Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Pertama Kali Beli Mesin Cuci di Rumah Desa: Terharu Ringankan Beban Ibu hingga Dianggap Buang Duit oleh Tetangga Julid

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
10 Juli 2026
A A
Pertama kali beli mesin cuci di rumah desa, kena julid tetangga MOJOK.CO

Ilustrasi - Pertama kali beli mesin cuci di rumah desa, kena julid tetangga. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi keluarga pekerja, punya mesin cuci menjadi salah satu instrumen penting di rumah. Namun, di desa, mesin pengucek pakaian tersebut menjadi saksi dinamika sosial dari sekadar untuk mengucek pakaian. 

***

Satu tahun setelah ibu bekerja di pabrik, pada 2021 silam ibu akhirnya membeli sebuah mesin cuci. Itu pun setelah saya desak. Itu menjadi mesin cuci pertama di rumah kami. 

Saya memang jarang pulang dari perantauan. Akan tetapi, tiap pulang ke rumah yang hanya sebentar, saya menyaksikan betapa setiap hari ibu harus melawan kelelahan tubuhnya untuk merangkap peran sebagai pekerja pabrik dan ibu rumah tangga sekaligus. 

Rumah tanpa mesin cuci: awalnya lebih baik, tapi menguras energi

Awalnya ibu bersikeras tidak ingin membeli alat bantu cuci baju tersebut. Tidak terlalu urgen. Karena mencuci manual (pakai tangan) memang sudah menjadi kebiasaan. 

Terlebih sudah tertanam dalam cara pandang orang desa: bahwa tugas perempuan memang harus demikian—mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga seperti mencuci. 

Hanya saja, setelah bekerja di pabrik, lama-lama tubuhnya terasa remuk. Karena ia harus bangun lebih awal (sebelum subuh) untuk mengucek pakaian kotor yang bertumpuk. Kemudian memasak. Lalu berangkat ke pabrik dan baru pulang saat petang. 

Tidak jarang ia bangun dengan keluhan badannya sakit semua. Dari situlah saya meyakinkan bahwa membeli mesin cuci sungguh tidak ada salahnya. 

Pagi yang lebih baik dari sebelumnya

Mesin cuci terbeli. Dan sejak hari itu, ibu merasa setidaknya ia bisa bangun pagi dengan lebih baik. 

Sebelumnya, ia akan menghela napas berat ketika melihat tumpukan baju kotor. Lalu menguceknya dengan setengah mengantuk. 

Keberadaan sebuah mesin cuci—meski berharga murah—membuatnya hanya tinggal memasukkan pakaian, mengguyurnya dengan air, lalu memencet tombol pengucek. 

Ibu tidak lagi harus mengerahkan otot-otot tangannya untuk mengucek atau menyikat pakaian kotor. Ia pun bisa bangun sedikit melewati azan subuh—tidak harus jauh sebelum subuh—untuk meredakan letih yang membekas dari hari kerja sebelumnya. 

Pertama kali beli mesin cuci di rumah desa: dari dianggap kaya hingga buang-buang duit

Ketika meromantisasi mesin cuci pertama di keluarga, Gandika (25), pemuda asal Rembang, Jawa Tengah, mengamini di sisi itu: memudahkan ibunya. 

Salah satu hasil dari kerja kerasnya di perantauan memang ia wujudkan dalam bentuk hadiah mesin kotak pembantu mencuci baju untuk ibu. “Ibuku emang full ibu rumah tangga. Tapi aku pengin ngasih kemudahan ibu. Sekarang ada teknologi bernama mesin cuci, jadi biar tangannya nggak lecet-lecet kalau nyuci baju,” ungkap Gandika bercerita, Kamis (9/7/2026). 

Iklan

Tapi ada situasi lucu di lingkungan tetangganya. Ternyata, membeli mesin cuci punya nilai sosial dari sekadar alat bantu cuci baju: dianggap tetangga sebagai “orang kaya”. 

Kata Gandika, di lingkungan tetangganya di rumah desa, memang paradigmanya adalah: kalau beli alat-alat berharga mahal untuk sesuatu yang dianggap tidak terlalu urgen, maka dianggap punya uang lebih. 

“Mesin cuci dianggap nggak urgen karena kan urusan cuci baju harusnya masih bisa pakai tangan,” tutur Gandika. 

Satu sisi Gandika mengamini saja dianggap punya uang lebih. Tapi memang ada juga tetangga julid yang menganggap Gandika buang-buang uang dan gaya-gayaan. 

“Nyuci baju aja harus pakai mesin cuci. Kok ya buang-buang duit,” begitu salah satunya. Karena memang penggunaan mesin cuci otomatis berpengaruh pada biaya listrik bulanan. 

