Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Umur 23 Belum Mencapai Apa-apa: Dicap Gagal dan Tertinggal, Tapi Tertinggal Ternyata Bisa Dinikmati karena Tak Buruk-buruk Amat

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
2 Februari 2026
A A
Umur 23 tahun belum mencapai apa-apa: dicap gagal dan tertinggal, tapi tertinggal ternyata bisa dinikmati dan tak buruk-buruk amat MOJOK.CO

Ilustrasi - Umur 23 tahun belum mencapai apa-apa: dicap gagal dan tertinggal, tapi tertinggal ternyata bisa dinikmati dan tak buruk-buruk amat. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Umur sudah 23 tahun, tapi masih gitu-gitu aja. Belum mencapai apa-apa. Beberapa anak muda kerap menghadapi masa yang, kerap disebut sebagai Quarter-Life Crisis, itu dengan kepala penuh sesak: overthinking bahkan anxiety. Namun, dua narasumber Mojok memilih untuk menerima keadaan. Menikmati masa umur 23 tahun yang belum mencapai/menjadi apa-apa. 

***

Perasaan gagal dan tak berguna di fase tersebut muncul bukan dari ruang kosong. Pada awalnya berasal dari standar sosial tidak tertulis yang, entah bagaimana mulanya, kemudian diamini secara serentak dan dijadikan sebagai patokan: umur 23 tahun kalau belum bisa jadi apa-apa, berarti gagal dan tidak berguna. 

Apalagi bagi anak-anak muda yang baru saja menyelesaikan masa studinya di perguruan tinggi. Bebannya lebih berat lagi: dianggap sudah membuang waktu dan banyak biaya untuk pendidikan, tapi ujungnya ternyata tidak lebih sukses. 

Terikat “kontrak” investasi dan tenggat sosial

Sialnya, tidak sedikit orang tua menganggap anak mereka sebagai sebuah modal/investasi jangka panjang (human capital). Ada teori klasik dari Gary S. Backer, tapi terasa relevan soal ini, seperti ia tulis dalam Human Capital: A Theoretical and Empirical Analysis. 

Kira-kira begini: orang tua sudah menginvestasikan (berkoban) banyak kepada anak. Waktu, tenaga, pikiran, biaya, dan banyak hal lain untuk membesarkan anak. Ada sisi tulusnya. Tapi ternyata juga ada sisi oportunitasnya: anak harus tumbuh sebagai aset produktif, sehingga kelak anak harus memberi timbal balik pada orang tua. 

Alhasil muncul situasi: ketika orang tua sudah susah payah menyekolahkan anak—bahkan hingga perguruan tinggi, lantas apa yang kelak sang anak berikan kepada orang tua setelah itu semua selesai? Bayangannya—umumnya sih—anak bisa sukses, kerja mentereng, bergelimang duit. 

Situasinya diperparah dengan adanya social clock (tenggat sosial) yang entah sejak kapan diterapkan di tengah masyarakat, seperti paparan Bernice L. Neugarten dalam Adult Personality: Toward a Psychology of the Life Cycle—teori klasik yang juga masih sangat relevan. 

Kira-kira: masyarakat kita telah menciptakan sistem waktu atas jalan hidup seseorang. Misalnya, di usia 23 tahun, seharusnya seseorang sudah mencapai jalan mana (menikah, kerja, sukses, dan seterusnya). Sehingga, ketika di tenggat tersebut seseorang masih belum menjadi apa-apa, ia dianggap tertinggal (off-time). Masyarakat lalu akan menghukumnya: melalui cibiran, jadi bahan gunjingan, dan melalui pertanyaan-pertanyaan bernada merendahkan. 

Standar media sosial bikin umur 23 tahun belum mencapai apa-apa seperti aib

Tertinggal adalah aib. Oleh karena itu, banyak orang mencoba saling kejar: harus mencapai apa di usia segini, harus menjadi apa di usia sekian. 

Dua situasi di atas masih diperparah dengan standar yang terbentuk di media sosial. Seperti pengakuan Faya (23), perempuan asal Pati, Jawa Tengah. 

Jangan salah. Tekanan “umur 23” tidak hanya menyerang laki-laki. Perempuan, bagi Faya, justru merasakan tekanan berlapis. 

“Perempuan di umur 23 ke 24 kalau belum ada tanda-tanda mau menikah, sudah pasti dapat tekanan dari keluarga dan lingkungan. Jadi memang seperti aib,” keluh Faya berbagi cerita, Sabtu (31/1/2026). 

“Nanti kalau nikah dan belum punya anak, perempuan kena lagi. Tuduhan mandul itu pasti langsung diarahkan ke perempuan terlebih dulu,” sambungnya. Setidaknya begitulah yang Faya alami. 

Iklan

Tekanan itu terasa makin berat karena manusia hari ini hidup dengan standar media sosial. Di media sosial, perempuan yang pamer menikah di umur 23 tahun amat banyak. Pamer menjadi mamah muda pun tidak kalah banyak. Belum lagi yang berupaya keras menunjukkan citra diri sebagai perempuan karier. 

Faya mengaku sudah amat kenyang dengan sindiran saudara sendiri: sudah lulus kuliah, sudah umur segitu, mau nyari apa lagi kalau nggak nikah? Nanti keburu jadi perawan tua, dan seterusnya. 

Umur 23 tahun masih susah kerja, alamat dihina-hina

Tekanan lain, ketika Faya tak kunjung mendapatkan kerja mentereng—padahal katanya mau fokus karier dulu sebelun menikah—ya akhirnya dihina-hina. 

