Gaji dihabiskan buat gaya hidup: kalau kehabisan uang solusinya “bebani” ortu atau utang bank
Beberapa orang menyebut, para pemuda desa tersebut menerapkan hidup tawakal: pasrah kepada Tuhan. Tidak ada yang salah dengan itu.
Namun, kalau tahu yang terjadi berikutnya, Ozan yakin pasti orang-orang yang merantau di kota untuk kerja habis-habisan demi mengamankan hidup pasti juga tidak habis pikir.
Pasalnya, jika si teman resign dan lama menganggur, lalu uang sudah habis karena dipakai untuk memenuhi gaya hidup atau hasrat konsumerisme, mereka menganggap orang tua sebagai solusi.
Ada istilah “Selama masih ada orang tua, kalau nggak punya uang ya minta makan mereka”. Jadi, ketika sudah tidak pegang uang sama sekali, maka si teman akan kembali menjadi beban orang tua.
Selain itu, untuk memenuhi gaya hidup, pemuda desa sering kali amat enteng menjeratkan diri dalam lilitan utang ke bank. Misalnya, demi beli motor baru atau bahkan untuk keperluan menikah saja nekat meminjam bank, seperti dalam tulisan, “Penyakit Kronis Pemuda di Desa: Gampang Utang Bank untuk Hal Tak Penting, Cicilan Pikir Keri buat Ortu Terbebani”.
Mereka menganggap bank adalah solusi dari setiap kebuntuan finansial. Tapi di saat bersamaan, mereka dengan mindset kerja seperti di atas, akhirnya kesulitan juga untuk menanggung cicilan. Karena pemasukannya tidak pasti gara-gara dibuat-buat sendiri.
“Kami sempat berdebat, temanku bilang itu kesenangan. Aku bilang, kenapa kalau untuk menyenangkan diri sendiri, yang sering kali lebih banyak karena urusan gengsi, harus mengikuti tren media sosial atau tren orang kaya? Itu namanya tidak mengukur. Hidup untuk gaya-gayaan semata bakal menjerumuskan ke kesengsaraan,” beber Ozan.
Padahal orang kaya membatasi gaya hidup non-produktif/non-esensial
Menariknya, di tengah situasi ekonomi global yang mengkhawatirkan, gaya hidup non-produktif/non-esensial justru menjadi hal yang paling dihindari orang-orang kaya. Anehnya, hal itu justru dilakukan oleh kelas menengah dan kelas menengah ke bawah yang sebenarnya belum aman-aman amat secara finansial.
Laporan Yahoo Finance mencatat, ada beberapa gaya hidup non-produktif yang orang kaya hindari tapi justru dilakukan oleh kelas menengah ke bawah.
Misalnya, orang kaya mulai sangat menghindari membeli barang-barang mahal—seperti gadget atau kendaraan—sepanjang tidak menunjang produktivitas. Punya gadget atau kendaraan murah lebih dari cukup. Apalagi jika dengan gadget atau kendaraan murah itu sudah bisa produktif (balik modal dari pekerjaan yang mereka lakukan).
Lebih-lebih jika demi mendapatkan barang mewah tersebut sampai harus utang bank. Cicilan bank, terlebih jika jangka panjang, benar-benar dihindari oleh orang kaya. Prinsipnya ngukur kantong secara rasional: kalau ada uang lebih ya beli, kalau tidak ya ngapain memaksakan diri membeli sampai utang ke bank?
Yang nyata-nyata dilakukan orang kaya saat ini, yang paling mudah saja ditiru, adalah: membatasi pengeluaran non-esensial, tapi tetap menjaga pemasukan dan tabungan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














