Angin sore yang berembus di pelataran Candi Prambanan, Minggu (5/7/2026), membawa nuansa yang berbeda dibanding dua hari sebelumnya. Bila hari pertama dan kedua dipenuhi adrenalin anak muda yang mengejar penampil internasional serta pop modern, hari ketiga terasa jauh lebih intim.
Puluhan ribu penonton yang memadati area rumput duduk bersila dengan santai, menanti sebuah perhelatan yang dirancang bukan sekadar untuk memuaskan telinga, tetapi juga nostalgia.
Sebagai hari penutup, promotor Rajawali Indonesia menyusun line up yang sangat terukur. Mereka memadukan kekuatan nostalgia lintas dekade dengan kebanggaan musisi tuan rumah Yogyakarta. Hasilnya adalah sebuah perjalanan emosional yang mengalir mulus sejak senja hingga gerbang arena dikunci pada tengah malam.
Transisi dari teriknya sore menuju syahdunya malam dibuka oleh Jikustik. Pemilihan grup musik asal Yogyakarta ini sebagai penampil awal menjadi langkah strategis untuk mencairkan suasana.
Tampil di rumah sendiri membuat Icha (vokal/bas), Adhit (gitar), Dadi (gitar), dan Carlo (drum) terlihat begitu lepas. Suasana arena semakin bergemuruh ketika mereka memberi kejutan dengan menghadirkan Pongki Barata ke atas panggung. Kehadiran sang mantan vokalis yang ikut diboyong sore itu menyempurnakan nuansa reuni, seolah sedang menyambut sahabat lama yang datang bertamu ke beranda rumah.
Ketika suara melodi gitar membuka intro lagu ”Maaf”, pelataran candi seketika berubah menjadi ruang karaoke terbuka. Duet vokal Pongki dan Icha langsung memancing paduan suara massal dari ribuan penonton.
Aransemen yang bersahaja justru menjadi kekuatan utama. Tanpa distorsi yang berlebihan, penonton diajak meresapi setiap lirik lagu dari album Seribu Tahun (2000), sebuah nomor hit yang dulu menjadi soundtrack masa muda era awal 2000-an.
View this post on Instagram
Memutar balik waktu ke masa-masa indah di Yogyakarta
Daya tarik panggung Jikustik bukan hanya pada musiknya, tetapi juga relasi batin antara musisi dan penontonnya. Hal ini dirasakan betul oleh Aryasatya (38), pekerja swasta asal Solo yang datang bersama istri dan putrinya yang berusia delapan tahun. Bagi Arya, panggung sore itu seperti lorong waktu.
”Mendengar Jikustik nyanyi lagu ’Puisi’ langsung di Yogya itu rasanya beda. Kayak diputar balik ke tahun 2005 waktu saya masih kuliah di sini,” ujar Arya saat ditemui di sela-sela acara.
“Dulu dengerinnya lewat kaset. Sekarang bisa nyanyi bareng sama anak istri di bawah Candi Prambanan. Hangat banget rasanya,” imbuhnya.
Pernyataan Arya menegaskan bagaimana fungsi festival ini bekerja. Jikustik berhasil menunaikan tugasnya sebagai tuan rumah yang ramah dengan membuka pintu kenangan sebelum penonton dibawa melangkah ke era musik yang lebih jauh.
Bila Jikustik mewakili memori era 2000-an, panggung berikutnya justru mundur satu dekade lebih jauh untuk menampilkan kompleksitas musik yang matang bersama Fariz RM. Pergantian suasana ini dijahit rapi oleh penyelenggara tanpa menimbulkan ketimpangan ritme.
Kehadiran legenda city pop dan jazz fusion era 1980-an tersebut sekaligus menjawab keraguan publik yang kerap mempertanyakan bobot genre jazz di festival ini.
Menjelang acara diselenggarakan, promotor sempat memublikasikan data bahwa 63 persen penampil Prambanan Jazz Festival (PJF) 2026 memiliki DNA jazz yang kuat. Fariz RM adalah pembuktian dari angka tersebut.
Lewat ”Sakura” dan ”Barcelona”, jemari Fariz menari lincah di atas tuts synthesizer, menghadirkan progresi akor jazz rumit tapi tetap renyah didengar.
Menariknya, respons penonton justru mendobrak batas usia. Di deretan depan area berdiri, anak-anak Gen Z terlihat asyik bergoyang mengikuti ketukan bas yang funk, berbaur dengan penonton paruh baya yang sesekali memejamkan mata menikmati improvisasi sang musisi.
Syahdunya malam kemudian dilanjutkan oleh Ari Lasso. Musiknya menjadi jembatan yang menyambung ketajaman teknis Fariz RM dengan energi pop-rock akhir 1990-an. Saat lagu ”Hampa” dan ”Cinta Terakhir” dilantunkan, kematangan vokal Ari Lasso mampu menjaga tensi penonton tetap tinggi di tengah suhu malam kawasan candi yang mulai dingin.
