Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Perjodohan di Pesantren “Makelar Jodoh”: Dipaksa Terima Orang Tak Dikenal Hanya karena Saleh, Tapi Jalani Rumah Tangga Menderita

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
10 Oktober 2025
A A
Ilustrasi pondok pesantren yang jadi makelar jodoh - Mojok.co

Ilustrasi - Ketika pondok pesantren jadi makelar perjodohan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kiai atau pengasuh di beberapa pondok pesantren ada yang berperan menjadi jembatan perjodohan santri-santriwati. Bahkan ada pesantren yang menjadi jujukan masyarakat umum yang mencari pasangan dari santriwati. Ada yang berakhir bahagia. Tapi ada juga yang berakhir tak semestinya.

***

Usia Abida (20), nama samaran, baru menginjak 19 tahun saat seorang laki-laki berumur 30-an tahun dikenalkan sebagai calon suaminya. Abida tak mengenalnya. Sebelumnya pun belum pernah bertemu.

Suatu hari, orang tua Abida dipanggil sang kiai datang pondok pesantren tempat Abida menimba ilmu. Abida tak terlibat dalam obrolan.

Lalu barulah dia tahu kalau dia hendak dijodohkan. Di lubuk terdalam, Abida sebenarnya menyadari kalau dia belum siap menikah. Dia masih ingin menikmati masa remaja sebagaimana remaja pada umumnya.

“Tapi kami dididik kalau pilihan kiai pasti bertujuan baik. Dan memang begitu, Mbah Kiai bilang kalau jodoh sudah ada, lebih baik cepat menikah biar lekas punya mahram, jauh dari fitnah zina,” ucap perempuan asal Jawa Tengah itu, Senin (6/10/2025).

Perjodohan di pondok pesantren, diming-imingi pasangan saleh

Tak ada waktu untuk berpikir dan menimbang. Laki-laki yang datang di suatu siang di ruang tengah rumah kiai itu sudah dikenalkan sebagai “calon suami”. Saat kiai dan orang tua Abida bertanya, “Piye, nduk? (Gimana, nak?”, Abida hanya bisa diam menunduk.

Sejujurnya dia membutuhkan waktu untuk berbicara dengan diri sendiri. Akan tetapi, diam dianggap sebagai tanda “setuju”, baik dalam keumuman Jawa maupun hukum Islam—sebagaimana hadis riwayat Imam Muslim nomor 421:

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid: Telah menceritakan kepada kami Ziyaad bin Sa’d, dari ‘Abdullah bin Al-Fadhl, ia mendengar Naafi’ bin Jubair mengkhabarkan dari Ibnu ‘Abbaas: Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ats-tsayyibu (janda) lebih berhak kepada dirinya sendiri dibandingkan walinya. Adapun seorang gadis dimintai izin, dan izinnya itu adalah dengan diamnya.

“Mbah Kiai hanya menjamin kalau calon suamiku itu laki-laki saleh. Apa yang lebih baik dari itu?,” kata Abida mengingat momen itu.

Pernikahan pun lekas terjadi dalam nuansa sederhana. Dalam pidatonya, kiai pondok pesantren itu mendoakan agar keluarga Abida penuh berkah. Kendati usia terpaut jauh, kalau jodoh pasti akan hidup bahagia.

Apalagi, Abida akhirnya juga mendapat cerita-cerita serupa. Alumni-alumni di pesantren tersebut juga kerap mengikuti perjodohan dari sang kiai. Hasilnya, mereka beranak pinak dan langgeng sampai sekarang.

Saleh tapi kalau kasar dan malas kerja, bikin menderita

Belum genap satu tahun, Abida sudah mengeluhkan pernikahannya. Makan hati.

Dia mengamini kalau suaminya rajin salat. Namun, bagi Abida, rajin salat saja buat apa kalau sehari-hari suka berkata kasar kepada istri. Abida teramat kenyang dibentak-bentak hanya karena persoalan sepele.

Selain itu, Abida merasa ekonominya serba kekurangan. Pasalnya, sejak awal Abida tak tahu-menahu soal bibit-bebet-bobot secara detail dari si calon suami. Kiainya hanya meyakinkan kalau keluarganya akan penuh keberkahan.

