Ibu saya punya kebiasaan menaruh uang koin Rp500-an di dasbor motor Honda Genio miliknya. Siapa nyana, ternyata uang tersebut membawa berkah dan penyelamat, baik bagi dua anaknya maupun orang-orang yang ia temui di lampu merah.
Uang receh kembalian yang awalnya bikin salah paham
Setiap saya pulang ke rumah (Rembang, Jawa Tengah), motor Honda Genio milik ibu akhirnya kami gunakan bergantian. Karena seringkali saya pulang dengan bus atau travel, jarang pakai motor sendiri. Alhasil, kalau sore/malam hari saya hendak keluar, motor ibu lah yang saya gunakan—setelah ia pulang dari pabrik.
Setiap kali pakai motor ibu, pasti ada bunyi “krincing-krincing” dari dasbor. Uang recehan tersebut, kata ibu, merupakan tumpukan uang kembalian setiap kali ia habis belanja.
Situasi itu sempat membuat saya heran dan mempertanyakan: Tidak butuh duit apa ya? Kenapa uang recehan tersebut tidak diambil lalu dimasukkan ke toples khusus uang receh di dalam kamar? Lumayan lah buat tabungan.
“Sudah…” Begitu jawab ibu singkat. Ia ingin mengatakan, uang recehan tersebut sebenarnya sengaja ia taruh di dasbor motor Honda Genio miliknya. Hanya saja, recehan di dasbor adalah lebihan dari recehan kembalian lain yang sudah dimasukkan ke dalam toples berisi uang koin serupa.
Uang receh di dasbor motor Honda Genio ibu jadi berkah bagi orang di lampu merah
Seiring waktu saya akhirnya memahami kebiasaan ibu tersebut: menaruh uang receh di dasbor motor.
Suatu ketika, saat mengantar ibu ke pusat kota Rembang, saya menyaksikan ibu dengan enteng merogoh uang-uang receh dari dasbor motor, ia bagikan ke orang-orang yang kerap mengundi nasib di lampu-lampu merah.
Misalnya, pengamen nyanyi, pengamen badut, hingga penyandang disabilitas daksa yang kerap berharap iba dan pemberian orang-orang yang berhenti ketika lampu apill menunjukkan warna merah.
Ternyata, sejak bekerja di pabrik di pusat kota Rembang, ibu punya kebiasaan seperti itu: membagi uang recehan ke mereka yang mengiba dan menurut ibu membutuhkan uluran tangan, meskipun hanya berupa uang recehan, tiap kali berangkat ke pabrik di pukul 07.00 pagi.
“Ya kita ini kan alhamdulillah nasibnya baik, walaupun nggak kaya-kaya amat. Sementara kalau lihat orang disabilitas, nggak bisa kerja, cari makannya cuma dengan cara itu (minta-minta di lampu merah),” tutur ibu. Ya memang begitu lah ibu saya: mudah iba.
Itu lah kenapa ibu sering menaruh uang receh di dasbor motor Honda Genio miliknya. Bahkan kalau habis, ibu mengisi dasbor motornya lagi dengan berapapun uang receh yang ia punya.
“Ditaruh dasbor biar enak kalau mau ambil,” katanya.
Memberi uang ke pengamen atau pengemis di lampu merah sebenarnya memang tidak dianjurkan oleh Dinas Sosial. Akan tetapi ibu tidak cukup terliterasi dengan itu. Ia hanya tahu perkara berbagi. Ia hanya senang melakukannya.
Jadi penyelamat bagi anak-anaknya saat uang yang dibawa kurang
Uang-uang receh di dasbor motor Honda Genio ibu tidak hanya menjadi uluran kecil untuk orang-orang di lampu merah. Kami, anak-anaknya pun kerap terbantu dengan adanya uang recehan di dalam dasbor tersebut.
Misalnya dalam kasus saya yang jarang pegang uang tunai—karena sekarang lebih suka transaksi lewat QRIS: Ketika hendak membayar parkir dan kebingungan karena dompet saya tidak berisi uang tunai, maka dasbor motor ibu lah yang saya tuju.
Atau misalnya ketika saya beli rokok atau jajanan, sementara uang tunai yang saya bawa kurang, maka tambalannya bisa saya dapat dari recehan-recehan di dasbor motor itu.
Adik saya pun sama halnya. Pokoknya jika dalam sebuah situasi uang yang ia bawa kurang, maka dasbor motor ibu bak penyelamat.
Bahkan, kata adik saya, ibu sering dengan sengaja meninggalkan uang pecahan Rp5 ribu-Rp10 ribu di jok motor. Dan itu sering menjadi penyelamat bagi adik saya ketika uangnya sendiri kurang.
Berkah kemudahan hidup
Ibu punya keyakinan, gemar berbagi, walaupun kecil, pasti akan diberi balasan oleh Allah Swt, sebagaimana tertuang dalam Q.S. al-Zalzalah: 7—bahwa kebaikan sekecil biji zarrah (biji paling kecil) pun akan mendapat balasan kebaikan dari-Nya.
Ibu mengimani ayat itu. Pasalnya, menurutnya, di tengah kehidupan kami yang sebenarnya belum berada di posisi mapan finansial, tapi kenyataannya selalu dilingkupi kemudahan, kecukupan, dan kebahagiaan.
Ada banyak momen ketika kondisi kami sebenarnya nyaris kelimpungan. Namun, tidak lama berselang, selalu ada saja “pertolongan-pertolongan langit” yang datang.
Pada akhirnya saya percaya, setiap kemudahan hidup yang saya dapat, satu di antara faktornya adalah doa-doa ibu yang diijabah Allah Swt serta tirakat-tirakat spiritual-sosial (seperti berbagi recehan) yang kerap ia lakukan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














