Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

35 Tahun Mengabdikan Diri di UGM, Kini Pilih Budidaya Selada Hidroponik Malah Hasilkan Omzet Harian Rp750 Ribu

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
3 Mei 2026
A A
Arta Wahana, pensiunan UGM isi waktu dengan berkebun selada (dok. UGM)

Arta Wahana, pensiunan UGM isi waktu dengan berkebun selada (dok. UGM)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Setelah mengabdikan diri untuk bekerja lebih dari tiga dekade, pensiunan pekerja Universitas Gadjah Mada (UGM) memilih untuk membudidayakan selada hidroponik. Tak main-main, untungnya lebihi UMR Jogja.

Pengalaman mengabdi di UGM sejak 1989

Kisah ini datang dari Arta Wahana. Ia merupakan pensiunan tenaga kependidikan perguruan tinggi negeri (PTN) yang berlokasi di Jogja, tepatnya UGM.

Iklan

Sebelumnya, Arta menghabiskan waktu sehari-hari untuk bekerja di lingkungan kampus UGM. Tak jarang, ia juga harus lembur hingga malam, padahal sudah memulai jam kerjanya pada pagi hari.

Sewaktu bekerja sebagai staf Perpustakaan Pascasarjana, misalnya, hampir 3 kali seminggu ia terbiasa lembur hingga pukul 7 malam. Lalu, saat dipindah di Humas universitas, ia selalu berangkat pagi, pulang petang.

Pengalaman ini hanya segelintir perjuangan dari lebih dari tiga dekade masa kerjanya. Ia telah mengawali kariernya di UGM sejak tahun 1989.

Arta ditugaskan di Humas UGM pada tahun 2011, setelah sebelumnya bertanggung jawab sebagai staf di Perpustakaan Pascasarjana hingga tahun 2010. 

“Saya bertugas sejak tahun 1989, lalu pensiun pada awal 2024. Sebelumnya, saya bertugas di Perpustakaan Pascasarjana. Di sana, saya mendata peminjaman, membantu mencarikan buku, dan menomori buku,” kata dia, dikutip dari laman UGM, Minggu (3/5/2026).

“Lalu ketika perpustakaan digabung, saya dimutasi ke Humas UGM untuk membantu menyiapkan press conference, mengambil video, dan lain-lain,” katanya menambahkan.

Memilih budidaya selada setelah bekerja tiga dekade

Selepas tugasnya berakhir di UGM Jogja pada dua tahun lalu, Arta memilih untuk tidak melanjutkan dengan mencari pekerjaan serupa. Arta juga tidak menghabiskan waktunya hanya untuk beristirahat, tanpa mencoba produktif.

Justru, Arta merasa waktu luangnya ini menjadi kesempatan untuk menambah produktivitas. Misal, melalui bercocok tanam selada.

Arta sedang berada di kebun selada yang berlokasi di Jogja (dok. UGM)
Arta sedang berada di kebun selada yang berlokasi di Jogja (dok. UGM)

Menurut dia,  budidaya ini bukan sekadar pengisi waktu, melainkan cara untuk terus bergerak menjaga kebugaran pada usianya yang tidak lagi muda.

Ditambah, kebun seluas 650 meter persegi yang dimilikinya ini menjadi pergantian “medan” yang harus dikuasainya. Dengan pengalaman bekerja tanpa henti sebelumnya, Arta merasa dapat mengalihkan produktivitasnya di kebun.

Selain itu, ia juga dapat lebih leluasa daripada saat bekerja kantoran. Tidak ada lembur di kebun, kata dia, meskipun harus berangkat lebih awal. 

“Ternyata, ketika di kebun sekarang ini, sebelum subuh pun saya harus sudah berangkat, karena ditunggu orang mengambil selada. Tapi di sini jam kerja lebih pendek, pukul 10 sudah selesai. Bahkan kalau panen, pukul 9 sudah selesai,” ujarnya.

Iklan

Jadi peluang bisnis usai pensiun dari UGM, kantongi omzet harian Rp750 ribu

Saat ini, Arta memiliki dua kebun yang berlokasi di Pakem dan Plosokuning, Jogja. Kedua kebunnya ini menggunakan sistem hidroponik. 

Berkat ilmu dan relasi yang dimiliki oleh kedua anaknya sebagai lulusan Jurusan Pertanian, Arta mengaku lebih mudah untuk melakukan pekerjaan ini. Ia dapat membantu sang anak yang tengah menekuni penanaman selada, serta melibatkan lebih banyak anggota keluarga dalam budidaya ini.

Hasilnya, pekerjaan baru usai lama mendedikasikan diri di UGM ini berpeluang menjadi bisnis untuk keluarga. 

