Umur sudah 23 tahun, tapi masih gitu-gitu aja. Belum mencapai apa-apa. Beberapa anak muda kerap menghadapi masa yang, kerap disebut sebagai Quarter-Life Crisis, itu dengan kepala penuh sesak: overthinking bahkan anxiety. Namun, dua narasumber Mojok memilih untuk menerima keadaan. Menikmati masa umur 23 tahun yang belum mencapai/menjadi apa-apa.
***
Perasaan gagal dan tak berguna di fase tersebut muncul bukan dari ruang kosong. Pada awalnya berasal dari standar sosial tidak tertulis yang, entah bagaimana mulanya, kemudian diamini secara serentak dan dijadikan sebagai patokan: umur 23 tahun kalau belum bisa jadi apa-apa, berarti gagal dan tidak berguna.
Apalagi bagi anak-anak muda yang baru saja menyelesaikan masa studinya di perguruan tinggi. Bebannya lebih berat lagi: dianggap sudah membuang waktu dan banyak biaya untuk pendidikan, tapi ujungnya ternyata tidak lebih sukses.
Terikat “kontrak” investasi dan tenggat sosial
Sialnya, tidak sedikit orang tua menganggap anak mereka sebagai sebuah modal/investasi jangka panjang (human capital). Ada teori klasik dari Gary S. Backer, tapi terasa relevan soal ini, seperti ia tulis dalam Human Capital: A Theoretical and Empirical Analysis.
Kira-kira begini: orang tua sudah menginvestasikan (berkoban) banyak kepada anak. Waktu, tenaga, pikiran, biaya, dan banyak hal lain untuk membesarkan anak. Ada sisi tulusnya. Tapi ternyata juga ada sisi oportunitasnya: anak harus tumbuh sebagai aset produktif, sehingga kelak anak harus memberi timbal balik pada orang tua.
Alhasil muncul situasi: ketika orang tua sudah susah payah menyekolahkan anak—bahkan hingga perguruan tinggi, lantas apa yang kelak sang anak berikan kepada orang tua setelah itu semua selesai? Bayangannya—umumnya sih—anak bisa sukses, kerja mentereng, bergelimang duit.
Situasinya diperparah dengan adanya social clock (tenggat sosial) yang entah sejak kapan diterapkan di tengah masyarakat, seperti paparan Bernice L. Neugarten dalam Adult Personality: Toward a Psychology of the Life Cycle—teori klasik yang juga masih sangat relevan.
Kira-kira: masyarakat kita telah menciptakan sistem waktu atas jalan hidup seseorang. Misalnya, di usia 23 tahun, seharusnya seseorang sudah mencapai jalan mana (menikah, kerja, sukses, dan seterusnya). Sehingga, ketika di tenggat tersebut seseorang masih belum menjadi apa-apa, ia dianggap tertinggal (off-time). Masyarakat lalu akan menghukumnya: melalui cibiran, jadi bahan gunjingan, dan melalui pertanyaan-pertanyaan bernada merendahkan.
Standar media sosial bikin umur 23 tahun belum mencapai apa-apa seperti aib
Tertinggal adalah aib. Oleh karena itu, banyak orang mencoba saling kejar: harus mencapai apa di usia segini, harus menjadi apa di usia sekian.
Dua situasi di atas masih diperparah dengan standar yang terbentuk di media sosial. Seperti pengakuan Faya (23), perempuan asal Pati, Jawa Tengah.
Jangan salah. Tekanan “umur 23” tidak hanya menyerang laki-laki. Perempuan, bagi Faya, justru merasakan tekanan berlapis.
“Perempuan di umur 23 ke 24 kalau belum ada tanda-tanda mau menikah, sudah pasti dapat tekanan dari keluarga dan lingkungan. Jadi memang seperti aib,” keluh Faya berbagi cerita, Sabtu (31/1/2026).
“Nanti kalau nikah dan belum punya anak, perempuan kena lagi. Tuduhan mandul itu pasti langsung diarahkan ke perempuan terlebih dulu,” sambungnya. Setidaknya begitulah yang Faya alami.
Tekanan itu terasa makin berat karena manusia hari ini hidup dengan standar media sosial. Di media sosial, perempuan yang pamer menikah di umur 23 tahun amat banyak. Pamer menjadi mamah muda pun tidak kalah banyak. Belum lagi yang berupaya keras menunjukkan citra diri sebagai perempuan karier.
