Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
18 Agustus 2026
A A
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Ilustrasi potong rambut di barbershop (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beberapa hari yang lalu, seorang kawan saya uring-uringan sepulang dari barbershop langganannya. Sambil mengaca di cermin kosannya, ia mengeluhkan potongan rambut barunya. Padahal, sejam yang lalu saat masih duduk di kursi tempat cukur, ia merasa pantulan wajahnya sudah sangat tampan.

Namun, begitu sampai di kamar kos, pesona itu mendadak luntur. Potongan rambutnya terasa aneh, kaku, dan seolah tidak nyambung dengan wajahnya.

Iklan

“Dlogok tenan. Sing motong ora damang [Kurang ajar sekali. Yang motong rambut tidak becus],” kira-kira begitu ia meluapkan rasa dongkolnya.

Mendengar omelannya, saya cuma bisa tertawa lepas. Meski sekarang saya berambut gondrong dan jarang berurusan dengan tukang cukur, saya sangat paham penderitaan itu. 

Dulu, saya juga pernah berada di fase rutin potong rambut sebulan sekali agar terlihat rapi. Dan, siksaan “merasa jelek setelah potong rambut” itu hal umu yang, barangkali, dialami hampir semua laki-laki.

Puncaknya biasanya terjadi menjelang Lebaran. Sudah jadi rahasia umum kalau tempat cukur akan antre panjang pada H-1 hari raya. Ironisnya, saat salat Idulfitri keesokan harinya, banyak orang yang penampilannya malah terlihat “aneh”. 

Alih-alih tampil maksimal, rambut mereka justru terlihat kurang pas. Ada yang malah menyebutnya seperti sapu ijuk yang baru saja dipangkas.

Mitos absurd kaca ajaib di barbershop

Saat rasa tidak puas itu muncul, pihak yang paling sering dijadikan kambing hitam tentu saja si tukang cukur. Teman saya tadi, dan mungkin banyak orang di luar sana, sering kali melemparkan tuduhan tak berdasar.

Misalnya, menuduh kaca barbershop itu “kaca ajaib” yang bisa memberikan efek meniruskan wajah. Kedua, menuduh manipulasi cahaya. Lampu sorot berwarna kuning yang estetik di tempat cukur dianggap menipu mata karena menciptakan bayangan dan gradasi rambut yang tajam. 

Alhasil, begitu pelanggan pulang dan mengaca di cermin rumah sendiri, potongan rambut terlihat jauh berbeda.

Keresahan dan tuduhan-tuduhan absurd ini ditanggapi oleh Yudha (28), tukang cukur yang sudah lima tahun beroperasi di kawasan Sleman. Menurutnya, tuduhan soal “kaca ajaib” atau itu sangat berlebihan. 

“Boro-boro punya kaca ajaib. Ya itu sih kaca pada umumnya aja,” tawa Yudha, saat ditemui Sabtu (15/8/2026) lalu.

Iklan

“Masalah potongan rambut yang jadi aneh itu malah sering gara-gara dari pelanggan itu sendiri, Mas.”

Korban referensi TikTok

Kesalahan paling fatal, kata Yudha, adalah memaksakan gaya rambut tanpa berkaca pada bentuk wajah sendiri. Banyak pelanggan datang membawa referensi foto artis TikTok dengan potongan French Crop atau Mullet.

“Padahal bentuk wajah tiap orang itu beda. Nggak semua orang cocok dipotong model begitu,” jelasnya. 

“Saya sering kasih saran, ‘Mas, wajahnya agak bulat, kalau dipotong French Crop nanti malah kelihatan aneh’ Tapi ya gitu, pelanggannya ngeyel dan kekeh minta dipotong sesuai foto. Giliran hasilnya aneh, kami yang disalahkan,” keluh Yudha.

Selain ego yang kelewat tinggi, penyakit lain yang sering menjangkiti pelanggan adalah kecenderungan “iya-iya aja” saat duduk di kursi cukur.

Yudha sering kali berhenti di tengah proses pemotongan untuk memastikan keinginan pelanggannya. Ia akan menyodorkan cermin kecil dan bertanya, “Bagian belakangnya kurang tipis nggak, Mas? Atasnya mau dipotong seberapa?”.

Alih-alih menjawab jujur sesuai kata hati, kebanyakan pelanggan cuma mengangguk kaku sambil bergumam, “Iya Mas, udah pas.” Padahal, barangkali, dalam hatinya mereka merasa potongannya masih kurang sreg.

“Masalah ketebalan, panjang-pendek, atau poni, itu kan hak pelanggan buat memutuskan. Kalau memang kurang tipis, ya bilang saja. Jangan pas di depan kita manggut-manggut setuju, tapi pas sampai rumah malah misuh-misuh,” tambahnya sambil tertawa.

Rahasia agar potongan rambut kelihatan pas di wajah

Lebih jauh lagi, Yudha membeberkan sebuah rahasia yang mungkin belum banyak diketahui orang, terutama untuk menjawab “potongan rambut aneh” saat Lebaran. 

Menurutnya, kesalahan terbesar laki-laki adalah memotong rambut pada H-1 atau bahkan di hari H sebuah acara penting.

Idealnya, potong rambut itu dilakukan tiga sampai lima hari sebelum acara. Yudha menjelaskan, rambut yang baru saja terkena gunting tajam dan clipper biasanya masih dalam kondisi kaku. 

Garis potongannya masih terlalu tegas, dan pori-pori kulit kepala belum memproduksi minyak alaminya secara sempurna untuk melembutkan rambut tersebut.

“Orang itu biasanya lagi di fase ‘ganteng-gantengnya’ di hari ketiga atau kelima setelah potong rambut. Di hari itu, rambut udah mulai lemas, minyak alaminya udah keluar jadi lebih gampang di- styling, dan secara psikologis mata kita juga udah terbiasa ngelihat pantulan gaya rambut baru itu di cermin,” jelas Yudha membagikan tips pamungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pertama ke Barbershop untuk Gaya-gayaan: Jadi Goblok Perkara Undercut, Kelaparan Seharian karena Bayar Mahal demi Potong Rambut Tak Memuaskan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 18 Agustus 2026 oleh

Tags: barbershopKesalahan potong rambutmulletpilihan redaksipotongan rambutPotongan rambut jelekrekomendasi potongan rambutTips potong rambut priaWaktu ideal potong rambut
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

fisiologi pohon, walhi kerusakan lingkungan mojok.co

Hadapi Krisis Iklim, Ilmu Fisiologi Pohon Jadi Kunci Selamatkan 12 Juta Hektare Lahan Kritis

13 Agustus 2026
Grup WhatsApp keluarga, tempat menghakimi hidup orang lain (Unsplash)

Grup WhatsApp keluarga bukan tempat silaturahmi, tapi sumber stres baru ketika berubah menjadi ruang sidang untuk menghakimi hidup orang lain

18 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah MOJOK.CO

Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah

12 Agustus 2026
Slow living boleh kalau tabunganmu nambah 1 miliar tiap bulan (Unsplash)

Slow living itu sekarang jatuhnya kemewahan tapi gaya hidup, yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang tabungannya nambah 1 miliar tiap bulan

13 Agustus 2026
Kelebihan Daikin sebagai AC terbaik untuk hunian modern dengan listrik terbatas MOJOK.CO

Daikin Multi-S, Pilihan AC Terbaik untuk Rumah Hemat Energi

15 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.