masyarakat setempat,” jelas Wawan.
Ia juga mencatat kebanggaannya karena saat ini sudah ada beberapa kampung wisata di Kota Jogja yang pamornya meroket hingga tingkat nasional berkat suguhan atraksi budayanya yang otentik dan unik.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchmad Aly Reza
Sumber: Jogjakota.go.id
BACA JUGA: Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan











