Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Pekerja Surabaya Pindah Kerja di Jogja: Bingung sama Kebiasaan “Buang-buang Uang”, Repot karena Budaya Traktir Teman

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
26 Maret 2026
A A
Pekerja Surabaya pindah kerja di Jogja kaget dengan kebiasaan "menghibur-hamburkan uang" pekerja Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi - Pekerja Surabaya pindah kerja di Jogja kaget dengan kebiasaan "menghibur-hamburkan uang" pekerja Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pindah kerja di Jogja membuat seorang pekerja yang sebelumnya mencari uang di Surabaya agak kaget dan bingung sendiri. Sebab, di Jogja, ada semacam budaya “buang-buang uang” atas nama kebiasaan dan tren masa kini yang sulit diikuti. 

***

Setelah hampir 3 tahun menjadi pekerja di Surabaya, saya kemudian pindah kerja di Jogja sejak awal 2024. Di Jogja, saya bertemu dengan banyak orang yang ternyata sebelumnya pernah kerja di Kota Pahlawan. 

Alasan mereka beragam. Ada yang memang karena lamaran kerja hanya keterima di Jogja, sehingga terima-terima saja dengan berapapun gaji yang diterima. Ada yang mendapat tawaran kerja dengan gaji bersaing. Tapi ada pula yang, meski di atas UMR, tapi gajinya pas-pasan. 

Kami kemudian sama-sama sepakat: lazimnya orang dari satu daerah pindah ke daerah lain, pasti mengalami beberapa kekagetan. Salah satu yang membuat kami kaget adalah kebiasaan “menghambur-hamburkan uang” ala pekerja di Jogja yang masih sulit kami ikuti. 

Pekerja di Jogja suka nongkrong di coffee shop bikin pekerja Surabaya gelagapan 

Kebetulan kami sama-sama tidak punya kebiasaan nongkrong di coffeee shop selama kerja di Surabaya. Jelas lebih enak nongkrong di warkop-warkop giras yang banyak bertebaran. 

Maka, ketika pindah kerja di Jogja, kami merasa gelagapan dengan kebiasaan nongkrong di coffee shop. Sialnya, teman-teman sekantor kami punya kebiasaan itu. 

Bagi kami yang terbiasa ngopi di warkop giras, aktivitas nongkrong di coffee shop ini menghambur-hamburkan uang belaka. Sebab, segelas minuman saja harus keluar uang Rp25 ribu-Rp50 ribu. Sementara di warkop giras kami sudah bisa mendapat es teh, kopi hitam, atau kopi susu dengan hanya Rp5 ribu saja. 

Salah satu dari kami ada yang menderita betul soal ini, sekaligus heran. Pasalnya, gajinya pas-pasan. Prioritasnya tetap untuk sewa kos dan biaya hidup sehari-hari. Sedangkan amat sering teman-teman kantor mengajaknya nongkrong di coffee shop. 

Masalahnya, kalau ia sering menolak, nanti ujung-ujungnya ia dianggap sebagai sosok yang tidak asyik. Sehingga pelan-pelan justru tidak akan banyak dilibatkan dalam lingkar pertemanan. Di saat bersamaan juga heran: kok bisa, dengan gaji pas-pasan, teman-temannya masih bisa ngopa-ngopi, ngopa-ngopi di coffee shop?

Sekali makan terasa menghambur-hamburkan uang

Susah bagi kami untuk berdamai dengan harga sewa kos dan biaya hidup selama kerja di Jogja. 

Saat masih menjadi pekerja di Surabaya, uang Rp300 ribu bahkan Rp200 ribu masih ada harganya: masih dapat kos. Kalau Rp300 ribu bahkan sudah dapat kos layak. Sudah isian, include listrik, sampah, dan air. Meskipun kamar mandi ada di luar. Kalau mau iuran tambahan, bisa dapat fasilitas WiFi. 

Namun, di Jogja, uang segitu ya hanya dapat “gubuk” atau “sarang kecoa”. Harga sewa kos layak rata-rata Rp500 ribu. Itu pun kosongan. Bahkan ada pula yang masih belum termasuk listrik, air, sampah, dan WiFi. Satu-satu keunggulannya, bagi kami, adalah kamar mandinya di dalam. Sesuatu yang bagi kami sebenarnya tidak urgen-urgen amat. 

Di aspek itu saja kami sudah merasa menghambur-hamburkan uang. Ditambah lagi dengan urusan makan. Harga standar makan di Jogja adalah Rp15 ribu. Itu cukup kerasa bagi kami mantan pekerja di Surabaya yang uang Rp10 ribu ke bawah saja masih dapat makan kenyang. 

Iklan

Budaya WFC dan rapat di kafe bikin pekerja Surabaya garuk-garuk kepala saat pindah kerja di Jogja

Sedikit-sedikit WFC (work from cafe). Sebentar-sebentar rapat di kafe/coffee shop. Kebiasaan ini juga membuat kami sempat serba bingung di awal. 

Kalau sama-sama kerja di luar kantor, bukannya sama saja kerja di kos yang sudah terpasang WiFi? Kalau mau kopi tinggal bikin sendiri atau beli kopi Golda di Indomaret. 

Namun, banyak pekerja di Jogja yang kami temui merasa lebih menikmati model kerja dari kafe (WFC), yang artinya juga harus siaga uang Rp50 ribu untuk segelas minuman pesanan. 

Salah satu dari kami ada yang pernah kemakan dengan gaya hidup ini. Sebab, keren saja rasanya kerja WFC. Apalagi buat update story. 

