Niat hati ingin nyaman di kosan dengan memasang Wifi IndiHome, pemuda asal Jogja ini mengaku menyesal. Sudah ia yang menginisiasi, ia pula yang harus bertanggung jawab menalangi jika tetangganya di kosan tidak mampu membayar iuran. Belum lagi ulah ibu kos yang seenaknya sendiri.
Pasang WiFi di kos bersama mahasiswa gabut
Farhan (bukan nama sebenarnya) adalah pemuda asal Jawa Tengah yang bekerja di Jogja. Sudah lebih dari 5 tahun ini Farhan menghuni kos di daerah Sleman. Penghuni di sana, kata Farhan, macam-macam. Ada mahasiswa yang menginap seorang diri, pekerja seperti dirinya, maupun pasangan suami istri.
Kos itu pun dipilihnya semasa Covid-19 sehingga ia tidak dipatok harga mahal oleh ibu kos. Sayangnya, kos tersebut tidak ada WiFi. Oleh karena itu, Farhan mengusulkan ide kepada beberapa orang penghuni kos untuk memasang WiFi sesuai persetujuan ibu kos.
“Jadi yang pasang ada 6 orang. Masalahnya, di antara mereka, yang kerja ini hanya 2 orang. Sisanya nganggur alias mahasiswa,” kata Farhan kepada Mojok, Selasa (21/4/2026).
Bagi mahasiswa maupun pekerja seperti Farhan, WiFi sudah seperti kebutuhan pokok di masa sekarang. Dibandingkan data seluler, penggunaan WiFi dirasa lebih hemat biaya karena menyediakan akses unlimited, sinyalnya lebih stabil, dan kecepatannya tinggi.
Yang jelas, satu router WiFi bisa dihubungkan ke berbagai perangkat secara bersamaan tanpa membagi-bagi paket data. Seolah beban pemasangan WiFi itu pun ditanggung bersama. Setidaknya, begitulah pertimbangan Farhan saat itu.
Namun, setelah 2 tahun memasang WiFi di kosan bersama penghuni kos lain, Farhan malah menyesal. Belum lagi, provider yang digunakan adalah IndiHome, layanan digital yang katanya terkemuka dari Telkomsel.
WiFi IndiHome mengecewakan
Farhan sadar, lebih baik memang tidak memasang WiFi di kosan dan mending lembur bekerja di warung. Bagaimana tidak, setelah memasang WiFi IndiHome di kosan Jogja seharga Rp316 ribu per bulan, ternyata internet di tempatnya tidak memuaskan.
“Di awal bulan, sinyalnya itu masih stabil. Nggak berubah-ubah banget lah, buat streaming, nonton bola, game online, lancar. Masalahnya, kalau sudah di atas tanggal 20 atau mendekati tanggal 25 (batas pembayaran WiFi) sinyalnya sudah ilang-ilangan,” jelas Farhan.
Setiap kali Farhan mengecek kecepatan WiFi di tanggal-tanggal tersebut, angkanya bahkan tak sampai 1 Mbps alias 0 koma sekian. Dengan kata lain, WiFi yang mereka pakai hanya bisa untuk mengirim chat saat akhir bulan.
“Makanya, sebelum tanggal 25 kami harus cepat-cepat bayar. Kalau bayar melebihi tenggat waktu juga harus bayar denda sebesar 5 persen dari total tagihan,” kata Farhan.
Masalahnya, tanggal 25 adalah masa-masa kritis bagi anak kos. Boro-baru mau bayar iuran tepat waktu, untuk membeli makan saja susah. Kadang-kadang, mereka juga tidak peduli kalau kecepatan internetnya mulai melambat.
“Akhirnya aku harus nombok dulu sekitar Rp250 ribu. Itu pun kalau kita bayar sesuai tenggat, nah kalau kena denda. Boncos juga akunya,” ujar Farhan.
Ibu kos yang seenaknya sendiri
Tak sampai di situ, dengan adanya pemasangan WiFi di kos, ibu kos jadi merasa kalau WiFi tersebut adalah fasilitas umum, padahal fasilitas itu hanya milik bersama bagi mereka yang ikut iuran.
“Ibu kos ku ini sering menjanjikan WiFi gratis ke penghuni baru, seolah-olah fasilitas ini jadi daya tawar di kosannya. Terus dia bilang, ‘nanti password-nya tanya saja ke kamar mas-masnya yang itu’,” kata Farhan.
Farhan sebetulnya tidak masalah dengan hal tersebut, asal si ibu kos juga ikut berkontribusi untuk menambah kecepatan WiFi. Wong, paket IndiHome sebesar 30 Mbps seharga Rp316 ribu untuk 6 orang saja, sudah lemot. Bagaimana jadinya kalau menambah orang lagi.
“Bayangin, untuk 1 orang saja kayak aku gini udah pakai 3 perangkat seperti 2 gawai dan 1 laptop. Bahkan, ada mahasiswa yang sering ngajak teman-teman tongkrongannya ke kos terus main game dan pakai WiFi kami,” kata Farhan.
Seolah tak cukup dengan kondisi demikian, ibu kos justru menawarkan penghuni baru yang merupakan pasangan suami-istri untuk meminta password ke Farhan. Wajar saja jika kemudian Farhan menolak dengan sopan.
“Akhirnya aku pun sadar, lebih baik pakai WiFi di warung atau kafe daripada di kosan.” Kata Farhan.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














