Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Gaya Hidup Pemuda di Desa bikin Kaget Perantau Kota: Kerja demi Beli iPhone Lalu Resign, Habiskan Uang buat Maksa Sok Kaya

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
6 April 2026
A A
Gaya hidup pemuda desa bikin tak habis pikir perantau yang merantau di kota. Gaji kecil dihabiskan buat ikuti tren orang kaya. MOJOK.CO

Ilustrasi - Gaya hidup pemuda desa bikin tak habis pikir perantau yang merantau di kota. Gaji kecil dihabiskan buat ikuti tren orang kaya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Gaya hidup dan mindset pemuda desa di Rembang, Jawa Tengah, benar-benar membuat kaget perantau kota. Sebab, dengan gaji UMR, tapi gaya hidup mengikuti orang kaya atas nama kesenangan.  

***

Iklan

Karena masih dalam rangkaian libur panjang, kepulangan saya ke Rembang pada Jumat (3/4/2026) lalu masih memungkinkan bertemu dengan beberapa teman. Kami memang jarang bertemu, terpisah jarak dan terhalang waktu karena masing-masing merantau di kota-kota yang berbeda. 

Jumat malam itu, obrolan pun berlangsung panjang. Di antara yang cukup panjang jadi obrolan: sebagai perantau di kota, ada teman yang merasa kaget dengan mindset dan gaya hidup pemuda di desa mereka di Rembang. 

Pengaruh gaya hidup ala media sosial membuat sejumlah pemuda desa ingin bergaya seperti orang kaya. Begitu ungkapan yang keluar dari Ozan (25). Masalahnya, keputusan bergaya seperti orang kaya itu tidak diiringi dengan perhitungan rasional, tapi murni urusan kesenangan. 

Kerja gaji UMK di Rembang, tapi gaya hidup pemuda desa di atas pekerja kantoran

Belum lama ini, Ozan mengaku “dipameri” oleh seorang temannya sesama pemuda desa yang sudah membeli iPhone. Ia membeli iPhone 13 di harga Rp7 jutaan. Padahal Ozan tahu, gaji temannya tersebut ada di angka UMK Rembang: Rp2,3 juta. 

Tidak hanya itu, si teman juga menunjukkan baru saja membeli beberapa barang bermerek. Misalnya kaos bermerek seharga Rp300 ribuan. 

Ozan sempat mempertanyakan: dengan gaji segitu, juga di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang, kenapa lebih memilih membeli barang yang tidak produktif?

“Misalnya kebutuhan iPhone buat menunjang produktivitas kerja atau nggak? Buat jadi content creator atau gimana? Emang kaos perlu ya beli segitu mahal? Kan bisa uang itu ditabung,” ujar Ozan. 

Ozan membandingkan dengan dirinya. Sebagai perantau kota yang kebetulan kerja kantoran, hp-nya saja ada di harga Rp2 jutaan. Karena kebutuhan hp hanya untuk komunikasi. Pekerjaannya lebih banyak menggunakan PC kantor memang. 

Kaos pun ia lebih banyak menggunakan dari brand lokal seperti Aero Street yang bisa dibeli di harga Rp50 ribu-Rp80 ribu. Belum lagi, teman Ozan juga kerap menggunakan uang gajinya untuk healing atau traveling: nonton bola di stadion luar kota, jalan-jalan ke daerah lain, sering ngopi di kafe, dan lain-lain. Jawaban teman Ozan: Semua itu demi kesenangan. Kapan lagi bisa menyenangkan diri sendiri? 

Mindset kerja langsung resign karena iPhone sudah terbeli

Masalahnya Ozan tahu, banyak pemuda di desa asalnya di Rembang yang mindset kerjanya membuat perantau kota seperti Ozan tidak habis pikir. 

Begini. Setelah iPhone itu terbeli, si teman Ozan bilang berencana akan resign dalam waktu dekat. Padahal baru tiga bulan bekerja. Dan ternyata hal itu sudah berulang terjadi. 

