Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Konsultasi Resah

6 Pedoman Menjaga Kewarasan bagi Para Pekerja Industri Kreatif

Regis Machdy oleh Regis Machdy
8 Juli 2018
A A
pekerjaan-freelance-milenial
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tanya

Jok, Mojok, saya mau tanya serius, saya adalah anak baru di sebuah media kreatif di kota Y. Awalnya, saya kira bekerja di sebuah media kreatif itu gampang, tinggal haha hihi terus kontennya jadi sendiri, tapi ternyata tidak seperti itu. Setiap hari saya dituntut untuk selalu membuat hal yang baru dan lucu, padahal di dunia nyata saja saya tidak bisa selalu seperti itu. Saya mulai stres Jok. Apa sih yang harus saya lakukan supaya saya tidak cepat gila?  HAHAHAHA. Terima kasih atas perhatiannya.

Dari D di Kota Y, pekerja Industri kreatif yang butuh pencerahan.

Jawab

Halo, D!

Mojok tahu di Zaman now, Pekerjaan-pekerjaan kreatif memang mulai menjadi tren bagi generasi milenial. Menjadi tren karena pekerjaan-pekerjaan seperti ini sangat sesuai dengan karakteristik generasi milenial yang penuh fleksibilitas dan tidak terikat. Terlebih lagi, sudah banyak cerita mengenai budaya kerja di korporasi yang sangat hierarkis dan birokratis. Rasanya bekerja di industri kreatif, media atau startup jauh lebih bisa memberikan hawa segar dibandingkan bekerja di perusahaan besar.

Akan tetapi, sebagai sesama manusia yang bekerja di industri kreatif, kami tahu betul bahwa bekerja di industri yang penuh deadline dan kreativitas tanpa henti ini memiiki beban stres yang berat. Untuk itu, tim Pijar Psikologi memberikan beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental kalian yang merasa sebeban dan sepenanggungan bekerja di Industri Kreatif. Simak dan perhatikan baik-baik ya!

1. Buat Batas yang Tegas

Milenial yang bekerja di startup dan industri kreatif sering kali bangga dengan status “jam kerja fleksibel” asal deadline kelar. Akan tetapi, kadang pekerjaan di bidang kreatif yang fleksibel malah memisahkan batas antara waktu personal dan waktu kerja. Bekerja lembur, meladeni klien via chat di malah hari, atau mengikuti event networking di akhir pekan. Awalnya kita merasa semua itu baik-baik saja. Padahal sebenarnya, kita telah melupakan batas waktu antara kerja dan personal kita. Kita lupa meluangkan waktu untuk kehidupan pribadi kita dan menikmati seutuhnya. Oleh karenanya, sangat penting untuk kalian membuat batas yang tegas, kapan waktu untuk bekerja, kapan waktu untuk tidak bekerja.

2. Bila Perlu, Gunakan Dua Smartphone

Masih terkait dengan membuat batas, kehadiran smartphone sebenarnya sangat mengacaukan batasan-batasan ini. Smartphone adalah tempat kita berjejaring dengan network pekerjaan, teman dan keluarga besar. Smartphone adalah gawai yang sangat fleksibel hingga bisa kita gunakan untuk bermain game atau berkonflik dengan pacar via instant messenger.

Kita terbiasa membuka smartphone kapan saja. Ketika kita sedang bekerja di kantor, misalkan, kemudian kita melihat notifikasi dari orang tua, hal tersebut akan memecah konsentrasi kita ketika bekerja. Sebaliknya, saat kita istirahat di rumah atau bahkan liburan di Maldives, kemudian chat dan email dari kantor masuk, hal ini juga akan membawa memori semua pekerjaan ke otak kita dan semua pekerjaan yang belum usai. Terus saja berputar seperti itu hingga akhirnya kita sulit membedakan kapan waktu kerja dan personal sesungguhnya bagi kita.

Padahal, di negara lain seperti Perancis dan Jerman, mereka sedang menggemborkan pengharaman surel dan telepon urusan kantor di luar jam kerja demi menjamin kesehatan mental karyawannya.

Karena negara kita dan perusahaan tempat kita bekerja masih jauh dari kebijakan tersebut, maka langkah ekstrem yang bisa dilakukan adalah memiliki dua smartphone sebagai cara memberi batas yang tegas.

3. Jaga Fisik Tetap Fit

Nasihat ini terdengar klise dan basi. Akan tetapi, hubungan erat antara fisik dan mental tidak bisa dibantah. Sebuah penelitian membahas bagaimana aktivitas dalam fisik memengaruhi keadaan dan kesehatan mental manusia.

Terlebih lagi kita orang Asia yang sejak dahulu tidak mengenal dualisme antara jiwa dan raga. Kesehatan fisik kita sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental, dan sebaliknya. Pikiran yang penuh beban dapat membuat pundak, leher dan pinggang sakit, sama halnya fisik yang tidak fit membuat kita lebih lambat dalam berpikir dan mudah marah. Maka dari itu, menjaga kesehatan fisik juga baik dilakukan untuk menyeimbangi pekerjaan yang penuh tekanan.

Terlebih pola bekerja yang sedentary mempercepat penumpukan lemak di paha dan perut. Dengan olahraga, kita akan lebih bahagia karena melihat badan kita tetap stay in shape dan bugar. Run my beautiful creative mind, Run!

