Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Eksplor

Waisak di Borobudur untuk Meluruhkan Ego Diri, Menerima Kesadaran atas Renungan “Hidup untuk Apa di Dunia Fana?”

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
31 Mei 2026
A A
Waisak 2026 di Candi Borobudur Magelang jadi momentum bagi sebuah keluarga Buddha asal Temanggung untuk meluruhkan ego diri MOJOK.CO

Ilustrasi - Waisak 2026 di Candi Borobudur Magelang jadi momentum bagi sebuah keluarga Buddha asal Temanggung untuk meluruhkan ego diri. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Perjalanan ke Candi Borobudur, Magelang, di momen Hari Trisuci Waisak menjadi semacam “panggilan” kesadaran bagi penganut agama Buddha. Di hadapan mandala suci Borobudur, mereka meluruhkan ego diri—merenungkan kembali untuk apa mereka hidup di dunia yang fana ini? 

***

Pada Sabtu (30/5/2026) malam WIB, rumah keluarga Sunari (50-an) di Desa Padureso, Kecamatan Jumo, Temanggung, Jawa Tengah, disibukkan dengan kegiatan masak-memasak. 

Mereka memasak makanan untuk menyambut perayaan Hari Trisuci Waisak yang jatuh esok harinya, Minggu (31/5/2026). Memang hanya masakan sederhana: ayam kuah santan. Akan tetapi, bagi keluarga penganut Buddha Theravada tersebut, masakan sederhana tetap terasa istimewa karena esok harinya mereka akan menyambut Hari Trisuci Waisak 2026 M/2570 BE. 

“Sudah menjadi kebiasaan keluarga dan umat Buddha di desa kami, setiap acara agama (Buddha) pasti masak-masak. Bentuk sukacita lah. Khususnya Waisak,” ujar istri Sunari, Pariana (50-an) saat bercerita di rerumputan taman kawasan Candi Borobudur, Magelang, Minggu (31/5/2026) siang WIB. 

Setelah masak-masak, mereka akan memanjatkan doa-doa untuk leluhur dan diri sendiri sebelum akhirnya makan bersama dan bercengkrama dengan hangat. 

Bagi keluarga Sunari asal Temanggung, merayakan Waisak di Candi Borobudur Magelang menjadi momentum meluruhkan ego diri MOJOK.CO
Bagi keluarga Sunari asal Temanggung, merayakan Waisak di Candi Borobudur Magelang menjadi momentum meluruhkan ego diri. (Aly Reza/Mojok.co)

Perjalanan ke Candi Borobudur Magelang untuk meluruhkan ego diri

Bagi keluarga Sunari dan warga Buddha di Desa Padureso, Hari Trisuci Waisak rasanya kurang paripurna kalau tidak mengikuti rangkaian ibadah puncak di Candi Borobudur. Sunari dan Pariana sendiri sudah sedari kecil mengikuti. 

“Rasanya ada yang kurang kalau setiap Waisak tapi nggak ibadah ke Borobudur,” ujar Pariana. 

“Karena sejak nenek moyang kami, Borobudur itu memang sakral,” sambung Sunari. 

Perjalanan dari Temanggung ke Magelang memang pendek belaka. Namun, perjalanan ini bukan perkara panjang atau pendek, tapi tentang seberapa dalam untuk merenung. 

Waisak di Candi Borobudur Magelang jadi momentum meluruhkan ego diri MOJOK.CO
Waisak di Candi Borobudur Magelang jadi momentum meluruhkan ego diri. (Aly Reza/Mojok.co)

Meluruhkan ego. Begitu yang Sunari renungkan dan refleksikan sepanjang roda bus membawa rombongan umat Buddha di desanya menuju Magelang. Tahun ini ada dua bus dengan total 50 umat Buddha yang berangkat. 

“Kita ini hidup untuk apa? Itu kesadaran yang harus kami miliki. Karena ibadah dalam kami kan soal kesadaran,” jelas Sunari. 

Untuk apa manusia hidup? Kesadaran di hadapan magisnya Candi Borobudur

Di sela berbincang, Sunari menatap lekat-lekat ke arah atas: menatap kemegahan deretan stupa. 

Bagi beberapa orang, candi tersebut mungkin tidak lebih dari tempat wisata. Namun, bagi umat Buddha seperti keluarga Sunari, Candi Borobudur terasa magis. Pasalnya, Candi Borobudur Magelang merupakan candi Buddha terbesar di dunia dan telah menjadi pusat spiritual sejak abad ke-8. 

Iklan

Duduk bersila untuk munajat doa di pelatarannya memberi energi spiritual yang berlipat-lipat. Meski sejatinya ia meyakini bahwa energi spiritual bisa diperoleh dari mana saja. Dari ladang tempat Sunari bertani, dari dalam rumah sederhananya, maupun dari vihara di bawah lereng Gunung Sindoro. 

