Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

3 Faktor Penghambat Peran Perempuan Dalam Politik Menurut Khofifah

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
6 Desember 2022
A A
peran perempuan mojok.co

Ilustrasi Khofifah Indar Parawansa (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Saat ini keterwakilan perempuan di parlemen sebesar 20,52 persen atau 118 dari total 575 kursi di Senayan. Kendati mengalami kenaikan dari periode-periode sebelumnya, pencapaian ini masih diklaim rendah mengingat target pemerintah adalah 30 persen representasi.

Peran dan keterwakilan perempuan dalam dunia politik memang harus diakui masih cenderung kecil. Selain fakta bahwa anggota dewan perempuan jumlahnya tidak sampai seperempat, nyatanya ada hambatan-hambatan yang menyebabkan rendahnya representasi ini.

Lantas, faktor apa saja yang menjadi penyebab rendahnya representasi perempuan di perpolitikan Indonesia?

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, melalui tulisannya di International IDEA, menulis bahwa salah satu hambatan perempuan Indonesia dalam berpolitik adalah kentalnya budaya patriarki di masyarakat.

Dengan adanya budaya ini, muncul persepsi bahwa yang pantas memimpin adalah laki-laki. Kecenderungan ini pula yang terjadi dalam dunia politik, sehingga membikin peran-peran perempuan tereduksi.

“[Akhirnya] muncul anggapan bahwa tidaklah pantas bagi wanita untuk menjadi anggota parlemen,” tulis Khofifah, dalam Buku Seri Panduan berjudul Perempuan di Parlemen: Bukan Sekedar Jumlah tersebut.

Selain budaya patriarki, Khofifah juga menyebut ada tiga faktor lain yang menghambat perempuan untuk unjuk gigi dalam pentas politik di Indonesia. Menurut sarjana ilmu politik Universitas Airlangga ini, faktor lain yang turut berpengaruh adalah mekanisme proses seleksi dalam partai politik (parpol).

Seleksi kepada para kandidat dalam parpol, biasanya dilakukan oleh sekelompok kecil pejabat atau petinggi partai yang mayoritas adalah laki-laki. Hal ini pula, yang menurut Khofifah, membuat pengaruh dan keputusan parpol menjadi tidak proporsional, utamanya yang terkait kesetaraan gender.

“Alhasil perempuan jadi tidak mendapat dukungan politis dari partai-partai politik karena struktur kepemimpinannya didominasi laki-laki,” lanjutnya.

Faktor selanjutnya berhubungan dengan media. Maksudnya, media punya peran penting dalam membentuk opini publik tentang representasi perempuan di politik, yang mana belum banyak dijumpai di Indonesia.

Sementara faktor terakhir yakni masih minimnya organisasi massa, LSM, dan parpol-parpol yang punya ideologi kuat dalam perjuangan hak-hak perempuan. Padahal, kata Khofifah, organisasi-organisasi perempuan memainkan peran penting sejak masa awal reformasi.

Ia pun menyebut, untuk mengatasi masalah tersebut pemahaman soal kesetaraan dan keadilan gender harus terus disuarakan. Sementara secara kelembagaan, partai-partai politik juga harus bisa lebih proporsional. Dalam artian, peran-peran perempuan secara lembaga harus diakui secara lebih adil.

“Partai politik harus mengupayakan perempuan untuk menduduki posisi-posisi strategis dalam partai, seperti ketua atau sekretaris, karena posisi ini berperan dalam memutuskan banyak hal tentang kebijakan partai,” tegasnya.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Ini Alasan Representasi Perempuan di Parlemen Minimum 30 Persen

Terakhir diperbarui pada 6 Desember 2022 oleh

Tags: keterwakilan perempuanPemilu 2024perempuanrepresentasi perempuansuara politik perempuan
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, KKN Undip.MOJOK.CO
Kampus

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah

14 Juli 2024
Komeng: Olok-Olok Rakyat Biasa untuk Menertawakan Politik MOJOK.CO
Esai

Komeng Adalah Bentuk Olok-Olok Paling Menohok yang Mewakili Lapisan Masyarakat Biasa untuk Menertawakan Politik

19 Februari 2024
bayi prabowo gibran di sumatera selatan.MOJOK.CO
Ragam

Kisah Bidan yang Membantu Persalinan Bayi Bernama Prabowo Gibran di Sumatera Selatan

16 Februari 2024
Menyaksikan Coblosan di Wotawati, Kampung Warisan Majapahit yang Mataharinya Tenggelam Pukul 15.00 MOJOK.CO
Aktual

Menyaksikan Coblosan di Wotawati, Kampung Warisan Majapahit yang Mataharinya Tenggelam Pukul Tiga Sore

14 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi MOJOK.CO

Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi

31 Januari 2026
Pertama kali makan donat J.CO langsung nangis MOJOK.CO

Orang Berkantong Tipis Pertama Kali Makan Donat J.CO, Dari Sinis Berujung Nangis

3 Februari 2026
Umur 23 tahun belum mencapai apa-apa: dicap gagal dan tertinggal, tapi tertinggal ternyata bisa dinikmati dan tak buruk-buruk amat MOJOK.CO

Umur 23 Belum Mencapai Apa-apa: Dicap Gagal dan Tertinggal, Tapi Tertinggal Ternyata Bisa Dinikmati karena Tak Buruk-buruk Amat

2 Februari 2026
Sesi mengerikan kehidupan di desa: orang tua nelangsa karena masih hidup tapi anak-anak (ahli waris) sudah berebut pembagian warisan MOJOK.CO

Nelangsa Orang Tua di Desa: Diabaikan Anak di Masa Renta tapi Warisan Diperebutkan, Ortu Sehat Didoakan Cepat Meninggal

3 Februari 2026
Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers MOJOK.CO

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

6 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.