Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Sempat Bayar Rp5 Juta, Mahasiswa Papua Penerima Beasiswa di Jogja Telantar hingga Kelaparan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
12 Desember 2023
A A
mahasiswa papua kelaparan.MOJOK.CO

Ilustrasi kelaparan (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Puluhan mahasiswa Papua asal Raja Ampat, Papua Barat Daya, terlantar di Yogyakarta setelah beasiswa yang dijanjikan tak kunjung cair. Mereka juga mengaku mendapat “pungutan misterius” sebesar Rp5 juta. Permasalahan ini sudah dilaporkan ke Ombudsman RI Perwakilan DIY.

Sekretaris Jenderal Ikatan Pelajar-Mahasiswa Papua (Imapa) DIY, Irto Mamoribo, dalam laporannya kepada Ombudsman DIY menyebutkan bahwa sebanyak 28 mahasiswa yang terlantar itu sudah tiba di Yogyakarta sejak September lalu.

Semula, jelas Irto, mereka mendapat janji program beasiswa melalui Dinas Pendidikan oleh pemerintah daerah Raja Ampat.

“Ada beberapa program beasiswa. Dinas sendiri menawarkan ke adik-adik mahasiswa antara lain yang pertama program KIP. Kemudian program kontrak kerja sama, terus kemudian program Wakil Bupati,” jelas Irto dalam laporannya, Senin (11/12/2023).

Namun, masalah kemudian muncul setelah ia mengetahui bahwa ternyata belum ada kerja sama antara Pemda Raja Ampat dengan kampus-kampus yang tujuan. Bahkan, pihak universitas juga mengaku kalau kerjasama antara Pemda dengan mereka baru sebatas wacana saja.

“Sementara anak-anak [28 mahasiswa] sudah dikirim ke sini. Jadi mereka ini tidak tahu apa yang menjadi hak dan kewajiban mereka. Status beasiswa mereka ini belum jelas,” tegasnya.

Alhasil, Irto pun mendesak supaya Pemda Raja Ampat menandatangani nota kesepahaman (MoU) soal beasiswa ini. Tujuannya, kata dia, agar ada kejelasan bagi mahasiswa yang sebelumnya telah mendaftar.

“Kita desak Pemda segera melakukan MoU antara Pemda dan juga kampus. Dan mau tidak mau Pemda harus bertanggung jawab terhadap situasi dan kondisi teman-teman di sini,” tegasnya.

Mahasiswa Papua sempat kena pungutan Rp5 juta

Selain tak adanya kejelasan, Irto juga mengaku kalau korban 28 mahasiswa ini juga mendapat pungutan sebesar Rp5 juta. Uang ini wajib mereka bayar sekali dan berlaku sampai wisuda.

Menurut keterangan Irto, berdasarkan sejumlah cerita yang ia dapat, pungutan sebesar Rp5 juta ini dipergunakan untuk administrasi awal di kampus. Pada titik inilah Irto mulai merasa ada yang janggal pada beasiswa ini.

“Ini jadi timbul pertanyaan program model apa itu, kok mahasiswa diminta Rp5 juta. Padahal latar belakang orang tua mereka rata-rata di kampung dari nelayan semua, masa sekelas Dinas Pendidikan minta sama masyarakat,” jelasnya.

Oleh karenanya, Irto pun mendesak agar Pemda Raja Ampat bersikap transparan terkait program beasiswa itu. Apalagi, para mahasiswa yang sudah telanjur mendaftar juga telah tiba di Yogyakarta sejak dua bulan lalu. Ditambah lagi karena ketidakjelasan ini, sejumlah mahasiswa akhirnya terlantar.

“Kalau dari awal ada transparansi, misalnya Pemda transparan, mereka bisa dekat-dekat, kuliah di Papua yang biayanya bisa dijangkau. Yang jadi masalah Pemda tidak transparan. Fatalnya mereka di sini, terus Pemda cenderung lepas tangan,” ucapnya.

