Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Ketika Demo Tak Lagi Menarik di Mata Mahasiswa karena Kehidupan Makin Kapital

Dahayu Aida Yasmin oleh Dahayu Aida Yasmin
12 November 2024
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ditilik dari konteks sejarah, demonstrasi (kemudian kita sebut demo), memang lekat dengan mahasiswa. Sejarah  ’98 bahkan mencatat, kejatuhan rezim Soeharto tidak lepas dari gelombang aksi yang dilakukan oleh mahasiswa. Namun, masa kini (atau mungkin di setiap zaman), ada saja mahasiswa yang memilih apatis: memilih tak ikut turun ke jalan atas situasi-situasi yang tengah memanas.

***

Di zaman ketika fresh graduate dituntut memiliki pengalaman setara puluhan tahun hanya untuk satu pekerjaan seperti sekarang, Wanda (21) merasa bahwa kewajiban sosial bagi mahasiswa untuk melek isu dan terlibat dalam aktivisme terlalu berat untuk dia jalani.

Wanda dikenal sebagai mahasiswa yang cukup berprestasi. Berbekal pengetahuan akademiknya, dia ingin fokus mengasah keterampilannya guna menyokong portofolionya. Tujuannya tentu untuk mempersiapkan karier setelah lulus kuliah. Oleh karena itu, untuk isu-isu di luar interest-nya, Wanda mengaku tak terlalu mengikuti.

“Pada dasarnya saya memang tidak ingin menjerumuskan diri ke macam-macam masalah. Selain itu saya juga kurang suka mengkaji suatu topik selain untuk pengembangan diri saya sendiri,”  ungkap mahasiswa di salah kampus Solo tersebut saat berbincang dengan Mojok pada Rabu (6/10/2024). 

Memang terdengar sangat acuh. Namun, bagi Wanda, setiap orang punya porsinya masing-masing. Wanda merasa, mungkin saja porsinya bukan berada di lingkaran aktivisme. 

Demo mahasiswa di media sosial lebih efektif

Tidak jauh berbeda dengan Wanda, Ray (21) pun berpikir demikian.

Ray adalah mahasiswa semester tua di salah satu kampus Solo yang juga memiliki latar belakang hampir sama dengan Wanda: punya fokus pada aspek akademik. 

Hanya saja, dia tidak se-apatis Wanda. Meski tidak pernah langsung turun ke jalan, Ray mengaku bahwa dia cukup sering menyuarakan opininya terhadap bermacam-macam isu. 

“Jujur saja, menurutku demo yang orasi-orasi seperti itu sudah nggak efektif lagi. Lebih baik melakukan campaign di media sosial, mata, dan telinganya lebih banyak di sana,” ujarnya. 

Lebih baik fokus amankan karier

Selain itu, Ray memang cenderung menghindari masalah-masalah yang bisa saja dia alami kalau ikut demo. Misalnya, tertangkap aparat, jadi korban kekerasan, dan sejenisnya.

Dalam pandangan Ray, statusnya yang masih mahasiswa membuatnya berada di rantai paling bawah tatanan sosial, baik di lingkup akademik maupun masyarakat. Oleh sebab itu, menurutnya, masa depannya akan sangat mudah direnggut jika dia terlalu mengusik mereka yang memegang status quo. 

Bagi Ray, yang paling penting saat ini adalah “mengamankan” kariernya terlebih dulu setelah lulus. Menurutnya, kontribusinya akan lebih berarti saat dia sudah berada di posisi yang lebih aman dan bisa banyak berbuat. Dan itu bisa ditempuh jika posisi akademiknya aman terlebih dulu.

“Menurutku akan sangat sayang kalau aspirasi yang kita suarakan cuma jadi angin lalu dan tidak terdengar. Jadi ya membangun jalan karier dulu aja untuk nanti memperbaiki dari dalam” jabarnya.  

