Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
25 Februari 2026
A A
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

ilustrasi - tinggal di lingkungan Muhammadiyah jauh lebih tenang tanpa takut dihakimi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Keluarga Diah (31) bisa dibilang tidak terlalu religius meski menganut ajaran Islam. Perempuan asal Wonosobo itu hanya terbiasa tinggal di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), tapi sudah mengikuti ajaran Muhammadiyah sejak duduk di bangku sekolah.

Setelah menikah dan pindah ke Jogja bersama suaminya, Diah jadi tahu betapa nikmatnya tinggal di lingkungan Muhammadiyah. Ia mengaku hidupnya jauh lebih tentram dan damai.

“Memilih masjid di lingkungan organisasi masyarakat (ormas) Islam tertentu itu menjadi penting karena bagi saya pribadi, beberapa kegiatannya cukup memengaruhi hidup saya dan keluarga,” kata Diah.

Toa masjid yang berisik, padahal sedang hamil

Pada tahun 2022, Diah memutuskan pindah bersama suaminya ke salah satu permukiman di Jogja yang mayoritas penduduknya adalah warga Muhammadiyah. Saat itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, Diah mengaku dapat menjalani aktivitas dengan tenang.

Bergaul dengan tetangganya juga terasa berbeda. Diah berujar orang-orang Muhammadiyah memiliki pemikiran yang terbuka, sehingga ia tak terlalu gelisah saat melakukan aktivitas apapun di rumahnya. 

“Misalnya saat saya sedang hamil atau menjelang puasa Ramadan, saya tidak perlu rutin salawatan, tadarusan, atau terusik dengan suara toa masjid saat subuh apalagi saat musim puasa,” kata Diah.

Sebelum pindah ke Jogja dan berada di lingkungan NU, Diah sempat merasakan ketidaknyamanan tersebut. Apalagi, rumahnya berada dekat dengan masjid bernuansa corak NU. Ia pun tak bisa beristirahat dengan tenang dan selalu terbangun saat mendengar ‘bunyi-bunyian’ dari toa masjid.

“Suaranya itu sampai teriak-teriak, meski sudah pakai mic. Padahal aku lagi hamil,” kata Diah.

Tak menyesal usai pindah ke lingkungan Muhammadiyah

Pengalaman tidak mengenakkan itu rupanya juga dialami oleh saudara-saudara Diah. Saat mencoba menegur pihak masjid, Diah dan saudara-saudaranya justru disalahkan balik. Alhasil, mereka tidak bisa melaporkan ketidaknyamanan tersebut secara langsung karena kalah suara.

“Mereka malah nyalahin aku pas ditegur, ‘kenapa kamu malah tinggal di sini? Kenapa nggak kamu saja yang pindah?’ Dan itu bikin aku deg-degan waktu lagi hamil,” tutur Diah.

Karena keduanya tak bisa mencapai kesepakatan, Diah dan keluarganya akhirnya mengalah dan memutuskan pindah ke Jogja. Mereka pun tak menyesali keputusan tersebut karena akhirnya bisa menjalani kehidupan yang guyub.

“Di lingkungan Muhammadiyah hidupku lebih adem-ayem. Nggak ada lagi suara petasan usai tarawih, nggak ada lagi salawatan dengan nada teriak-teriak, dan alhamdulillah sehat juga untuk bayiku yang baru lahir,” jelas Diah.

Bahkan belum lama ini, saudara-saudara Diah juga akhirnya mengikuti jejaknya karena melihat anak Diah yang jarang rewel. Sementara menurut mereka, anaknya sering rewel karena terganggu dengan suara yang berisik.

“Beberapa dari mereka ada yang ‘ngungsi’ juga ke rumah saudara terutama jelang lebaran,” kata Diah.

