Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Apakah ‘Stres Pemilu’ Itu Nyata? Jangan Abaikan, Bisa Sebabkan Masalah Fisik dan Mental

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
18 April 2023
A A
stres pemilu mojok.co

Ilustrasi gangguan kesehatan mental (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jelang Pemilu 2024, masyarakat di Indonesia sudah diwanti-wanti agar menjaga kesehatan fisik dan mental mereka, mengingat pemilihan serentak itu bakal sangat melelahkan.

Bagi para pemilih, kampanye, koar-koar debat politisi, dan laporan media bisa bikin mereka kelelahan (fatigue) karena keriuhan itu menganggu kehidupan sehari-hari. Baik masyarakat yang melek politik ataupun awam, dampaknya tetap sama.

Adapun bagi para simpatisan atau tim sukses politisi, pemilu bakal lebih melelahkan. Sebab, mereka punya harapan dan effort lebih besar ketimbang masyarakat biasa untuk bisa memenangkan jagoannya.

Sementara bagi politisi sendiri, pemilu rawan stres dan kecemasan (anxiety) mengingat ketidakpastian hasil yang bakal mereka dapatkan. Misalnya, perasaan ini pernah muncul pada politisi PSI Giring Ganesha menjelang Pemilu 2019 lalu.

“Saya pasrah. Mulas lah dari kemarin, semingguan kemarin sudah mulas, sempat kemarin kemarin agak stresnya tinggi, tapi beberapa semingguan ini malah lebih ikhlas, lebih pasrah,” kata Giring kala itu.

‘Stres pemilu’ itu nyata

Istilah election-stress disorder atau “stres pemilu” memang bukanlah diagnosis ilmiah. Namun, menurut psikiater Mayo Clinic Robert Bright, konsep ini nyata adanya.

“Kita merasakannya. Di tubuh kita, ketegangan di bahu kita, terkadang orang mengalami gangguan pencernaan atau sakit kepala, mengalami kesulitan tidur, gangguang tidur atau mengalami mimpi buruk tentang pemilu,” jelas Bright.

Faktanya, di Amerika sendiri sebanyak 68 persen orang dewasa mengatakan bahwa Pilpres 2020 lalu merupakan sumber stres yang signifikan dalam hidup mereka.

Data ini berdasarkan pada survei American Psychological Association tahun lalu. Bahkan, angka ini mengalami lonjakan dari pemilu edisi sebelumnya pada 2016. Efek disrupsi media sosial menjadi salah satu faktor pendorongnya.

Pemilu sebabkan stres antisipatif

Sementara itu, penelitian terbaru dari North Carolina State University (NCSU) berjudul “Combatting Election Stress: Anticipatory Coping and Daily Self-Reported Physical Health”, menemukan bahwa stres dan kecemasan jelang pemilu bisa sebabkan risiko stres antisipatif yang membahayakan kesehatan.

Stres antisipatif sendiri merupakan peningkatan respons stres terhadap situasi yang sulit atau tidak terprediksi.

“Ini adalah penelitian pertama yang menunjukkan bahwa stres antisipatif yang berkaitan dengan pemilihan umum dapat membahayakan kesehatan kita,” kata profesor psikologi Shevaun Neupert, penulis penelitian tersebut, mengutip dari laman resmi ncsu.edu, Senin (10/4/2023).

Riset ini mengacu pada data yang dari 140 orang dewasa dari seluruh Amerika Serikat. Peserta mengisi survei online setiap hari selama 30 hari, minggu-minggu sebelum dan sesudah pemilihan umum.

“Kami menemukan bahwa peserta mengeluhkan kesehatan fisik yang lebih buruk pada hari-hari ketika mereka juga memiliki tingkat stres antisipatif yang tinggi,” jelas Neupert.

“Artinya, mereka diperkirakan akan mengalami stres terkait pemilu dalam 24 jam ke depan,” imbuhnya.

Kata Neupert, penelitian ini memang bergantung pada peserta studi yang melaporkan tentang kesehatan mereka. Namun, pendekatan yang digunakan adalah yang paling dapat diandalkan dan secara konsisten terbukti menjadi indikator objektif kesehatan fisik dan kesejahteraan seseorang.

Tenang, bisa diatasi, kok

Meski cukup menyiksa fisik dan batin selama 24 jam ke depan, kata Neupert, ada strategi yang dapat berguna untuk membantu menjaga kesehatan saat menghadapi stres ini. Solusi tersebut, ia namakan dengan “analisis masalah” (problem analysis).

“Problem analysis, dalam hal ini, adalah ketika orang berpikir kritis tentang mengapa mereka yakin akan mengalami stres terkait pemilu selama 24 jam ke depan,” kata Neupert.

Iklan

“Misalnya, jika mereka berpikir mereka akan berdebat tentang pemilu dengan seorang kenalan dalam 24 jam ke depan, mereka mungkin memikirkan tentang ‘mengapa saya harus bertengkar?’ atau ‘tentang apa pertengkaran ini?’. Pada dasarnya, problem analysis adalah terlibat secara mental dengan masalah apa pun yang sedang mereka antisipasi,” lanjutnya.

Kata Neupert, problem analysis dapat membantu orang memikirkan cara untuk menghindari pertengkaran yang sedang mereka antisipasi. Atau membantu memikirkan cara untuk setidaknya membuat pertengkaran tidak terlalu panas.

Ia menerangkan, strategi ini efektif untuk meredakan stres pemilu, khususnya pada hari-hari menjelang pemilihan saat stres antisipatif menghampiri.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA 3 Faktor Penyebab Elektabilitas Ganjar Kembali Melesat di Survei SMRC

Terakhir diperbarui pada 18 April 2023 oleh

Tags: anxietykesehatan mentalmental healthPemilu 2024stres pemilu
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pelarian Laki-laki Burnout usai Dihantam Pekerjaan tapi Dipaksa Kuat karena Tuntutan Kepala Keluarga Ideal

20 Agustus 2026
TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana MOJOK.CO

TikTok Bukan Psikolog atau Psikiater, tetapi Gen Z Mencari Diagnosis Kesehatan Mental di Sana

17 Juli 2026
Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
Gen Z dihakimi milenial

Nasib Gen Z: Sudah Susah, Malah Serbasalah hingga Dicap “Gila” padahal Hadapi Krisis dan Hanya Mencoba Bertahan Hidup

30 April 2026
Sulitnya menjadi orang dengan attachment style avoidant. MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi “Avoidant” Menjelang Usia 25, Takut Terlalu Dekat dengan Orang Lain hingga Pesimis Menikah

24 April 2026
Solo date lebih asik daripada nongkrong bareng teman. MOJOK.CO

“Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama

23 April 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia MOJOK.CO

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X memimpin Upacara Peringatan HUT ke-81 RI di Gedung Agung.(MOJOK.CO)

Pesan Kemerdekaan Sri Sultan: Jogja Dibangun Tanpa Tergesa, tapi Juga Tidak Berhenti Melangkah

17 Agustus 2026
Saat adik saya jadi korban bullying (perundungan) di sekolah, pihak guru malah menganggapnya masalah biasa MOJOK.CO

Melabrak Guru usai Adik Jadi Korban Bullying di Sekolah hingga Cedera: Saya Justru Menerima Jawaban Memuakkan

18 Agustus 2026
Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran .MOJOK.CO

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Proyek Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk co-firing biomassa di PLTU langgengkan praktik perampasan tanah ala kolonial MOJOK.CO

Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Langgengkan Praktik Perampasan Lahan ala Kolonial

21 Agustus 2026
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.