Hidup sebagai anak tunggal membuat segala ekspektasi orang tua ada di pundaknya. Tak pelak, anak tunggal sering mengalami rasa kesepian dan kecemasan sebagai tulang punggung keluarga di masa depan. Itu juga yang dirasakan oleh perempuan asal Surabaya ini.
Sakit kronis yang datang tanpa diduga
Sial bagi Lili (23), saat dokter mendiagnosisnya mengidap penyakit kronis pada Desember 2024 tepat setelah dirinya lulus kuliah. Di kala teman-temannya siap memasuki dunia kerja, Lili justru terkapar di atas kasur selama berbulan-bulan.
Penyebab penyakitnya itu, kata dokter Lili, belum diketahui secara pasti. Namun, gejalanya berupa nyeri terutama di area pinggul, bahkan untuk buang air besar saja rasanya tersiksa. Karena itu, Lili sempat melakukan rawat inap di rumah sakit.
“Penyakit ini membuatku benar-benar harus berbaring di ranjang selama 2-3 bulan dan menjalani masa pengobatan sekitar 10 bulan,” kata Lili kepada Mojok, Jumat (12/6/2026).
Selain fisik, mental Lili pun ikut terguncang. Apalagi, dia masih harus menjalankan lembaga kursus miliknya yang dia buat di masa kuliah. Sebagai pendiri, Lili pun punya kewajiban untuk menggaji para pengajar. Namun, karena musibah yang dialaminya, kursus itu harus terhenti di tengah jalan.
“Berapa kali pun aku memutar otak untuk mencari pemasukan dan berusaha menjalankan aktivitas sehari-hari, dokter memintaku istirahat penuh untuk fokus penyembuhan,” tegas Lili yang merupakan anak tunggal di keluarganya.
Anak tunggal yang terbebani sebagai tulang punggung
Meski begitu, sejatinya Lili adalah sosok pekerja keras sekaligus keras kepala. Meskipun dokter menyuruhnya istirahat total, Lili tak ingin merasa tertinggal dari teman-temannya. Sembari menjalani pengobatan, dia tetap mengirim ratusan lamaran kerja ke berbagai perusahaan.
Apalagi, sebagai anak perempuan satu-satunya, Lili juga menjadi tulang punggung keluarga di kala ibunya sakit. Selama ini, mereka hanya bertumpu pada penghasilan ayahnya yang merupakan tukang tambal ban.
“Seenggaknya aku masih berdiri, aku masih diberi napas, artinya aku masih diberi kesempatan untuk hidup. Seperti lagu yang aku putar sehari-hari untuk memotivasiku, Life Goes On dari BTS,” kata anak tunggal yang kehilangan berat badan sampai 10 kilogram karena sakit tersebut.
Dalam kurun waktu 5 bulan, Lili pun berhasil mengirim 500 surat lamaran kerja. Namun, dari itu semua, hanya ada 1 sampai 5 perusahaan yang menghubunginya. Satu di antaranya adalah job scam.
Lili menduga banyaknya penolakan yang dia terima itu karena syarat lamaran kerja yang di luar nalar. Salah satunya, pelamar yang harus punya pengalaman relevan selama 3-5 tahun, sementara yang diutamakan adalah fresh graduate.
Pola asuh orang tua yang membuat anak tunggal kuat
Meski ujian hidup terus menghantamnya, Lili tetap bertahan. Dia berujar tak akan mampu melewati segala ujian ini jika bukan karena didikan dari sang ibu yang bernama Soekarwati.
Walaupun tak punya kesempatan mencicipi bangku kuliah, kata Lili, pola pikir orang tuanya membuat dia jadi lebih dewasa, sehingga ketika dihadapkan pada suatu masalah dia jarang mengeluh dan justru mencari solusi.
“Sebagai anak tunggal, aku hanya bisa ngandelin diri sendiri. Makanya dari kecil aku nggak pernah dimanja sama ayah dan ibuku,” jelas Lili.
“Bahkan hal sekecil masukin motor ke dalam rumah aja, harus aku sendiri. Ayahku pernah nyeletuk ‘engkok lak aku mati sopo sing nulungi? (nanti kalau aku meninggal, siapa yang akan menolong kamu?)’,” kata Lili mengingat nasihat ayahnya, Trisno.
Oleh karena itu, bagi Lili, kesulitan mencari kerja adalah bagian kecil dari hidup. Dia percaya bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Dan Tuhan tak akan menguji hambanya melebihi kemampuannya.
Secercah harapan untuk anak tunggal
Hingga akhirnya secercah harapan pun tiba, ketika dia mendapat panggilan kerja sebagai Trial Class Manajer (TCM) di salah satu sekolah internasional pada Februari 2026. Dalam perjalanannya, Lili harus melalui beberapa tahapan dengan kondisi yang sudah lebih baik dari sebelumnya.
Mulai dari seleksi berkas, wawancara bersama Human Resources (HR), wawancara dengan Supervisor (SPV), pelatihan selama 2 minggu, hingga quality control yang ditotal waktunya bisa sampai 2 bulan.
“Di tahap akhir aku nyaris nggak lolos karena kendala device, untungnya aku dikasih kesempatan kedua karena mereka yakin dengan kemampuanku. Dan dengan berbagai sunnatullah yang aku jalani, akhirnya aku diterima,” ucap Lili yang merupakan anak tunggal.
Lili sangat bersyukur diterima di sana, apalagi dia memang tertarik dengan dunia pendidikan anak. Hitung-hitung, ilmu yang dia dapatkan nanti dapat menjadi bekal untuk melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda yakni membuka lembaga kursus hingga daycare.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














