Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Mencederai Demokrasi, Puluhan Warga Tapa Bisu di Tugu Jogja Tolak Politik Dinasti

Yvesta Ayu oleh Yvesta Ayu
16 Oktober 2023
A A
Mencederai Demokrasi, Puluhan Warga Tapa Bisu di Tugu Jogja Tolak Politik Dinasti MOJOK.CO

Puluhan warga Yogyakarta melakukana aksi tapa bisu di Tugu Yogyakarta, Senin (16/10/2023). (Yvesta Ayu/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sekelompok warga melakukan tapa bisu di Tugu Yogyakarta, Senin (16/10/2023). Aksi ini untuk merespon politik dinasti yang mungkin terjadi di Indonesia.

Mahkamah Konstitusi (MK) baru saja mengetuk palu penolakan gugatan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terkait batas usia calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Hal ini berarti menutup peluang putera sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadi cawapres dalam pilpres 2024 mendatang.

Meski demikian sekelompok  warga Yogyakarta yang menamakan diri Masyarakat Peduli Kebudayaan khawatir politik dinasti masih saja mengemuka. Meski tak menyebut langsung nama keluarga Jokowi yang terjun ke politik, mereka mengkhawatirkan politik dinasti akan merusakan tatanan demokrasi yang ada saat ini.

Karenanya puluhan anggota komunitas Masyarakat Peduli Kebudayaan pun menggelar aksi tapa bisu atau berdiam diri di  Tugu Jogja, Senin (16/10/2023). Sembari tapa bisu, mereka membakar kemenyan dan menaburkan bunga di ikon Kota Yogyakarta tersebut.

“Ini sebetulnya aksi damai kami sebagai komunitas peduli kebudayaan. Bagaimanapun kita punya kebudayaan, budi pekerti luhur. Jangan sampai negara kita yang sudah baik, sudah benar-benar demokrasi justru tercederai dengan isu dinasti politik,” papar koordinator aksi, Indroyoko di sela aksi.

Tapa bisu agar tak kembali ke Orba

Menurut Indroyoko, bila para penguasa memaksakan politik dinasti, maka mereka khawatir  Indonesia akan kembali pada masa Orba. Padahal saat ini demokrasi Indonesia sudah berjalan baik selama ini. Alih-alih demi kepentingan pribadi, para penguasa seharusnya memikirkan kepentingan rakyat.

“Karenanya maunya teman-teman komunitas dan pegiat budaya, kita menjaga dan mengawal demokrasi agar indonesia menjadi negara yang maju dan damai, sejahtera [tanpa politik identitas],” tandasnya di sela aksi tapa bisu.

Indroyoko menyatakan, politik dinasti sangat berbahaya bagi keberlangsungan iklim demokrasi di Indonesia. Kekuasaan yang turun temurun dan absolut dimungkinkan bisa merusak demokrasi yang sudah dibangun dengan susah payah pasca era reformasi.

Karenanya politik mestinya bisa berdaulat. Hal ini penting agar Indonesia kembali pada tujuan awal berdemokrasi.

“Kita masih mencium indikasi gejala politik dinasti, jangan sampai terjadi politik dinasti,” ujarnya.

Berbasis kebudayaan

Indroyoko menambahkan, demokrasi di Indonesia harus djalankan dengan basis kebudayaan dan budi pekerti luhur, tanpa muatan politik dinasti di dalamnya. Oleh sebab itu, pihaknya berharap, para pemimpin sekarang dan di masa mendatang bisa betul-betul berpikir bijak untuk kebaikan rakyat dengan menjaga demokrasi.

“Bagaimanapun kekuasaan yang turun-menurun dan absolut berpotensi merusak demokrasi yang sudah kita perjuangkan bersama-sama,” imbuhnya.

Reporter: Yvesta Ayu
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Mengenal Projo, Relawan Jokowi yang Kini Merapat ke Prabowo

Iklan

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2023 oleh

Tags: Pemilu 2024politik dinastitapa bisu
Yvesta Ayu

Yvesta Ayu

Jurnalis lepas, tinggal di Jogja.

Artikel Terkait

Demo di Jogja kawal putusan MK sekaligus lawan dinasti politik Jokowi bikin mahasiswa UNAIR Surabaya kagum MOJOK.CO
Ragam

5 Kultur Demo di Jogja yang Bikin Kaget Mahasiswa Surabaya, Jadi Pelajaran Penting dan Berharga

24 Agustus 2024
Prof. Masduki: Aksi Jogja Memanggil dan Alasan Jokowi Disebut Bapak Politik Dinasti Indonesia
Video

Prof. Masduki: Aksi Jogja Memanggil dan Alasan Jokowi Disebut Bapak Politik Dinasti Indonesia

24 Agustus 2024
Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, KKN Undip.MOJOK.CO
Kampus

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah

14 Juli 2024
Komeng: Olok-Olok Rakyat Biasa untuk Menertawakan Politik MOJOK.CO
Esai

Komeng Adalah Bentuk Olok-Olok Paling Menohok yang Mewakili Lapisan Masyarakat Biasa untuk Menertawakan Politik

19 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO

Kos Induk Semang: Tempat Terbaik buat Mahasiswa Irit dan Kenyang, tapi Menyimpan Sisi Lain yang Bikin Penghuninya Tak Nyaman

13 Mei 2026
Atmosfer kompetitif di Campus League 2026 – Basketball Regional Samarinda Season 1 MOJOK.CO

Meski Hanya Diikuti 4 Tim tapi Atmosfer Campus League Basketball Samarinda Tetap Kompetitif, Universitas Mulawarman Tak Terbendung

11 Mei 2026
Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Tongkrongan bapak-bapak, nongkrong.MOJOK.CO

Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

11 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.