Apalagi di desa Faya, sebenarnya masih banyak orang tua yang menganggap pendidikan tinggi untuk anak perempuan itu tidak penting-penting amat. Karena orientasi pada anak perempuan adalah: kelak dinikahkan, syukur mendapat suami kaya. 

Kalau maksa sampai kuliah, terus lulus tetap gitu-gitu aja, jelas dianggap “investasi bodong”. Buang duit banyak untuk kuliahkan anak perempuan, eh setelah lulus tidak ada jaminan si anak perempuan bakal mengembalikan modal yang terah orang tua gelontorkan. 

Begitu juga yang dihadapi oleh Affan (25), pemuda asal Rembang, Jawa Tengah. 

Umur Affan sekarang memang sudah 25 tahun. Tapi diremehkan sudah menjadi santapannya sejak umur 23 tahun. 

“Lulus kuliah aku di umur 22. Aku sempat susah kerja. Baru dapat kerja ya umur 23 tahun di Semarang (tempat kuliahnya dulu). Karyawan biasa, gaji Rp2,6 juta,” ucap Affan. Sementara ekspektasi orang desa atas dirinya lebih dari itu. 

Dipikir, kalau kuliah, maka setelah lulus bisa langsung dapat kerja. Bukan sembarang kerja, tapi kerjaan yang top: pegawai kantoran bergaji tebal. Pokoknya standar suksesnya adalah punya duit banyak: bisa beli motor baru, mobil, bangun rumah sendiri, bisa ngasih orang tua ini-itu. 

Kalau tidak, ya dicap gagal. Lalu akan dibanding-bandingkan dengan anak tetangga yang tanpa kuliah pun bisa berbuat lebih dan menghasilkan uang jauh lebih banyak. 

“Di lingkaran teman sekampus pada akhirnya juga begitu. Setelah lulus, saling adu pencapaian, di umur segini sudah bisa jadi apa, ngelakuin apa,” ucap Affan. 

Menikmati ketertinggalan

Sakit dan sedih, pasti. Tapi baik Faya maupun Affan pada akhirnya memilih untuk menikmati setiap “ketertinggalan” mereka. 

Faya tertinggal belum mencapai karier bagus dan belum menikah sebagaimana banyak perempuan muda lain, tidak masalah. Affan, hingga di umurnya yang sudah 25 tahun ini, belum bisa menghasilkan uang banyak, ya sudah. 

Ternyata, memilih mengakui dan menikmati ketertinggalan membuat keduanya menjadi lebih lega. Yang penting, mereka tidak berhenti, tetapi tetap berjalan. Alon-alon asal kelakon (pelan-pelan asal sampai) kalau dalam pepatah Jawa. 

“Oke, sekarang tertinggal. Tapi kalau jalan terus, ikuti alur hidup mau membawa kita ke mana dulu. Kalau alurnya sekarang jadi karyawan biasa, ya ikuti saja, sambil terus belajar. Sambil berjalan tanpa henti. Aku percaya nanti bakal sampai ke suatu titik yang disebut sukses. Walaupun sebenarnya sukses itu relatif,” ucap Affan. 

“Aku nggak apa-apa sih tertinggal menikah. Karena yang lebih dulu menikah belum tentu juga sukses rumah tangganya. Malah dengan aku tertinggal kayak gini, aku masih punya banyak waktu untuk mempersiapkan banyak hal sebelum jadi istri orang. Bukan hanya soal kesiapan ekonomi, tapi juga emosional dan pikiran,” sementara begitu kata Faya. 

Tertinggal ternyata tidak buruk-buruk amat bagi Faya dan Affan. Karena mereka percaya, setiap orang punya masa dan rezekinya masing-masing: kalau bukan rezekinya, kalau belum masanya, dikejar model bagaimapun tidak akan tergapai. Sebaliknya, kalau sudah rezeki dan masanya, malah bisa datang bahkan ketika kita tidak sedang mengejar-ngejarnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Saat Anak Gagal dalam Kuliahnya Meski Sudah Keluar Biaya Ratusan Juta, Orang Tua Cuma Bisa Pura-Pura Bangga agar Anak Tak Kecewa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 1 Februari 2026 oleh

Tags: adu pencapaianpencapaian umur 23pilihan redaksistandar media sosialstandar medsosstandar sosialumur 23
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO
Edumojok

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026
Mekanisme beasiswa LPDP untuk kuliah di luar negeri masih silang sengkarut, awardee cemas jadi "WNI" MOJOK.CO
Tajuk

Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi

23 Februari 2026
kerja di jepang, merantau.MOJOK.CO
Sehari-hari

Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati

23 Februari 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lulusan S1 UGM bikin skripsi soal perumahan rakyat di Belanda. MOJOK.CO

Skripsi tentang Perumahan Rakyat di Belanda vs Indonesia bikin Saya Lulus dari UGM dengan Predikat Cumlaude

18 Februari 2026
Pemilik kos di Depok, Sleman, Jogja muak dengan tingkah mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN/PTS Jogja MOJOK.CO

Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah

20 Februari 2026
mie ayam Surabaya. MOJOK.CO

Mie Ayam Surabaya Buatan Pak Man, Tempat Saya “Berobat” setelah Lelah di Perantauan meski Pedagangnya Pendiam

20 Februari 2026
Mall Kokas di Jakarta Selatan (Jaksel) macet

Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite

20 Februari 2026
Kos di Jogja

Rasanya Tinggal di Kos “Medioker” Jogja: Bayar Mahal, tapi Nggak Dapat Sinar Matahari

19 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026

Video Terbaru

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026
Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.