Dijejal-jejal dan tergencet karena tipuan kernet dan sopir
Meski sudah terbiasa naik bus ekonomi dengan suasana semacam itu, saya tidak menampik bahwa sesekali saya juga merasa dongkol dan frustrasi, sampai menghela napas berkali-kali.
Bus meninggalkan Terminal Terboyo, Semarang, dengan kondisi sudah penuh sesak oleh penumpang. Kursi-kursi penuh. Dari depan sampai belakang pun sudah berdesakan para penumpang yang mau tidak mau harus berdiri.
Sopir, kernet, dan kondektur bus bukannya tidak melihat kalau busnya sudah penuh sesak. Namun, setiap lambaian tangan di tepi jalan selalu tampak sebagai “uang menggiurkan” untuk mengejar target setoran.
Maka, setiap penumpang yang ditemui di jalan pasti akan diangkut, dengan sedikit rayuan dan tipuan.
“Ayo naik, tengah kosong, tengah kosong!” Teriak si kernet.
“Ayo naik, ini bus terakhir, terakhir!”
“Masih muat, ayo cepet. Masih muat ini, tengah-belakang kosong!” Seru kernet tiap ada calon penumpang yang bertanya sangsi, “Sudah penuh begitu, apa masih bisa?”
Lihat postingan ini di Instagram
Kebanyakan penumpang—karena memang memburu waktu—tertipu dengan seruan si kernet. Tak pelak saat naik dan melihat deretan manusia dijejal-jejal, si penumpang hanya bisa mendengus kesal. Bagaimana lagi, persis ketika satu kakinya menginjak pintu masuk bus, sopir akan langsung menginjal gas. Sekali terlanjur naik, tidak bisa serta-merta minta turun.
Para penumpang yang berada di dalam, yang sudah tergencet satu sama lain, jauh lebih kesal lagi. Hanya bisa gremeng-gremeng: “Kosong matane! Wong wis kebak iseh disesel-sesel (Kosong matanya! Orang sudah penuh masih dijejal-jejal).”
Sudah dijejal-jejal, tidak ada AC, setiap penumpang sudah pasti bermandi keringat. Aroma tak sedap dari tubuh pun menguar memenuhi bus.
Berdiri sepanjang jalan sampai mau pingsan
Masalah bagi penumpang yang berdiri sejak dari Semarang: jangan harap akan lekas mendapat tempat duduk. Sebab, kebanyakan penumpang baru akan turun di Pati dan Juwana. Artinya, jika tujuannya adalah Pati atau Rembang ke Timur, maka harus pasrah berdiri sepanjang perjalanan Semarang, Demak, dan Kudus.
Pada Sabtu malam pekan lalu itu, seorang ibu-ibu menjelang 50-an tahun dengan tujuan Juwana berdiri sampai mengeluhkan kakinya sangat linu, kepalanya pening, sampai kemudian mengaku mau pingsan.
Tidak ada yang berbagi kursi. Sementara jarak antara ia berdiri dengan kursi saya agak jauh dan sudah terkepung gencetan penumpang. Si ibu-ibu itu pun memutuskan duduk di bawah, meski itu justru membuatnya semakin tersiksa karena semakin kegencet.
Saya pun pernah mengalaminya pada masa awal merantau di Surabaya. Dalam kondisi puasa dan belum berbuka di hari-hari terakhir menjelang lebaran, saya harus berdiri dari Surabaya hingga Tuban.
Jika dari arah Semarang bus baru akan terasa lega setiba di Pati, daru arah Surabaya bus baru akan lega di Tuban. Artinya, jika sudah berdiri sejak di Terminal Bungurasih, maka harus pasrah berdiri sepanjang Surabaya, Gresik, dan Lamongan.
Pada momen saat hendak pingsan itu, saya pun memutuskan duduk nyempil di sela-sela kaki penumpang yang berdesakan. Alih-alih ada yang bersimpati, saya justru diberondong amarah karena dianggap nyrimpeti.
Tidak bisa mengeluh atau protes kalau tidak mau kena masalah
Mendapatkan kru bus ekonomi Surabaya ke Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri yang grapyak itu untung-untungan. Sering kali mendapat kru yang galak dan sengak.