“Selalu yang saya pegang adalah, untuk apa manusia hidup? Manusia hidup itu harus bermanfaat bagi orang lain,” kata Sunari, selaras dengan ajaran ajaran Sang Buddha Gautama: 4 Brahma Vihara (Empat Sifat Luhur), yakni:

  1. Metta (Cinta Kasih): Keinginan untuk membawa kebahagiaan dan kesejahteraan kepada semua makhluk.
  2. Karuna (Welas Asih): Keinginan untuk meringankan penderitaan makhluk lain.
  3. Mudita (Simpati/Turut Berbahagia): Kebahagiaan murni melihat orang lain sukses dan bahagia.
  4. Upekkha (Ketenangan Batin/Keseimbangan Jiwa): Kemampuan menerima kenyataan dengan pikiran yang tenang dan tidak memihak. 

Sunari selalu siap soal tulang-tulung dan cerita THR saat lebaran

Pariana terkekeh saat menceritakan kebiasaan suaminya yang selalu siap tulang-tulung. 

Pariana menggambarkan, Mayoritas warga di desa Sunari adalah komunitas muslim. Meski begitu, benar-benar tidak ada batas agama yang menghalangi kerukunan masyarakat setempat. Melebur sebagai satu kesatuan. 

Maka, tidak heran jika Sunari—sebagai orang serba bisa (karena selain petani tembakau juga seorang tukang—kerap dimintai tolong oleh tetangga: baik sesama umat Buddha maupun muslim. 

“Genteng rusak, Bapak (Sunari) dipanggil buat benerin. Masang gas, ya Bapak. Listrik konslet. Pokoknya tetangga minta tolong apa, Bapak yang dimintai tolong,” beber Pariana. “Dan Bapak selalu siap membantu.”

Bagi Sunari, itulah implementasi dari ajaran cinta kasih Buddha. Hakikat hidup baginya adalah harus bisa berbuat baik, bermanfaat kepada orang lain, dan memberi kebahagiaan bagi semua. Kalau tidak bisa demikian, artinya tidak sepenuhnya hidup. 

Hidup di dunia ini fana. Jika tidak bisa berbagi kebahagiaan dan kebaikan, maka akan sia-sia tanpa makna. 

Di desa Sunari di Temanggung pun selalu ada kebiasaan berbagi makanan dengan tetangga muslim. Jika umat Buddha sedang ada acara dan masak-masak besar, seringkali tetangga muslim ikut membantu memasak dan menyiapkan acara. Lalu hasil masakan itu dibagikan atau dimakan bersama-sama. 

“Kalau lebaran (Idulfitri), kami juga merayakan. Beli jajan di rumah buat suguhan. Menyiapkan THR juga buat anak-anak tetangga,” ucap Sunari.

“Kalau Hari Raya Kurban (Iduladha), tetangga muslim kasih daging juga ke kami. Jadi memang cinta kasih itu sudah terserap jadi bagian hidup desa kami, jangan ragukan soal toleransi, selalu hangat,” kata Pariana. 

Bahkan, di momen Hari Trisuci Waisak, tidak hanya mengucapkan, tetangga muslim pun kerap kali memastikan: Tahun ini (misalnya) berangkat ibadah ke Borobudur atau tidak? Itu memberi kesan harmoni yang mendalam bagi keluarga Sunari. 

Tidak jujur akan hancur, hidup tanpa berkah akan berantakan, dan sebotol air simbol cinta 

Percakapan saya dan Sunari terjadi menjelang detik-detik Waisak yang jatuh pukul 15.44 WIB. Keluarga Sunari tengah menyantap bekal makanan yang dibawa dari rumah sebelum mengikuti ibadah detik-detik Waisak. 

“Tidak ada doa khusus atau muluk-muluk. Setiap Waisak, yang saya minta cuma keberkahan hidup, itu paling penting,” kata Sunari. 

Tidak ada permintaan agar rezeki berlipat atau hal-hal duniawi lain. Pokoknya asal hidup berkah saja. Hidup berkah artinya Sunari diberi kebahagiaan dan keseimbangan batin tanpa harus terikat dengan materiil. 

Kondisi ladang Sunari tidak selalu menghasilkan panen melimpah. Namun, keberkahan hidup senantiasa membuat hidupnya selalu terasa bahagia dan cukup kendati dalam kondisi seadanya.

“Tapi keberkahan hidup itu harus diusahakan. Satu amalan saya: jujur. Orang kalau tidak jujur, hidupnya hancur, tidak berkah. Kalau tidak berkah, hidupnya berantakan,” bebernya. 

Sembari menanti matahari condong ke barat, saya menghabiskan sisa hari ini bersama keluarga Sunari. Mereka tanpa ragu mengeluarkan dan menawarkan kresek berisi bekal camilan yang dibawa dari rumah. 

