Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Naik Bus Haryanto Jogja – Kudus Campur Aduk, Batin Seketika Muram dan Sendu karena Suasana dalam Bus Sepanjang Jalan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
9 Maret 2026
A A
Bus patas Haryanto rute Jogja - Kudus beri suasana batin muram dan sendu gara-gara lagu-lagu 2000-an yang ingatkan masa lalu MOJOK.CO

Ilustrasi - Bus patas Haryanto rute Jogja - Kudus beri suasana batin muram dan sendu gara-gara lagu-lagu 2000-an yang ingatkan masa lalu. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Perjalanan naik bus patas Haryanto rute Jogja – Kudus memberi kesan sendu dan muram. Bukan karena bus tersebut tidak nyaman. Tapi karena playlist alias lagu-lagu yang diputar sepanjang perjalanan membuat perasaan campur aduk antara senyum-senyum mengingat kenangan dan rintihan di masa sekarang. 

Sebenarnya tidak sreg dengan sikap agen bus patas Haryanto di Terminal Jombor

Jika ke Terminal Jombor, Sleman, Jogja pada jam 9-an pagi, maka bus patas Haryanto lah yang akan menjadi tumpangan untuk rute Jogja-Magelang-Semarang-Kudus. Begitu yang dialami oleh Aji (26) dalam beberapa kali perjalanan pulang. 

Sebenarnya Aji tidak begitu sering naik bus patas Haryanto. Ia justru lebih sering naik Ramayana. Oleh karena itu, pemuda asal Kudus itu mengaku sebenarnya tidak begitu sreg dengan sikap agen karcis bus Haryanto. 

“Agen Ramayana di Terminal Jombor itu ibu-ibu. Ramah dia. Kalau ditanya apa, jawabnya juga enak. Tapi beda sama agen Haryanto yang lokasinya ada di dekat toilet. Bapak-bapak cuek dan jutek,” ungkap pemuda asal Kudus, Jawa Tengah itu berbagi cerita, Sabtu (7/3/2026). 

Tapi ya sudah lah. Toh urusan Aji dengan si agen hanya saat itu saja (saat membeli tiket). Meski setelahnya ia kerap merasa jengkel dan tidak sabar juga karena jam keberangkatan bus yang molor. 

Diserang lagu-lagu tahun 2000-an dalam bus patas Haryanto

Dari beberapa kali naik bus patas Haryanto, dalam dua momen kepulangan di awal 2026 lalu membuat Aji menyadari selera musik kru bus rute Jogja – Kudus tersebut.

Selama ini, tiap naik bus atau travel, Aji memang sering menyumpal telinganya dengan headset: mendengar musik dari band kesukaan atau sekadar menyimak podcast. 

Pada momen kepulangan ke Kudus di awal 2026 lalu, telinga Aji yang belum terpasang headset dilewati suara yang seperti datang dari masa yang jauh: lagu-lagu 2000-an, lagu-lagu yang menemani masa remajanya. Dari nuansa berbunga-bunga hingga berselimut sendu. 

Dari Sebelum Cahaya dan Permintaan Hati milik Letto, Merindukanmu dan Cinta Ini Membunuhmu D’Masiv, Pemilik Hati Armada, Separuh Aku dan Cinta Bukan Dusta milik Noah. 

“Momen epic-nya kan waktu bus jalan, keluar Terminal Jombor, terus terdengar “deng-deng, denge-deng”, terbuai, aku hilang, terjatuh aku dalam keindahan penantian..,” ucap Aji. Setelah itu, ia telinga dan hatinya langsung terbawa hanyut untuk menyimak lagu demi lagu yang diputar di bus patas Haryanto Jogja – Kudus yang ia naiki itu. 

“Apalagi saat mulai gerimis, terus di jendela ada bintik-bintik air, lagu yang muncul kan, ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja…, itu aku langsung nyandarin kepala di jendela, terseret ke masa lalu,” sambung Aji. 

Senyum-senyum sendiri karena masa lalu

Ingatan-ingatan masa lalu saling berkelindan seiring lagu demi lagu yang diputar di dalam bus patas Haryanto. Sebab, lagu-lagu tersebut adalah lagu-lagu yang menjadi bagian dari hidup Aji remaja. 

“Aku dulu bahkan punya kaset bajakan kompilasi video klip band-band 2000-an. Kalau hari Minggu kuputar kenceng-kenceng, terus aku ikut nyanyi sambil memeragakan seolah aku bintang dalam video klip,” kata Aji sembari terkekeh. 

Lagu-lagu tersebut memang menemani cerita romansa remaja Aji. Masa-masa cinta monyet lah. Ada masa berbunga-bunga saat sedang jatuh cinta. Ada masa galau dan sedihnya ketika bertepuk sebelah tangan. 

Iklan

Kenangan-kenangan itu membuat Aji senyum-senyum sendiri di dalam bus patas Haryanto rute Kudus – Jogja. Kata Aji, lucu saja ketika dulu menembak teman sekelas, tapi setelahnya nyaris tidak pernah jalan bareng. Hanya sekadar berkirim pesan romantis dan gombal melalui SMS. 

