“Ke mana, Mbak e? Mau tak bantu dorong? (Mau ke mana Mbak? Mau saya bantu dorong),” kata dia di Jalan Kaliurang, Jogja.
“Boleh Pak, mau ke bengkel. Nggak jauh dari sini,” jawab saya.
Sampai kemudian, motor saya akhirnya “dirawat”. Perawatan membutuhkan waktu sekitar satu jam, sementara saya harus tiba di tempat liputan pukul 14.00 WIB.
Awalnya, saya ingin meninggalkan motor tersebut dan mengambilnya esok hari. Lalu memesan ojol untuk melanjutkan perjalanan. Sialnya, sinyal internet saya ilang-ilangan sejak pagi dan tak ada WiFi.
Akhirnya saya memilih menunggu, sembari getir melihat motor butut saya yang tak menyala meski di-starter berkali-kali. Saya pun terus menatap jam di gawai, berharap acara yang akan saya hadiri tak selesai terlalu cepat hingga saya tiba.
Listrik padam dan sinyal internet yang hilang
Saat motor saya menunjukkan tanda-tanda menyala, barulah saya sadar harus menyiapkan uang untuk membayar. Sialnya, saya tak bawa uang tunai yang cukup, sementara internet di gawai saya masih mati sehingga tak bisa mengakses e-money. Saya pun pamit ke tukang bengkel sebentar untuk pergi ke Alfamart terdekat sebelum motor saya benar-benar “sembuh”.
Saya jalan kaki menuju Alfamart yang ternyata tak menyediakan mesin ATM. Dari situ sebenarnya saya agak ragu pergi ke toko retail berikutnya, karena kondisi di sana gelap. Tanpa memikirkannya lebih lanjut, saya pergi ke Indomaret dari arah yang berlawanan.
Dan ternyata keraguan saya benar. Sebab, meski toko tersebut menyediakan mesin ATM tapi kondisinya sedang mati lampu di beberapa tempat. Pantas saja, kondisi Alfamart yang saya kunjungi sebelumnya juga gelap dan tak ada sinyal.
Sebenarnya, kondisi listrik padam ini sudah sering saya alami. Bahkan saya sering pindah ke daerah kota untuk mencari sinyal. Namun, tetap saja kondisi ini menyebalkan, apalagi di saat kondisi cuaca sedang buruk.
Alhasil, saya kembali ke bengkel tanpa membawa apa-apa. Dengan nada memelas, saya bilang ke tukang bengkel tentang kondisi saya. Untungnya, ia memperbolehkan saya berutang sampai listrik menyala sehingga saya bisa mentransfer uang.
Inikah yang disebut “Jogja Istimewa”?
Saya pun pamit dan melanjutkan perjalanan ke tempat liputan. Ternyata di daerah Kota Jogja sudah ada sinyal sehingga saya mengirim utang ke tukang bengkel. Beruntungnya lagi, acara masih belum selesai saat saya tiba di sana. Acara itu selesai sekitar pukul 16.30 WIB.
Setelahnya, saya tak langsung pulang ke Kaliurang karena takut listrik masih padam dan tak ada sinyal. Akhirnya saya benar-benar pulang pukul 23.00 WIB untuk mengetik di coffee shop. Dalam perjalanan, saya mampir ke Indomaret untuk sekadar menenangkan pikiran dari banyaknya kejadian yang saya alami sejak pagi tadi.
Namun, alih-alih tenang, hati saya justru perih. Saya melihat beberapa orang yang juga istirahat di sana. Mulai dari tukang ojol yang terlihat basah kuyup, pengamen dengan kostum boneka Doraemon yang memejamkan matanya sembari bersandar di tiang dekat pintu masuk, dan pedagang kerupuk yang terlihat duduk di lantai sembari menjaga plastik dagangannya yang masih penuh.
Pemandangan itu, dan kejadian yang saya alami sejak tadi pagi membuat saya pikir, ah beginikah kehidupan slow living yang diidamkan orang-orang Jakarta itu? Betapa bertolak belakangnya dengan slogan “Jogja Istimewa”.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Drama Merantau di Jogja: Dulu Enggan Cabut, Seiring Waktu Malah Tak Betah karena Realita atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