Sampai kemudian ia menyadari, banyak di antara orang-orang yang WFC adalah pekerja yang memang menjalani sistem kerja WFA. Kantornya mungkin saja di Jakarta atau bahkan luar negeri. Maka, gaji mereka pun tidak sepas-pasan pekerja di Jogja sepertinya. Jadi kalau keluar uang Rp50 ribu untuk segelas kopi, sepertinya tidak kerasa. 

Berbeda dengan kami. Kalau diterus-teruskan ya tekor. Cuma menghambur-hamburkan uang. 

Budaya traktir teman, tuntutan sosial yang bikin tidak enak dan merepotkan

Sebagai orang Jawa Tengah dan pernah tinggal di pesantren, saya cenderung terbiasa dengan budaya traktir-mentraktir dan sistem gantian ini. Jadi kalau saya ada rezeki, maka saya yang bayar (misalnya saat ngopi atau makan bareng). Tapi kalau di lain waktu teman saya yang punya rezeki, gantian saya yang ditraktir. 

Masalahnya, ada juga pekerja Surabaya yang tidak terbiasa dengan sistem semacam itu. Karena saat kerja di Surabaya, terbiasa sendiri-sendiri. Kalau toh nongkrong atau makan bareng, ujungnya tetap bayar sendiri. 

Itu berbeda ketika mereka akhirnya pindah kerja di Jogja. Sebab di Jogja, sering kali justru berebut untuk saling mentraktir satu sama lain. 

Kebiasaan itu membuat repot mantan pekerja Surabaya. Bagaimana tidak. Ditraktir artinya mereka menyimpan rasa tidak enak: seperti ada keharusan balas budi. Sehingga di lain waktu mereka harus gantian mentraktir. Namun ini juga merepotkan. Karena rasa-rasanya menghambur-hamburkan uang saja untuk menyenangkan teman. 

Mereka sangat ingin yang normal-normal saja: bayar sendiri-sendiri. Jadi setiap orang bertanggung jawab atas pesanannya sendiri dan tida terikat dengan keharusan balas budi. Itu lebih melegakan bagi mantan pekerja Surabaya yang pindah kerja di Jogja. 

Hiburan: konser dan healing, simbol keutuhan sebagai manusia modern

Atas nama hobi atau tekanan hidup, banyak pekerja di Jogja yang tampak amat gampang menebus sebuah hiburan dengan uang. Entah beli tiket konser atau healing ke tempat tertentu sepekan sekali. 

Itu menjadi kekagetan bagi pekerja Surabaya seperti kami yang terbiasa mencari hiburan gratisan. Malah lebih sering menghabiskan hari libur dengan tidur seharian di kosan. 

Masalahnya, di Jogja, dengan menghadiri konser musik atau update story sedang healing seolah menjadi simbol keutuhan sebagai manusia modern: tidak gaul blas kalau tidak ke konser, nolep karena tidak pernah healing-healing keluar. 

Tapi ya bagaimana lagi. Pertama, lebih karena faktor hobi dan preferensi. Kedua, lebih karena keadaan (kondisi keuangan).

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, Tipuan Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 26 Maret 2026 oleh

Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

3 Alasan yang Membuat Stasiun Lempuyangan Lebih Unggul Dibanding Stasiun Tugu Jogja Mojok.co
Pojokan

3 Alasan yang Membuat Stasiun Lempuyangan Lebih Unggul Dibanding Stasiun Tugu Jogja

26 Maret 2026
Kelalaian sopir truk DLH Kota Semarang bikin sampah tumpah berserakan di jalan. Langsung ditegur karena bikin masyarakat tidak nyaman MOJOK.CO
Kilas

Kelalaian Sopir Truk DLH Kota Semarang bikin Sampah Tumpah Berceceran di Jalan, Langsung Terima Teguran demi Kenyamanan

26 Maret 2026
Stasiun Tugu Jogja nggak cocok untuk orang kaya tak bermoral. MOJOK.CO
Catatan

Pintu Timur Stasiun Tugu Jogja Nggak Cocok untuk User Eksekutif Nirempati dan Ojol yang Kesabarannya Setipis Tisu

26 Maret 2026
tunggu aku sukses nanti.MOJOK.CO
Seni

“Tunggu Aku Sukses Nanti”: Ketika Sandwich Generation Bermimpi, Orang Lain Tak Kehabisan Cara Buat Mencaci

26 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rela utang bank buat beli mobil keluarga Suzuki Ertiga demi puaskan mertua. Ujungnya ribet dan sia-sia karena ekspektasi. MOJOK.CO

Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia

21 Maret 2026
Trauma memelihara kucing sampai meninggal. MOJOK.CO

Trauma Pelihara Kucing: Penuhi Ego di Masa Kecil, Saat Dewasa Malah Merasa Bersalah usai Anabul Kesayangan Mati

26 Maret 2026
Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang MOJOK.CO

Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

20 Maret 2026
Pengendara motor plat S di jalanan Jombang tidak kalah ngawur dari plat K MOJOK.CO

Motoran di Jatim: Dibuat Sadar kalau Plat S Jadi Motor “Paling Rusuh” di Jalan

23 Maret 2026
4 Oleh-Oleh Malioboro Jogja Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Membeli Mojok.co

4 Oleh-Oleh Khas Malioboro Jogja yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Membeli

24 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

19 Maret 2026

Video Terbaru

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

23 Maret 2026
Tiyo Ardianto BEM UGM: Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

Tiyo Ardianto: BEM UGM dan Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

23 Maret 2026
Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.