Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Lulusan Akuntansi Banting Setir Jadi Tukang Pijat: Dihina “Nggak Keren”, tapi Dapat Rp200 Ribu per Hari, Setara 2 Kali UMR Jogja

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
24 April 2026
A A
Tukang pijat.MOJOK.CO

Ilustrasi tukang pijat (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagai sarjana Akuntansi dari PTN ternama, Riko (26) idealnya memang kerja kantoran. Namun, pemuda asal Klaten ini memilih jalan yang membuat ijazahnya “sia-sia” bahkan dan keluarganya mungkin mengelus dada. Ya, ia memilih bekerja sebagai tukang pijat.

Meski kerap dihina dan diremehkan, nyatanya Riko rutin mengantongi uang tunai Rp200 ribu per hari. Angka ini jelas mengalahkan gaji teman-temannya yang setiap hari memakai lanyard mentereng di perusahaan startup tempat bekerjanya dulu.

Resign dari startup karena pekerjaan elite tapi gaji sulit

Keputusan Riko membuang status pekerja kerah putih bukan tanpa perhitungan. Semua berawal dari hitung-hitungan logisnya saat ia masih bekerja kantoran di sebuah startup di Jogja.

Di awal kariernya, Riko hidup layaknya standard sukses anak muda kekinian. Ia adalah tech-bro sejati. Bekerja di ruang ber-AC, berbaju kasual, dengan gaya kerja yang nyantai. 

Namun, pekerjaannya itu cuma keren di luar saja. Aslinya, bikin dia menderita.

Dengan gaji setara UMR Jogja yang saat itu berkisar Rp2,4 juta, gaya hidup startup justru pelan-pelan mencekiknya. Gaji tak seberapa, tuntutan nongkrong di tempat mahal pun datang setiap hari.

“Logikanya begini, gaji saya cuma segitu, tapi biaya hidup jauh lebih gede. Belum sampai tanggal 15, saldo rekening udah habis,” katanya, Kamis (23/4/2026).

Ujung-ujungnya, Riko terpaksa berhemat nyaris tiap hari. Jangankan buat nabung atau transfer bulanan ke orang tua. Buat urusan perut saja dia mengkis-mengkis.

Membunuh gengsi, dan mantap jadi tukang pijat

Lelah berpura-pura mapan, insting bertahan hidup Riko menyala. Ia tidak mencari pelarian yang muluk-muluk, tetapi memilih kembali ke akar. 

Sejak SMA, Riko sebenarnya sudah terbiasa memijat. Ayahnya di kampung adalah seorang tukang pijat. Riko tumbuh dengan melihat ayahnya memijat tetangga. Dan, dari hasil memijat itu juga ia bisa kuliah sampai lulus S1.

“Ya yang namanya orang tua, nggak pengen anaknya niru mereka. Harapannya kan saya kuliah biar nggak jadi tukang pijat kayak bapak,” kata Riko.

Namun, di kota, Riko justru melihat keahlian memijat ini sebagai peluang bisnis. Di kantornya, teman-temannya sering mengeluh sakit pinggang. Mereka juga cerita, tiap kali manggil tukang pijat, tarifnya bisa Rp50-100 ribu.

“Pikir saya waktu itu, pasar ini nggak akan pernah mati. Banyak anak muda yang ternyata suka dipijat.”

Namun, Riko juga sadar ia tidak bisa sekadar menjual jasa sebagai “tukang urut”. Ia butuh profesionalitas. Makanya, ia minta izin ke bapaknya untuk mendaftar kursus pijat bersertifikat. 

Iklan

Awalnya, keputusan ini sempat ditentang. Namun, karena dia bersikukuh, ayahnya memberinya uang untuk ikut kursus selama enam bulan.

“Jadi kita itu diajarin buat paham letak fascia, trigger point saraf, sampai bisa membedakan masalah yang dialami misalnya atlet sama pekerja kantoran gitu. Profesional banget, karena langsung diajarin sama terapis sport massage.”

Pekerjaan dianggap kampungan. Dinyinyirin teman bahkan tetangga

Setelah enam bulan, Riko berhasil menyelesaikan kursus. Namun, mengantongi sertifikat dan keahlian, nyatanya tidak serta-merta membuat hidupnya kebal dari cibiran. Memilih jalan resign dan banting setir jadi tukang pijat, bikin ia dipandang miring oleh teman-temannya.

Bagaimana tidak. Pekerjaan ini dianggap “terlalu kampungan” untuk anak muda. Tiap bekerja, harus siap-siap bau khas minyak urut hingga balsam. Di saat teman-teman sebayanya sibuk memamerkan nama jabatan di profil LinkedIn, Riko tidak punya status apa pun untuk dipamerkan.

“Cuma bisa flexing jabatan di bio Whatsapp,” kata dia.

