Belum mempersiapkan jalur seleksi PTN lain akibat gagal SNBP
Untuk dapat mewujudkan mimpinya kuliah di PTN, setidaknya Aria mempunyai kesempatan lain melalui dua jalur seleksi, yakni SNBT dan UM.
Masalahnya adalah pengumuman SNBP tidak berjarak jauh dengan SNBT dan UM. UTBK-SNBT akan dilaksanakan pada 21 sampai 30 April 2026. Artinya, kurang dari satu bulan lagi, Aria sudah harus siap mengikuti UTBK agar dapat berkuliah di PTN.
Strategi untuk UTBK-SNBT juga harus dilakukan segera, termasuk menentukan pilihan PTN yang dirasa rasional dan berpeluang diterima. Sebab, pendaftaran akan ditutup dalam kurang dari seminggu pada 7 April 2026.
Sementara itu, UM UGM, misal, diselenggarakan pada 2 sampai 6 Juni 2026.
Meski terlihat masih ada cukup waktu untuk mempersiapkan, rasa was-was diterima atau tidaknya di PTN bertahan semakin lama. Aria harus mencari akal untuk dapat mewujudkan impian kuliah di PTN sampai dengan selesai ujian di UGM pada bulan Juni.
Persoalan lainnya adalah Aria belum mempersiapkan itu semua, serta masih merasa sedih setelah gagal SNBP. Padahal dengan waktu yang sempit, Aria makin merasa terhimpit dan serbasalah.
“Waktunya sudah mepet, dia belum siap apa-apa,” keluh Maria.
“Dia belum tahu mulai dari mana. Takut belum siap, tapi bingung nyiapinnya,” ujarnya.
Padahal, kuliah di PTN tidak menjamin masa depan
Dari sudut pandang seseorang yang juga mengikuti SNBP dan SNBT (dahulu SNMPTN dan SBMPTN), tekanan untuk lolos memang tinggi. Tidak bisa dipungkiri, kegagalan yang diprediksi sekalipun tetap membuat diri merasa tidak pantas.
Namun sebagaimana yang saya ingin katakan sejak awal, gagal SNBP atau kuliah di PTN tidak menentukan masa depan. Persiapan yang mepet dengan waktu tes juga masih memungkinkan, asalkan punya optimisme.
Sebab, dari artikel mengenai bimbingan belajar (bimbel) untuk lolos SNBT yang pernah dituliskan Mojok sebelumnya, Ning (23) meyakinkan masih ada kemungkinan lolos UGM dengan persiapan terbatas.
Ning tidak ikut bimbel. Ning belajar mandiri melalui platform belajar online, tetapi lolos UM UGM.
“Pas zaman SMA dulu, pulang sekolah teman-teman sekelas langsung mencelat ke bimbelnya masing-masing. Aku langsung pulang karena bimbelku ya langganan Zenius yang waktu itu setahun Rp400 ribu,” katanya, Selasa (3/3/2026) lalu.
Artinya, Aria masih memiliki peluang untuk dapat lolos seleksi PTN dengan melanjutkan perjuangannya. Melihat mahasiswa UGM seperti Ning yang tidak mengikuti bimbel menjadi pemacu Aria dan siswa SMA lainnya yang belum berkesempatan lolos SNBP untuk mengejar jalur seleksi lain dengan mempersiapkan semaksimal mungkin.
Sekiranya dapat membuat mereka merasa yang belum hoki dengan seleksi rapor merasa lebih baik, kegagalan ini juga tidak akan berlangsung selamanya. Berhasil berkuliah di PTN sekalipun, saya ingat percakapan dengan seorang teman lulusan UGM, masih harus berjuang untuk mendapatkan pekerjaan.
“Susah cari kerja. Lulus UGM juga, udah lamar sana-sini…”
Tak hanya itu, berdasarkan temuan riset LPEM FEB UI, lebih dari 4 juta orang lulusan S-1 masih melaporkan upah di bawah Upah Minimum Kabupaten (UMK). Gelar sarjana sekalipun nyatanya tidak sepenuhnya melindungi dari risiko kehidupan selanjutnya, seperti upah rendah sebagai pekerja.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