Sekadar bertanya perkiraan tiba di lokasi tujuan atau tarif yang harus dibayar saja bisa jadi kesan tidak enak yang didapat penumpang. Apalagi jika penumpang protes.
Saya beberapa kali menyaksikan, ketika ada penumpang protes karena dijejal-jejal, atau mengeluh saat sopir bus ugal-ugalan, yang terjadi adalah si penumpang diberondong makian oleh kernet atau sopirnya langsung.
“Cangkeman, asu! Isa meneng ora kowe? (Berisik, anjing! Bisa diem nggak kamu?).”
“Cangkemmu iso meneng ora? Mbok sopir dewe ae piye? (Mulutmu bisa diam, nggak? Kamu sopir sendiri gimana?).”
Daripada kena masalah kan. Paling mentok penumpang hanya bisa gremeng-gremeng atau menghela napas panjang berkali-kali seperti saya.
Untung-untungan dapat bus ekonomi Surabaya ke Semarang yang tidak seperti Indonesia atau SInar Mandiri
Bus Sinar Mandiri memang sudah menjadi bahan rasan-rasan karena armadanya yang ringsek luar-dalam, ugal-ugalan, dan sering mengalami kecelakaan lalu lintas (laka lantas). Sementara bus Indonesia memang relatif hanya dikeluhkan saat sudah mulai menjejal-jejal penumpang.
Keduanya memang tidak melakukan peremajaan armada. Sehingga jangan harap ada kenyamanan lebih setiap naik dua armada bus tersebut.
Namun, bukannya tidak ada bus ekonomi Surabaya ke Semarang yang menawarkan kenyamanan lebih. Ada bus Jaya Utama yang tiga tahun belakangan melakukan peremajaan di banyak armada.
Dengan tarif ekonomi, armada baru Jaya Utama sudah menawarkan bus bagus, kursi nyaman, dan tentu saja AC. Bahkan, dalam beberapa kali kesempatan naik armada baru Jaya Utama, saya mendapati kesan menyenangkan dari awak bus. Terutama dari sopir dan kernet yang grapyak dan gemar bercanda dengan penumpang—terutama pada saat hendak menurunkan penumpang dari pintu depan.
Masalahnya, keberangkatan bus di pantura Surabaya-Semarang memang susah ditebak penumpang. Kalau bisa milih, jelas penumpang ingin menempuh perjalanan dengan armada baru Jaya Utama. Tapi kalau yang tersedia ternyata Indonsia atau Sinar Mandiri, mau apa?
Kalau mau mahal dikit dapat perjalanan tanpa siksaan
Kembali ke mobil travel yang mengantar saya ke Lasem…
Pada akhirnya, siksaan-siksaan itu membuat mahasiswa Jogja asal Lasem itu kapok naik bus ekonomi Surabaya-Semarang lagi. Ia memilih beralih menggunakan travel.
Bayarnya memang lebih mahal. Tarif untuk Rembang-Jogja ada di angka Rp185 ribu.
Akan tetapi, ia bisa merasakan perjalanan yang lebih nyaman, anti berdesakan, anti sumuk, dan siksaan-siksaan lain. Terasa lebih ringkas juga waktunya.
Ia kerap melakukan perjalanan di jam 6 pagi. Maka akan tiba di Jogja/Lasem di jam 12 siang. Secara durasi sebenarnya sama saja dengan naik bus. Bedanya, jam keberangkatan travel start dari jam 6 pagi dan langsung bisa bablas ke Jogja.
Berbeda dengan bus yang terbatas, khususnya untuk arah Jogja. Kadang harus nunggu lama, kadang malah ketinggalan jam. Begitu juga dari arah Jogja ke Semarang, waktunya terbatas.
Maka, jika ingin mempercepat kepulangan, naik travel menjadi pilihan mahasiswa Jogja tersebut. Lumayan, setengah hari sudah tiba di Lasem.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Jika Bus Sinar Mandiri Ketemu Jaya Utama, Sumber Selamat Kalah Ngawur: Jalan Rusak Pantura Jadi Arena Balapan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














