Bagi sebagian orang, menghabiskan waktu luang sendiri alias solo date tampak menyedihkan tapi tidak bagi Izza. Justru, salah satu cara dia menghilangkan stres menjelang usia 25 adalah nongkrong sendiri. Lokasinya bisa di mana saja. Kadang-kadang di kafe sampai Indomaret. Meski banyak orang mengasihaninya karena seolah tak punya teman mengobrol, Izza malah mendapatkan kebermaknaan hidup dari sana.
Nongkrong bersama terasa hambar
“Menongkrong”, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artinya kegiatan duduk-duduk saja karena tidak bekerja atau berada di suatu tempat. Seiring perkembangan zaman, makna nongkrong mulai bergeser menjadi kegiatan untuk mengisi waktu luang. Ada pula yang memaknainya sebagai aktivitas bersama, tapi tidak bagi Izza yang lebih suka kemana-mana sendiri.
“Mungkin bagi sebagian orang nongkrong atau jalan-jalan sendiri itu nggak wajar, bahkan banyak temanku juga kaget. Padahal buatku, ini kegiatan seru dan lebih banyak manfaatnya ketimbang nongkrong ramai-ramai,” ucap Izza saat dihubungi Mojok, Rabu (22/4/2026).
Bagaimana tidak, kegiatan nongkrong bersama sekarang terasa hambar bagi Izza. Apalagi saat teman-temannya malah sibuk dengan gawainya masing-masing. Alih-alih deep talk (kegiatan yang ia sukai), obrolannya lebih menjurus ke pergunjingan.
“Alhasil, aku lebih nyaman solo date di usia menjelang 25 tahun ini, karena jadi merasa nggak ada tekanan saja harus ngobrol sama orang atau harus nyamain energi mereka. Belum lagi ribet kalau harus menyesuaikan jadwal. Hal itu lebih bikin energy draining kadangkala kalau nggak sedang in a good mood atau punya energi yang banyak,” jelas Izza.
Solo date di Indomaret menemukan kebermaknaan
Ketika melakukan solo date, Izza mengaku lebih banyak memperoleh manfaat. Misalnya, saat dia nongkrong sendiri di Indomaret ketika hujan. Di momen itu, ia disuguhi pemandangan mahal yakni ketika seorang bapak membelikan es krim untuk anaknya, atau seorang pemulung sepuh yang duduk di lantai Indomaret sekadar untuk berteduh dan istirahat.
“Dari situ aku sering bikin kontemplasi diri tentang hidup, terutama menjelang usia 25 tahun ini,” ujar Izza.
Tak hanya di Indomaret, pekerja Jogja itu juga sering solo date di kafe. Aktivitasnya bisa macam-macam. Mulai dari baca buku, mindfulness dengan mengamati sekitar, atau sekadar melamun guna introspeksi diri.
Jurnal berjudul “Pemaknaan Nongkrong bagi Mahasiswa Yogyakarta” pernah menyebut kalau nongkrong bisa menjadi sarana self-healing atau proses pemulihan diri, karena ruang sendiri mampu mempengaruhi kestabilan emosi seseorang. Terlebih jika diselingi dengan white noise.
“White noise merupakan suara-suara di sekitar yang berfrekuensi rendah yang mampu menstabilkan emosi seseorang, di mana hal ini dapat ditemukan dari suara halus mesin penggiling kopi, dentingan gelas, dan obrolan pengunjung kafe,” ujar Ganistria Marbawani dan Grendi Hendrastomo dikutip dari Jurnal Kajian Sosiologi.
Normalisasi orang usia 25 yang ingin solo date
Ketika orang lain tidak terbiasa pergi sendiri, Izza mengaku sudah dididik harus mandiri sejak kecil, sebab orang tuanya sibuk bekerja bahkan sampai ia dititipkan ke tetangga. Izza juga sering mendapat penolakan dari orang-orang sekitar saat ingin mengajak mereka pergi bersama.
“Aku sering dikecewain orang, jadinya males ribet. Harus nunggu mereka bisa lah, janjian dulu lah. Apalagi di usia menjelang 25 ini, banyak temanku yang nggak bisa diajak pergi dadakan. Alhasil aku lebih nyaman sendiri, karena nyaman saja. Nggak ada yang bikin buru-buru,” kata Izza.
Namun, bukan berarti dia selalu menolak tiap diajak pergi bersama. Untuk beberapa aktivitas yang serunya baru terasa saat dilakukan ramai-ramai, kata Izza, dia bakalan ikut. Hanya saja, kegiatan yang sifatnya personal, seperti belanja, kerja di kafe, nonton bioskop, lebih suka ia lakukan sendiri.
Bahkan kadang-kadang, dengan solo date, Izza bisa bertemu dengan orang-orang baru. Saling berbagi perspektif dan mengambil pelajaran hidup dari satu sama lain. Pada akhirnya, Izza sadar kalau ternyata hidup nggak harus bergantung ke orang lain.
“Solo date bikin aku lebih peka terhadap sekitarku. Jadi lebih sering ngeliatin keadaan sekitar dan orang-orang dengan kesibukannya, lebih noticing hal detail aja tentang bagaimana dunia ini bekerja,” kata Izza.
Oleh karena itu, Izza berharap orang-orang mulai menormalisasi kegiatan solo date. Tak perlu dikasihani. Bahkan, bisa jadi mereka adalah orang yang sudah berdamai dengan dirinya. Berani dan tangguh secara mental.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Baru Deep Talk dengan Bapak di Usia 25, Bikin Sadar kalau Selama Ini Dia Sangat Kesepian dan Pikul Beban Sendirian atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














