Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Drama Merantau di Jogja: Dulu Enggan Cabut, Seiring Waktu Malah Tak Betah karena Realita

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
27 September 2025
A A
Berat tinggalkan Jogja saat lulus kuliah. Tapi saat merantau lagi ke sini malah tak betah karena tertampar realitas sebab tak se-slow living itu MOJOK.CO

Ilustrasi - Berat tinggalkan Jogja saat lulus kuliah. Tapi saat merantau lagi ke sini malah tak betah karena tertampar realitas sebab tak se-slow living itu. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menjelang lulus kuliah dari kampus di Jogja, rasa-rasanya amat berat meninggalkan “Tanah Sultan” tersebut. Sebab, Jogja memberi banyak kenyamanan dalam ritme hidup yang melamban (slow living). setelah paling tidak empat tahun merantau di sini.

Namun, setelah lulus, pulang ke kampung halaman untuk beberapa saat, lalu kembali lagi ke Jogja untuk tujuan lain, rasa-rasanya malah tak betah setelah merasakan realita hidup yang sesungguhnya.

Iklan

Romantisasi memuakkan kretaor konten

Sebuah akun media sosial dari seorang kreator konten kerap mampir di lini masa Instagram Zulva (25), seorang perempuan asal Jawa Barat.

Konten kreator—yang juga seorang perempuan—itu kerap membagikan konten yang sebenarnya “itu-itu saja”: Berat meninggalkan Jogja. Si kreator konten berkali-kali mencoba meninggalkan Jogja, pulang ke kampung halamannya. Akan tetapi, pada akhirnya Jogja menjadi tempatnya kembali.

Satu sisi Zulva mengamini bahwa setelah episode merantau di Jogja pasca lulus kuliah—dan harus pulang ke kampung halaman—memang ada perasaan kosong. Bahkan sumpek. Hati sudah terlanjur bertaut dengan Kota Gudeg itu.

Namun, rasa-rasanya romantisasi itu agak berlebihan—dan cenderung memuakkan. Tidak relate saja. Sebab, cara pandang seseorang sebelum lulus dari kampus (episode merantau) dan setelahnya bisa berbeda sama sekali. Begitu juga yang diungkapkan narasumber Mojok lain, Afifin (26), pemuda asal Jawa Timur.

Jogja istimewa karena orang-orang yang pernah dikenal

Saat masih merantau untuk kuliah di salah satu kampus swasta di Jogja, Zulva mengaku amat jarang pulang ke Jawa Barat. Dia merasa sangat betah di kota ini.

Zulva sempat galau setengah mati ketika dia dan beberapa teman kuliahnya sama-sama lulus pada 2022 silam. Karena Zulva dan mereka akan berpisah, kembali ke kampung halaman masing-masing.

“Waktu itu kami sampai bikin acara staycation perpisahan. Nangis-nangis. Kami saling cerita betapa Jogja sangat istimewa bagi mereka,” ucap Zulva, Minggu (21/9/2025).

Dari kampung halaman masing-masing, mereka juga saling berkirim reels Instagram di grup WhatsApp. Isinya: Meromantisasi Jogja, ungkapan gagal move on, dan saling berbagi momen nostalgik.

Sedih rasanya bagi Zulva. Itulah kenapa, dia hanya bertahan satu tahun di Jawa Barat. Sebelum akhirnya kembali merantau lagi ke Jogja untuk lanjut S2 di sebuah kampus negeri.

“Malah setelah balik buat S2, rasanya beda, aku jadi nggak betah di sini,” ujar Zulva.

Dari situ Zulva sadar. Jogja bisa menjadi istimewa karena orang-orangnya: Teman-temannya dulu. Sosok yang sudah tidak bisa dia temui lagi saat menempuh S2 itu.

Dia tentu punya teman baru di bangku S2. Akan tetapi, tidak ada teman yang bisa sangat dalam sebagaimana teman-teman S1-nya dulu.

Iklan

Dulu, bersama teman-teman S1-nya, Zulva sering kali melakukan banyak hal bersama. Nugas bareng. Nongkrong bareng. Hunting bareng. Seru lah. Kini dia merasa sangat kesepian, sehingga merasa tak betah berlama-lama di kota ini.

Dulu nyaman di Jogja karena tak punya beban hidup

Afifin mengamini itu. Hanya saja, dia punya cara pandang lain yang membuatnya dalam posisi “Dulu betah, sekarang malah tidak betah”.

“Dulu betah dan merasa nyaman karena aku pribadi misalnya, nggak punya beban hidup,” katanya.

Bagaimana tidak. Dulu dia tidak merasa kekurangana atau terhimpit apapun. Tidak ada beban hidup. Uang saku selama kuliah S1 di kampus negeri Jogja masih ditanggung oleh orangtuanya hingga lulus pada 2021.

Afifin bisa nongkrong di coffee shop sehari hingga tiga kali. Bisa makan tanpa kepikiran mahal atau tidak. Tak takut juga kehabisan uang karena kalau habis masih bisa minta lagi. Itu membuatnya merasa bisa hidup melamban di Jogja, tanpa tekanan.