Faya mengaku sudah amat kenyang dengan sindiran saudara sendiri: sudah lulus kuliah, sudah umur segitu, mau nyari apa lagi kalau nggak nikah? Nanti keburu jadi perawan tua, dan seterusnya.
Umur 23 tahun masih susah kerja, alamat dihina-hina
Tekanan lain, ketika Faya tak kunjung mendapatkan kerja mentereng—padahal katanya mau fokus karier dulu sebelun menikah—ya akhirnya dihina-hina.
Apalagi di desa Faya, sebenarnya masih banyak orang tua yang menganggap pendidikan tinggi untuk anak perempuan itu tidak penting-penting amat. Karena orientasi pada anak perempuan adalah: kelak dinikahkan, syukur mendapat suami kaya.
Kalau maksa sampai kuliah, terus lulus tetap gitu-gitu aja, jelas dianggap “investasi bodong”. Buang duit banyak untuk kuliahkan anak perempuan, eh setelah lulus tidak ada jaminan si anak perempuan bakal mengembalikan modal yang terah orang tua gelontorkan.
Begitu juga yang dihadapi oleh Affan (25), pemuda asal Rembang, Jawa Tengah.
Umur Affan sekarang memang sudah 25 tahun. Tapi diremehkan sudah menjadi santapannya sejak umur 23 tahun.
“Lulus kuliah aku di umur 22. Aku sempat susah kerja. Baru dapat kerja ya umur 23 tahun di Semarang (tempat kuliahnya dulu). Karyawan biasa, gaji Rp2,6 juta,” ucap Affan. Sementara ekspektasi orang desa atas dirinya lebih dari itu.
Dipikir, kalau kuliah, maka setelah lulus bisa langsung dapat kerja. Bukan sembarang kerja, tapi kerjaan yang top: pegawai kantoran bergaji tebal. Pokoknya standar suksesnya adalah punya duit banyak: bisa beli motor baru, mobil, bangun rumah sendiri, bisa ngasih orang tua ini-itu.
Kalau tidak, ya dicap gagal. Lalu akan dibanding-bandingkan dengan anak tetangga yang tanpa kuliah pun bisa berbuat lebih dan menghasilkan uang jauh lebih banyak.
“Di lingkaran teman sekampus pada akhirnya juga begitu. Setelah lulus, saling adu pencapaian, di umur segini sudah bisa jadi apa, ngelakuin apa,” ucap Affan.
Menikmati ketertinggalan
Sakit dan sedih, pasti. Tapi baik Faya maupun Affan pada akhirnya memilih untuk menikmati setiap “ketertinggalan” mereka.
Faya tertinggal belum mencapai karier bagus dan belum menikah sebagaimana banyak perempuan muda lain, tidak masalah. Affan, hingga di umurnya yang sudah 25 tahun ini, belum bisa menghasilkan uang banyak, ya sudah.
Ternyata, memilih mengakui dan menikmati ketertinggalan membuat keduanya menjadi lebih lega. Yang penting, mereka tidak berhenti, tetapi tetap berjalan. Alon-alon asal kelakon (pelan-pelan asal sampai) kalau dalam pepatah Jawa.
“Oke, sekarang tertinggal. Tapi kalau jalan terus, ikuti alur hidup mau membawa kita ke mana dulu. Kalau alurnya sekarang jadi karyawan biasa, ya ikuti saja, sambil terus belajar. Sambil berjalan tanpa henti. Aku percaya nanti bakal sampai ke suatu titik yang disebut sukses. Walaupun sebenarnya sukses itu relatif,” ucap Affan.
“Aku nggak apa-apa sih tertinggal menikah. Karena yang lebih dulu menikah belum tentu juga sukses rumah tangganya. Malah dengan aku tertinggal kayak gini, aku masih punya banyak waktu untuk mempersiapkan banyak hal sebelum jadi istri orang. Bukan hanya soal kesiapan ekonomi, tapi juga emosional dan pikiran,” sementara begitu kata Faya.
Tertinggal ternyata tidak buruk-buruk amat bagi Faya dan Affan. Karena mereka percaya, setiap orang punya masa dan rezekinya masing-masing: kalau bukan rezekinya, kalau belum masanya, dikejar model bagaimapun tidak akan tergapai. Sebaliknya, kalau sudah rezeki dan masanya, malah bisa datang bahkan ketika kita tidak sedang mengejar-ngejarnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Saat Anak Gagal dalam Kuliahnya Meski Sudah Keluar Biaya Ratusan Juta, Orang Tua Cuma Bisa Pura-Pura Bangga agar Anak Tak Kecewa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