Dinamika ini makin menarik ketika promotor menempatkan Maliq & D’Essentials serta Tulus di antara deretan legenda tersebut. Kehadiran mereka memberi napas segar sekaligus menjaga ritme panggung tetap relevan bagi penonton usia produktif.
Gelombang penonton mengalir secara natural. Mereka yang tadinya bernyanyi kontemplatif bersama Ari Lasso dengan mulus bergoyang santai mengikuti irama soul-funk khas Maliq lewat lagu ”Senja Teduh Pelita”.
Tidak ada sekat antargenerasi malam itu. Semuanya melebur dalam satu gelombang apresiasi musik yang sama.
Prambanan Jazz jadi medium pemulihan emosi penonton
Namun, dari seluruh rangkaian perjalanan lintas dekade malam itu, klimaks emosional yang sebenarnya terjadi ketika KLa Project mengambil alih panggung tepat pukul sebelas malam. Sebagai grup musik yang memiliki sejarah historis tak terpisahkan dengan Yogyakarta, performa Katon Bagaskara, Lilo, dan Adi Adrian sudah dinaungi ekspektasi tinggi sejak awal.
KLa Project membuka set mereka lewat lagu bernuansa riang, ”Hey”, dan nomor yang penuh nostalgia, “Terkenang”. Sentuhan keyboard Adi Adrian yang megah berpadu dengan sayatan gitar Lilo, menciptakan lanskap audio yang padat.
Katon bernyanyi dengan artikulasi yang jernih, sesekali melempar senyum ke arah penonton yang berdiri memadati seluruh sudut area festival.
Menjelang akhir penampilan, momen magis yang dinanti ribuan orang tiba. Alunan saksofon yang sangat ikonis mulai memecah udara malam, menjadi pertanda dimulainya lagu monumental, ”Yogyakarta”. Diikuti beat drum yang tak kalah ikonisnya.
Dalam hitungan detik, ribuan ponsel terangkat ke udara, menyalakan lampu kilat yang mengubah pelataran candi layaknya hamparan bintang.
Ketika Katon menyanyikan bait pembuka, “Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu”, gemuruh suara penonton langsung menenggelamkan sistem tata suara panggung.
Mendengarkan lagu ”Yogyakarta” langsung di tanah kelahirannya, dengan latar siluet Candi Prambanan yang disorot lampu keemasan, menghadirkan sensasi magis yang membekas dan mendalam.
Pengalaman magis tersebut diakui oleh Ratih (40), seorang akuntan asal Jakarta yang sengaja mengambil cuti pendek demi menonton penutupan Prambanan Jazz 2026. Ia berdiri di dekat area sound engineer, mata dan suaranya sedikit bergetar saat lagu tersebut usai dimainkan.
”Ada rasa haru yang susah dijelaskan kalau dengerin lagu ’Yogyakarta’ langsung di Prambanan. Saya besar di Jakarta, tapi tiap dengar lagu ini dibawakan KLa di sini, saya selalu merasa seperti sedang pulang ke rumah. Nostalgia masa-masa kuliah di Yogyakarta,” tutur Ratih.
Haru yang dirasakan Ratih menggambarkan benang merah yang berhasil dibangun PJF 2026 di hari penutupnya. Musik berhasil melampaui fungsinya sebagai tontonan, berubah menjadi medium pemulihan emosi bagi penontonnya.
View this post on Instagram
Dampak positif pada ekosistem di luar Candi Prambanan
Keberhasilan merajut narasi nostalgia dan kekuatan tuan rumah di hari penutup ini juga memberi dampak konkret pada ekosistem di luar pagar candi. Festival ini tidak hanya meninggalkan kesan emosional, tetapi juga meneteskan manfaat ekonomi yang merata bagi warga sekitar.
Berdasarkan data yang dihimpun pihak penyelenggara, tingkat keterisian penginapan dan hotel di radius lima kilometer dari Candi Prambanan—mulai dari kawasan Kalasan hingga perbatasan Klaten—mencapai 100 persen selama tiga hari penyelenggaraan.
Warung makan dan pelaku usaha kuliner lokal yang membuka tenant di dalam area festival maupun di sekitar gerbang masuk juga mencatat lonjakan pendapatan yang signifikan berkat masa tinggal (length of stay) penonton yang berjam-jam di lokasi acara.
Perhelatan Prambanan Jazz Festival 2026 resmi tuntas ketika seluruh penonton perlahan mengalir keluar meninggalkan pelataran candi pada Minggu tengah malam, seiring usainya penampilan energik dari penampil internasional, The Rose dan Henry Moodie.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Sayonara, JogjaROCKarta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














