Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
23 Juni 2026
A A
Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO

Ilustrasi - Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jasa desain logo di desa kabupaten cenderung dianggap pekerjaan sepele. Itukah kenapa ide kreatif, effort, waktu, dan keterampilan menggarapnya tidak begitu dihargai sehingga menjadi jasa gratisan. Padahal, di kota seperti Jakarta, jasa desain logo seharusnya menjadi salah satu kanal mencari cuan. 

***

Iklan

Keterampilan desain grafis sudah Jafi (26) miliki sejak SMK karena memang mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV). Banyak hal ia pelajari, salah satunya desain logo. 

Bahkan, sejak SMK itu pula ia memang punya kegemaran mengeksplorasi desain-desain logo. “Logo itu kan identitas. Mencakup filosofinya apa, visinya apa, dan untuk menemukan sebuah logo yang representatif, butuh riset,” ungkap Jafi saat bercerita, Senin (22/6/2026). 

Pemuda asal Jawa Tengah—yang kini bekerja di industri kreatif di Jakarta Pusat—itu mengaku, di masa itu, ia memang masih menerapkan 3M (Mengamati, Meniru, dan Modifikasi) dari template yang tersedia di internet dalam mengeksplorasi desain logo.

Seiring waktu, terutama setelah terjun di industri kreatif, Jafi akhirnya memahami bahwa untuk menemukan desain logo yang representatif (untuk brand, instansi, event, dan lain-lain), butuh orisinalitas yang kuat. Dan itu tidak sekadar mengandalkan template. 

“Itulah kenapa desainer profesional harus memastikan logo terhindar dari plagiarisme, karena itu nantinya akan menjadi kepemilikan penuh secara legal untuk penggunaan komersial si klien,” terang Jafi. 

Jasa desain logo di desa kabupaten diperlakukan sebagai jasa gratisan

Sejak SMK Jafi sudah terbiasa membuatkan logo pesanan, meski saat itu ia belum benar-benar membuka jasa. Terutama di kalangan teman-temannya, kenalan teman-temannya, hingga warga desanya sendiri. Paling sering diminta untuk mendesain logo untuk klub tarkam dan merek untuk jualan. 

Setelah lulus SMK, setelah akhirnya Jafi bekerja di sebuah percetakan di kabupaten asalnya di Jawa Tengah, permintaan orang-orang sekitarnya semakin bertambah, seiring dengan makin banyak orang yang tahu pekerjaan Jafi sebagai seorang desainer grafis. 

“Ada permintaan mendesain poster, cv (untuk kerja), semacam logo merek dagangan, atau kayak banner buat warung, itu paling sering,” ujar Jafi. 

Masalahnya, urusannya bukan perkara bisnis, tapi “minta tolong”. Jadi ya gratisan semata, tidak ada bayarannya. 

Waktu itu pun Jafi sudah terbentur dengan anggapan umum orang-orang desa dan orang-orang sekitarnya: desain-desain yang diminta, terutama desain logo, kesannya desain sederhana dan tidak butuh effort lebih dalam membuatnya. Alhasil dianggap tidak ada harganya alias gratisan. 

“Selain itu, ya aku bingung mau ngasih harganya gimana, aku masih awam buat ngasih harga, apalagi udah bawa-bawa pertemanan dan minta tolong,” tutur Jafi. 

Beri hak paten untuk instansi, tapi dibayar dengan kalimat “gitu aja bayar!”

Jafi mulai sadar ketika diingatkan oleh kakak tingkatnya di SMK yang kuliah di Bandung dan sudah cukup punya pengalaman meng-handle klien. Pemicunya adalah sebuah peristiwa tidak menyenangkan yang Jafi alami dengan sebuah instansi pendidikan di kabupaten asalnya. 

Iklan

Saat itu, humas dari instansi pendidikan tersebut menghubungi Jafi. Katanya dapat kontak Jafi dari teman Jafi yang ternyata bertetangga dengan humas tersebut. Intinya, si humas minta dibuatkan desain logo untuk instansinya.

“Singkat cerita, kugarap. Tapi memang nggak ada obrolan soal harga. Di daerahku, ngomongin harga di depan itu masih tabu. Jadi kupikir, nanti di akhir dikasih berapa ya terima saja,” beber Jafi. 

