Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Cuci Baju di Laundry Konvensional Lama-lama bikin Kapok, Bikin “Boncos” karena Baju Rusak dan Hilang Satu Persatu

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
15 April 2026
A A
Cuci baju di laundry konvensional bikin kapok MOJOK.CO

Ilustrasi - Cuci baju di laundry konvensional bikin kapok. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Setelah dua tahun terakhir menggunakan jasa laundry konvensional, Harsa (27) kini tengah menimbang untuk beralih ke laundry self service—yang memang tengah banyak diminati. 

Sejak kuliah di Jogja, Haryo sebenarnya tidak terbiasa menggunakan jasa laundry. Sesibuk-sibuknya, ia masih sempat untuk mencuci pakaian sendiri. Minimal seminggu sekali masih sempat lah. 

Iklan

Motif ekonomi tentu jadi pertimbangannya. Ia masih bisa mencuci. Maka, daripada uang digunakan untuk membayar jasa laundry, mending bukan kebutuhan yang lebih primer: makan, bensin, dan rokok. 

Ketagihan cuci baju di laundry karena kehabisan waktu dan energi

Sejak awal bekerja di Jogja pun, Harsa sebenarnya masih sanggup untuk mencuci pakaian sendiri. Akan tetapi, dalam dua tahun terakhir, ia memutuskan untuk cuci baju di laundry konvensional.

Kepadatan kerja menjadi alasannya. Ia merasa sudah tidak punya waktu dan energi lagi untuk cuci baju sendiri. 

“Kalau hari Minggu jatuhnya cuma pengin males-malesan. Jadi tetap nggak sempet nyuci sendiri,” kata Harsa, Selasa (13/4/2026).

Sejak pertama kali mencoba jasa laundry konvensional, Harsa memang sudah langsung ketagihan. Karena ia bisa secara leluasa menumpuk pakaian kotor tanpa kepikiran: duh bakal effort kalau mencucinya. 

Karena sudah terbiasa laundry, jika pakaian kotor sudah menumpuk, Harsa langsung bawa saja ke tempat laundry. 

Ongkosnya sebenarnya kerasa, tapi…

Harsa akan melaundry pakaian setiap seminggu sekali. Sekali laundry, rata-rata ia mengeluarkan ongkos sebesar Rp25 ribu-Rp35 ribu. 

Sejujurnya, ongkos tersebut cukup kerasa di kantong pekerja Jogja sepertinya. Tapi… karena tidak cukup waktu dan energi, ya sudah lah. Laundry terus tidak masalah.

Karena cukup bawa pakaian kotor, lalu tiga hari kemudian pakaian tersebut sudah bersih, rapi, dan wangi. Berbeda dengan kalau nyuci sendiri yang sering kali lecek bahkan apek. 

Akan tetapi, lama-lama, ada hal-hal menyebalkan—karena merugikan—dari laundry konvensional yang membuatnya berpikir berhenti. Karena sekian kali ia coba maklumi, tapi ternyata situasi menyebalkan itu terus berulang, seperti: 

Kapok cuci baju di laundry konvensional karena sablon rusak 

Harsa mengaku, di tempat laundry langganan pertamanya, dua kali sablon kaosnya rusak karena setrika. Itu membuat Harsa merasa sangat kesal. 

“Karena kan nggak setiap bajuku ditangani orang yang sama. Kadang beda orang. Dan ternyata nggak setiap orang paham mana yang bisa disetrika dan mana yang nggak kan,” tutur Harsa. 

Pada kasus baju pertamanya, ia memilih memendam rasa kesalnya. Tapi ia masih berlangganan di sana karena memang dekat dari kos. Lalu saat kejadian serupa terjadi kedua kali, ia akhirnya memutuskan untuk pindah ke tempat lain yang agak jauh dari kosnya. 

Merasa boncos karena kehilangan baju berkali-kali

Pindah ke tempat lain pun tidak menyelesaikan masalah. Berkali-kali ia pindah, ia terus mengalami kejadian yang sama: ada saja pakaian yang hilang. Kaos hilang, celana hilang, kaos kaki hilang. 

Polanya selalu sama. Ketika ia mengadu ada yang hilang, bilangnya pasti akan dicarikan. Tapi entah dicari atau tidak, karena ujung-ujungnya selalu dibilang: nggak ketemu, Mas. 

Mungkin ia yang salah pilih tempat laundry. Karena setelah dinyatakan hilang, ya hilang begitu saja. Tidak ada itikad dari si pekerja laundry tersebut untuk mengganti rugi.

Iklan

Tidak pelak jika Harsa merasa kapok. Ia merasa boncos. Sudah keluar uang untuk bayar jasa, kehilangan “uang” juga dari pakaian yang rusak atau raib entah ke mana. 

Mending laundry self service?

Beberapa teman menyarankan agar Harsa menggunakan jasa laundry self service saja. Memang agak effort: karena ia harus mencuci sendiri untuk harga yang hanya selisih tipis dari laundry konvensional. 

Tapi setidaknya, ia hanya perlu memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci, menunggu, mengeringkan, lalu menyetrika. Setidaknya tidak perlu repot-repot mencuci pakai tangan satu persatu. Dengan hasil yang lecek dan tidak wangi pula. 

Hanya saja, effort itu juga agak malas kalau Harsa bayangkan. Pilihannya masih berkutat pada pilihan antara kembali mencuci sendiri pakaiannya atau tetap di konvensional—asal bisa nemu langganan yang benar-benar bisa dipercaya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Rintis Bisnis Laundry Sepatu, Dari Sepi Peminat Kini Beromzet Puluhan Juta Perbulan di Usia 20-an atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 15 April 2026 oleh

Tags: bisnis laundrycuci bajuharga laundrylaundrylaundry konvensionallaundry murahlaundry self servicelaundry wangimencuci pakaian
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Laundry Surabaya Lebih Rewel dari Laundry Jogja MOJOK.CO

Model Laundry di Jogja bikin Kaget Orang Surabaya karena Laundry di Surabaya bikin Kapok Nyuci

10 Juli 2024
laundry murah andalan mahasiswa menyiksa pekerja lulusan SMA.MOJOK.CO

Derita Pekerja Lulusan SMA di Jasa Laundry Andalan Mahasiswa Jogja: Gaji Rendah, Dituduh Mencuri hingga Kerap Kerja 18 Jam Sehari

14 Mei 2024
utbk uny.MOJOK.CO

Perjuangan Peserta UTBK di UNY Kerja Sambil Belajar Ujian, Ringankan Beban Ibu yang Sakit dan Bapak Tukang Bangunan

4 Mei 2024

5 Baju Mahasiswa yang Pasti Pernah Kamu Pakai

13 Desember 2018

Naik Yamaha NMax kok Belinya Gas 3 Kg?

14 Juli 2018
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026
InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata.MOJOK.CO

InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata

18 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Kontingen Prambanan tunjukkan jejak Mataram Kuno di Karnaval Budaya Klaten 2026. MOJOK.CO

Potret Kejayaan Mataram Kuno dalam Karnaval Budaya Klaten, 26 Kecamatan Adu Keunggulan Wilayah

19 Agustus 2026
dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.