Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Niat Cerita ke Teman Berujung Adu Nasib: Pura-pura Tolol saat Teman Bilang “Kamu Masih Mending” Ternyata Menyenangkan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
6 Agustus 2026
A A
Saat cerita/sambat ke teman berujung adu nasib dengan kalimat maut "Kamu masih mending". Meresponsnya dengan pura-pura tolol ternyata menyenangkan MOJOK.CO

Ilustrasi - Saat cerita/sambat ke teman berujung adu nasib dengan kalimat maut "Kamu masih mending". Meresponsnya dengan pura-pura tolol ternyata menyenangkan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ketika sedang bercerita tentang nasib (sambat) pada orang lain (misalnya teman di tongkrongan), “Kamu masih mending” menjadi kalimat yang berhasil tiba-tiba merusak mood. Begitu kira-kira pengakuan sejumlah teman kepada saya. 

Namun, sudut pandang berbeda justru diberikan oleh Rizqan (27). Baginya, pura-pura menjadi tolol saat teman tongkrongan sudah mulai bilang “Kamu masih mending” ternyata sangat menyenangkan, bukannya menyebalkan seperti yang dirasakan teman-teman saya yang lain. 

Iklan

Dari jengkel jadi pura-pura tolol di hadapan orang NPD, ternyata menyenangkan

Rizqan mengakui, semula ia amat jengkel ketika sedang bercerita tentang hal buruk yang baru ia alami, lalu si teman tongkrongan akan menyambar dengan kalimat “Kamu masih mending.” 

Pasalnya, tujuan Rizqan bercerita sebenarnya ingin meluapkan keresahan, menunjukkan bahwa hal buruk yang ia alami itu valid. Kalau dapat nasihat-nasihat yang menenangkan ya bonus lah. 

Namun, Rizqan merasa keresahan atau kesedihannya kemudian didiskreditkan saat si teman tongkrongan berbalik sambat terkesan tidak mau kalah. Seolah-olah apa yang Rizqan alami tidak seberapa, tidak lebih buruk dari hal buruk yang si teman tongkrongan alami. 

“Saat itu, dalam perspektifku, apa yang kualami itu valid. Nggak ada urusannya sama mending atau nggak mending. Karena setiap orang punya struggle-nya masing-masing,” ungkap pemuda yang bekerja di Malang tersebut, Rabu (5/8/2026). 

Namun, semakin bertambahnya usia, Rizqan kemudian mencoba menata kematangan emosionalnya. Dan akhirnya ketemulah formula “pura-pura tolol”. 

“Jadi kalau udah keluar kalimat ‘Kamu masih mending’, ya sudah kesimpulanku nih orang memang NPD. Apa-apa harus dirinya yang kelihatan ‘lebih’, bahkan untuk sekadar nasib buruk saja dia penginnya kelihatan lebih buruk,” kata Rizqan. 

Setelah si teman tongkrongan bilang “Kamu masih mending”, maka yang Rizqan lakukan akan terus memberi makan egonya: menyimak dan terus melempar “bahan bakar” (pertanyaan atau pernyataan yang seolah memvalidasi sambatan si teman). Kalau dirasa-rasakan, ternyata menyenangkan. 

Pasalnya, setelah si teman berbalik sambat, maka seterusnya ia akan nerocos sambat. Tidak memberi ruang bagi Rizqan untuk melanjutkan ceritanya, hanya memberi Rizqan ruang untuk memvalidasi si teman.

Dan itu pun tidak hanya dalam konteks sambat. Saat Rizqan mencoba menceritakan pencapaian tertentu, si teman pun tidak mau kalah. Pokoknya harus dia yang pencapaiannya lebih bagus. 

“Cara merespons orang NPD itu kalau kita bawa serius, jengkel. Nggak sehat buat kejiwaan. Jadi dibawa santai aja, pura-pura tolol aja. Lihat si NPD terus termakan bahan bakar yang kita kasih itu kayak lucu gitu,” ucap Rizqan disertai gelak tawa. 

Teman tongkrongan bilang “Kamu masih mending” itu pengingat syukur, kenapa harus jengkel? 

Selain itu, ketika niat sambat direspons menjadi ajang adu nasib, setelah Rizqan pikir-pikir ternyata bisa menjadi pengingat syukur.

Jika ternyata hal buruk yang Rizqan alami ternyata tidak lebih buruk dari yang si tongkrongan alami, berarti kan nasib Rizqan sebenarnya tidak buru-buruk amat. Benar-benar masih mending. 

Iklan

Maka dari itu, kenapa harus jengkel jika kalimat “Kamu masih mending” itu keluar. Justru saat kalimat itu keluar, Rizqan malah diingatkan kembali untuk bersyukur kepada Tuhan. 

“Ya harus bersyukur lah. Karena melihat, ternyata ada loh yang ngakunya nasibnya nggak lebih baik dariku,” tutur Rizqan. 