Harus menahan lapar di kos-kosan

Melansir Detik, salah satu dari 28 mahasiswa yang angkat suara terkait masalah ini adalah M (20). Dalam laporannya, M–yang merupakan salah satu mahasiswa program beasiswa itu–bercerita bahwa nasib mereka di Yogyakarta kini terkatung-katung.

Iklan

Oleh karena tak ada kejelasan kapan dana beasiswa akan mereka dapat, M sampai harus menahan lapar di kos-kosan.

“Uang kos, uang makan, itu semua ditanggung orang tua. Kemarin bahkan ada teman-teman yang belum sempat bayar kos mengingat orang tua latar belakangnya cuma nelayan,” ujar M, Senin (11/12/2023).

Tak hanya itu, mirisnya lagi M bahkan mengaku kalau ada temannya yang belum membayar sewa kos selama dua bulan. 

“Ada yang nunggak kos 2 bulan,” ungkapnya.

Sudah melaporkan dua oknum

Lebih lanjut, Irto juga bercerita bagaimana Pemda Raja Ampat bersikap lepas tangan soal pemberangkatkan para mahasiswa. Dia mengaku, karena banyak mahasiswa yang terlantar, ia pun harus  turun tangan mencarikan kos untuk adik-adik mahasiswa itu.

“Kontribusi Pemda adalah ketika mereka berangkatkan antar adik-adik sampai di sini. Setelah itu kos pun Pemda nggak bantu cari, saya yang cari, begitu pas lepas Pemda balik mereka cuma meninggalkan uang Rp300 ribu sampai dengan hari ini,” kata jelasnya.

Ia melanjutkan, biaya makan hingga kos saat ini ditanggung orang tua masing-masing mahasiswa.

“Jadi sejauh ini terkait dengan biaya kos mereka maupun makan minum tiap hari tidak ada kontribusi dari Pemda. Kontribusi dari orang tua, justru orang tua juga yang jadi korban,” kata Irto.

Karena itulah, dia mengatakan telah melaporkan dua oknum ke Ombudsman RI DIY. Mereka antara lain adalah oknum yang berdinas di Dinas Pendidikan Raja Ampat dan satunya merupakan seorang alumni.

“Iya dua oknum yang kami laporkan ke ORI, Dinas Pendidikan sama alumni,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Efendi

Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Kalau Orang Indonesia Omong Soal Papua, Mereka Omong Apa?

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 12 Desember 2023 oleh

Tags: kelaparanMahasiswa Jogjamahasiswa papua
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop
Sehari-hari

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

6 April 2026
Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja MOJOK.CO
Sekolahan

Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja

2 April 2026
Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat” MOJOK.CO
Sehari-hari

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026
Mahasiswa Pariwisata UGM Jogja belajar dari kepala suku di Raja Ampat, lebih dari ilmu kuliah
Sekolahan

Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata

13 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tidak memberi utang saat teman pinjam uang selalu dicap jahat dan dijauhi dari pertemanan MOJOK.CO

Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat

8 Mei 2026
Joki UTBK SNBT di Surabaya raup cuan Rp700 juta demi kebutuhan hidup. Kedokteran jadi incaran MOJOK.CO

Joki UTBK SNBT Bisa Raup Rp700 Juta: Buat Kebutuhan Hidup karena Keterbatasan, Cuan Gede dari Jurusan Kedokteran

10 Mei 2026
Lulusan UNJ berkebun di Bogor. MOJOK.CO

Alumnus UNJ Jurusan Pendidikan Bahasa Perancis, Pilih Berkebun di Bogor sekaligus Ajak Warga Keluar dari Jurang Kemiskinan

8 Mei 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO

JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk

8 Mei 2026
Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa? MOJOK.CO

Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa?

6 Mei 2026
modus kekerasan seksual.MOJOK.CO

Jejak Digital Kekerasan Seksual Bikin Trauma Anak Berkepanjangan, Pemulihan Korban Tak Cukup Hapus Konten

9 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.