Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
8 Januari 2026
A A
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO

Ilustrasi - Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tulisan “Dilarang jualan kalender di sini” terpasang di banyak sudut desa saya, Rembang, Jawa Tengah, baru-baru ini, bahkan sejak dari gapura masuk. Jauh lebih halus ketimbang peringatan yang pernah saya lihat di desa sebelah berbunyi: “Penjual kalender, peminta sumbangan masjid, dan pengamen dilarang masuk!”.

Sependek ingatan saya, sejak MTs saya memang amat kerap mendapati penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan masuk desa. Menyisir dari rumah ke rumah.

Untuk penjual kalender keliling, kebanyakan anak-anak muda berpakaian santri (bersarung, baju koko atau kemeja, dan berkopiah). Mereka mengaku diutus oleh pengasuh pesantren. Katanya, hasil dari jualan kalender itu digunakan untuk pembangunan pesantren atau jariyah dalam bentuk lain.

Sementara si peminta-minta sumbangan umumnya bapak-bapak dan ibu-ib usia 30-an ke atas. Umumnya menarik sumbangan untuk pembangunan masjid.

Desa dermawan di Rembang, sasaran empuk santri penjual kalender dan peminta sumbangan pembangunan masjid

Desa saya di sisi timur Rembang memang kerap menjadi sasaran empuk para santri penjual kalender dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid. Bertahun-tahun.

Wajar. Dulu warga desa saya banyak yang dermawan. Pasalnya begini, kebanyakan anak-anak di desa saya adalah anak pesantren. Sehingga, ketika ada santri masuk menjual kalender, orang tua yang anaknya nyantri akan tergerak untuk membeli.

Ibu saya salah satunya. Bahkan ibu kerap membeli di atas harga yang ditetapkan oleh si santri penjual kalender keliling. Misalnya harga aslinya adalah Rp10 ribu, ibu bisa membelinya di harga Rp20 ribu. Itupun masih diberi lagi uang Rp5 ribu buat jajan. Jadi Rp20 ribu buat kalender, Rp5 ribunya buat jajan si santri.

Ia juga cukup sering membeli, seberapa pun sering mereka datang. Tak heran jika ibu punya lebih dari tiga kalender untuk tahun yang sama, dari pesantren yang berbeda. Begitupun ketika ada peminta-minta sumbangan yang mengatasnamakan pembangunan masjid tertentu.

Saat itu ada tiga motif kenapa ibu sedemikian ringan meloloskan uang. Satu, cari berkah dan pahala dengan “menyumbang” pesantren dan masjid. Dua, anaknya (saya) juga santri. Ia berharap, dengan menyumbang, semoga jalan saya sebagai santri dimudahkan dalam menuntut ilmu.

Lalu tiga, lebih karena kasihan. Desa saya adalah desa perbukitan. Para santri dan peminta sumbangan pembangunan masjid itu harus berjalan jauh untuk sampai ke rumah-rumah warga.

Di desa saya ada banyak orang dengan model seperti ibu. Karena tahu warga desa saya cukup ringan membantu, alhasil desa saya di Rembang itu selalu jadi jujukan.

Masih awal tahun tapi santri penjual kalender sudah datang bawa kalender tahun berikutnya

Lambat laun kedatangan para santri penjual kalender itu amat meresahkan bagi warga desa saya di Rembang. Bahkan, kalau ada orang melihat sejumlah santri mulai masuk desa, orang itu akan memberi tahu tetangga agar menutup pintu rumah, biar tak jadi jujukan.

Keengganan warga desa saya beralasan. Sebab begini: Padahal masih awal tahun, tapi kalender tahun berikutnya sudah ditawarkan. Nanti menjelang akhir tahun, mereka akan datang lagi.

Misalnya, Januari 2024 saja belum beranjak ke Februari. Tapi para santri penjual itu sudah datang mengiba agar kalender tahun 2025 buatan pesantrennya dibeli. Nanti di bulan-bulan Oktober-November 2024, mereka akan datang lagi.

Iklan

Masalahnya, yang datang tidak hanya santri dari satu pesantren. Setiap yang datang mengaku dari pesantren berbeda. Jaraknya pun berdekatan. Sehari dari pesantren A, beberapa hari kemudian datang mengaku dari pesantren B, lalu selang berapa hari lagi datang lagi mengaku dari pesantren C.

Lama-lama warga desa saya muak. Mungkin bisa menolak halus. Tapi kedatangan mereka dirasa sudah amat mengganggu.

Peminta sumbangan masjid dan pembangunan yang tak selesai-selesai

Pertanyaan berikutnya: Emangnya apa sih yang dibangun si pesantren? Karena setiap tahun alasannya masih sama: Membangun pesantren.

Bahkan, saya masih ingat, seorang warga desa yang sudah sangat kesal dengan kedatangan para santri itu sampai berujar: “Kalian mondok buat cari ilmu, bukan jual kalender. Cari berkah kiai? Hasil jual kalender itu dipakai kiaimu buat beli mobil pribadi.” Ia orang abangan, jadi maklum kalau berani mengkritik keras kiai, tidak seperti warga desa kebanyakan yang memilih memendam keresahan masing-masing.

