Pindah kerja di Jogja membuat seorang pekerja yang sebelumnya mencari uang di Surabaya agak kaget dan bingung sendiri. Sebab, di Jogja, ada semacam budaya “buang-buang uang” atas nama kebiasaan dan tren masa kini yang sulit diikuti.
***
Setelah hampir 3 tahun menjadi pekerja di Surabaya, saya kemudian pindah kerja di Jogja sejak awal 2024. Di Jogja, saya bertemu dengan banyak orang yang ternyata sebelumnya pernah kerja di Kota Pahlawan.
Alasan mereka beragam. Ada yang memang karena lamaran kerja hanya keterima di Jogja, sehingga terima-terima saja dengan berapapun gaji yang diterima. Ada yang mendapat tawaran kerja dengan gaji bersaing. Tapi ada pula yang, meski di atas UMR, tapi gajinya pas-pasan.
Kami kemudian sama-sama sepakat: lazimnya orang dari satu daerah pindah ke daerah lain, pasti mengalami beberapa kekagetan. Salah satu yang membuat kami kaget adalah kebiasaan “menghambur-hamburkan uang” ala pekerja di Jogja yang masih sulit kami ikuti.
Pekerja di Jogja suka nongkrong di coffee shop bikin pekerja Surabaya gelagapan
Kebetulan kami sama-sama tidak punya kebiasaan nongkrong di coffeee shop selama kerja di Surabaya. Jelas lebih enak nongkrong di warkop-warkop giras yang banyak bertebaran.
Maka, ketika pindah kerja di Jogja, kami merasa gelagapan dengan kebiasaan nongkrong di coffee shop. Sialnya, teman-teman sekantor kami punya kebiasaan itu.
Bagi kami yang terbiasa ngopi di warkop giras, aktivitas nongkrong di coffee shop ini menghambur-hamburkan uang belaka. Sebab, segelas minuman saja harus keluar uang Rp25 ribu-Rp50 ribu. Sementara di warkop giras kami sudah bisa mendapat es teh, kopi hitam, atau kopi susu dengan hanya Rp5 ribu saja.
Salah satu dari kami ada yang menderita betul soal ini, sekaligus heran. Pasalnya, gajinya pas-pasan. Prioritasnya tetap untuk sewa kos dan biaya hidup sehari-hari. Sedangkan amat sering teman-teman kantor mengajaknya nongkrong di coffee shop.
Masalahnya, kalau ia sering menolak, nanti ujung-ujungnya ia dianggap sebagai sosok yang tidak asyik. Sehingga pelan-pelan justru tidak akan banyak dilibatkan dalam lingkar pertemanan. Di saat bersamaan juga heran: kok bisa, dengan gaji pas-pasan, teman-temannya masih bisa ngopa-ngopi, ngopa-ngopi di coffee shop?
Sekali makan terasa menghambur-hamburkan uang
Susah bagi kami untuk berdamai dengan harga sewa kos dan biaya hidup selama kerja di Jogja.
Saat masih menjadi pekerja di Surabaya, uang Rp300 ribu bahkan Rp200 ribu masih ada harganya: masih dapat kos. Kalau Rp300 ribu bahkan sudah dapat kos layak. Sudah isian, include listrik, sampah, dan air. Meskipun kamar mandi ada di luar. Kalau mau iuran tambahan, bisa dapat fasilitas WiFi.
Namun, di Jogja, uang segitu ya hanya dapat “gubuk” atau “sarang kecoa”. Harga sewa kos layak rata-rata Rp500 ribu. Itu pun kosongan. Bahkan ada pula yang masih belum termasuk listrik, air, sampah, dan WiFi. Satu-satu keunggulannya, bagi kami, adalah kamar mandinya di dalam. Sesuatu yang bagi kami sebenarnya tidak urgen-urgen amat.
Di aspek itu saja kami sudah merasa menghambur-hamburkan uang. Ditambah lagi dengan urusan makan. Harga standar makan di Jogja adalah Rp15 ribu. Itu cukup kerasa bagi kami mantan pekerja di Surabaya yang uang Rp10 ribu ke bawah saja masih dapat makan kenyang.
