Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
23 Februari 2026
A A
kerja di jepang, merantau.MOJOK.CO

Ilustrasi - Kerja di Jepang (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saleh, salah satu pekerja migran Indonesia yang pernah kerja di Jepang, merasakan sebuah ironi. Ia sudah kerja keras dan banting tulang di negeri orang demi tabungan masa depannya.

Sayangnya, setelah sukses, ia seperti tak bisa menikmati apa-apa. Hasil jerih payahnya selama kerja di Jepang terasa sia-sia dan tak berguna.

Kerja di Jepang jadi primadona di kalangan anak muda Indonesia 

Bagi banyak anak muda di Indonesia, mencari pekerjaan setelah lulus sekolah menengah kejuruan (SMK) bukanlah hal yang mudah. Seringkali, lowongan pekerjaan meminta syarat pengalaman kerja yang belum mereka miliki. Gaji yang ditawarkan di dalam negeri juga terkadang belum cukup untuk mengubah nasib keluarga secara cepat.

Karena alasan itulah, banyak pemuda desa yang akhirnya memilih jalan keluar dengan kerja ke Jepang. Alasan mereka sangat masuk akal dan masuk hitungan. Persyaratan untuk berangkat ke Jepang cenderung lebih mudah ditembus, terutama bagi lulusan SMK yang bisa disalurkan lewat program magang atau kerja keahlian khusus.

Selain itu, negara Jepang saat ini memang sedang sangat membutuhkan banyak tenaga kerja dari luar negeri. Penduduk asli mereka banyak yang sudah tua, sehingga pabrik dan rumah sakit di sana kekurangan orang. Ditambah lagi, gaji di Jepang terbilang lumayan besar jika ditukar ke dalam mata uang Rupiah.

Fakta ini membuat jumlah warga negara Indonesia yang mengadu nasib di Negeri Sakura terus bertambah. Berdasarkan catatan laporan ketenagakerjaan, hingga akhir tahun 2025 bahkan ada hampir 150 ribu orang Indonesia yang bekerja dan magang di Jepang.

kerja di jepang.MOJOK.CO
Data statistik dan pertumbungan pekerja migran Indonesia. (Diolah dari Databoks dan di-generate via NotebookLM)

Alasan kerja di Jepang, biar bisa mapan sebelum usia 30

Salah satu dari ratusan ribu orang yang mencari harapan di Jepang itu adalah Saleh. Saat ini, usia Saleh baru saja menginjak 30 tahun. 

Ia pertama kali terbang ke Jepang pada tahun 2015 silam. Saat itu umurnya baru 21 tahun, terhitung masih sangat muda. Itu adalah tahun ketiga setelah ia menerima ijazah kelulusan dari sebuah SMK.

Saleh membenarkan semua anggapan orang tentang enaknya kerja di Jepang. Ia berangkat karena tergiur gaji yang besar dan jalan keberangkatan yang jelas. Namun, tidak seperti beberapa temannya yang ingin ke luar negeri hanya untuk gaya-gayaan atau jalan-jalan, Saleh punya rencana hidup yang sangat matang. 

“Sebelum berangkat, saya punya ambisi pribadi yang harus dicapai,” ujarnya, saat dihubungi Mojok, Minggu (23/2/2026).

Saleh berjanji pada dirinya sendiri, sebelum umurnya menyentuh angka 30 tahun, ia harus sudah mapan. Baginya, arti mapan itu sangat sederhana, tapi butuh uang banyak. 

“Saya ingin sudah punya rumah sendiri yang layak, punya tabungan banyak di bank, sehingga bisa membahagiakan bapak dan ibu di kampung. Karena selama ini hidup kami sudah pas-pasan.”

Karena ambisi besar itulah, hari-hari Saleh di Jepang hanya diisi dengan rutinitas bekerja. Ia sangat fokus mengumpulkan uang. Setiap bulan setelah menerima gaji, ia langsung membagi uangnya dengan ketat.

Ia hanya menyisakan sedikit uang untuk biaya makan seadanya dan membayar sewa tempat tinggal di Jepang. Sebagian lagi ia masukkan ke rekening tabungan pribadi.

Iklan

Sisanya, yang merupakan jumlah paling besar, langsung ia transfer ke rekening orang tuanya di kampung halaman. Uang kiriman itu dipakai untuk biaya hidup bapak ibunya sehari-hari, sekaligus digunakan untuk mencicil pembelian bahan bangunan.

“Alhamdulillah, sedikit demi sedikit, uang hasil kerja di Jepang itu lama-lama jadi pondasi, tembok, genteng.”

5 kali lebaran tak pulang

Kerja keras dan sikap berhemat Saleh menuntut pengorbanan yang tidak main-main. Demi menjaga agar uangnya tidak cepat habis, Saleh rela tidak pulang ke Indonesia selama lima kali Hari Raya Idulfitri berturut-turut.

Bagi orang Indonesia, tidak pulang saat Lebaran adalah kesedihan besar. Namun, Saleh punya hitungan sendiri. Harga tiket pesawat bolak-balik dari Jepang ke Indonesia saat musim libur Lebaran sangatlah mahal. 

Uang belasan juta rupiah itu terasa sayang jika hanya dihabiskan untuk ongkos perjalanan. Saleh lebih memilih menahan rindu agar uang tiket itu bisa dipakai untuk meneruskan pembangunan rumahnya di desa.

Meski tak pernah pulang, Saleh mengaku…

Baca halaman selanjutnya…

Banyak uang, sukses, tapi merasa tak ada gunanya lagi.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 23 Februari 2026 oleh

Tags: gaji kerja di jepanggaji kerja di luar negeriJepangkerja di jepangpilihan redaksiTKItki di jepang
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO
Urban

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Sesal suka menolong orang lain usai ketemu lima jenis orang yang tidak layak ditolong meski kesusahan. Dari tukang judi slot hingga orang susah bayar utang MOJOK.CO

Kapok Suka Menolong Orang Lain usai Ketemu 4 Jenis Manusia Sialan, Benar-benar Nggak Layak Ditolong meski Kesusahan

12 Maret 2026
Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026
Ada kehangatan dan banyak pelajaran hidup di dalam kereta api (KA) ekonomi yang sulit didapatkan user KA eksekutif kalau terlalu eksklusif MOJOK.CO

Kehangatan dan Pelajaran Hidup di Kereta Api (KA) Ekonomi yang Sulit Ditemukan di KA Eksekutif

13 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.