Honda BeAT terasa “melayang” saat dipakai jalan cepat
Masalah tenaga ternyata bukan satu-satunya hal yang mengganggu Anwar. Bodinya yang ringan memang bikin motor ini gampang dipakai selap-selip. Namun, saat jalanan kosong dan Anwar mencoba memacu motornya agak kencang di atas kecepatan 60 km/jam, misalnya, motor ini terasa goyang.
Bila kebetulan berpapasan dengan bus antar kota yang melaju kencang dari arah berlawanan, hempasan anginnya sukses bikin motor Anwar seolah mau terbang. Inilah kelemahan Honda BeAT yang paling banyak dikeluhkan oleh orang yang sebelumnya terbiasa pakai motor bebek. Bahkan di obrolan media sosial pun, banyak user Honda BeAT mengeluhkan hal ini.
Motor bebek seperti Jupiter Z, punya bobot yang lebih pas dan ukuran velg 17 inci yang lebih besar. Sehingga ban lebih mantap menempel ke aspal jalan.
Sementara itu, motor matic Anwar memakai velg 14 inci dan bobot kosongnya sangat ringan. Anwar merasa kelemahan Honda BeAT di sektor kestabilan ini membuatnya tidak bisa bersantai kalau mau jalan agak kencang.
“Harus pegang setang kuat-kuat buat nahan keseimbangan biar motor nggak oleng.”
Niat irit malah terasa lebih boros
Satu hal lagi yang bikin Anwar keheranan adalah soal pengeluaran bensin. Padahal, motor barunya ini dikenal luas sebagai salah satu motor paling irit di Indonesia. Namun, anehnya, Anwar merasa pengeluarannya untuk isi bensin justru terasa lebih boros dibanding saat memakai Jupiter Z. Kenapa bisa begitu?
Ternyata, karena mesin matic ini terasa lambat saat diajak jalan cepat, tanpa sadar tangan Anwar jadi lebih sering memuntir gas dalam-dalam alias sering gaspol. Kebiasaan memaksa mesin bekerja keras inilah yang bikin bensin jadi lebih cepat habis.
Anwar menyadari bahwa kelemahan Honda BeAT dalam hal tenaga putaran atas memaksanya mengubah gaya berkendara, yang pada akhirnya malah bikin konsumsi bensin jadi lebih boros dari biasanya.
Ditambah lagi, kapasitas tangki bensin motor ini cuma 4,2 liter. Jarum indikator bensin jadi terlihat sangat cepat turun. Sering bolak-balik ke pom bensin membuat ilusi bahwa motor ini sangat boros.
Belum lagi, kelemahan Honda BeAT dari sisi biaya perawatan berkala. Merawat komponen dalaman matic (seperti rutin ganti roller dan sabuk v-belt) ternyata lebih mahal dan rumit dibanding sekadar memberi pelumas atau memotong rantai motor bebek.
Pada akhirnya, Anwar hanya bisa tersenyum masam menyadari keputusannya. Menukar Jupiter Z yang tangguh dengan motor matic yang lebih modern memberinya pelajaran soal kompromi. Ia harus mengorbankan kepuasan berkendara pribadi, tak bisa lagi ngebut dengan mantap, dan harus rela merogoh kocek lebih untuk perawatan.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