Hal serupa juga terjadi dalam konteks peminta-minta sumbangan pembangunan masjid yang lebih sering bawa-bawa narasi “jariyah pembangunan masjid”.

Warga mulai janggal setelah memergoki modus mereka. Beberapa memang ada yang mengatasnamakan sebuah masjid yang beralamat di Rembang. Tapi tidak jarang mengaku dari masjid di luar Rembang.

Untungnya, beberapa warga mengaku hapal wajah-wajah peminta-minta sumbangan yang masuk desa kami. Hanya itu-itu saja. Lalu terbongkarlah fakta kalau orang yang sama mengatasnamakan masjid yang berbeda-beda.

Saya sendiri pernah menghadapi langsung yang seperti ini. Awalnya mengaku dari masjid A. Bulan berikutnya, ia datang lagi mengaku dari masjid B. Lain bulan, ia mengaku dari yayasan C.

Sampai suatu ketika, saya iseng saja bertanya, “Kok Jenengan pindah-pindah, Pak?”

“Loh endak, Dek. Saya cuma dari masjid B (misalnya).” Padahal ia pernah mengaku dari masjid A dan dari yayasan C.

Santri gadungan dan pembangunan fiktik

Warga desa saya di Rembang itu kemudian memilih hanya sekadar menolak memberi sumbangan atau membeli kalender. Belum pada tahap membuat peringatan di sudut-sudut desa.

Namun, ketika akses informasi mulai lebih mudah, warga desa mulai menemukan fakta-fakta meresahkan di balik kedatangan santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid tersebut.

Mungkin saja, beberapa di antara mereka ada yang santri asli, benar-benar diutus oleh pesantren betulan. Para peminta sumbangan itupun juga mungkin saja berangkat dari masjid yang memang butuh bantuan pembangunan.

Namun, di desa-desa lain di luar sana, diberitakan kalau penjual kalender yang masuk desa ada juga yang santri gadungan. Pesantrennya fiktif kalau tidak nekat mencatut nama pesantren secara asal. Begitu juga dalam kasus peminta-minta sumbangan masjid. Alamat masjid fiktif atau sengaja mendompleng alamat masjid tertentu saja. Atau juga mereka membawa narasi bohong soal pembangunan.

Alhasil, setelah berembug, disepakati untuk memasang peringatan larangan agar dua oknum itu tidak menjadikan desa kami sebagai jujukan.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Saya Sadar Betapa “Mengerikannya” Judi Bola Tarkam Setelah Mengobrol dengan Bandar Lokal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 8 Januari 2026 oleh

Tags: Desakalender pesantrenpembangunan masjidpeminta sumbanganpeminta sumbangan masjidpenjual kalenderpenjual kalender kelilingPesantrenpilihan redaksisantri penjual kalendersumbangan masjid
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Tongkrongan bapak-bapak, nongkrong.MOJOK.CO
Catatan

Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

11 Mei 2026
bapak-bapak nongkrong.MOJOK.CO
Sehari-hari

Setelah Punya Anak Sadar “Nongkrong Basi-Basi” Itu Nggak Guna: Rela Dicap Suami Takut Istri, karena Urusan Keluarga Memang di Atas Segalanya

11 Mei 2026
Nasihat rezeki dan keuangan dari ibu-ibu penjual angkringan di Jogja yang bisa haji 2 kali MOJOK.CO
Sosok

Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy

11 Mei 2026
Tidak memberi utang saat teman pinjam uang selalu dicap jahat dan dijauhi dari pertemanan MOJOK.CO
Sehari-hari

Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat

8 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel): terlihat elite tapi Work Life Balance sulit MOJOK.CO

Kerja di Kebayoran Baru Jaksel: Cuma Kelihatan Elite tapi Work Life Balance Sulit, Resign Tak Selesaikan Masalah

10 Mei 2026
Semester 5 kuliah: Masa paling overthinking kepikiran ortu dan masa depan, percuma cari pelarian MOJOK.CO

Semester 5 Kuliah: Masa paling Overthinking bagi Mahasiswa karena Kepikiran Ortu dan Masa Depan, Percuma Cari Pelarian

5 Mei 2026
Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
Tidak memberi utang saat teman pinjam uang selalu dicap jahat dan dijauhi dari pertemanan MOJOK.CO

Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat

8 Mei 2026
Efek rutin olahraga gym, dulu dihina gendut dan jelek kini banyak yang mendekat MOJOK.CO

Efek Gym: Dari Dihina “Babi” karena Gendut dan Jelek bikin Lawan Jenis Gampang Mendekat, Tapi Tetap Sulit Nemu yang Tulus

11 Mei 2026
menikah dengan keluarga pasangan yang terlilit utang.MOJOK.CO

Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

8 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.