Wajar saja jika akhirnya dia merasa berat ketika meninggalkan Jogja. Dia sempat gamang setelah lulus kuliah: Balik ke Jawa Timur atau menetap di Jogja. Tapi pilihan jatuh pada opsi kedua.

“Teman-temanku masih ada beberapa yang stay di Jogja. Tapi saat kami ketemu, sekarang jadi serba sumpek, adu nasib,” tutur Afifin.

Ternyata tak se-slow living itu…

Jogja slow living (katanya). Ah, kini ungkapan itu jadi bahan tertawaan getir bagi Afifin bagi Afifin.

Tidak ada istilah slow living. Afifin bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jogja. Gajinya sebenarnya sedikit di atas UMR. Tapi tetap terasa kurang karena dia akhirnya tahu, ternyata banyak hal serba mahal di sini: Makan, ngopi, hingga indekos.

“Kucoba bandingkan dengan Surabaya misalnya. Ternyata Surabaya, dari obrolanku dengan beberapa teman di sana, ternyata masih masuk akal. Masih gampang cari makan di harga di bawah Rp8 ribu. Di Jogja Rp15 ribu rata-rata. Begitu juga dengan ngopi dan indekos,” beber Afifin. Alhasil, Afifin merasa tertekan betul dalam upaya mengelola uang.

Afifin sedikit lebih beruntung. Karena ada beberapa temannya di Jogja yang berakhir menjadi pekerja bergaji rendah. Pekerja di sektor informal pun ada. Uang mereka selalu kurang, sehingga harus berhemat dan empet-empetan.

Ditambah lagi, kini mata Afifin lebih terbuka melihat Jogja secara utuh. Dulu pandangannya terbatas pada kampus dan tongkrongan yang penuh nuansa hedon dan slow.

Tapi kini dia melihat, betapa banyak orang di Jogja yang harus mati-matian bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi.

“Tapi tak bisa dimungkiri, banyak orang juga merasa tenteram. Karena mereka merasa cukup dengan hidupnya, nrima ing pandum,” sambung Afifin.

Ini soal persepsi saja

Zulva merasa kesepian. Sementara Afifin merasa penuh tekanan. Tapi mereka mengakui, ini hanya soal persepsi dan pengalaman subjektif keduanya saja.

Zulva memilih akan kembali ke Jawa Barat. Hidup tidak jauh dari rumah rasanya lebih baik ketimbang di rantau dengan kesepian yang menyiksa.

Sedangkan Afifin, sedang mencari opsi untuk kembali ke Jawa Timur. Bagi Afifin, Jogja memang nyaman sebagai tempat singgah. Tapi untuk menggantungkan hidup, bagi orang seperti Afifin yang merasa harus mencari angka yang lebih, sepertinya dia harus bergegas ke tempat lain.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Derita Mahasiswa Kuliah di Jogja yang Tak Disadari: Sulit untuk Lanjut Hidup di Jogja karena Properti yang Mahal, tapi Jika Lanjut, Harus Siap Bergesekan dengan Warga Lokal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 27 September 2025 oleh

Tags: biaya hidup jogjagaji jogjaJogjajogja slow lovingkampus jogjakemiskinan jogjamerantauMerantau di Jogjapilihan redaksislow livingslow living di jogjaumr jogja
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO
Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Karnaval sound horeg getarkan Jawa Timur tiap Agustusan. Dosa jariah di balik gengsi antardesa, dalih selawatan, hingga perputaran ekonomi di bawah MOJOK.CO
Sehari-hari

Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi

3 Agustus 2026
Pesan Menohok dari Ibu: Saat Doa Menjadi Satu-satunya Kuliah, Permintaan dan Jangan Sampai Tiang Itu Roboh di Perantauan MOJOK.CO
Sekolahan

Ortu Rela Melepas Anaknya Kuliah Mengejar Mimpi, tapi Dihantui Rasa Takut Salah Pergaulan di Perantauan

31 Juli 2026
Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO
Sekolahan

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Cinta yang Tak Berbalas Bikin Perempuan Crush Recession hingga Belum Menikah. MOJOK.CO

Crush Recession: Jatuh Cinta Terasa Melelahkan, bikin Perempuan Malas Pacaran

4 Agustus 2026
Penyesalan Saya Menerima Tawaran Bridesmaid dari Mantan Sahabat, Peran Paling Tak Berguna dalam Sebuah Pernikahan MOJOK.CO

Penyesalan Saya Menerima Tawaran Bridesmaid dari Mantan Sahabat, Peran Paling Tak Berguna dalam Sebuah Pernikahan

31 Juli 2026
10 Tahun Persahabatan Berujung Cut Off Mengajari Saya Satu Hal: Kita Bukan Jahat, tapi Memang Sudah Tak Sejalan MOJOK.CO

10 Tahun Persahabatan Berujung Cut Off Mengajari Saya Satu Hal: Kita Bukan Jahat, tapi Memang Sudah Tak Sejalan

31 Juli 2026
Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya

4 Agustus 2026
Alasan seorang ibu tak ragu kuliahkan anak di Universitas Terbuka (UT). Perjalanan dan pencapaian anak jadi jawabannya MOJOK.CO

Saat Ibu Dukung Anak Kuliah di Universitas Terbuka (UT): Berbuah Pencapaian Membanggakan

30 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.