Iklan

Beban iuran dan tekanan sosial di lingkungan lama

Selain resah dengan kebiasaan toa masjid di lingkungan NU tempat tinggalnya dulu, Diah juga merasa risih saat harus diminta iuran. Hampir tiap bulan, kata Diah, ada saja iuran yang harus dibayar terutama pada hari-hari tertentu seperti pengajian akbar.

Pernah satu kali Diah menolak iuran karena ekonominya sedang sulit, tapi Diah justru kena nyinyiran dari tetangganya. Jika ia lakukan terus-menerus, Diah takut akan dikucilkan di lingkungannya.

Belum lagi, jika Diah tidak ikut pengajian yang berlangsung sampai larut malam. Seolah-seolah dirinya menyimpang dari ajaran Islam. “Aku jadi kayak merasa bukan bagian dari Islam karena dicap nggak mau berkontribusi,” kata Diah.

Untungnya, Diah sudah tidak mengalami kejadian itu semua sejak pindah ke lingkungan Muhammadiyah di Jogja. Tidak ada iuran dan pengajian yang terkesan memaksa, tidak ada lagi suara bising dari toa masjid yang bikin risih, dan tidak ada lagi pengucilan dari lingkungan sekitar.

“Aku bisa iuran seikhlasnya tanpa ada yang menyindir atau menghakimi. Yang paling penting, aku tidak dicap berdosa karena kurang berkontribusi atau tidak ikut pengajian,” jelas Diah.

Toleransi yang bertumpu pada teologi amal ala Muhammadiyah

Pengalaman tinggal di lingkungan Muhammadiyah bikin Diah sadar bahwa sejatinya ajaran Islam memang tidak memaksa dan tidak menyulitkan umatnya. Bahkan dari segi iuran, warga juga dilibatkan dalam mengambil keputusan. 

“Semua itu dimusyawarahkan dan sangat transparan.” Tegas Diah.

Muhammadiyah, kata Diah, juga lebih terbuka dengan toleransi. Sesuai dengan Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 108 yang melarang umat Islam menghina ajaran agama lain, agar tidak menimbulkan kebencian.

Melansir dari laman resmi Muhammadiyah, perilaku menghargai keragaman telah menjadi aktivitas eksistensial yang telah diajarkan oleh pendirinya. Ketika sebagian kelompok Islam banyak berteori dan berdebat tentang hakikat dan batas-batas toleransi antar umat beragama, Muhammadiyah telah jauh melangkah dari debat itu sejak era KH. Ahmad Dahlan.

Bagi Muhammadiyah, wujud toleransi itu bisa langsung dilaksanakan dengan membangun pelayanan sosial atau bertumpu pada teologi amal, dibanding melakukan perdebatan yang narsistik atau berbelit-belit.

“Secara organisasi, Muhammadiyah terbukti tidak pernah melakukan diskriminasi terhadap ormas lain, bahkan yang ada selalu menjalin kerja sama untuk kebaikan Indonesia.”

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: PSHT Tetap di Hati meski Belajar di Lingkungan Muhammadiyah yang Punya Tapak Suci atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 25 Februari 2026 oleh

Tags: ajaran Muhammadiyahlingkungan MuhammadiyahMuhammadiyahnuormas Islam
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Tapak Suci Unair. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026
Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama MOJOK.CO
Esai

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan

9 Maret 2026
Tarawih di masjid Jogja
Ragam

Berburu Lokasi Tarawih sesuai Ajaran Nahdlatul Ulama di Jogja, Jadi Obat Kerinduan Kampung Halaman di Pasuruan

18 Februari 2026
Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua MOJOK.CO
Esai

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua

18 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pelari kalcer, fenomena olahraga lari

Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka

27 April 2026
Suzuki Satria FU, motor yang pernah bikin penunggangnya merasa paling tampan tapi kini memalukan MOJOK.CO

Suzuki Satria FU: Dulu Motor yang Bikin Tampan dan Idaman Pasangan, Tapi Kini Terasa Jamet dan Memalukan

22 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang.MOJOK.CO

UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang

27 April 2026
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.