4. Self-Care

Seberapa padat tuntutan kerja yang dijalani, jangan lupa untuk tetap santai dan menikmati kehidupan kita. Meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas sederhana seperti, menulis gratitude journal, olahraga, membaca buku, mendengarkan musik, facial dan pijat refleksi. Aktivitas sederhana seperti itu dapat disebut sebagai self-care, yaitu cara mensyukuri hidup dengan merawat dan memanjakan diri kita. Dengan memberi waktu untuk diri sendiri, kita menyadari bahwa hidup ini tidak hanya untuk bekerja saja. Ada bagian dalam diri yang harus diperhatikan kesejahteraannya untuk tetap seimbang.

Iklan

5. Lakukan Kreativitas yang Sebenarnya

Bekerja di industri kreatif dan melakukan kreativitas adalah hal yang berbeda. Dalam konteks bekerja di industry kreatif. Otak kita diperas untuk menghasilkan ide yang kreatif terkait suatu produk hingga bagaimana caranya menjual produk tersebut sesuai kebutuhan pasar. Otak kita dipaksa memikirkan beragam bentuk ide produk, ide iklan, ide pameran, ide penyaluran produk agar diterima masyakart. Kita dituntut kreatif dan ini bisa jadi penuh tekanan.

Berbeda dengan bermusik, menulis, menggambar, melukis atau mindful drawing, colouring, aktivitas-aktivitas ini adalah aktivitas kreatif yang tidak menuntut otak kita dan lebih banyak penyaluran emosi di dalamnya. Aktivitas tersebut juga menyerap penuh perhatian kita ke seni sehingga kita bisa lupa dan melepaskan beban pekerjaan.

6. Pola makan

Kita terbiasa minum kopi di pagi serta siang hari untuk menunjang performa. Setelah itu, mengonsumsi alkohol di malam hari untuk melepaskan stres. Kita juga terbiasa mengonsumsi junk food yang cepat untuk diraih dan dikonsumsi asal perut merasa kenyang. Bekerja sambil memakan camilan seperti coklat, permen, keripik dan sejenisnya juga biasa kita lakukan. Padahal, semua hal itu jika terlalu sering dikonsumsi malah akan memperburuk stres yang kita rasakan saat bekerja. Akan lebih baik ketika kita membiasakan untuk mengonsumsi sayur, buah, dan air mineral yang cukup saat bekerja.

 

Begitulah D, saran dari kami tim Pijar Psikologi semoga bisa membantumu untuk tetap waras di kehidupan media kreatif yang keras ini ~

 

*Regis Machdy, Co Founder Pijar Psikologi

_____________________________________________________________________________

Punya masalah psikologis yang ingin dikonsultasikan? Tim Pijar Psikologi siap menjawab semua keresahan, kegelisahan, dan kebrutalan hidup kalian dengan serius (iya, seriusan).

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2021 oleh

Tags: kesehatan mentalMedia KreatifPekerja Kreatifpsikologistartupstress
Regis Machdy

Regis Machdy

Artikel Terkait

Menjadikan Tengkulak Sebagai Musuh Petani adalah Gagasan Konyol yang Nggak Akan Sejahterakan Petani MOJOK.CO
Esai

Menjadikan Tengkulak Sebagai Musuh adalah Gagasan Konyol yang Nggak Akan Sejahterakan Petani

2 Maret 2026
Ngekos setelah menikah, ngekos di jogja, kesehatan mental.MOJOK.CO
Sehari-hari

Memilih Ngekos Setelah Menikah daripada Tinggal Bareng Ortu-Mertua, Finansial Memang Empot-empotan tapi Kesehatan Mental Aman

16 Februari 2026
Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak
Catatan

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
Gema bahagia di Film "Tinggal Meninggal".MOJOK.CO
Catatan

Film “Tinggal Meninggal” Bukan Fiksi Biasa, tapi Realitas Sosial Orang Dewasa yang Caper agar Diakui di Lingkaran Pertemanan

3 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sarjana Jurusan Agribisnis jualan keripik buah. MOJOK.CO

Sibuk Jualan Sambil Kuliah daripada Jadi Mahasiswa “Kura-kura”, Lulusan Agribisnis Ini Sukses Dagang Keripik sampai Luar Negeri

11 Maret 2026
Lebaran.MOJOK.CO

Lebaran adalah Neraka bagi Pekerja Usia 30 tapi Belum Menikah, Sudah Mapan pun Tetap Kena Mental

8 Maret 2026
Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
Bus patas Haryanto rute Jogja - Kudus beri suasana batin muram dan sendu gara-gara lagu-lagu 2000-an yang ingatkan masa lalu MOJOK.CO

Naik Bus Haryanto Jogja – Kudus Campur Aduk, Batin Seketika Muram dan Sendu karena Suasana dalam Bus Sepanjang Jalan

9 Maret 2026
Anak pulang ke rumah dari perantauan ditunggu, tapi justru sakiti dan beri duka karena sepelekan masakan ibu MOJOK.CO

Anak Pulang Justru Lukai Hati Ibu: Pilih Makan di Luar dan Sepelekan Masakan Ibu karena Lidah Sok Kota-Banyak Gaya

11 Maret 2026
Rela Melepas Upah 75 Juta di Prancis demi Pulang ke Tanah Air, Kini Menikamti Hidup Sebagai Pengajar Bergaji Pas-pasan.MOJOK.CO

Rela Melepas Upah 75 Juta di Prancis demi Pulang ke Tanah Air, Kini Menikamti Hidup Sebagai Pengajar Bergaji Pas-pasan

10 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.