Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Gaya Hidup Pemuda di Desa bikin Kaget Perantau Kota: Kerja demi Beli iPhone Lalu Resign, Habiskan Uang buat Maksa Sok Kaya

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
6 April 2026
A A
Gaya hidup pemuda desa bikin tak habis pikir perantau yang merantau di kota. Gaji kecil dihabiskan buat ikuti tren orang kaya. MOJOK.CO

Ilustrasi - Gaya hidup pemuda desa bikin tak habis pikir perantau yang merantau di kota. Gaji kecil dihabiskan buat ikuti tren orang kaya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Gaji dihabiskan buat gaya hidup: kalau kehabisan uang solusinya “bebani” ortu atau utang bank

Beberapa orang menyebut, para pemuda desa tersebut menerapkan hidup tawakal: pasrah kepada Tuhan. Tidak ada yang salah dengan itu.

Namun, kalau tahu yang terjadi berikutnya, Ozan yakin pasti orang-orang yang merantau di kota untuk kerja habis-habisan demi mengamankan hidup pasti juga tidak habis pikir. 

Iklan

Pasalnya, jika si teman resign dan lama menganggur, lalu uang sudah habis karena dipakai untuk memenuhi gaya hidup atau hasrat konsumerisme, mereka menganggap orang tua sebagai solusi. 

Ada istilah “Selama masih ada orang tua, kalau nggak punya uang ya minta makan mereka”. Jadi, ketika sudah tidak pegang uang sama sekali, maka si teman akan kembali menjadi beban orang tua.

Selain itu, untuk memenuhi gaya hidup, pemuda desa sering kali amat enteng menjeratkan diri dalam lilitan utang ke bank. Misalnya, demi beli motor baru atau bahkan untuk keperluan menikah saja nekat meminjam bank, seperti dalam tulisan, “Penyakit Kronis Pemuda di Desa: Gampang Utang Bank untuk Hal Tak Penting, Cicilan Pikir Keri buat Ortu Terbebani”.

Mereka menganggap bank adalah solusi dari setiap kebuntuan finansial. Tapi di saat bersamaan, mereka dengan mindset kerja seperti di atas, akhirnya kesulitan juga untuk menanggung cicilan. Karena pemasukannya tidak pasti gara-gara dibuat-buat sendiri. 

“Kami sempat berdebat, temanku bilang itu kesenangan. Aku bilang, kenapa kalau untuk menyenangkan diri sendiri, yang sering kali lebih banyak karena urusan gengsi, harus mengikuti tren media sosial atau tren orang kaya? Itu namanya tidak mengukur. Hidup untuk gaya-gayaan semata bakal menjerumuskan ke kesengsaraan,” beber Ozan.  

Padahal orang kaya membatasi gaya hidup non-produktif/non-esensial

Menariknya, di tengah situasi ekonomi global yang mengkhawatirkan, gaya hidup non-produktif/non-esensial justru menjadi hal yang paling dihindari orang-orang kaya. Anehnya, hal itu justru dilakukan oleh kelas menengah dan kelas menengah ke bawah yang sebenarnya belum aman-aman amat secara finansial. 

Laporan Yahoo Finance mencatat, ada beberapa gaya hidup non-produktif yang orang kaya hindari tapi justru dilakukan oleh kelas menengah ke bawah. 

Misalnya, orang kaya mulai sangat menghindari membeli barang-barang mahal—seperti gadget atau kendaraan—sepanjang tidak menunjang produktivitas. Punya gadget atau kendaraan murah lebih dari cukup. Apalagi jika dengan gadget atau kendaraan murah itu sudah bisa produktif (balik modal dari pekerjaan yang mereka lakukan). 

Lebih-lebih jika demi mendapatkan barang mewah tersebut sampai harus utang bank. Cicilan bank, terlebih jika jangka panjang, benar-benar dihindari oleh orang kaya. Prinsipnya ngukur kantong secara rasional: kalau ada uang lebih ya beli, kalau tidak ya ngapain memaksakan diri membeli sampai utang ke bank?

Yang nyata-nyata dilakukan orang kaya saat ini, yang paling mudah saja ditiru, adalah: membatasi pengeluaran non-esensial, tapi tetap menjaga pemasukan dan tabungan.

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

Iklan

BACA JUGA: Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 7 April 2026 oleh

Tags: alasan resignDesagaya hidupgaya hidup desagaya hidup orang desagaya hidup pemuda desamerantaumerantau di kotapemuda desaperantauyang harus dipikirkan sebelum resign
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO
Urban

Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya

4 Agustus 2026
Ilustrasi perantau dari desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Tangis Sunyi Para Perantau: Uang Habis Untuk Hidupi Keluarga, tapi Dicap Durhaka karena Jarang Pulang dan “Tak Hadir” di Orang Tua

3 Agustus 2026
Pesan Menohok dari Ibu: Saat Doa Menjadi Satu-satunya Kuliah, Permintaan dan Jangan Sampai Tiang Itu Roboh di Perantauan MOJOK.CO
Sekolahan

Ortu Rela Melepas Anaknya Kuliah Mengejar Mimpi, tapi Dihantui Rasa Takut Salah Pergaulan di Perantauan

31 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO
Urban

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
kesehatan mental dan stigma odgj mojok.co

Indonesia Darurat Depresi pada Remaja: Jangan Pernah Takut Mencari Bantuan Masalah Kesehatan Mental

31 Juli 2026
Derita lansia pakai cashless seperti QRIS. MOJOK.CO

Derita Lansia Tak Bisa Beli Roti Hanya karena QRIS yang Menghantui

4 Agustus 2026
Kemiskinan DIY menurun. MOJOK.CO

Jumlah Orang Miskin di Yogyakarta Berkurang, Penurunannya Jadi yang Tertinggi di Jawa pada Maret 2026

6 Agustus 2026
Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Seporsi kekalahan anak laki-laki pekerja swasta di Surabaya: merasa gagal karena kerja gaji kecil pas-pasan, tak kunjung sanggup ringankan beban orang tua di masa tua MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Anak Laki-laki: Kerja Ngoyo tapi Masih Begini-begini Saja, Tak Sanggup Ringankan Beban Ortu di Masa Tua

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.