Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Pro-Kontra Hukuman Mati Herry Wirawan: Tidak Korelatif dan Tak Membantu Pemulihan Korban

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
17 Januari 2023
A A
hukuman mati herry wirawan mojok.co

Ilustrasi narapidana (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO– Menyoal vonis mati yang dialamatkan kepada Herry Wirawan, Komnas Perempuan punya pandangan berbeda. Sebagaimana sikap awal yang pernah mereka sampaikan tahun lalu, lembaga ini konsisten menolak hukuman mati untuk Herry, serta semua terpidana yang divonis mati.

Mahkamah Agung (MA) secara resmi menolak permohonan kasasi Herry Wirawan, pemerkosa 13 santriwati di Pondok Pesantren Madani, Bandung, Jawa Barat. Dengan demikian, Herry dinyatakan tetap akan dihukum mati, sebagaimana putusan yang telah berkekuatan hukum tetap.

Mengutip laman resmi MA, kasus Herry bernomor 5642 K/PID.SUS/2022. Dalam surat tersebut, tercantum bahwa keputusan vonis hukuman mati telah diputuskan oleh Ketua Majelis Hakim, Sri Mulyani, sejak 8 Desember 2022.

“Amar putusan JPU (Jaksa Penuntut Umum) dan terdakwa ditolak,” tulis amar putusan MA, dikutip Senin (16/1/2023).

Sebagaimana diketahui, sebelumnya eksekusi mati terhadap predator seks Herry Wirawan masih harus menunggu putusan kasasi di Mahkamah Agung (MA).

Namun, setelah delapan bulan berlalu sejak Herry Wirawan mengajukan kasasi pascavonis mati Pengadilan Tinggi (PT) Bandung, MA tak kunjung mengeluarkan putusan. Maka, putusan MA itupun memperkuat putusan banding PT Bandung pada April 2022.

Menanggapi putusan tersebut, Kementerian Agama (Kemenag) berharap bahwa vonis yang dijatuhkan pada Herry dapat memberi efek jera.

“Semoga penegakan hukum atas pelaku kejahatan kemanusiaan, termasuk tindak asusila di lembaga pendidikan, ini bisa memberikan efek jera,” kata Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Waryono Abdul Ghafur.

Tak ada korelasi antara hukuman mati dan efek jera

Menyoal hukuman mati yang dialamatkan kepada Herry Wirawan, Komnas Perempuan punya pandangan berbeda. Sebagaimana sikap awal yang pernah mereka sampaikan tahun lalu, lembaga ini konsisten menolak hukuman mati untuk Herry, serta semua terpidana yang divonis mati.

“Komnas Perempuan, pada dasarnya menolak hukuman mati untuk pidana apa pun,” kata Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani, dikutip dari Detik, Senin (16/1/2023).

Menurut Andy, narasi yang beredar selama ini menyebut hukuman mati dapat memberi efek jera bagi para pelaku kejahatan, khususnya kekerasan seksual. Namun, ia menyebut bahwa sama sekali tidak ada kaitannya antara hukuman mati dengan efek jera.

“Kajian banyak negara mengenai hukuman mati menemukan bahwa hampir tidak ada korelasi antara efek jera dan hukuman mati,” kata Andy.

Jika disebutkan bahwa pelaku tak akan mengulangi kejahatannya, ia sepakat mengingat mereka dipastikan bakal kehilangan nyawa. Akan tetapi, apakah mereka dinilai jera atau tidak, ini tidak bisa dipastikan lantaran belum ada tolok ukur yang jelas.

“Sementara untuk masyarakat luas, fenomena hukuman mati juga tidak menunjukkan kausalitas yang cukup untuk menimbulkan efek jera,” kata Andy.

Iklan

Apa yang dikatakan Andy selaras dengan temuan profesor hukum Columbia University Jeffrey Fagan. Pada 2006 lalu, saat menyampaikan pemaparannya dalam Forum Kolokium Hukum Pidana, Fagan menyebut belum ada bukti valid yang menunjukkan korelasi antara hukuman mati dengan efek jera.

Menurutnya, persepsi hukuman mati bakal menimbulkan efek jera hanyalah pemikiran yang bersifat asumtif alias tidak berdasar. Fagan mengakui, memang pada tahun 1970-an muncul sejumlah penelitian yang mengklaim ada hubungan antara hukuman mati dengan efek jera. Namun, penelitian-penelitian tersebut cacat secara teknis dan metodologis.