Anggap saja sebagai doa 

Rizqan pun kemudian menganggapnya sebagai bentuk doa. Kalau disebut masih mending, secara tidak langsung kan mendoakan Rizqan agar nasibnya tidak lebih buruk. 

Dengan cara pandang itu, Rizqan akhirnya tidak jengkel-jengkel amat ketika sedang cerita ke teman dan direspons dengan kalimat “Kamu masih mending.” 

Dan kenyataannya memang demikian. Sering kali ketika sedang motoran di jalanan Malang, atau sekadar melihat konten-konten bertema sosial di media sosial, ia mendapati bahwa di luar sana ternyata masih banyak orang yang kondisinya jauh lebih buruk dari Rizqan. 

“Artinya kata ‘mending’ itu memang riil. Jadi aku merasa diingatkan juga kalau aku ini masih beruntung, masih lebih baik. Dan itu harus jadi alasan buat bersyukur,” tutur Rizqan. 

Bisa loh sekadar saling cerita tanpa membandingkan (adu nasib)

Meski begitu, bagi Rizqan, memang ada cara yang lebih enak jika sedang ingin saling sambat dengan sesama teman. 

Di Malang, Rizqan punya seorang teman dekat dari masa kuliahnya dulu. Mereka memang bekerja di tempat berbeda. Tapi masih sesekali bertemu untuk nongkrong bareng. 

Karena sudah menjalani kesibukan dan urusan hidup masing-masing, momen ketemu di tongkrongan (entah di kedai kopi atau sekadar di kursi Indomaret Point Coffee), tidak terelakkan menjadi momen saling sambat satu sama lain perihal struggle masing-masing. 

“Tapi kami bisa sama-sama nyaman karena kami nggak saling membandingkan. Aku cerita soal kekesalanku pada target kerja, dia pun bercerita tentang kondisinya di kantor. Lalu kami saling bertukar insight. Obrolannya dua arah, nggak didominasi satu pihak. Kalau seperti itu tentu jauh lebih menyenangkan,” tutup Rizqan. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Serba-serbi Jadi Topping Tongkrongan: Ikut Nongkrong biar Tak Dicap Nolep, Cuma Jadi Pelengkap dan Tak Dianggap atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 6 Agustus 2026 oleh

Tags: adu nasibmenghadapi teman npdmerespons kamu masih mendingsambatsambat di tongkrongansambat ke temanteman tongkrongantongkrongan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Derita jadi topping tongkrongan: niat bergaul biar tidak dicap nolep, tapi sering tidak dianggap saat nongkrong MOJOK.CO
Sehari-hari

Serba-serbi Jadi Topping Tongkrongan: Ikut Nongkrong biar Tak Dicap Nolep, Cuma Jadi Pelengkap dan Tak Dianggap

4 Agustus 2026
Tongkrongan bapak-bapak, nongkrong.MOJOK.CO
Catatan

Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

11 Mei 2026
bapak-bapak nongkrong.MOJOK.CO
Sehari-hari

Setelah Punya Anak Sadar “Nongkrong Basi-Basi” Itu Nggak Guna: Rela Dicap Suami Takut Istri, karena Urusan Keluarga Memang di Atas Segalanya

11 Mei 2026
pertemanan di usia 30.MOJOK.CO
Sehari-hari

Pertemanan di Usia 30 Memuakkan: Transaksional dan Isinya Cuma Adu Nasib, tapi Paling Mengajarkan Arti Ketulusan

7 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lolos SBM Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan jual Tiramisu. MOJOK.CO

Seporsi Kemenangan usai Ayah Tiada: Jualan Tiramisu di Saparua sejak Remaja agar Bisa Sekolah hingga Tembus SBM ITB

3 Agustus 2026
Caffino Srikandi Merdeka Cup: turnamen sepak bola putri internasional di Kudus, momentum bakat muda Indonesia unjuk kualitas MOJOK.CO

Srikandi Merdeka Cup: Turnamen Sepak Bola Putri U-16 Level Internasional di Kudus, Momentum Unjuk Kualitas untuk Tembus Timnas

3 Agustus 2026
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

Konsultasi Publik di Bandung Hasilkan Masukan Strategis Konservasi Elang Jawa 2026-2036

3 Agustus 2026
Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP MOJOK.CO

Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP

1 Agustus 2026
Saat cerita/sambat ke teman berujung adu nasib dengan kalimat maut "Kamu masih mending". Meresponsnya dengan pura-pura tolol ternyata menyenangkan MOJOK.CO

Niat Cerita ke Teman Berujung Adu Nasib: Pura-pura Tolol saat Teman Bilang “Kamu Masih Mending” Ternyata Menyenangkan

6 Agustus 2026
Ilustrasi perantau dari desa.MOJOK.CO

Tangis Sunyi Para Perantau: Uang Habis Untuk Hidupi Keluarga, tapi Dicap Durhaka karena Jarang Pulang dan “Tak Hadir” di Orang Tua

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.