“Tapi yang jelas aku serius garapnya, riset segala macem biar nih logo bener-bener representatif sebagai identitas si instansi,” sambungnya. 

Ada satu momen Jafi mengunggah proses desain logo tersebut di WA Story. Lalu kakak tingkatnya yang kuliah di Bandung membalas WA Story tersebut: “Weh, cair berapa nih?”

Jafi terus terang kalau ia tidak tahu harga yang harus diterima. Dari situlah si kakak tingkat langsung memberi “ceramah panjang” tertulis tentang profesi desainer grafis. 

“Desain itu karyamu. Prosesnya panjang. Kamu harus nentuin harga,” kira-kira seperti itu. Benar juga, batin Jafi. Kalau tidak begitu, profesi sebagai desainer grafis malah akan terus disepelekan di lingkungannya, dianggap sebagai pekerjaan remeh yang seharusnya tidak dibayar. 

“Karena kepalang jalan, kuselesaikan desainnya. Pas udah jadi dan kusetor, ternyata aku cuma dapat ucapan ‘terimakasih’. Ya aku balas, mohon maaf, kok nggak dibayar gitu,” kata Jafi. 

Respons si humas yang menjadi klien justru menyebalkan. “Loh, bukannya gratis, Mas? Kan cuma gitu aja?”

Pindah Jakarta kaget karena desain logo bisa jadi cuan menjanjikan

Melalui saudaranya, sejak 2024 lalu Jafi pindah dari desa kabupaten asalnya di Jawa Tengah ke Jakarta. Ia kemudian mendapat akses “ordal” untuk bekerja di sebuah industri kreatif. 

Di bulan-bulan pertama, Jafi merasa belajar banyak hal soal dunia desain grafis. Keterampilan dan kreativitasnya meningkat.

“Sejak itu juga aku tahu, ternyata ada loh jasa desain logo khusus. Ada range harganya juga, dan itu wajar. Maksudku nggak seperti di kultur desa yang pernah kualami,” papar Jafi. 

Salah satu rekan kantor Jafi ada yang membuka jasa desain logo untuk freelance. Hasilnya lumayan lah. Kliennya membentang dari UMKM rintisan (kecil) hingga korporasi besar. 

“Bener-bener ada harganya. Pasaran umumnya ya, untuk desainer profesional, kalau level mahasiswa atau UMKM rintisan, paling di range Rp150 ribu-Rp300 ribu. Itu udah revisi sekapoknya.” terangnya. 

Sementara untuk startup skala menengah bisa dari Rp500 ribu-Rp1 jutaan. Kalau untuk korporasi tentu lebih besar tergantung skala korporasinya: ada di rentang Rp2 jutaan (paling murah) hingga puluhan juta. 

Dalam kasus korporasi besar, bahkan bisa miliaran. Misalnya BUMN dan Bank Mandiri. Pada 2005 lalu, Pertamina harus merogoh kocek hingga US$ 255 ribu atau setara Rp2,55 miliar untuk mendapatkan logo barunya yang dipakai hingga saat ini. Sementara Bank Mandiri perlu mengeluarkan Rp15 miliar untuk berkonsultasi dan menyegarkan logo pada 2008 silam.

Belum lagi, desain logo punya ceruk tersendiri dalam kompetisi profesional. Misalnya, yang paling sering adalah lomba desain logo untuk HUT suatu daerah/kota. Ada juga ajang lomba yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah di luar lomba hingga perusahaan-perusahaan swasta. 

“Hadiahnya bisa puluhan juta loh. Aku belum pernah menang. Tapi rekan kantorku itu beberapa kali dapet,” ungkap Jafi. “Artinya memang desain logo ini levelnya nggak main-main loh.” J

Buka jasa di Jakarta: jadi pemasukan tambahan untuk dana “senang-senang”

Jafi akhirnya pun mengikuti jejak si rekan kerjanya itu: mulai mempromosikan jasa desain logo di akun media sosialnya. Hasilnya, memang ada beberapa klien masuk meskipun belum sesering yang rekan kerjanya dapat. Meski juga masih dalam skala kecil dan menengah. 

