Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Pesan untuk Massa Aksi ‘Jogja Memanggil’ dari Mereka yang Terlihat Tenang di Kejauhan

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
20 Februari 2025
A A
Aksi 'Jogja Memanggil' di Malioboro. MOJOK.CO

Poster massa aksi 'Jogja Memanggil' di Malioboro. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Para pedagang, pegawai ruko, tukang becak, bahkan pengunjung di Malioboro ikut mendukung aksi ‘Jogja Memanggil’. Meski tak ikut berpanas-panasan turun ke jalan, mereka percaya aksi itu bakal memberikan secercah harapan di tengah kondisi Indonesia yang ‘gelap’.

***

Ribuan mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat menggelar aksi “Jogja Memanggil” pada Kamis (20/2/2025). Mereka memadati Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta sejak pukul 12.00 WIB. Jalanan pun jadi lumpuh, tak bisa dilalui pengendara.

Menurut pantauan Mojok, ruko-ruko di sepanjang Malioboro tetap buka. Beberapa pegawai tampak keluar dan melihat aksi dari depan pintu. Para pengunjung yang mulanya berniat jalan-jalan ikut menyoroti aksi. Beberapa pengunjung terlihat mengabadikan momen tersebut menggunakan gawainya.

Kebanyakan pengunjung maupun pekerja non-formal di sekitar Malioboro tak terlalu paham tentang tuntutan yang dibawa massa, tapi mereka mengaku ikut senang dan mendukung aksi tersebut. Sebagian warga sepakat jika akhir-akhir ini Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Kritik satire dalam ‘Jogja Memanggil’

Meski dipadati massa, kawasan Malioboro, Jogja tetap buka seperti hari-hari biasa. Bahkan para pegawai ruko ikut mematikan musik yang sebelumnya disetel melalui pengeras suara. Dengan begitu, nyanyian massa lebih terdengar bergemuruh. 

Sepanjang Jalan Malioboro, massa menyanyikan lagu-lagu nasionalis seperti Indonesia Pusaka. Ada juga nyanyian kritik yang mereka buat sendiri untuk mengekspresikan kejengkelan mereka terhadap kebijakan pemerintah Prabowo-Gibran, yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan masyarakat.

Aksi di Malioboro. MOJOK.CO
Mahasiswa ikut aksi Jogja Memanggil di Malioboro. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Kami menolak inpres mengenai efisiensi anggaran, prioritaskan pendidikan dan kesehatan. Sahkan RUU perampasan aset dan sebagainya,” kata koordinator lapangan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Mustofa saat ditemui di Parkiran Abu Bakar Ali, Jogja Kamis (20/2/2025).

Sekilas, tuntutan massa aksi juga terlihat dari tulisan-tulisan poster aksi. Misalnya, “Nanti siang makan apa? Makan beban gratis (MBG)”, “Wujudkan pendidikan gratis, tolak UU Minerpa, Indonesia Gelap”, “TNI multifungsi polisi, shoot you sadistically 1312”, “1 Presiden berbagai insiden”, dan sebagainya.

Suara-suara rakyat yang tak terjamah

Beberapa pengunjung Malioboro yang berjalan di pedestrian ikut menyunggingkan senyum saat melihat masa aksi bernyanyi. Sedangkan, sebagian di antaranya tampak biasa saja. Seorang bapak tua bahkan tampak tertidur pulas di atas becaknya. Dua pasang kakek dan nenek sedang duduk di bangku pedestrian, mereka menikmati nasi kucing yang baru dibeli sembari menonton massa aksi.

“Saya sih nggak terganggu dengan aksi ini, malah senang melihat semangatnya anak-anak muda. Yang penting nggak anarkis,” ujar Sumi (57) yang masih menunggu suaminya menghabiskan nasi kucing.

Sumi merasa kebijakan di Indonesia makin ke sini makin tak jelas dan menyengsarakan masyarakat. Misalnya saja, soal isu gas elpiji 3 kilogram dilarang dijual ke pengecer. Akhir-akhir ini, Sumi mengaku kesulitan membeli gas melon. Apalagi, diusianya yang semakin senja, ia tak bisa mencari gas ke tempat jauh.