Iklan

Padahal demo mahasiswa punya dampak besar

Pada dasarnya, ketidakpedulian akan bermuara pada ketidaktahuan. Mereka yang sudah menutup diri terhadap politik tidak akan tahu seberapa besar pengaruhnya di keseharian yang mereka jalani.

Selain itu, mereka juga tidak akan pham mengapa suatu isu dikategorikan sebagai masalah yang mengancam keberlangsungan hidup masyarakat secara kolektif.

Begitu lah pendapat Ichsan (21) tentang mahasiswa-mahasiswa yang memilih acuh terhadap aksi-aksi turun jalan. Sebagai Menteri Aksi dan Propaganda Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sebelas Maret Solo (BEM UNS), dia cukup sering berhadapan dengan kesulitan mencari massa untuk suatu aksi. Padahal, demo mahasiswa memiliki dampak besar terhadap perubahan. Hanya saja, Ichsan mencoba maklum.

“Budaya di setiap fakultas memang berbeda-beda, karena yang dipelajari juga beda. Jadi wajar saja kalau yang paling sering ikut aksi ya mereka yang secara langsung mempelajari  hal-hal yang dekat dengan kegiatan aktivisme, seperti FISIP atau FH,” tuturnya.

Seandainya….

Ichsan pada akhirnya tidak berharap muluk-muluk agar teman-temannya selalu ikut turun ke jalan untuk mengawal suatu aksi. Baginya, para mahasiswa menyadari alias tidak menampik bahwa demo punya dampak perubahan besar saja sudah cukup. Jangan malah menganggapnya tidak penting sama sekali.

Dalam penilaian Ichsan, apatisme mahasiswa dalam ranah aktivisme salah satunya bisa disebabkan karena faktor pendidikan saat ini yang mengarah ke paham kapitalis. Mahasiswa dipaksa untuk sibuk menyelamatkan kebutuhan dasarnya setelah lulus, sehingga jadi apatis dan tidak memiliki kesadaran politik. 

Seandainya beberapa kebutuhan dasar mahasiswa dan fresh graduate tidak perlu terlalu mereka pusingkan, Ichsan yakin akan lebih banyak mahasiswa yang peduli terhadap konteks substansial dan kondisi di sekitar mereka.  

Saat ini, Ichsan dan teman-temanya di Kementrian Aksi dan Propaganda BEM UNS masih terus berusaha untuk meluruskan dan menyadarkan para mahasiswa perihal esensi demo mahasiswa dalam mengawal kebijakan sebuah negara yang bakal berdampak secara luas. 

Penulis: Dahayu Aida Yasmin

Editor: Muchamad Aly Reza

Catatan:

Liputan ini diproduksi oleh mahasiswa Program Magang Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo periode Oktober-November 2024

BACA JUGA: Keresahan Mahasiswa Kampus Solo, Magang dengan Prospek Karier Menjanjikan malah Dipermasalahkan Dosen

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

 

 

                               

Terakhir diperbarui pada 12 November 2024 oleh

Tags: Demodemo mahasiswakampus soloMahasiswamahasiswa tak suka demo
Dahayu Aida Yasmin

Dahayu Aida Yasmin

Artikel Terkait

Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot
Sekolahan

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO
Esai

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit MOJOK.CO
Esai

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

10 April 2026
Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung MOJOK.CO
Esai

Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beri tip ke driver ojol. MOJOK.CO

Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

28 April 2026
3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak (Unsplash)

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

22 April 2026
perubahan iklim, cuaca ekstrem mojok.co

Cuaca Ekstrem Tak Menentu, Pakar UGM: Bukti Nyata Perubahan Iklim

24 April 2026
UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang.MOJOK.CO

UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang

27 April 2026
Derita guru CLC di Malaysia. MOJOK.CO

WNI Jadi Guru di Luar Negeri Dapat Gaji 2 Digit, Pulang ke Indonesia Malah Sulit Kerja

23 April 2026
Campus Leagu: kompetisi olahraga kampus untuk masa depan atlet mahasiswa MOJOK.CO

Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial

22 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.