Keputusan Anwar (28) merelakan motor tangguh, Jupiter Z, demi kenyamanan istri dan anak ternyata membuahkan rasa sesal setiap kali ia berangkat kerja. Saat dipakai menempuh rute puluhan kilometer setiap hari, berbagai kelemahan Honda BeAT justru sangat terasa, mulai dari mesin yang payah diajak ngebut hingga bensin yang malah terasa boros.
***
Setiap pagi, Anwar menyusuri Jalan Raya Solo-Jogja. Sebagai karyawan di sebuah perusahaan transportasi di Jogja, bapak satu anak ini harus menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer dari rumahnya di Prambanan. Waktu tempuhnya lumayan, sekitar 30 sampai 45 menit sekali jalan, tergantung seberapa padat lalu lintas hari itu.
Dulu, perjalanan sejauh itu selalu ia lewati bersama motor bebek andalannya, Yamaha Jupiter Z. Namun, Anwar kini menunggangi sebuah skutik mungil sejuta umat: Honda BeAT.
Keputusan menukar motor bebek legendaris dengan matic ini awalnya terasa sebagai pilihan cerdas. Namun, setelah beberapa bulan dipakai untuk mobilitas harian, ia mulai merasakan ada yang mengganjal dan diam-diam menyimpan rasa sesal.
Alasan pindah ke matic demi istri dan anak
Keputusan menjual Jupiter Z sebenarnya bukan murni dari keinginan pribadi Anwar. Di rumah, istrinya sering mengeluh kerepotan saat harus memakai motor bebek. Apalagi kalau sedang mengantar anak atau belanja ke pasar.
“Menginjak gigi persneling kata istri sih bikin cepat capek,” kata Anwar, Kamis (26/2/2026). “Bawa barang belanjaan katanya juga susah.”
Setelah obrolan panjang, Anwar akhirnya mengalah. Ia sadar, kenyamanan istri dan anak adalah prioritas utama. Ia pun memilih motor matic karena kepraktisannya. Bagian dek depannya rata, jadi sangat gampang untuk menaruh tas sekolah anak, galon air, atau kresek belanjaan dari pasar.
Namun, seiring berjalannya waktu, Anwar yang setiap hari memakai motor ini untuk rute jauh mulai menyadari beberapa kelemahan Honda BeAT. Bagi istrinya yang hanya memakai motor untuk jarak dekat di sekitar rumah, kelemahan Honda BeAT ini mungkin sama sekali tidak terasa atau bukan masalah besar.
Namun, bagi Anwar yang butuh kendaraan tangguh untuk rute Prambanan-Jogja setiap hari, transisi dari motor bebek ke matic ini mulai memunculkan banyak keluhan.
Honda BeAT cuma menang rupa dan praktis di awal pemakaian
Di awal-awal pemakaian, Anwar mengakui kalau motor matic barunya ini memang menang rupa. Desainnya terlihat tajam, ramping, dan modern. Berbeda jauh dengan Jupiter Z tuanya yang secara model sudah mulai terlihat ketinggalan zaman.
“Kalau dipakai buat nyelip-nyelip pas macet di Jogja sih enak, bisa lincah. Tinggal putar gas tarik rem, kaki nggak perlu repot mindah gigi,” jelasnya.
Meski begitu, di balik bodinya yang bagus dan cara pakainya yang gampang, kelemahan Honda BeAT perlahan mulai terlihat ketika dihadapkan pada rutinitas Anwar yang sebenarnya. Ia mulai paham bahwa tidak semua motor matic cocok untuk penglaju dengan jarak tempuh puluhan kilometer.
Banyak orang sering mengabaikan kelemahan Honda BeAT karena sudah telanjur suka pada kemudahan saat dipakai di jalanan perumahan. Anwar pun awalnya begitu, sampai akhirnya ia merasakan langsung bedanya mesin bebek dan matic di jalan raya.
Susahnya dipakai menyalip
Jalan Raya Prambanan-Jogja adalah jalur utama antarprovinsi yang sibuk. Jalur ini dipenuhi truk, bus, dan kendaraan pribadi yang melaju cukup kencang. Di jalan seperti inilah Anwar paling merindukan tarikan Jupiter Z miliknya.
“Dulu, kalau mau nyalip truk panjang, tinggal turunin gigi persneling, gas sedikit, dan langsung melesat,” ujarnya.
