Katanya, punya rumah di pusat kota itu prestisius dengan banyak keuntungan. Namun pengalaman saya dan Faninda (25) yang tinggal di Surabaya Pusat, tepatnya di dekat Jalan Tunjungan, justru sebaliknya. Lebih banyak minusnya.
***
Setelah saya masuk SMP, ayah dan ibu saya memutuskan beli rumah di sekitar Surabaya Pusat. Alasannya sederhana, agar ke mana-mana mudah. Dekat dengan mal, alun-alun, rumah sakit, hingga sekolah.
Dengan begitu, mereka tidak perlu mengantar saya ke sekolah sehingga saya bisa jalan kaki tak sampai 5 menit. Namun karena itu pula rumah saya sering jadi rujukan teman-teman untuk kerja kelompok.
Dulu, saya merasa tak masalah tapi setelah kami dewasa dan bekerja, permintaan mereka makin ngelunjak padahal hubungan kami sudah tak dekat. Misalnya, saat mereka ingin jalan-jalan di Tunjungan tapi tak mau bayar parkir motor sebesar Rp5 ribu di sekitar sana.
Alhasil, rumah sayalah yang jadi jujugan. Kadang-kadang saya sungkan untuk menolak, toh mereka cuma titip motor beberapa jam saja. Namun masalah bakal jadi serius kalau saya tidak sedang di rumah.
Bukannya maklum dengan alasan saya yang tidak mengizinkan mereka datang ke rumah, mereka justru kesal dan mengira saya sombong. Pada akhirnya, saya tidak ingin memberikan alasan macam-macam. Saya pun hanya bisa memaklumi kekecewaan mereka.
Lebih dari itu, tinggal di Surabaya Pusat nyatanya banyak kekurangan. Seperti yang juga dirasakan Faninda.
Minus punya rumah di Surabaya Pusat
Berbeda dengan saya yang pindah rumah saat SMP, Faninda dan keluarganya adalah penduduk asli sekitar Jalan Tunjungan, Surabaya Pusat. Dengan kata lain, sejak baru lahir hingga sekarang, dia dan keluarganya belum pernah pindah rumah.
Faninda tak menampik banyak keuntungan yang dia dapat dengan memiliki rumah di pusat kota, mulai dari akses yang mudah, bisa memilih banyak sekolah unggulan yang dekat rumah, hingga fasilitas umum yang bagus dan sangat diperhatikan.
“Kalau mau olahraga waktu car free day (CFD) di Jalan Tunjungan juga dekat, mau ikut festival budaya atau karnaval yang skalanya besar seperti Surabaya Vaganza dan Parade Juang, pameran Java Coffee Culture, fashion parade, semuanya mudah. Nggak ribet!” kata Faninda, Selasa (18/8/2026).
Namun, acara-acara itu pula yang menjadi bumerang bagi warga yang punya rumah di pusat Kota Surabaya.
“Minusnya pasti ramai, banyak orang apalagi pas weekend atau hari-hari besar tapi alhamdulillah kampung kami cukup nyaman dan tenang karena motor tidak boleh dinaiki,” ujar Faninda.
Kenyang dengan penutupan jalan
Tak hanya itu, acara tahunan yang diadakan oleh Pemerintah Kota Surabaya di Jalan Tunjungan juga sering kali menyebabkan penutupan jalan. Alhasil, Faninda kerap kesulitan ke luar rumah maupun pulang setelah berkegiatan di luar.
“Saat ada kegiatan yang mengharuskan penutupan di Jalan Tunjungan, aku harus cari jalan lain yang agak jauh menuju rumah. Apalagi, gang kampung kami hanya ada satu jika lewat Jalan Tunjungan,” tutur Faninda.
Oleh karena itu, mau tidak mau, Faninda harus memutar ke Jalan Embong Malang tepatnya masuk dari gang Kebangsren. Belum lagi jika Faninda harus pulang larut malam. Dia harus menghubungi pihak keamanan agar bisa pulang ke rumah.
“Karena gerbang kampungku sudah ditutup pukul 23.00 WIB,” ujar Faninda.
Senasib dengan Faninda, saya bahkan pernah memilih tidak pulang ke rumah karena gerbang kampung saya sudah ditutup plus penutupan jalan di Jalan Tunjungan, Surabaya Pusat. Untungnya, saya bisa menginap di rumah sahabat saya yang berlokasi di Kecamatan Bubutan dan baru pulang ke rumah saat pagi.
Meski begitu, tetap pilih rumah di Surabaya Pusat
Bagi saya dan Faninda, kebijakan gerbang kampung atau one gate system sebenarnya tidak masalah karena bertujuan menjaga keamanan lingkungan, mengatur keluar-masuk kendaraan asing, serta mencegah tindak kriminalitas.
“Sebenarnya masalah utama kampungku adalah maling yang tidak kenal waktu, terutama kasus pencuriaan kendaraan bermotor (curanmor),” ucap Faninda.
Sat Reskrim Polrestabes Surabaya mencatat terdapat 97 kasus curanmor dan 108 tersangka selama periode April-Mei 2026. Sebanyak 89 unit sepeda motor, 2 mobil, kunci T, dan sejumlah senjata tajam turut diamankan sebagai barang bukti.
Meski begitu, Faninda tetap betah tinggal di dekat Jalan Tunjungan, Surabaya Pusat. Tanpa ada keinginan membeli rumah di pinggiran kota nantinya, seperti Sidoarjo atau Gresik.
“Di hari-hari biasa, lingkungan rumahku masih tenang, ditambah dengan beberapa keuntungan lain yang sudah aku sebutkan di atas,” kata Faninda mantap.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Alasan Pasangan Muda Beli Rumah di Surabaya Pinggiran daripada Sidoarjo: Kena Imbas Pembangunan Perkotaan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
