“Jadi dia dan beberapa teman pemuda di desa memang gitu. Nggak betahan kalau kerja. Baru tiga bulan, resign. Alasannya, karena nggak cocok dengan aturan kerjanya,” kata Ozan. 

Iklan

Misalnya, yang paling baru, aturan kerja mengharuskan si teman Ozan pangkas rambut. Tapi ia menolak dengan alasan: rambut panjang itu sudah menjadi style-nya. Tidak bisa begitu saja dipangkas. Jika disuruh milih antara pangkas rambut atau resign, ia lebih memilih resign. 

“Ada juga yang resign karena merasa lebih enak jadi kuli. Kerja nggak ada aturan atau sistem ketat. Gaji perproyek juga lumayan. Lebih tinggi lah dari UMK. Tapi kan nguli nggak setiap bulan pasti ada proyek. Bahkan, setahuku, sekali ada proyek, habis itu nunggu berbulan-bulan lagi buat dapat proyek lagi,” beber Ozan. 

Bayangkan, lanjut Ozan, saat perantau seperti Ozan merantau kota untuk kerja lebih satu (side hustle) hingga job hugging (tidak mudah untuk memutuskan resign karena pertimbangan susahnya cari kerja), temannya di desa bisa segampang itu melepas pekerjaan hanya atas dasar tidak suka dengan aturan. 

Baca lanjutannya di halaman selanjutnya…

Habiskan gaji kecil buat kesenangan, kalau kehabisan uang jadi beban orang tua 

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 7 April 2026 oleh

Tags: alasan resignDesagaya hidupgaya hidup desagaya hidup orang desagaya hidup pemuda desamerantaumerantau di kotapemuda desaperantauyang harus dipikirkan sebelum resign
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO
Urban

Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya

4 Agustus 2026
Ilustrasi perantau dari desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Tangis Sunyi Para Perantau: Uang Habis Untuk Hidupi Keluarga, tapi Dicap Durhaka karena Jarang Pulang dan “Tak Hadir” di Orang Tua

3 Agustus 2026
Pesan Menohok dari Ibu: Saat Doa Menjadi Satu-satunya Kuliah, Permintaan dan Jangan Sampai Tiang Itu Roboh di Perantauan MOJOK.CO
Sekolahan

Ortu Rela Melepas Anaknya Kuliah Mengejar Mimpi, tapi Dihantui Rasa Takut Salah Pergaulan di Perantauan

31 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO
Urban

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Malaysia dekat ke gerbang negara maju. Indonesia negara apa? (Unsplash)

Malaysia kian dekat ke gerbang negara maju, kalau Indonesia makin dekat ke gerbang apa bes?

4 Agustus 2026
Mie Gacoan, desa. MOJOK.CO

Mie Gacoan Oleh-Oleh Wajib Saat Pulang Kampung: Tak Peduli Sudah Dingin dan Keras, Tetap Dinikmati demi Gengsi dan Validasi

5 Agustus 2026
Mahasiswa KKN di desa

Suasana KKN Tak Seindah Konten di TikTok: Banyak Drama Sesama Mahasiswa, hingga Tangis Palsu Saat Perpisahan dengan Warga Desa

5 Agustus 2026
Caffino Srikandi Merdeka Cup: turnamen sepak bola putri internasional di Kudus, momentum bakat muda Indonesia unjuk kualitas MOJOK.CO

Srikandi Merdeka Cup: Turnamen Sepak Bola Putri U-16 Level Internasional di Kudus, Momentum Unjuk Kualitas untuk Tembus Timnas

3 Agustus 2026
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

Konsultasi Publik di Bandung Hasilkan Masukan Strategis Konservasi Elang Jawa 2026-2036

3 Agustus 2026
Saat cerita/sambat ke teman berujung adu nasib dengan kalimat maut "Kamu masih mending". Meresponsnya dengan pura-pura tolol ternyata menyenangkan MOJOK.CO

Niat Cerita ke Teman Berujung Adu Nasib: Pura-pura Tolol saat Teman Bilang “Kamu Masih Mending” Ternyata Menyenangkan

6 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.