Pariana menyodorkan sebotol air minum karena menduga tenggorokan saya kering karena sebelumnya berjibaku dengan panas terik Magelang. Pariana menunjukkan, betapa cinta kasih dan kebahagiaan bisa dibagikan bahkan hanya dari sekadar air minum dari botol kecil. 

4 ajaran Buddha MOJOK.CO
Ajaran Buddha yang dipegang keluarga Sunari. (NotebookLM/Created by Aly Reza)

Memanusiakan manusia jadi pondasi hidup

Sejak pagi ribuan umat Buddha memadati kawasan candi yang dikelola PT Taman Wisata Candi (TWC) alias InJourney Destination Management ini sejak pagi. Di antara mereka, hadir pula masyarakat dari agama Islam hingga Katolik. Dalam alunan puja-puji untuk Sang Buddha, semuanya melebur. 

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh MOJOK (@mojokdotco)


Perdamaian semacam itulah yang diharapkan oleh Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar di momentum peringatan Hari Tri Suci Waisak 2026 M/2570 BE. Menag menekankan, sudah selayaknya Waisak menjadi momentum memperkuat komitmen menebarkan kebajikan, mempererat persaudaraan, dan menjaga perdamaian dunia.

Untuk diketahui, Waisak 2026 di Candi Borobudur mengusung tema “Dharma Menjaga Perdamaian Dunia”. Menurut Menag, Dharma tidak hanya dipahami sebagai ajaran keagamaan, tetapi juga menjadi pedoman hidup yang menuntun manusia untuk tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran, moralitas, dan kebijaksanaan.

 “Dharma bukan sekadar ajaran, melainkan pelita kehidupan yang menuntun manusia untuk tetap teguh dalam nilai-nilai kebenaran, moralitas, kebijaksanaan serta di tengah dinamika zaman. Termasuk menjaga perdamaian dunia,” begitu ujar Menag dalam pesan tertulisnya. 

Ribuan orang padati Cadi Borobudur Magelang untuk perayaan Waisak 2026 MOJOK.CO
Ribuan orang padati Cadi Borobudur Magelang untuk perayaan Waisak 2026. (Aly Reza/Mojok.co)

Ia menekankan, nilai cinta kasih harus menjadi pondasi penting dalam membangun kehidupan yang harmonis, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, bahkan kehidupan dunia.

Seluruh agama, lanjut Menag, mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Maka dari itu, kehidupan beragama harus menjadi kekuatan untuk mempererat persaudaraan, bukan sebaliknya. 

“Agama hadir untuk memanusiakan manusia. Kebijaksanaan yang diajarkan dalam Buddha selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan universal yang menjadi fondasi kehidupan bersama,” tegasnya.***(Adv)

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Upaya Merawat Candi Borobudur agar Bisa Bertahan 2000 Tahun Lagi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 31 Mei 2026 oleh

Tags: 'buddha temanggungajaran buddhaborobudurborobudur magelang'candi borobudurmagelangpilihan redaksitemanggungvihara temanggungWaisakwaisak 2026
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO
Urban

Yang Perlu Kamu Tahu dan Kamu Lakukan di Tengah Kelesuan Ekonomi Saat Ini

29 Mei 2026
Arca Unfinished Buddha yang ada di Candi Borobudur. MOJOK.CO
Kilas

Ketika Patung “Cacat” Buddha di Lapangan Kenari Borobudur Justru Jadi Pusat Spiritual dan Magnet Doa Saat Waisak

27 Mei 2026
Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil MOJOK.CO
Esai

Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil

27 Mei 2026
Frugal Living, healing, MOJOK.CO
Sehari-hari

Salah Kaprah soal Healing: Anak Muda Terjebak Keborosan, padahal “Penyembuhan Sejati” Itu Gratis dan Sering Kali Tak Estetik

26 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pelatihan keterampilan kerja bagi orang miskin dan disabilitas di Jawa Tengah MOJOK.CO

Sebuah Lembaga Tempat Orang Miskin dan Disabilitas Jateng Dapat Pelatihan Kerja Gratis, Dilatih 10-20 Hari Langsung Jadi Kartap Perusahaan

26 Mei 2026
Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026. MOJOK.CO

Bangkitnya Sepeda Roda Raksasa yang Menyatukan Ribuan “Onthelis” dari Penjuru Dunia di Klaten

26 Mei 2026
tren olahraga kalcer.MOJOK.CO

Tren dan FOMO Olahraga “Kalcer” yang Mahal Lahir karena Minimnya Fasilitas Publik di Perkotaan

29 Mei 2026
Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil MOJOK.CO

Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil

27 Mei 2026
Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Cara Generasi Sandwich Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun

26 Mei 2026
Lulus S3 Jurusan Rekayasa Nuklir di ITB. MOJOK.CO

Pesan dari Lulusan ITB yang Raih Gelar S3 di Usia 62 Tahun: Jangan Lupa Menikmati Hidup

25 Mei 2026

Video Terbaru

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

14 Mei 2026
Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.