Anggapan kurang manteb-kurang afdal sebagai ibu rumah tangga

Kejulidan si tetangga julid tidak hanya berhenti pada persoalan dianggap “buang-buang duit”. Mencuci di mesin dianggap tidak memberikan kesan manteb. Sebab, mesin hanya berputar-putar, tidak ada proses mengucek atau menyikat noda. 

Gandika ingat, awal-awal ia membelikan mesin cuci untuk ibunya di rumah, saat sang ibu sedang srawung dengan tetangga di desa, ada yang nyeletuk: Kalau aku kok kurang manteb. Sepertinya nggak bersih kalau cuma diputer-puter. 

Mencuci manual dengan tangan dirasa lebih afdal. Selain bisa memastikan noda terangkat sepenuhnya, para ibu-ibu juga merasa lebih paripurna menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga.

Kalau jadi rongsokan tidak ada gunanya

Mesin cuci pertama tersebut memang sudah rusak dan menjadi rongsokan. Tapi tidak lama setelah rusak dan tidak tertolong, Gandika—karena ada rezeki lebih—kemudian membelikan lagi yang baru untuk ibunya. 

“Aku memang pengin memanjakan ibu. Tugasnya di rumah udah banyak. Dari masak, bersih-bersih rumah. Jadi kalau aku bisa meringankan satu aja, dalam hal ini ya urusan cuci-mencuci, aku merasa lega,” beber Gandika.

Saat mesin cuci pertama rusak, Gandika sebenarnya memberi sang ibu uang untuk memanggil teknisi untuk dibetulkan. Awalnya bisa, dengan harga jasa ratusan ribu. 

Setelah itu, mesin cuci tersebut rusak lagi. Ya diperbaiki lagi. Tapi di kemacetan berikutnya, mesin cuci tersebut sudah tidak tertolong sehingga diletakkan di gudang rumah sebagai rongsokan, sebelum akhirnya beli lagi. 

“Julidnya tetangga julid ya baru lagi itu. Misalnya, lah iya, kalau rusak ya jadi rongsokan, nggak ada gunanya kok ya tetap dibeli,” kata Gandika mencontohkan. Apalagi setelah si tetangga tahu, kalau mesin cuci pertama itu saat dirongsokkan ke tukang rosok hanya dihargai “recehan”. 

Tapi Gandika tidak pernah peduli apa omongan tetangga. Baginya, mesin cuci adalah kepanjangan tangannya untuk membantu ibu—dalam konteks mencuci pakaian—sepanjang Gandika masih berjibaku di perantauan.  

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Ironi Perempuan di Desa: Dihambat Tumbuh dan Maju karena Crab Mentality atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 10 Juli 2026 oleh

Tags: harga mesin cucikeuntungan punya mesin cuci di rumahmesin cucimesin cuci awetmesin cuci bekasmesin cuci merek bagusmesin cuci murahmesin cuci rusakrumah di desatetangga julidtips cuci bajutips mencuci baju
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO
Cuan

Cara Generasi Sandwich Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun

26 Mei 2026
Punya rumah dengan halaman luas di desa jadi sumber konflik tetangga dan keluarga MOJOK.CO
Catatan

Punya Rumah dengan Halaman Luas di Desa Kerap Disalahpahami, Dinikmati Tetangga tapi Jadi Sumber Konflik Keluarga

25 Mei 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO
Catatan

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO
Sehari-hari

Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri

14 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026
Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah MOJOK.CO

Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah

8 Juli 2026
Selain ke petugas Sensus Ekonomi, warga desa juga jengah dengan program sensus dari mahasiswa KKN MOJOK.CO

Warga Desa Juga Jengah dengan Sensus dari Mahasiswa KKN: Tak Nemu Gunanya, Tak Srawung tapi Korek Privasi Orang

8 Juli 2026
Pertama kali beli mesin cuci di rumah desa, kena julid tetangga MOJOK.CO

Pertama Kali Beli Mesin Cuci di Rumah Desa: Terharu Ringankan Beban Ibu hingga Dianggap Buang Duit oleh Tetangga Julid

10 Juli 2026
Essay Contes Beswan Djarum: menulis esai memberi soft skills yang menunjang karier profesional MOJOK.CO

Menulis Esai Jadi Bekal Karier Anak Muda, Beri Ragam Soft Skills Vital yang Dicari Dunia Kerja Profesional

3 Juli 2026
Pelajaran mahal setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI MOJOK.CO

Pelajaran mahal yang saya dapat setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI: Saya pikir sudah berhitung dengan benar tapi pasar berpendapat lain

9 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.