Budaya WFC dan rapat di kafe bikin pekerja Surabaya garuk-garuk kepala saat pindah kerja di Jogja
Sedikit-sedikit WFC (work from cafe). Sebentar-sebentar rapat di kafe/coffee shop. Kebiasaan ini juga membuat kami sempat serba bingung di awal.
Kalau sama-sama kerja di luar kantor, bukannya sama saja kerja di kos yang sudah terpasang WiFi? Kalau mau kopi tinggal bikin sendiri atau beli kopi Golda di Indomaret.
Namun, banyak pekerja di Jogja yang kami temui merasa lebih menikmati model kerja dari kafe (WFC), yang artinya juga harus siaga uang Rp50 ribu untuk segelas minuman pesanan.
Salah satu dari kami ada yang pernah kemakan dengan gaya hidup ini. Sebab, keren saja rasanya kerja WFC. Apalagi buat update story.
Sampai kemudian ia menyadari, banyak di antara orang-orang yang WFC adalah pekerja yang memang menjalani sistem kerja WFA. Kantornya mungkin saja di Jakarta atau bahkan luar negeri. Maka, gaji mereka pun tidak sepas-pasan pekerja di Jogja sepertinya. Jadi kalau keluar uang Rp50 ribu untuk segelas kopi, sepertinya tidak kerasa.
Berbeda dengan kami. Kalau diterus-teruskan ya tekor. Cuma menghambur-hamburkan uang.
Budaya traktir teman, tuntutan sosial yang bikin tidak enak dan merepotkan
Sebagai orang Jawa Tengah dan pernah tinggal di pesantren, saya cenderung terbiasa dengan budaya traktir-mentraktir dan sistem gantian ini. Jadi kalau saya ada rezeki, maka saya yang bayar (misalnya saat ngopi atau makan bareng). Tapi kalau di lain waktu teman saya yang punya rezeki, gantian saya yang ditraktir.
Masalahnya, ada juga pekerja Surabaya yang tidak terbiasa dengan sistem semacam itu. Karena saat kerja di Surabaya, terbiasa sendiri-sendiri. Kalau toh nongkrong atau makan bareng, ujungnya tetap bayar sendiri.
Itu berbeda ketika mereka akhirnya pindah kerja di Jogja. Sebab di Jogja, sering kali justru berebut untuk saling mentraktir satu sama lain.
Kebiasaan itu membuat repot mantan pekerja Surabaya. Bagaimana tidak. Ditraktir artinya mereka menyimpan rasa tidak enak: seperti ada keharusan balas budi. Sehingga di lain waktu mereka harus gantian mentraktir. Namun ini juga merepotkan. Karena rasa-rasanya menghambur-hamburkan uang saja untuk menyenangkan teman.
Mereka sangat ingin yang normal-normal saja: bayar sendiri-sendiri. Jadi setiap orang bertanggung jawab atas pesanannya sendiri dan tida terikat dengan keharusan balas budi. Itu lebih melegakan bagi mantan pekerja Surabaya yang pindah kerja di Jogja.
Hiburan: konser dan healing, simbol keutuhan sebagai manusia modern
Atas nama hobi atau tekanan hidup, banyak pekerja di Jogja yang tampak amat gampang menebus sebuah hiburan dengan uang. Entah beli tiket konser atau healing ke tempat tertentu sepekan sekali.
Itu menjadi kekagetan bagi pekerja Surabaya seperti kami yang terbiasa mencari hiburan gratisan. Malah lebih sering menghabiskan hari libur dengan tidur seharian di kosan.
Masalahnya, di Jogja, dengan menghadiri konser musik atau update story sedang healing seolah menjadi simbol keutuhan sebagai manusia modern: tidak gaul blas kalau tidak ke konser, nolep karena tidak pernah healing-healing keluar.
Tapi ya bagaimana lagi. Pertama, lebih karena faktor hobi dan preferensi. Kedua, lebih karena keadaan (kondisi keuangan).
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, Tipuan Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