Budidaya selada hidroponik Arta setelah pensiun dari UGM (dok. UGM)
Budidaya selada hidroponik Arta setelah pensiun dari UGM (dok. UGM)

Dengan masa tanam rata-rata 40 hari, Arta dapat memanen 20 hingga 30 kilogram per hari. Melalui sistem rotasi tanam delapan meja produksi pula, ia mengatakan dapat memanen tiap mejanya hingga 5 hari sekali.

“Sekarang rata-rata bisa panen 20-30 kg setiap hari. Terdapat 8 meja dengan tiap meja panennya bisa sampai 5 hari sekali,” kata dia.

Arta mengatakan, harga selada hidroponik saat ini terbilang tinggi. Per kilogram, selada hidroponik dapat dihargai Rp20 ribu hingga Rp25 ribu. Dengan volume penjualan mencapai 20-30 kilogram per hari, ia mampu mengantongi omzet harian rata-rata sekitar Rp400 ribu hingga Rp750 ribu.

Meskipun, Arta mengaku kondisi pasar sering berubah-ubah.

“Harga sangat bergantung pada stok selada tanah. Kalau musim panas, selada dari kopeng panen raya sehingga harganya bisa murah, hanya 6000 rupiah. berpengaruh pada harga selada hidroponik. Bersyukur, ya, konsumsi selada hidroponik masih tinggi. Banyak juga suka yang hidroponik,” ujarnya.

Selain itu, Arta membagikan alasan lain yang melatarbelakangi pilihannya terjun ke dunia perkebunan ini. Ia mengaku telah familiar dengan pekerjaan ini, sebab pernah ikut panen di sawah sewaktu kecil.

Alasan lainnya, pada usianya yang saat ini telah menua, Arta bilang lebih nyaman melihat tanaman hijau tumbuh di sekitarnya. Ia dapat olahraga, serta olah batin pada saat bersamaan.

“Sewaktu kecil, saya juga pernah di sawah sehingga tahu sedikit mengenai menumbuhkan tanaman. Lebih daripada itu, rasanya lebih ayem, pagi-pagi melihat yang segar berupa tanaman hijau-hijau. Olahraga dan olah batin juga, karena di kebun bisa berkeringat sekaligus banyak berdoa meminta kesuburan,” ujarnya

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Cerita Lulusan Termuda S2 UGM, Berhasil Kantongi Gelar Sarjana Kedokteran dan Kesmas sebelum Usia 25 Tahun dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 Mei 2026 oleh

Tags: berkebunkampus ugmpensiunpensiunanslow living berkebunUGMugm jogja
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

kuis rempah rempah
Kabar

Merawat Muruah Rempah Nusantara lewat Riset Genetika

2 Juli 2026
Mila lulusan Fapet UGM. MOJOK.CO
Sekolahan

Dobrak Keraguan Perempuan Tak Pantas Jadi Peternak, Alumnus Fapet UGM Ini Berhasil Raih Rp700 Juta di Tuban

29 Juni 2026
Menurut Pakar UGM, Pelatihan Dasar Militer (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah putih/KDMP) harus dievaluasi MOJOK.CO
Kabar

Pelatihan Militer ke Manajer Kopdes Merah Putih Perlu Didesain Ulang, Harus Lebih Relevan dengan Tata Kelola Koperasi agar Tak Ada Korban Lagi

29 Juni 2026
UGM.MOJOK.CO
Sekolahan

Berhasil Kuliah Gratis di Jurusan Mahal UGM Berkat Kebiasaan Belajar Pukul 3 Pagi dan Hobi “Nongkrong” di Perpus Hingga Malam Hari

24 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum, Najwa Shihab berpesan pada para mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus agar terus menulis (esai) apapun profesinya MOJOK.CO

Pesan untuk Gen Z: Menulislah Apapun Kelak Profesinya, Tak Lupa Akar di Manapun Posisinya

7 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Kehangatan Tuan Rumah di Penutup Prambanan Jazz 2026.MOJOK.CO

Kehangatan Tuan Rumah di Penutup Prambanan Jazz 2026

6 Juli 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026
Selain ke petugas Sensus Ekonomi, warga desa juga jengah dengan program sensus dari mahasiswa KKN MOJOK.CO

Warga Desa Juga Jengah dengan Sensus dari Mahasiswa KKN: Tak Nemu Gunanya, Tak Srawung tapi Korek Privasi Orang

8 Juli 2026
Terima Kasih No Na! "Udah Siap Belum?" Akhirnya Mengalahkan "Mas Bahlil Ganteng" di Kepala Bocil

Terima Kasih No Na! “Udah Siap Belum?” Akhirnya Mengalahkan “Mas Bahlil Ganteng” di Kepala Bocil

6 Juli 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.