Sekarang, lanjut Anwar, ceritanya sangat berbeda. Saat pakai matic, mesin terasa lambat, atau kalau kata dia, “sering ngeden saat gas ditarik tiba-tiba”. Tenaganya tertahan karena harus menunggu sistem CVT merespons putaran mesin.
Menurut Anwar, lambatnya tarikan mesin untuk diajak menyalip cepat ini adalah salah satu kelemahan Honda BeAT yang paling sering bikin ia kesal di jalan raya. Waktu yang dibutuhkan untuk mendahului kendaraan lain jadi lebih lama dan membuat perjalanannya terasa kurang sat-set.
Bukan cuma soal tarikan mesin, kelemahan Honda BeAT lainnya ada pada hilangnya fitur engine brake atau tahanan mesin saat pengereman. Saat memakai Jupiter Z, Anwar merasa laju motor lebih mudah dikendalikan karena putaran roda ditahan oleh gigi mesin saat gas ditutup.
“Sementara di motor matic, ya harus benar-benar ngandalin rem tangan yang lama-lama bikin tangan pegal kalau jalanan sedang macet parah.”
Honda BeAT terasa “melayang” saat dipakai jalan cepat
Masalah tenaga ternyata bukan satu-satunya hal yang mengganggu Anwar. Bodinya yang ringan memang bikin motor ini gampang dipakai selap-selip. Namun, saat jalanan kosong dan Anwar mencoba memacu motornya agak kencang di atas kecepatan 60 km/jam, misalnya, motor ini terasa goyang.
Bila kebetulan berpapasan dengan bus antar kota yang melaju kencang dari arah berlawanan, hempasan anginnya sukses bikin motor Anwar seolah mau terbang. Inilah kelemahan Honda BeAT yang paling banyak dikeluhkan oleh orang yang sebelumnya terbiasa pakai motor bebek. Bahkan di obrolan media sosial pun, banyak user Honda BeAT mengeluhkan hal ini.
Motor bebek seperti Jupiter Z, punya bobot yang lebih pas dan ukuran velg 17 inci yang lebih besar. Sehingga ban lebih mantap menempel ke aspal jalan.
Sementara itu, motor matic Anwar memakai velg 14 inci dan bobot kosongnya sangat ringan. Anwar merasa kelemahan Honda BeAT di sektor kestabilan ini membuatnya tidak bisa bersantai kalau mau jalan agak kencang.
“Harus pegang setang kuat-kuat buat nahan keseimbangan biar motor nggak oleng.”
Niat irit malah terasa lebih boros
Satu hal lagi yang bikin Anwar keheranan adalah soal pengeluaran bensin. Padahal, motor barunya ini dikenal luas sebagai salah satu motor paling irit di Indonesia. Namun, anehnya, Anwar merasa pengeluarannya untuk isi bensin justru terasa lebih boros dibanding saat memakai Jupiter Z. Kenapa bisa begitu?
Ternyata, karena mesin matic ini terasa lambat saat diajak jalan cepat, tanpa sadar tangan Anwar jadi lebih sering memuntir gas dalam-dalam alias sering gaspol. Kebiasaan memaksa mesin bekerja keras inilah yang bikin bensin jadi lebih cepat habis.
Anwar menyadari bahwa kelemahan Honda BeAT dalam hal tenaga putaran atas memaksanya mengubah gaya berkendara, yang pada akhirnya malah bikin konsumsi bensin jadi lebih boros dari biasanya.
Ditambah lagi, kapasitas tangki bensin motor ini cuma 4,2 liter. Jarum indikator bensin jadi terlihat sangat cepat turun. Sering bolak-balik ke pom bensin membuat ilusi bahwa motor ini sangat boros.
Belum lagi, kelemahan Honda BeAT dari sisi biaya perawatan berkala. Merawat komponen dalaman matic (seperti rutin ganti roller dan sabuk v-belt) ternyata lebih mahal dan rumit dibanding sekadar memberi pelumas atau memotong rantai motor bebek.
Pada akhirnya, Anwar hanya bisa tersenyum masam menyadari keputusannya. Menukar Jupiter Z yang tangguh dengan motor matic yang lebih modern memberinya pelajaran soal kompromi. Ia harus mengorbankan kepuasan berkendara pribadi, tak bisa lagi ngebut dengan mantap, dan harus rela merogoh kocek lebih untuk perawatan.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