“Waktu aku SMP dulu kan, yang disebut pacaran, pokoknya nembak dan diterima. Setelah itu nggak jalan bareng pun nggak masalah. Yang penting orang tahu kalau aku pacaran sama dia. Aku bisa kirim-kiriman SMS gombal ke dia. Kan cuma sebatas itu,” ucap Aji. “Paling mentok kan membelikan kado hadiah ulang tahun.”

Seketika sendu dan muram, membenci masa sekarang

Hanya saja, terselip di antara kenangan-kenangan itu: kenyataan sendu dan muram bahwa masa-masa remaja sudah tertinggal jauh di belakang. Yang ada adalah hari ini, masa kini, dan hari esok penuh ketidakpastian. 

Tiba-tiba saja, di tengah alunan lagu-lagu Noah di dalam bus patas Haryanto Kudus – Jogja, suasana batin Aji berubah menjadi sendu dan muram.

“Rasanya baru kemarin aku masih SD, terus beranjak remaja. Nggak mikir suatu saat bakal kerja apa, punya uang cukup nggak buat hidup? Eh tiba-tiba ada di masa sekarang. Masa serba overthinking karena merasa gagal, merasa belum bisa ngejar standar-standar hidup tertentu,” ucap Aji. 

Kenyataan itu membuat Aji mengusap wajahnya berkali-kali. Di satu titik bahkan ia nyaris menangis meratapi nasibnya. Sebab, ternyata menjadi dewasa tidak semenyenangkan yang dibayangkan. 

Itu membuat Aji, kalau bisa memilih, mending memilih terjebak di masa kanak-kanak atau remaja, tanpa pernah beranjak dewasa. Tidak masalah jika terikat aturan “tidak boleh pulang larut malam” atau terhalang batas “anak kecil tahu apa?”. 

“Rasa-rasanya itu tidak lebih buruk dari kehidupan orang dewasa: gaji imut masih harus mikir THR buat saudara. Sudah kerja mati-matian tapi nggak kaya-kaya, dianggap anak gagal di kampung halaman,” tutup Aji. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: User KA Sri Tanjung Nyoba Bus Eka: Tak Seburuk Naik Kereta Ekonomi, Tapi Pikiran Dibuat Tak Tenang Meski di Kursi Nyaman atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 9 Maret 2026 oleh

Tags: busbus haryantobus jogja kudusbus pataslagu 2000-anlagu nostalgia di buspo haryantoterminal jombor
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

User kereta api (KA) ekonomi Sri Tanjung pertama kali naik bus Eka PATAS ketimbang Sumber Selamat. Dari keterpaksaan menjadi ketagihan meski tetap tidak tenang MOJOK.CO
Sehari-hari

User KA Sri Tanjung Nyoba Bus Eka: Tak Seburuk Naik Kereta Ekonomi, Tapi Pikiran Dibuat Tak Tenang Meski di Kursi Nyaman

2 Maret 2026
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO
Ragam

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Anggaran TransJogja Dipotong Miliaran Rupiah Adalah Bukti Pemerintah Memang Suka Merepotkan Warga Mojok.co
Pojokan

Anggaran TransJogja Dipangkas Adalah Bukti Pemerintah Memang Suka Lihat Warganya Kerepotan

26 Agustus 2025
Pertama kali naik bus patas setelah sekian tahun naik bus ekonomi. Coba-coba pakai toilet bus malah berujung drama MOJOK.CO
Catatan

Coba-coba Boker di Toilet Bus Patas, Niat Legakan Perut Malah Dibikin Waswas hingga Repot saat Cebok

19 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliner mainstream Lebaran buat kumpul keluarga

Di Balik Camilan “Mainstream” saat Lebaran, Ada Nilai Sentimental yang Mencairkan Suasana Kumpul Keluarga

6 Maret 2026
Jogja macet saat mudik Lebaran

Sebagai Warlok Jogja, Saya Tidak Sedih karena Tak Bisa Mudik tapi Jengkel Satu Indonesia Pindah ke Jogja

9 Maret 2026
Kurir Alfagift, layanan Alfamart penyelamat pekerja Jakarta

Alfagift, Penyelamat Pekerja Jakarta dari “Mati” Kelaparan karena Kelelahan dan Tak Punya Teman Makan

4 Maret 2026
Potret kasih sayang keluarga (ayah, ibu, dan anak) dalam momen mudik Lebaran (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagi Ibu, Tak Apa Membayar Tiket Mahal untuk Mudik demi Bisa Kumpul Bersama “Anak Kecilnya” yang Berjuang di Perantauan

5 Maret 2026
Pengendara motor plat K ngga ngerti fungsi zebra cross, lampu, sein, hingga spion MOJOK.CO

Pengendara Plat K Tak Paham Fungsi Zebra Cross-Spion, Cuma Jadi Pajangan dan Abaikan Keselamatan Orang saat Bawa Kendaraan

7 Maret 2026
Sarjana Ekonomi pilih berjualan ayam penyet

Sarjana Ekonomi Pilih Berjualan Ayam Penyet, Sempat Diremehkan Banyak Orang, tetapi Bisa Untung 3x Lipat UMR dan Kalahkan Gaji Pekerja Kantoran

9 Maret 2026

Video Terbaru

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026
Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

3 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.