Tak cuma dari teman. Keluarga besar dan tetangganya bahkan merasa uang belasan juta yang dibayarkan untuk UKT hangus sia-sia. Mereka menganggap pekerjaan Riko tidak butuh otak dan bisa dilakukan siapa saja asal bertenaga. Padahal, Riko butuh ketelitian agar pasiennya tidak cedera atau salah urat.

“Dipikir jadi tukang pijat itu bisa asal urut. Ini ada ilmunya, sama kayak pekerjaan lain.”

Jadi tukang pijat penghasilannya 2 kali UMR Jogja

Orang-orang boleh saja memandang pekerjaan Riko ini nggak keran. Namun, nyatanya, pekerjaan ini sangat menghasilkan.

Menjadi tukang pijat memang menguras fisik. Riko tidak menampik bahwa jempolnya sering kram dan pinggangnya ikut pegal setelah menangani tiga sampai empat pasien dalam sehari.

Namun, jerih payahnya ini, ia berhasil mendapat bayaran bersih Rp200 ribu per hari. 

“Apalagi kalau sudah punya langganan. Bisa minta dipijat seminggu sekali,” kata dia.

Awalnya, Riko mendapat pelanggan dari teman seprofesi. Sampai akhirnya, dari mulut ke mulut, banyak yang mengaku puas dan merekomendasikannya sebagai tukang pijat tetap. Pelanggannya pun beragam, dari berbagai lapisan usia, meskipun mayoritas adalah bapak-bapak PNS atau pekerja kantoran.

Dalam sebulan, pendapatan Riko bisa menyentuh angka Rp6 juta. Angka ini dua kali lipat melampaui UMR Jogja dan gaji teman-temannya di startup dulu. 

“Aku nggak perlu malu. Bahkan, tiap kenalan sama cewek gitu, ditanya kerjanya apa ya saya jawab tukang urut. Dengan penuh kepercayaan diri,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Gelar Sarjana Akuntansi Tak Guna, Akhirnya Pilih Kuliah S2 dan Nekat Cari Beasiswa dari “Ordal” dengan Harapan Kerja di Perusahaan Besar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 April 2026 oleh

Tags: akuntansilulusan akuntansimahasiswa akuntansipenghasilan tukang pijatsarjana akuntansitukang pijattukang pijat jogja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Anak Akuntansi UGM burnout. MOJOK.CO
Sekolahan

Anak dari Pulau Bangka Bela-belain Kuliah di UGM Sampai Jadi Wisudawan Terbaik, bikin Orang Tua Bangga dengan Gelar Sarjana Akuntansi

6 Maret 2026
22 Tahun Jadi Guru Honorer Bergaji Kecil di Surabaya, Kini Pilih Jadi Tukang Pijat demi Keluarga. MOJOK.CO
Ragam

22 Tahun Jadi Guru Honorer Bergaji Kecil di Surabaya, Kini Pilih Jadi Tukang Pijat demi Keluarga

6 November 2024
Sarjana Akuntansi Jualan Penyetan, Cuannya di Atas Gaji PNS MOJOK.CO
Kampus

Sarjana Akuntansi Nekat Pilih Jualan Penyetan di Tengah Keluarga PNS, Direndahkan karena Tak Berseragam, Nggak Tahu Aja Hidupnya Lebih Makmur

29 Mei 2024
Tukang Pijat Jalanan Jogja Sepi Pelanggan MOJOK.CO
Sosok

Tukang Pijat Jalanan Jogja Tak Pernah Dapat Pelanggan, Bingung Kasih THR ke Cucu Pakai Apa Sementara buat Hidup Sehari-hari Saja Nggak Ada

20 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sulitnya menjadi orang dengan attachment style avoidant. MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi “Avoidant” Menjelang Usia 25, Takut Terlalu Dekat dengan Orang Lain hingga Pesimis Menikah

24 April 2026
Mahasiswa S2 PAUD UNJ, WNA Malaysia

Cerita Mahasiswa Malaysia Nekat Kuliah S2 di UNJ karena Dosen “Unik”, Bahagia Meski Tiap Hari Diceng-cengin

21 April 2026
Beli produk hp Apple, iPhone

Pengguna iPhone Ingin “Naik Kelas” Bikin Muak, Gaya Elite padahal Dompet Sulit

22 April 2026
Supra Fit: Motor Honda yang Bikin Kecewa dan Gak Bikin Bangga MOJOK.CO

Supra Fit: Motor Honda yang Nggak Bisa Saya Banggakan Bahkan Sempat Bikin Kecewa, tapi Justru Paling Berjasa Sampai Sekarang

21 April 2026
mabar game online.MOJOK.CO

Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar

23 April 2026
Mahasiswa UNJ lulus setelah gagal seleksi PTN jalur SNBT

Penyandang Disabilitas Gagal Diterima PTN Jalur SNBT, Kini Lulus Sarjana Pendidikan di UNJ Berkat “Antar Jemput” Ayah

19 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.