“Saya memiliki beberapa keraguan tentang validitas sebab akibat [hukuman mati dengan efek jera]. Kejahatan itu sifatnya impulsif, bisa berulang, dan terjadi dengan faktor beragam seperti gangguan kognitif, kerusakan otak organik, merasa dilecehkan, penyalahgunaan narkoba, alkohol dan sejumlah faktor lain,” tulisnya.

Data Death Penalty Information Center pada tahun 2015 juga membuktikan bahwa sejak tahun 2008 hingga 2014, negara bagian di Amerika Serikat yang tidak menerapkan pidana mati justru memiliki tingkat kriminalitas lebih rendah dibandingkan negara bagian yang masih menerapkan pidana mati.

Tidak membantu pemulihan korban

Sejak pertama kali diputuskan pada 2016 soal vonis kebiri dan pidana mati bagi pelaku kekerasan seksual, nyatanya semenjak saat itu pula kasus serupa masih berulang. Bahkan, mengutip data Komnas Perempuan, pada 2016-2021 kasus kekerasan seksual terus meningkat tiap tahunnya.

Selain terbukti tak membawa efek jera, vonis mati juga tak membantu pemulihan korban kekerasan seksual. Peneliti hukum pidana Indonesia Judicial Research Society (IJRS) Dio Ashar Wicaksana menuturkan, bahwa dalam kasus kekerasan seksual, fokus utama seharusnya bukanlah penghukuman pelaku, tetapi aspek perlindungan terhadap korban.

Ia mengakui, memang dalam putusan hakim, pelaku bakal dikenai berbagai ganti rugi materiil buat pemulihan korban. Misalnya, kewajiban membayar restitusi sebesar lebih dari 300 juta rupiah.

“Tetapi perlu ditegaskan pula, bahwa setiap korban kekerasan seksual umumnya akan mengalami kerugian secara fisik dan psikis juga,” kata Dio, dikutip dari laman IJRS, Senin (16/1/2023)

Banyak korban, kata Dio, mengalami trauma dan ketakutan. Namun, sebagian besar proses penegakan hukum malah tidak menyelesaikan permasalahan yang dialami korban tersebut.

Padahal, aspek pemulihan korban harusnya diutamakan, baik melalui pendampingan hukum, psikis maupun medis, agar korban juga dapat menjalani pemulihan untuk fisik dan mentalnya.

“Jangan sampai fokus utama hanya sekedar tentang pelaku, tetapi mengabaikan aspek perlindungan dan pemulihan korban itu sendiri,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Amanatia Junda

BACA JUGA Keluarga Korban Minta Herry Wirawan Dikebiri

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2023 oleh

Tags: herry wirawankekerasan seksualPemilu 2024
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO
Aktual

Bayangkan Kalau Korban adalah Ibumu, Itu Nasihat Paling Nggak Guna bagi Pelaku Kekerasan Seksual

19 April 2026
Derita perempuan di grup WA mahasiswa FH UI. Isinya kekerasan seksual. MOJOK.CO
Sehari-hari

Nasib Perempuan di Tongkrongan dan Grup WA yang Isinya Laki-laki Mesum: Jelek Dihina, Cantik Dilecehkan

15 April 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO
Aktual

Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual

15 April 2026
Kesulitan korban kekerasan seksual dalam berbicara
Ragam

Korban Kekerasan Seksual Sering Jatuh Ditimpa Tangga: Sulit Bicara, Bukan Dipahami, tapi Malah Dihakimi

11 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Guru PPPK Paruh Waktu, honorer.MOJOK.CO

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

23 April 2026
Sulitnya menjadi orang dengan attachment style avoidant. MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi “Avoidant” Menjelang Usia 25, Takut Terlalu Dekat dengan Orang Lain hingga Pesimis Menikah

24 April 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
Derita guru CLC di Malaysia. MOJOK.CO

WNI Jadi Guru di Luar Negeri Dapat Gaji 2 Digit, Pulang ke Indonesia Malah Sulit Kerja

23 April 2026
Beri tip ke driver ojol. MOJOK.CO

Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

28 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.