“Dulu tahuku dia kerjanya bisa serabutan. Tapi selama kami nikah, dia kerja bisa dihitung jari. Bukan karena nggak ada kerjaan, ada, tapi antara setengah jalan dia berhenti, atau pas diajak nguli gitu misalnya menolak,” beber Abida.

Karena perut harus terisi dan suami yang rokoknya nyepur, Abida sampai berinisiatif jualan cilok. Awalnya, dia mengajak sang suami jualan: Abida yang membuat ciloknya, sang suami yang nanti menjajakan keliling. Tapi si suami menolak. Alasannya, malu. Nanti dia akan mencari pekerjaan.

Sayangnya hal itu tidak pernah terjadi. Abida makin menderita. Apalagi dia masih harus membebani orang tuanya: Minta bantuan beras, ikan, dan lain-lain jika Abida benar-benar tak pegang uang sama sekali.

Iklan

Pernikahan itu tak berlangsung lama. persis setahun, Abida meminta berpisah dan masih menyimpan trauma soal pernikahan. Lebih-lebih dengan konsep perjodohan.

Pondok pesantren makelar jodoh

Setelah hampir enam tahun nyantri, Zabila (24), bukan nama asli, akhirnya tahu kalau pondok pesantren tempatnya bermukim selama ini menjadi “makelar jodoh”.

“Perjodohannya bukan antar-santri. Tapi misalnya, ada orang kampung belum dapat pasangan, tinggal sowan dan minta kiai dicarikan pasangan dari santriwati, maka pasti dicarikan. Sudah banyak santriwati sebelumku yang menikah lewat jalur itu,” kata Zabila.

Sebagian keluarganya baik-baik saja. Tapi ada pula yang bernasib seperti Abida.

“Biasanya santriwati yang sudah umur-umur 19-20 tahunan yang akan dibidik kalau ada orang minta dicarikan jodoh sama Pak Kiai,” kata Zabila.

Model pembidikannya: Saat ada tamu minta dicarikan jodoh, maka kiai akan menunjuk sejumlah “santriwati matang” untuk laden. Sekadar menyuguhkan minuman atau camilan. Itu menjadi momen bagi si pencari jodoh untuk memilih.

Setelah dipilih, maka kiai akan memanggil orang tua santriwati datang ke pesantren untuk perkenalan sekaligus persetujuan. Umumnya akan langsung memilih setuju, sam’an wa tho’atan kepada kiai.

Zabila menyaksikan proses itu sendiri. Dia juga pernah menjadi salah satu santriwati yang pernah mengalami proses laden itu dan nyaris mengalami perjodohan.

Melepaskan diri…

Zabila enggan tunduk dengan perjodohan. Dia merasa punya hak untuk memilih sendiri jalan hidupnya. Termasuk memilih pasangan.

Saat tahu dirinya sedang dibidik, perempuan asal Jawa Timur itu langsung wadul ke orang tuanya. Beruntungnya, sang bapak memang ingin Zabila memperbanyak ilmu dulu. Ingin menguliahkan hingga S3 sekalipun.

“Dengan a lot kami sowan untuk menolak dan boyongan. Kiai kecewa, tentu saja. Tapi prinsip keluargaku; Menikah itu ibadah, tapi cari ilmu juga ibadah. Keluargaku memilih ibadah jalur kedua,” katanya.

Memang banyak temannya bilang, pacaran setelah menikah itu menyenangkan. Atau cinta bisa tumbuh seiring kebersamaan. Namun, menikah tak sesederhana cinta atau tidak cinta. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan dan dimatangkan.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Sisi Gelap Sebuah Pesantren di Tasikmalaya: Mulai dari Pelecehan Seksual Sesama Jenis, Senioritas, Kekerasan, Hingga Senior Memaksa Junior Jadi Kriminal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 Oktober 2025 oleh

Tags: hukum perjodohanperjodohanperjodohan di pesantrenPesantrenpilihan redaksiPondok Pesantrensisi gelap pesantren
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.