Bagi rekan kerja Jafi, jasa desain logo memang menjadi semacam side hustle: pemasukan tambahan untuk tambahan dana kebutuhan di Jakarta. 

Sementara bagi Jafi, pemasukan tambahan dari jasa desain logo itu lumayan untuk jadi tambahan dana senang-senang. Maksudnya: dari hasil desain logo tersebut, Jafi bisa membeli sepatu bagus, upgrade ponsel atau pad, dan lain-lain. 

“Tapi terutama kukhususkan untuk beli perangkat penunjang kerjaku sih. HP itu salah satunya, ya yang berhubungan sama penunjang kerja lah. Sisanya, kalau ada lebih, ya buat belanja-belanja aja,” katanya. Selain tentu ada beberapa yang ia masukkan sebagai tambahan tabungan. 

“Kalau saja sedari di desa kabupaten dulu sudah begitu (desain logo dibayar, bukan gratisan). Masalahnya, sampai sekarang pun, teman-teman di kabupaten juga masih sering minta tolong gratisan,” tutupnya dengan tawa heran. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kejamnya Persaingan Bisnis di Desa Kabupaten: Cara Kotor Saling Menjatuhkan hingga Jebakan Pelanggan Loyal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 23 Juni 2026 oleh

Tags: desain logodesainer grafisgaji desainer grafishadiah lomba desain logoharga desain logoindustri kreatif jakartajakartajasa desain logolomba desain logopilihan redaksi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

dosen.MOJOK.CO
Sekolahan

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
PNS di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

22 Juni 2026
Persaingan bisnis atau usaha di desa kabupaten kejam: cara kotor saling menjatuhkan hingga jebakan pelanggan loyal MOJOK.CO
Sehari-hari

Kejamnya Persaingan Bisnis di Desa Kabupaten: Cara Kotor Saling Menjatuhkan hingga Jebakan Pelanggan Loyal

20 Juni 2026
Orang desa tidak mengenal konsep pensiun dan menua dengan tenang (slow living). Itu hanya konsep orang kota MOJOK.CO
Catatan

Pensiun Ala Orang Desa Tak Seperti Bayangan Orang Kota: Bukan karena Rencana Slow Living tapi Dipaksa Keadaan Getir

19 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mas Uceng sebagai narasumber Festival Melawan-Melawan. Ia menyampaikan perlawanan masyarakat sipil perlahan telah terbunuh oleh rezim.

Zainal Arifin Mochtar: Perlawanan Masyarakat Sipil Perlahan Telah Dibunuh

18 Juni 2026
Persaingan bisnis atau usaha di desa kabupaten kejam: cara kotor saling menjatuhkan hingga jebakan pelanggan loyal MOJOK.CO

Kejamnya Persaingan Bisnis di Desa Kabupaten: Cara Kotor Saling Menjatuhkan hingga Jebakan Pelanggan Loyal

20 Juni 2026
Orang desa tidak mengenal konsep pensiun dan menua dengan tenang (slow living). Itu hanya konsep orang kota MOJOK.CO

Pensiun Ala Orang Desa Tak Seperti Bayangan Orang Kota: Bukan karena Rencana Slow Living tapi Dipaksa Keadaan Getir

19 Juni 2026
Gubernur Jawa Tengah imbau warga Jateng terbuka saat Sensus Ekonomi 2026 MOJOK.CO

Imbauan buat Warga Jateng saat Sensus Ekonomi 2026: Harus Terbuka karena Penting, Data Pribadi bakal Dijaga Kerahasiaannya

18 Juni 2026
Jika kantin sekolah dilibatkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), maka bisa meningkatkan efektivitas dan memberi dampak ekonomi nyata. MOJOK.CO

Jika Kantin Sekolah Dilibatkan MBG: Bisakah Tekan Anggaran dan Apa Dampaknya bagi Ekonomi Warga?

17 Juni 2026
Kirab pusaka malam 1 Suro di kawasan Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah, tidak hanya upaya menjaga warisan budaya-tradisi turun-temurun. Tapi juga jadi penggerak ekonomi daerah MOJOK.CO

Nilai Lain Kirab Malam 1 Suro di Surakarta: Jadi Daya Tarik Lintas Zaman, Penggerak Pariwisata dan Ekonomi Daerah Jateng

17 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.