Warga di sekitar Malioboro. MOJOK.CO
Pengunjung Malioboro melihat massa aksi. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Mending saya beli nasi kucing kayak gini. Harganya Rp3.500, nggak perlu masak. Mangkanya saya ajak Bapak,” ujar Sumi, “Ya semoga, aksi ini berjalan lancar syukur-syukur kalau didengar pemerintah,” lanjut warga asli Jogja tersebut.

Mengapa perlu aksi ‘Jogja Memanggil’?

Sementara itu, Nur, salah satu tukang becek yang sering mangkal di Malioboro mengaku terganggu dengan aksi tersebut, tapi berusaha memaklumi. Bagaimana tidak, siang tadi ia seharusnya mendapat pelanggan pertama tapi batal karena Jalan Malioboro sudah dipadati massa.

Iklan

“Ya mau bagaimana lagi. Tadi ada yang nyeletuk juga ‘ini demi Bapak dan kehidupan rakyat Indonesia ke depan’” ujar Nur menirukan kalimat salah satu massa aksi, “Ya saya senyum aja,” imbuhnya.

Sejujurnya, Nur tak paham bagaimana kondisi negara saat ini, apalagi tuntutan yang dibawa oleh massa aksi. Yang jelas, sepanjang pergantian presiden, kehidupannya ya masih begini-begini saja. Tak ada kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil, meski ia tak pernah absen mencoblos.

“Ya kalau kecewa, kecewa, tapi kan yang saya pikir gimana bisa bertahan, sehari saja. Yang penting saya masih bisa kerja, nyambut gawe untuk kebutuhan anak,” ujar pria asal Semarang itu.

Poster di Malioboro. MOJOK.CO
Karya seni dari elemen masyarakat yang dibentangkan dalam aksi ‘Jogja Memanggil’. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

‘Jogja Memanggil’ adalah rangkaian dari aksi ‘Indonesia Gelap’ yang digelar maraton di sejumlah wilayah termasuk Jakarta, Surabaya, Banda Aceh, hingga Papua. Jakarta sendiri sudah menggelar aksi ini sejak Senin (17/2/2025). Sementara, Kamis (20/2/2025) adalah puncaknya. 

Melansir dari akun Instagram Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Seluruh Indonesia, terdapat beberapa permasalahan selama 100 hari pemerintahan Prabowo-Gibran. Pertama, simpang siurnya kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebanyak 12 persen. 

Kedua, kabinet gemuk Prabowo. Ketiga, kebijakan makan bergizi gratis yang berimbas pada penurunan prioritas pemerintah yakni sektor pendidikan dan kesehatan. Keempat, pertanyaan Prabowo soal koruptor. Kelima, polemik gas elpiji 3 kilogram. Keenam, isu pagar laut.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Ketika Demo Tak Lagi Menarik di Mata Mahasiswa karena Kehidupan Makin Kapital atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 21 Februari 2025 oleh

Tags: demo mahasiswademo malioboroindonesia gelapjogja memanggil
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Artikel Terkait

Aliansi Jogja Memanggil menggelar aksi damai di bundaran UGM. MOJOK.CO
Aktual

Alasan Aliansi Jogja Memanggil Pilih Bundaran UGM Jadi Tempat Aksi, Bukan Malioboro

1 September 2025
Malioboro, Jogja, aksi demo.MOJOK.CO
Catatan

Curhat Pedagang di Malioboro yang Kerap Diintimidasi Preman: Dilarang Jualan, Kursi Dibuang, sampai “Diharamkan” Bantu Demonstran

2 Mei 2025
Prof. Al Makin: Menyelami Sejarah Peradaban Dunia untuk Menyikapi Tantangan Indonesia
Video

Prof. Al Makin: Menyelami Sejarah Peradaban Dunia untuk Menghadapi Tantangan Indonesia Gelap

23 April 2025
psht, demo.MOJOK.CO
Ragam

Memahami Alasan PSHT Jarang Kelihatan di Demo Mahasiswa, Meskipun Aslinya Mereka Ingin Ikut

25 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Ketika Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa MOJOK.CO

Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?

19 Januari 2026
InJourney salurkan bantuan pascabencana Sumatra. MOJOK.CO

Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM

17 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina

20 Januari 2026
Banjir di Muria Raya, Jawa Tengah. MOJOK.CO

Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026

20 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.