Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
25 Maret 2026
A A
Stasiun Tugu Jogja lebih buruk dari Stasiun Lempuyangan. MOJOK.CO

ilustrasi - Keluar Stasiun Tugu Jogja Langsung Disuguhi "Ujian Nyata". (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Harga ojol di Stasiun Tugu Jogja lebih mahal 

Biasanya, tarif kepulangan saya pakai ojol dari kos di Kaliurang menuju Stasiun Lempuyangan adalah Rp51 ribu. Saya pun sudah tahu harus menunggu ojol di mana, kalau tidak di area bawah jembatan layang (flyover) ya di sekitar pertigaan dekat patung musik.

Sementara, tarif ojol saya dari Stasiun Tugu Jogja adalah Rp71 ribu. Seketika saya mbatin (mengeluh dalam hati), karena saya pikir tarifnya tidak jauh berbeda dengan pesan ojol di Stasiun Lempuyangan. Setidaknya, rentang harganya antara Rp5 ribu hingga Rp10 ribu. Tidak sampai Rp20 ribu.

Toh, jarak Stasiun Tugu Jogja dan Stasiun Lempuyangan hanya 3 kilometer tapi tentu saja ada banyak faktor selain jarak. Bisa jadi karena saya pesan saat malam hari sekitar pukul 20.30 WIB—waktu tiba KA Sancaka di Stasiun Tugu Jogja. Atau karena memang musim Lebaran.

Belajar dari pengalaman saya pesan ojol di Stasiun Lempuyangan, saya memutuskan berjalan agak jauh dari Stasiun Tugu Jogja. Alih-alih belok kanan dari pintu keluar—tempat penjemputan instan, saya justru belok kiri ke arah food court. 

Saya berniat membeli jajan sekalian menunggu pesanan saya diterima ojol. Namun makin saya berjalan menjauh, suasana makin ramai. Saya baru sadar, kalau berjalan lurus, saya bakal tiba di Jalan Malioboro. Sebelum berada di tengah keramaian, saya pindah ke sebuah warung dalam gang dekat Hotel Mulia Kencana dan memesan ojol di sana.

Harus menunggu hampir 1 jam di Stasiun Tugu Jogja

Jika melihat lewat aplikasi, saya seharusnya menunggu selama 8 menit sampai bapak ojol yang saya pesan tiba. Namun, setelah lama saya menunggu, bapak ojol akhirnya mengirim pesan suara.

“Kak boleh tunggu di Arte Hotel saja nggak? Karena jalannya macet,” ujarnya.

“Arte Hotel ya Pak? Baik saya tunggu di sana,” ucap saya.

Saya yang awalnya kesal karena harus kembali melewati Stasiun Tugu Jogja sambil menenteng tas berat, tak sampai hati protes ke tukang ojol mengingat kondisi jalanan yang sangat ramai. 

Sampai akhirnya, 40 menit kemudian, kami bertemu. Ia pun meminta maaf karena membiarkan saya menunggu terlalu lama dan mengubah titik jemput sehingga saya harus berjalan sekitar 400 meter. 

Alih-alih protes, saya merasa perlu mengeluarkan skill kesabaran saya yang sudah saya latih selama puasa kemarin. Di Stasiun Tugu Jogja saya menghadapi ujian nyata untuk belajar empati terhadap kondisi orang lain. Lebih dari itu, saya juga belajar soal esensi bulan Ramadan yang paling mendasar yakni saling memaafkan.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Stasiun Tugu: Saksi Ratapan Warga Kecil di Gemerlap Ulang Tahun Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 25 Maret 2026 oleh

Tags: JogjaKA Sancakaka sri tanjungLebaranMudikStasiun LempuyanganStasiun TuguStasiun Tugu JogjaStasiun YogyakartaSurabaya
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Tukang parkir coffe shop di Jogja, parkir liar, desa.MOJOK.CO
Catatan

Tukang Parkir di Desa Lebih Amanah Ketimbang Jukir di Kota, Tak Ada Drama Getok Harga apalagi Makan Gaji Buta

14 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)
Pojokan

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Skripsi Jurusan Antropologi Unair susah. MOJOK.CO

Kecintaan Mengerjakan Skripsi di Jurusan Antropologi Unair, Malah Jadi “Donatur Tetap” dan Tersadar karena Nasihat Timothy Ronald

14 April 2026
Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit MOJOK.CO

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

10 April 2026
Arif Prasetyo, alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta penerima LPDP. MOJOK.CO

Kerap Didiskriminasi Sejak Kecil karena Fisik, Buktikan Bisa Kuliah S2 di UIN Sunan Kalijaga dengan LPDP hingga Jadi Sutradara

13 April 2026
Alfath, mahasiswa berprestasi UGM Jogja lulusan SMK di Klaten

Sempat Banting Tulang Jadi Kuli Bangunan saat SMK, Kini Pemuda Asal Klaten Dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi UGM

11 April 2026
Tidak mau ikut CPNS karena tidak mau jadi PNS/ASN atau abdi negara

PNS Pekerjaan Paling Menjanjikan, tapi Ada Orang yang Memilih Tak Menjadi Abdi Negara karena Tidak Mau Menggadaikan Kebebasan

14 April 2026
slow living, desa, warga desa.MOJOK.CO

Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga

9 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.